
Sebuah tangan mengusap pelan kepalanya, menimbulkan kantuk yang lebih dalam ketika Guntur membuka mata. Kepalanya mendadak berdiri, dan Guntur mengucek mata. "Sori, ketiduran."
Cowok yang lagi menunggui Joceline bangun itu nyatanya tertidur dengan kepala berada di tempat tidur pasien. Joceline tersenyum samar dan menggeleng. Menyiratkan kalau dia tidak keberatan. "Tidur lagi aja kalau masih ngantuk, kamu kayaknya kurang tidur."
Guntur hanya berdecap meringis. Ya, dia memang kesusahan tidur belakangan ini. Apalagi mendengar Pelangi dan Gesna menangis dari balik dinding kamar.
Ruangan Joceline kembali hening. Cewek itu juga terlihat diam sambil memperhatikan Guntur. "Tur, aku minta maaf."
Joceline berupaya untuk duduk, Guntur langsung berdiri membenarkan posisi bantal. "Maaf, aku nggak tahu kalau kamu enggak boleh makan udang, enggak boleh minum teh. Maaf, kalau aku enggak tahu banyak tentang itu."
Mata Joceline terlihat berkaca-kaca. Perkataan Gesna sepertinya sangat mengguncang cewek itu. Guntur menggenggam sebelah tangan Joceline yang tidak ditanami infus. "Enggak usah kamu pikirin, bukan salah kamu. Aku memang belum cerita tentang itu."
Memang bukan salah Joceline sebab Guntur tidak bercerita tentang kepercayaan yang dianutnya. Gesna bisa tahu juga karena kedekatan mereka dan seringnya cewek itu datang ke rumah. "Maafin Gesna, ya. Dia kalau bicara memang kadang kelewatan, tapi sebenarnya niatnya bagus."
Joceline hanya bisa tersenyum miris. Bahkan dalam kondisi seperti ini pun, Guntur masih saja membela Gesna. "Kamu sayang ya sama Gesna?"
"Bukan cuma aku, Gesna itu kesayangan orang rumah. Kesayangan Mamah, Papah dan Pelangi." Guntur mengusap pelan lengan Joceline agar cewek itu menjadi tenang.
"Dia enggak suka sama aku, ya?"
"Enggak, kok. Dia marah kemarin sebenarnya karena sedih. Papah aku sudah dianggapnya kayak papa dia sendiri," terang Guntur. "Dia itu jauh dari orang tuanya, Ling. Jadi keluarga aku sudah dianggap kayak keluarganya. Dia sedih banget karena kehilangan Papah. Maklumin ya kenapa dia semarah itu."
Joceline menggangguk dengan usaha penuh. Dia sadar kalau kedatangan Guntur saja sudah sebuah kemustahilan yang nyata. Setidaknya saat ini, raga Guntur ada di sampingnya, meski hati cowok itu tidak ikut serta.
Orang yang dibicarakan mereka sedang duduk termenung di pinggir lapangan basket, seusai latihan. Dengan mata berat yang masih terlihat sembap, Gesna duduk di kursi panjang, menatapi titik-titik air yang mulai jatuh dari langit. Dia lupa bawa jaket.
"Belum pulang, Ge?" tanya Ilham yang baru saja mengganti baju. "Mau bareng?"
Gesna menggeleng. Dia malas pulang. Gustav sedang sibuk-sibuknya penelitian, Guntur direpotkan Joceline dan dia sedang tidak fit untuk menemani Pelangi.
"Ya udah. Gue duluan, ya." Ilham melambai dan hilang di balik tikungan.
Gesna menaikkan dan meluruskan kedua kaki di kursi. Sekarang, kantuknya baru terasa. Apalagi udara yang ada cukup sejuk. Dia membuka ponsel dan memasang earbuds, memutar lagu-lagu yang ada di playlist-nya.
When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse
Langit makin bergemuruh dan hujan yang turun semakin deras. Titik-titik yang jatuh seperti untaian lagu penghantar tidur untuk Gesna. Rasanya nyaman. Dia sudah rebahkan kepala berbantalkan tas, menatapi air yang turun merajam bumi.
When the tears come streaming down your face
'Cause you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
What could it be worse?
Gesna teringat gelang merah yang ada di tangan kanannya. Dipandangi lempengan kekuningan yang memantulkan kilau dari bias lampu koridor. Tersenyum kecil, Gesna lantas menutup muka dengan handuk lembap yang disampirkan di bahu sedari tadi. Dia ingat pernah bernyanyi penggalan lirik ini di Yoghurt Cisangkuy.
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Gesna tidak peduli jika ada yang memandangnya aneh karena tidur di kursi panjang sekolah. Lagi pula sudah tidak banyak murid. Hanya ada satu atau dua kelas di lantai paling atas sedang mengikuti pelajaran tambahan, dan jalur pulang kedua kelas itu tidak perlu melewati tempat yang Gesna tempati saat ini.
Dia mengembuskan napas panjang. Entah bagaimana, Gesna malah kesusahan melupakan segala tentang Adit yang melintas dalam hari-harinya yang sepi. Biasanya, Adit sering bercanda garing, suka menggombal-gombal tidak jelas, tetapi lucu. Cowok itu juga kerap kali menghibur di kala Gesna memiliki masalah. Semakin dia ingin lupa, semakin dia teringat terus.
Apakah segala sesuatu baru akan terasa ketika sudah tidak ada? Gesna tidak tahu, karena dia mulai tertidur.
***
Adit menoleh ketika Bara dihampiri seorang cewek yang mencangklong tas besar. Gita, cewek itu sahabat Bara.
"Bar, Bara... Anterin gue pulang, dong. Bentar lagi hujan," pinta Gita dengan muka memelas. Rambut Gita dicepol asal dengan riap-riap anak rambut menjulur tegang.
__ADS_1
Bara berdecak, masih duduk tenang di kursi kantin. "Minta jemput pacar lo aja."
Gita malah tertawa sambil mendorong kepala Bara. Sepertinya hanya Gita yang seberani itu kepada Bara. "Pacar dari mana? Dari Hongkong?! Buruanlah, Bar. Capek nih gue dari latihan," sahut Gitar sambil menarik tangan Bara.
Adit memperhatikan Gita sekilas. Cewek itu mungkin dari latihan bersama tim basket dan memang wajahnya terlihat lelah.
"Motor gue lagi diservis, ngegojek aja lo sono," tolak Bara yang memang tidak membawa kendaraan. Dia saja hari ini datang memakai ojol.
"Kalau Gojek dari tadi ada, buat apa gue paksa lo?" Gita terlihat kecewa, masih ada sisa-sia keringat di dahinya. Cewek itu meneliti kebenaran di muka Bara. "Beneran lo nggak bawa motor?"
Bara mengangguk dan Gita mengembus napas kecewa. Adit yang melihat keduanya lantas teringat Gesna dan Guntur. Tidak mungkin Bara tidak ingin menolong Gita, mengingat Gita juga sering membantu Bara dalam urusan pelajaran. Gita adalah cewek yang santai kalau PR atau tugasnya dipinjam Bara.
"Nih, pakai motor gue aja, Bar." Adit meraih kunci dan memberikan kepada Bara.
Bara menoleh kaget. "Lo nanti gimana?"
"Gampang. Buruan nanti hujan." Adit mengedik santai, membiarkan Gita yang selanjutnya menarik Bara agar cepat bergerak dari kantin.
Setelah mereka berdua pergi, Adit memutuskan kembali ke kelas. Tadi, dia dan Bara membolos pelajaran kedua karena jenuh.
Sebelum melanjutkan mata pelajaran, Adit menyempatkan diri ke toilet guna membasuh muka. Guru-guru sering kali tidak paham kalau cara menjelaskan mereka sangat membosankan.
"Eh, siapa tuh yang tidur? Santai amat dia tidur di situ?" Pembicaraan seseorang di bagian toilet terdengar hingga ke depan wastafel.
"Anak basket. Biasalah, memang mereka sering selonjoran di sana."
"Tapi itu sendirian, cewek lagi." Kedua cowok itu lalu membicarakan bagaimana mengenali sosok itu perempuan hanya dari betis yang terlihat.
Adit tidak mau penasaran sehingga dia abaikan pembicaraan tersebut. Ketika akan kembali ke kelas, dia melewati sosok yang jadi pembicaraan barusan. Mata Adit terpaku kepada sepatu setinggi mata kaki dengan centang merah mencolok. Itu sepatu Gesna.
Kaki Adit berhenti dan mengamati. Ya ampun, kenapa sih cewek ini kalau tidur tidak lihat-lihat tempat dan keadaan? Memang muka dan setengah badan tertutup handuk, tetapi dari kakinya terlihat kalau itu adalah kaki seorang cewek. Tentu saja akan menjadi pembicaraan, Gesna hanya memakai celana pendek sedengkul sedangkan dengkul ke bawah polos saja tanpa penutup. Apa Gesna tidak tahu kalau bisa saja orang berniat jahat hanya karena pemandangan barusan?
Adit mendengung kecil. Ada yang berdebat di dada, antara mau membiarkan atau mengingatkan. Meski akhirnya, Adit tidak memilih dua-duanya. Dia hanya melepas jaket dan menyelimuti jaket tersebut menutupi kaki Gesna.
Adit tahu, dia tidak seharusnya sepeduli ini. Anggaplah ini aksi sosial, bukan karena Gesna, melainkan karena seorang perempuan. Bagaimanapun Gustav dan Meilan selalu baik terhadapnya. Jika Gesna kasar, Adit sadar kalau siapa pun akan marah jika mengetahui dirinya dijadikan taruhan. Adit lalu mengambil tempat di bangku lain yang kosong, ikut merebah sekaligus menjaga bangku di sebelahnya.
Hujan masih saja deras, percikannya berhambur ke arah kursi. Adit melirik, handuk yang menutup muka dan bagian atas badan Gesna sudah tersingkap sedikit, memperlihatkan wajah sedih yang sedang tertidur. Pasti cewek itu sangat terpukul. Adit tidak pernah melihat Gesna menangis seperti saat di rumah Guntur. Apalagi mata itu masih bengkak hingga sekarang.
Adit berdecak dan memalingkan muka, mengumpat otak yang bisa-bisanya berpikir bagaimana Gesna melewati setiap malam, dengan siapa cewek itu melewatinya dan apa yang dilakukannya.
Gesna mengusap air yang memercik ke muka. Astaga, dia barusan tertidur. Sembari menggerakkan badan yang terasa kaku, Gesna menoleh ke sekeliling. Hening. Sekolah sudah sepi. Semua pasti sudah pulang, bahkan Budi tidak patroli dan membangunkannya. Padahal biasanya Budi akan mengecek dan mengusir siswa-siswa yang masih ada di sekolah menjelang malam.
Wangi yang sangat dikenal menyeruak ke penciuman dan Gesna mendapati sebuah jaket menutupi kakinya. Siapa yang tadi menyelimutinya? Wanginya wangi Adit. Apa mungkin Adit?
Gesna memegang jaket itu dengan melihat kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa. Dia melihat ke beranda lantai tiga, juga tidak ada siapa-siapa. Sudah hampir malam, Gesna memutuskan untuk pulang. Diseretnya kaki ke toilet untuk mencuci muka.
"Eh, si Adit ada apa dengan Gita?" tanya sebuah suara yang terdengar sebelum Gesna melangkah masuk. Suara sekolah yang sepi membuat suara itu terdengar jelas. Sepertinya suara siswi kelas dua belas yang belum pulang.
"Nggak tahu. Ada apaan?"
"Tadi, gue lihat Gita dibonceng Adit, cabut les mereka. Bukannya Adit pacarnya Gesna?"
Gesna merèmas tali tas. Gita? Selama ini, mantan kapten putrinya itu tidak pernah terlihat dekat dengan Adit. Apa itu yang membuat Adit tidak lagi menoleh ke arahnya?
Membatalkan keinginan mencuci muka, Gesna segera berbelok menuju parkiran motor. Kalau jaket ini milik Adit, apa maksud cowok itu memberinya jaket sedangkan lagi dekat dengan cewek lain? Mau balas dendam? Mau membuat perasaannya terbang lalu dibanting dengan kabar jadian?
Ada beberapa motor tertinggal di sana. Gesna melirik jam. Seharusnya les sudah berakhir, tetapi mungkin hujan yang membuat penghuni sekolah tertahan pulang. Beberapa masih duduk di koridor dekat parkiran dan di pos satpam, Gesna melihat bayang seseorang yang membuat dadanya berdetak gaduh.
Adit? Itu Adit? Bukannya Adit pulang bersama Gita?
Gesna melirik jaket yang tergenggam. Berarti jaket ini jaket Adit. Pasti jaket Adit. Dia belum menemukan siswa yang memiliki wangi seperti Adit.
"Jaket lo, 'kan?" Gesna berusaha membuka mulut dengan sewajar mungkin, menegur cowok yang sedang sibuk dengan permainan di ponsel.
Dengan mata masih sibuk ke layar dan jempol yang bergerak-gerak, Adit mengangguk pelan, tidak menjawab 'iya', membuat Gesna hampir ternganga. Cowok itu lantas mengunci ponsel, meraih jaket yang Gesna taruh di meja satpam, memakai jaket dan berlalu dari situ. Berjalan kaki di bawah hujan.
Gesna menggeragap, tidak menyangka reaksi yang diberikan oleh Adit. Dia lantas membawa skuternya menuju tempat yang sama dituju Adit, basecamp.
Belum sampai basecamp, Gesna sudah melihat sosok Adit. Cowok itu benar-benar jalan kaki, hujan-hujanan. Entah mengapa, Gesna merasa sebal dan menghentikan skuter di sebelah Adit.
"Bareng?" tawarnya.
Adit menggeleng dan terus berjalan, membiarkan kepala dan jaketnya basah karena hujan. Gesna sudah mencerca nama cowok itu di dalam hati. Jarang-jarang dia mau menawari orang bantuan, yang ditawari malah sombong setengah mati.
__ADS_1
Dia masih mengikuti Adit dengan kecepatan rendah. Dunia sering kali bercanda. Di saat dia tidak tahu mengapa bisa mengingat Adit terus menerus, sialnya cowok itu malah sangat cuek dengan kehadirannya. Bukannya selama ini dia yang suka mengabaikan Adit. Kenapa posisinya jadi terbalik seperti ini, sih?
"Gue kepengin bubur ayam GOR," ujar Gesna masih saja menyejajari Adit dengan skuter.
"Go-Food," balas Adit mulai bersuara.
Gesna hampir saja tertawa di balik helm. Cowok itu akhirnya bersuara. "Hujan. Susah cari Gojek-nya," sungut Gesna dengan kekecewaan yang dibuat-buat. "Pengin ke sana langsung, tapi gimana ya kalau ketemu cowok yang kemarin mau ngerampok gue?"
Anggaplah Gesna ingin mencoba, mencoba mencari jawab dari kegelisahan akan nama Adit yang sering kali hadir. Dia ingin tahu ada apa dengan dirinya, saat ini. Seakan membantu Gesna menuntaskan penasaran, Adit tiba-tiba berhenti dan menghela napas. Cowok itu bahkan bersedia naik ke skuter, menduduki bangku pengemudi ketika Gesna bergeser ke belakang.
"Nggak makan?" tanya Gesna ketika melihat Adit hanya memesan teh hangat.
Cowok itu menggeleng pelan, menatap gelas teh tanpa berpaling. "Gue makan buburnya diaduk, entar lo mual."
Gesna terdiam. Kalimat Adit barusan terdengar jauh dan asing, melebihi jarak yang ada. Cowok itu menyesap teh sambil menjentik gelas dengan jarinya, menciptakan ketukan-ketukan berirama.
Gesna menyuap kembali bubur. Rasanya dulu waktu belum kenal, Adit bahkan tidak sedingin ini. Melirik sedikit dari pinggir mangkok, dia mendapati kuku Adit kembali patah dan ada lecet pada jari tengah dan telunjuk.
Kenapa sih Adit bisa tidak sadar akan luka di tubuh sendiri? Entah mengapa, Gesna gusar. Dia terusik dan bergegas meraih kotak obat. Gesna menarik perekat luka, meraih tangan yang sedari tadi berjentik dan memasangkan plester di sana. Ujung kuku yang tajam karena patah itu juga diguntingnya. Cowok ini tahu nggak sih kalau ada teknologi yang bernama pick gitar?
Bukannya berterima kasih, Adit langsung berdiri. "Berapa, Mang?" tanya cowok itu ke penjual.
"Dua puluh ribu," jawab penjual.
Gesna dengan sigap merogoh saku celana, menyerahkan uang dua puluh ribu ke penjual. Mengikuti langkah Adit yang berjalan keluar tenda.
"Lho, kok nggak diabisin?" tanya Adit sembari mengeluarkan rokok dan bersandar di tiang listrik.
Oh, rupanya Adit mau merokok. Gesna pikir Adit mau pergi meninggalkannya. Namun, Gesna keburu membayar dan meninggalkan makanan.
"Tiba-tiba pengin sate," dalihnya sambil berpura-pura melihat sekitar. Hujan sudah reda, menyisakan malam yang basah dan dingin.
Adit berdecak, mengisap beberapa kali sebelum meninjak mati rokoknya. "Sate apa?" tanya Adit sewaktu mereka kembali di jalan.
"Sate di Puncak." Biarlah, Gesna ingin menjadi bodoh untuk hari ini saja. Dia masih ingin bersama Adit sebab perjalanan ke bubur ayam hanya dilalui mereka dalam kebungkaman.
"Bahaya. Habis hujan, licin di sana." Cuma itu saja tanggapan Adit. Cowok yang basah kuyup itu bahkan tidak komentar apa pun lagi. Tidak melontarkan candaan konyol atau rayuan garing yang ternyata dirindukannya.
"Maunya sate di Puncak," balas Gesna memaksa.
Adit diam, tidak menjawab Gesna. Entah mendengar atau tidak. Kecepatan skuter yang rendah seharusnya membuat Adit dengan mudah mendengar ucapannya. Namun, cowok itu sama sekali tidak menoleh atau melirik ke spion.
Seketika Gesna sadar, skuter yang dikendarai Adit menuju ke arah luar kota. Udara semakin dingin dan Adit hanya pasif tanpa suara. Kenapa sih Adit masih mengabulkan kemauannya? Padahal dia selalu meminta tanpa berpikir. Padahal dia selama ini hanya menyusahkan cowok itu. Padahal dia selalu kasar. Padahal dia tidak pernah beramah-tamah.
"Dit, enggak jadi. Pengin pulang aja," putusnya mengakhiri semua keributan di dalam hati. Adit sudah menggigil, dia juga begitu. Tapi Adit pasti lebih kedinginan karena berada di depan. Kalau dia yang penasaran, cukuplah dia yang penasaran. Tidak sepatutnya Gesna memaksa Adit yang bukan siapa-siapa.
Adit sempat berhenti. Cowok itu menarik napas dalam dan memutar skuter. Masih tanpa komentar, masuk kembali ke jalanan kota. Miris sekali, dulu saat dia pertama kali berboncengan dengan Adit, walaupun tidak kenal bisa sangat nyaman. Beda dengan sekarang, sudah saling kenal tapi terasa canggung.
Mata Gesna terasa sangat perih. Dia menundukkan kepala dan cucuran itu lepas dengan segera. Dia sekarang tahu jawabannya. Dia tahu jawaban ketika semua sudah terlambat.
Tidak peduli jika akan ditolak, Gesna menjulurkan tangan, memeluk pinggang Adit dan menangis sepuasnya di punggung itu. Dan cowok itu masih juga bungkam. Tidak bertanya dan tidak menenangkan. Memilih diam sebagai argumentasi yang tidak bisa Gesna mengerti.
Begitu sampai, Adit mencabut kunci dan menyerahkan ke Gesna. "Ganti baju dulu," ajak Gesna sambil membuka pintu.
"Nggak usah." Cowok itu langsung berbalik sambil mengeluarkan ponsel, seperti hendak memesan ojol.
Kekesalan Gesna naik. Dia berharap Adit bertahan lebih lama. "Ya udah, kalau enggak mau!" serunya menggebrak pintu, membuka dua daun kayu sebesar mungkin. Membanting tas dan sepatu ke lantai dengan keras.
Kenapa sih dia tidak bisa menjelaskan semuanya dengan bahasa yang lebih tertata? Gesna merangkum taplak meja makan dan menarik sekuat tenaga, melepaskan kemurkaannya pada piring-piring yang jatuh hancur tidak berdosa. Gesna sangat membenci papa yang suka membanting barang, tetapi mengapa dia sekarang menjadi penerus laki-laki itu? Mengapa semua menjengkelkan? Mengapa semua tidak mengerti maksudnya?
Adit kembali datang dengan berlari. Ha... Apakah dia harus menghancurkan rumah untuk membuat cowok itu tetap di sini?
Adit menatapnya dengan pandangan yang Gesna tidak bisa mengerti. Masa bodoh, Gesna memilih tidak peduli. Dia melihat segala yang berantakan dengan senyum kelegaan. Dibiarkannya Adit mengambil sapu dan pengki, membersihkan sisa puing-puing beling.
Pasti Adit akan bertanya 'Kenapa', pasti. Dia menunggu itu ketika Adit selesai membereskan kerusakan. Tapi cowok itu hanya berbalik menuju pintu, tidak menegur atau bertanya kepadanya. Tidak, bukan seperti ini harapan Gesna.
Gesna buru-buru menjangkau tangan Adit. "Abang belum pulang, gue enggak ada teman."
Adit melepaskan genggaman tangannya, meraih ponsel dan menekan panggilan. "Ham, lo di mana?"
Mata Gesna sudah membulat begitu tahu Adit menghubungi Ilham. Dia langsung menarik ponsel Adit. "Enggak jadi, Ham. Nggak apa-apa. Bye."
Adit kembali menarik napas seperti berusaha untuk bersabar. Cowok itu terus berjalan ke pintu. Gesna berusaha menahan langkah itu lagi, kali ini dengan memeluk punggung Adit erat-erat. Membuka selubung pertahanannya dan tidak peduli jika Adit mengetahui kelemahannya.
__ADS_1
"Maaf... Maaf, Adit," desis Gesna memohon. "Jangan pergi."