
"Astagfirullah!"
Seruan cukup keras bernada terkejut membuat Adit membuka mata. Seseorang berumur kira-kira tiga puluh tahunan melotot kaget ke arahnya sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Adit mengikuti arah sorot tidak percaya dari mata tersebut dan dia terkesiap. Buru-buru melepas tangannya yang memeluk Gesna sehingga cewek itu jatuh ke karpet dengan bunyi gedebam yang memprihatikan.
Gesna mengerang, duduk terbangun sambil memegang pinggang. "Aduh, sakit!" serunya ke arah Adit, melancarkan protes. Lalu ikut diam saat menyadari Adit melihat seseorang. "Eh, Mbak udah datang?" tanya Gesna bergegas berdiri, menyadari ada yang salah barusan.
"I-iya, Kak." Si Mbak langsung berjalan menunduk menuju arah belakang, menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Otak Gesna mulai mengurut kejadian, mengapa ada suara jeritan dan dia jatuh dari sofa. Kalau di sofa itu ada Adit, berarti dia? Oh, My God.
"Mbak tadi lihat?" Kepala Gesna menoleh ke Adit yang terlihat mengurut pelipis. Cowok itu mengangguk. "Astaga," gumam Gesna sambil menuju dapur.
Gesna menemukan si Mbak mengikat plastik tempat sampah yang berisi pecahan beling. "Mbak, ini bukan kayak yang Mbak pikir. Tadi malam kami kehujanan, baju dia basah terus dia demam. Makanya saya suruh menginap di sini."
Mbak hanya mengangguk pelan, tidak berani menoleh ke arah Gesna. Dari bekas piring yang terbelah, sepertinya kejadian tadi malam cukup alot. Selama ini, hanya dia yang bertahan bekerja di rumah ini selama bertahun-tahun dan membereskan piring pecah bukan hal yang mengagetkan jika ada Tuan dan Nyonyanya. Namun, menilik dari kondisi rumah yang sepi, tampaknya piring yang hancur itu bukan perbuatan majikan lelakinya. Di rumah ini, tidak ada yang setemperamen sang tuan rumah selain Gesna.
"Temannya masih demam, Kak?" Mbak mendengung bingung, takut kesalahan bicara. "Ng... Pacarnya?"
Gesna mengangguk sebagai jawaban. Toh, ke depan nanti Adit akan lebih sering berkunjung ke sini dan Mbak harus tahu kalau Adit adalah pacarnya. "Iya, bikinin sarapan apa ya buat orang demam?"
"Bubur, Kak. Mau dibikinin bubur apa buat sarapan?" Mbak mulai berdiri dan membasuh tangan, mengambil panci sambil menunggu jawaban Gesna. Majikan mudanya sangat pemilih dalam urusan makanan.
"Enaknya apa?"
Mbak berpikir sesaat. "Bubur ayam hainan. Mau? Kaldunya bagus untuk demam."
"Ya, udah. Bikinin ya, Mbak." Tangan Gesna langsung menepuk jidat ketika ingat tadi malam lupa menekan tombol mesin cuci. Seragam Adit belum dicuci. Dia beranjak ke belakang dan menjalankan mesin itu.
"Kakak mau dibikinin sarapan apa?" tanya Mbak sedikit berteriak.
"Samain aja, Mbak. Bikinin teh juga, taruh ke tengah ya," sahut Gesna sembari kembali ke ruang tengah untuk mengecek demam Adit. Cowok itu masih menyandarkan kepala di bantalan sofa. "Masih pusing?" tanyanya ke Adit.
"Sebenarnya udah enggak tapi karena bangun tiba-tiba jadi agak pusing." Adit menoleh, memperhatikan kedatangan Gesna di samping. "Apa kata si Mbak?"
"Apanya?" Gesna berusaha tak acuh. Meskipun Mbak melihat kejadian tadi, bukan berarti wanita itu berhak berkomentar segala yang bukan urusannya. Dan Gesna tentu tidak suka punya asisten rumah tangga penggosip. Untuk itu, cuma si Mbak-lah yang bertahan hingga kini.
"Ya, yang aku meluk kamu," bisik Adit yang hanya bisa didengar mereka berdua.
Gesna berdecak. Dia masih ingat kalau semalam tidur di bawah. Tidurnya tidak nyenyak. Beberapa kali terbangun dan memeriksa juga mengganti kompresan Adit. Yang terakhir, dia sempati memandangi wajah cowok itu dari jarak dekat. Mata Gesna mengerjap. "Kok aku bisa di atas, sih?"
"Lupa? Kamu yang dekati aku duluan." Adit tersimpul mengedip, membuat Gesna hampir melempar bantal sofa.
"Ah, masa?" Gesna menoleh dengan tatapan menyelidik dan dia langsung membuka mulut tanpa suara, mulai teringat lanjutannya. Saat dia pandangi, Adit terbangun. Cowok itu mengusap kepalanya dengan sayang dan Gesna berbisik meminta Adit untuk lekas sembuh. Setelah itu, Adit mengangguk, menarik tubuhnya untuk merebah di tempat yang sama.
Gesna langsung menggaruk kepala begitu ingat kejadiannya. Mereka cuma berpelukan. Ya, sambil tiduran juga. Eh, mengapa terdengar seperti pasangan mesum? Gesna langsung meraup muka Adit yang masih senyum-senyum mengejek. "Udah, jangan ketawa!"
"Tadi, enggak ketawa." Bibir Adit tertarik melebar, menampilkan sorot bahagia. "Sekarang, baru ketawa."
Teh yang disiapkan Mbak sudah ditaruh di meja, Gesna mengambil miliknya sambil menggenggam cangkir. Tangannya menjadi dingin. Apa yang dilihat Mbak dari pelukan mereka berdua?
"Dit, baju seragam lupa dicuci semalam. Baru dicuci barusan," aku Gesna meringis sambil melihat jam. Tidak akan sempat kering untuk dipakai hari ini, berhubung waktu sudah menunjukan pukul enam lewat lima belas menit.
"Enggak apa-apa. Aku enggak sekolah hari ini. Kamu kok enggak mandi?"
Gesna melengos pelan. "Gimana gue bisa sekolah kalau lo sakit?" Cewek itu lalu sadar. "Eh, maksudnya aku—"
Adit menahan tawa melihat Gesna keceplosan menggunakan gue-lo lagi. "Iya, enggak apa-apa. Belum biasa, ya?" Dia menerima cangkir yang disodorkan Gesna.
Setelah meneguk teh beberapa kali untuk meredakan tenggorokan yang seret, Gesna lantas mengangguk. "Tapi kamu bilangnya kamu-aku, jadi aku segan."
"Bisa segan juga," kekeh Adit sambil menyesap teh hangat. "Beneran kamu enggak sekolah? Kalau kamu mau sekolah, aku tinggal pulang, kok."
"Masih pusing?"
"Tinggal dibawa tidur lagi aja." Adit lantas terdiam. Sudah lama tidak ada yang memperhatikannya seperti tadi malam. Raut khawatir Gesna yang membuat dia refleks menjangkau tubuh itu dan memeluknya semalaman. Semua yang melihat pasti akan berpikiran miring, tetapi dia benar-benar hanya ingin memeluk Gesna. Berterima kasih karena ada yang berbuat seintens itu hanya karena dia demam.
Lamunan Adit mendadak terhalang oleh suara motor berhenti dan Gesna yang mendadak bangkit seakan mengenali bunyi itu. Cewek itu tergopoh ke pintu sebelum langkah sang tamu mendekat.
"Ge..." panggil Guntur sambil berjalan masuk.
Gesna berhenti di depan Guntur sambil menyengir. Paham kalau Guntur sudah lebih dahulu melihat Adit, sebab tatapan Guntur terlihat terkejut. Tangan Gesna menarik cepat tangan Guntur ke arah luar, menyeret lebih tepatnya.
"Itu, Bang Adit ngapain di sini?" Guntur menahan langkah ketika mereka sampai di depan garasi. Tidak membiarkan Gesna menarik lebih jauh lagi. "Dia menginap?" tanya Guntur sambil membalikkan badan Gesna.
__ADS_1
Guntur langsung meneliti muka Gesna. "Ge, jangan bilang kalau lo ...."
Mata mereka bersitatap dan Guntur tahu jawaban tanpa Gesna menjawab. "Astaga, Gege! Yang benar aja sih, lo? Lo kan tahu dia itu mainin lo."
"Gun." Gesna memegang lengan Guntur, berusaha menenangkan sahabatnya. "Bukannya kalian sendiri udah sampaikan ke gue apa yang dibilang Bang Adit waktu itu? Dan ... gue percaya."
Dia menarik napas dalam. "G-gue sadar kalau gue juga kehilangan dia, kayak ada yang kosong, Gun. Setelah gue berpikir, gue sadar kalau gue juga sayang sama Bang Adit."
"Kalian balikan?" potong Guntur yang dijawab dengan anggukan Gesna. "Terus kenapa dia bisa di sini?"
"Semalam kami kehujanan, Gun."
Guntur melihat garasi yang kosong, lalu mengembalikan tatapannya ke Gesna dengan mendelik. "Abang nggak pulang?"
Gesna mengangguk lagi.
"Gila lo. Serumah cuma berdua!" desis Guntur sambil mendorong kepala Gesna dengan kesal. "Kalau digrebek satpam gimana?"
"Satpamnya gue gaplok masuk rumah orang sembarangan," balas Gesna enteng. "Lagian memangnya gue ngapain, sih?"
Guntur menggeleng-geleng sambil kembali memperhatikan Gesna. "Terus, ini kenapa lo belum siap-siap? Lo mau cabut?"
"Bang Adit lagi sakit dan gue temanin dia. Enggak mungkin gue tinggal di rumah sendirian, 'kan?" Tangan Gesna menarik Guntur lagi ketika merasa sudah menjelaskan apa yang ingin dia jelaskan.
"Ngapain lo temanin? Suruh dia pulanglah," sergah Guntur tidak terima, menahan tangan Gesna.
"Gun, coba gue balik. Kejadian ini menimpa Ling-ling, pasti lo bakal bikin yang sama kok." Gesna menggandeng tangan Guntur. "Sekali aja, biarin sahabat lo ini menentukan pilihannya dan gue bakal tanggung jawab sama pilihan gue. Udah makan belum lo? Mbak masak bubur ayam hainan."
Mereka berdua kembali masuk seakan tidak terjadi apa-apa. Gesna langsung ke meja makan sambil melambai ke arah Adit agar ikut bergabung.
"Eh, ada Bang Guntur," sapa Mbak ketika Guntur ikut duduk di samping kanan Gesna. "Udah sarapan belum?"
"Siapin aja, Mbak." Gesna memanggil Adit yang belum juga mendekat. "Nyo, sini. Sarapan, yuk."
"Nyo?" bisik Guntur yang langsung dibalas kedipan penuh kode oleh Gesna agar segera diam.
Adit duduk di sisi kiri Gesna dan menerima mangkuk yang disodorkan Gesna. "Udah dimasakin Mbak, nih. Katanya bagus untuk orang demam," gumam Gesna sambil menyendokkan kuah.
Guntur melihat sikap Gesna ke Adit dengan pandangan tidak suka.
"Air putih aja, Mbak." Guntur mengangguk kala segelas air putih hangat ditaruh di dekatnya. "Makasih, Mbak."
Mereka bertiga menyendok bubur tanpa bersuara. Tenggelam dengan pikiran masing-masing. Gesna yang langsung merasa kecanggungan ini, melirik ke arah Guntur dan Adit. Guntur makan tanpa menoleh sedangkan Adit terlihat memperhatikan Guntur dengan lekat.
"Gun, pinjam hape," pinta Gesna. Ponselnya di kamar dan dia perlu menghubungi Naraya. Ponsel abu-abu yang disodorkan Guntur langsung Gesna buka karena dia hafal kode pola kunci ponsel Guntur.
"Nay, ini Gege," ujar Gesna saat panggilannya terangkat Naraya. "Bikinin gue surat sakit, ya. Gue enggak masuk hari ini."
"Buset," balas Naraya lugas. "Cabut sama Guntur?"
Pasti Naraya berpikir yang macam-macam. Cewek itu sering meledeknya setelah tahu bagaimana perasaan Gesna kepada Guntur. "Enggak. Udah bikinin aja, ya."
"Cepat amat mau udahan, takut banget diganggu," sindir Naraya sambil menyengir.
Gesna mendengkus mendengar ejekan Naraya. Begini susahnya kalau sahabat sudah tahu satu rahasia penting. "Gue tahu apa yang ada di otak lo. Yang jelas bukan kayak gitu. Udah, ya. Bye."
"Kenapa si Nay?" Guntur menerima ponsel yang disodorkan Gesna ke arahnya lalu kembali menyesap kuah kaldu yang terasa gurih. Berusaha tidak peduli akan tatapan seseorang yang mencermati kedatangannya sedari tadi.
"Dipikirnya gue cabut sama lo," balas Gesna kembali memakan bubur.
Guntur hanya membulatkan bibir dan menoleh ke jam di dekat kulkas. "Gue berangkat deh, Ge. Nanti kesiangan. Lo tanya Nay nanti ada PR apa enggak." Dia lalu menoleh ke arah Adit yang masih diam memperhatikan. "Duluan ya, Bang."
Adit mengangguk, menarik sedikit ujung bibir. Dia baru tahu kalau si Mbak pun sudah cukup mengenal Guntur, sampai sangat tahu kalau cowok itu tidak meneguk teh seperti dia atau Gesna. Adit masih membisu sampai Gesna yang tadi mengantar Guntur keluar rumah sudah kembali.
"Apa kata dia?" tanya Adit sambil meneguk air. Dia duduk di sofa sambil mengamati Gesna yang datang sedikit melamun.
"Maksudnya?"
"Guntur bilang apa tentang kita?" Adit menyunggingkan senyum samar, menangkap keterkejutan di muka Gesna.
Cewek itu hanya menggeleng, memungut bantal guling dan selimut. "Aku mandi dulu, kamu ke kamar tamu sana kalau masih mau tidur. Biar si Mbak beresin rumah."
Adit yang tahu bagaimana marahnya Guntur saat mengetahui tentang taruhan dia, tentu juga mengerti bagaimana keberatan cowok itu ketika melihat ada dia di rumah ini. Tanpa perlu diselidiki, Adit yakin Guntur sudah mengungkapkan protesnya kepada Gesna. Dia menatap Gesna yang melangkahi anak tangga, cewek itu pasti bimbang. Buru-buru, Adit meraih ponsel dan mengetikkan sesuatu.
Mr. A: Kamu boleh ragu atau nggak percaya aku, tapi jangan lupa kalau aku sayang kamu.
__ADS_1
***
"Apaan? Ribut amat ngehubungin dari tadi." Gesna mengangkat panggilan dari Ilham sambil membaringkan tubuh, sehabis mandi. Tadi, saat di kamar mandi, ponselnya tidak berhenti berdering seakan mau meledak.
"Ge, lo balikan sama Bang Adit? Kata Guntur, lo nggak masuk. Terus tadi malam, lo ngomong sama gue dari hapenya Bang Adit," tebak Ilham pasti dan tanpa jeda, membuat Gesna yang sedang mengeringkan rambut memakai handuk hanya menggumam. "Ge, diam aja lagi lo!"
"Ya, gimana ya." Gesna mulai menarik sebuah senyum, menghentikan usapan di kepala. Tentang Adit, tentu susah untuk menjelaskan kepada Ilham ihwal perasaannya ke cowok itu.Â
"Apanya yang gimana? Lo jawab dulu, lo balikan?"
"Iya. Iya." Gesna menutupi muka dengan handuk yang masih terasa wangi sampo. Kata Adit, rambutnya wangi apel. Masa, sih? Gesna merasa hanya wangi segar saja yang dia sendiri tidak tahu spesifiknya wangi apa.
"Gila! Terus?"
"Ya, nggak terus-terus." Gesna menenggelamkan muka ke bantal. Kenapa pagi-pagi sudah diinterogasi, sih? "Kan lo juga yang kasih tahu ke gue gimana penjelasan dia?"
"Iya, sih," decak Ilham yang waktu itu mendengarkan penjelasan Adit kepada penghuni basecamp bahwa cowok itu tidak bermain-main dengan Gesna. "Pokoknya jangan gegabah, Ge."
"Padi, kali. Gegabah."
"Gabah itu, oòn!" balas Ilham yang dibalas salam penutup oleh Gesna dan langsung dimatikan panggilannya.
Gesna menggaruk kepala sambil menatap langit-langit. Apa tindakan dia semalam itu gegabah? Dia hanya mengikuti kata hati dan keinginan untuk bersama Adit adalah jawaban dari keresahan selama ini. Pipi Gesna terasa memanas ketika ingat bagaimana dia bisa berada di pelukan Adit, tadi malam. Bibirnya tertarik sendiri, mau tidak mau harus mengakui mengingat bagaimana nyamannya tidur dalam dekapan Adit.
Jarinya meraba kening. Ya ampun, Adit juga mengecup dahinya sebelum mereka kembali tidur. Cengar-cengir sambil mengacak-acak rambut membuat Gesna abai melihat siapa yang menelepon. Dia langsung menjawab saja. "Apa lagi, sih?"
"Kok gitu sapaannya?"
"Eh..." Gesna menoleh ke layar dan membelalak. Dia pikir itu Ilham. "Sori, sori. Dipikir Ilham."
"Ilham tadi telepon?" tanya Adit dan Gesna hanya menggumam sebagai jawaban. Sekeliling Adit terdengar sepi. "Aku udah di kamar tamu, udah mandi, udah ganti baju dan aku udah kangen kamu."
Rasanya Gesna ingin memaki entakan di dada yang tidak stabil. Atau mencerca Adit yang mengakibatkan terjadinya semua itu. Tapi dia cuma bisa menggigit bibir dan menyembunyikan tawa. "Tadi, obatnya diminum lagi?"
"Udah, dong. Kalau belum, mana bisa aku telepon dan godain kamu."
"Apa, sih? Sakit aja kepikiran buat ngegodain orang," ujarnya berusaha memupuskan keinginan ingin tersenyum yang tidak bisa ditahan.
"Ngegodain pacar, bukan ngegodain orang. Godain pacar sendiri sih enggak apa-apa. Enggak ada yang marah," jawab Adit sambil merebahkan badan. "Jadi kita satu rumah tapi setelepon-teleponan aja, nih?"
Gesna berdecak. "Kamu istirahat. Aku bentar lagi ke bawah, mau lihat Mbak masak apa. Kamu mau makan apa?"
"Apa aja kalau kamu yang masak," balas Adit menggombal. "Rencana kamu hari ini apa?
"Mbak yang masak ya, bukan aku," jawab Gesna malas. "Rencana apa? Enggak ada. Kan kamu harus banyak istirahat."
"Dengar suara kamu aja udah sembuh, apalagi dekat sama kamu," tukas Adit seraya tersenyum. Hidungnya sudah tidak tersumbat lagi, kepalanya juga berangsur enteng. "Non, kencan, yuk?"
"Apa?" Gesna langsung terduduk.
"Kencan."
"Jangan ngadi-ngadi, kamu lagi sakit. Enggak ada kencan-kencan," tolak Gesna gusar. Mereka saja sudah tidak sekolah karena Adit kurang enak badan. Tentu ajakan berpergian akan dengan senang hati ditolak Gesna.
Adit memutar badan, masih memegang ponsel. Lucu memang, berada di rumah yang sama tetapi mereka memilih berteleponan hanya karena tidak enak dilihat si Mbak. "Sakit lagi aja deh kalau gitu," sungutnya.
"Heh!"
"Habisnya sama aja. Udah sembuh, pacarnya malah galak lagi," keluh Adit. Dia tidak mengantuk dan tidak bisa apa-apa di kamar tamu. Rasanya menjemukan.
"Terus?"
Adit menghela napas dan bangkit menyiapkan tas lalu menuju pintu, membukanya. "Aku pulang aja, deh, Non."
"Selangkah kamu keluar dari pintu rumah ini. Awas aja," bisik Gesna sudah berdiri di balik pintu dengan seringai kejam. Cewek itu menarik handel pintu kembali. "Atau ... kamu perlu dikunciin lagi, kayaknya."
🌺🌺🌺
Eh, hai! 😆😆
Beberapa hari ini tuh, tubuh gue tiba-tiba berubah. Bawaannya laper, kalau udah laper kagak konsen ngapa-ngapain. Habis makan, ngantuk. 👻
Nulis sedikit kata aja habis itu mandeg. 😆
Mohon maaf ya, cintaku~
__ADS_1
Halah.