
"Guntur ultah?" tanya Naraya sambil menyuap makan. Sepertinya cewek itu sudah melihat unggahan Guntur di Instagram. Memang tidak lama dari kejutan yang dia buat, Guntur langsung mengunggah foto. Beberapa foto sekaligus mulai dari foto berlima bersama Papah dan Mamah, foto bertiga dengan dia dan Pelangi hingga foto gitar yang ditata bersebelahan dengan gambar malaikat yang dibuatnya. Cowok itu juga langsung menandai dia di Instagram.
Gesna mengangguk. Sebagai penyemarak, dia ikut mengunggah di Instagramnya. Foto keluarga Guntur yang dia foto saat bernyanyi bersama dengan Papah memetik gitar. Dia selalu kagum bagaimana hebat dan rukunnya keluarga Guntur. Bagaimana Papah bisa sebijaksana itu, bagaimana Mamah bisa begitu penyayang, menghasilkan anak-anak baik yang peduli dengan orang lain.
"Itu gitarnya beneran kado dari lo, Ge?" Asri ikut berkomentar. Setelah melihat Gesna mengangguk lagi, Asri meneruskan kalimatnya. "Niat banget kayaknya lo kasih kado itu. Bikin confession sekalian?"
"Gila lo!" dengkus Gesna sambil mendorong pelan kepala Asri. "Kebetulan aja ada gitar itu. Awalnya mau kasih ke orang, tapi enggak jadi."
"Kalau dikasih ke Bang Adit, pasti bakalan seru. Cakep gitarnya," sahut Asri sambil mengunyah siomay. "Lo enggak makan, Ge?"
"Kenyang."
"Gue penasaran lho. Lo pernah enggak sih dinyanyiin langsung sama Bang Adit?" bisik Asri mau tahu. Sebelah kuping cewek itu tergantung earphone yang menandakan Asri bercerita sambil mendengar sesuatu dari ponselnya.
"Kenapa?" Gesna meraih garpu milik Naraya dan mencomot sebuah bakso.
Asri menyodorkan ponsel yang menampilkan Adit dan kawan-kawan. "Gila, ya. Saban mereka live IG yang nonton banyak banget. Lihat komen cewek-cewek yang pada melting lucu-lucu. Lo melting juga nggak, sih?"
Setelah Gesna mengeblok semua sosial media milik Adit, Bara, Miko, The Tahan Banting juga Lambe School. Dia tidak pernah tahu kabar apa pun tentang cowok itu. Hidupnya terasa aman dan nyaman. Satu yang Gesna lupa, kabar akan tetap datang dari embusan angin. Kali ini, anginnya adalah Asri.
"Gege sih udah kebal, Ci. Udah imunisasi dia." Naraya tergelak mengejek, membuat Gesna hampir melempar garpu. "Enggak mungkinlah enggak pernah dinyanyiin. Berani taruhan gue. Yang di kafe dulu aja, lagunya kayak buat Gesna, deh."
"Oh, iya, ya. Manis banget sih punya pacar musisi." Asri tersenyum-senyum sambil menangkupkan kedua tangan di muka. Seolah-olah nyanyian itu untuk dia. "Lagunya lagu-lagu cinta semua lagi, Ge. Hebat banget lo bisa biasa aja."
Gesna hanya mengedik pelan, berusaha tidak mau tahu. Meski matanya ikut melirik layar ponsel Asri. Di luar keinginan, tangan Gesna menjangkau juntaian kabel earphone Asri yang tidak dipakai. "Lagu apa, sih?"
Sebuah lagu lama yang Gesna tidak begitu hafal liriknya, tetapi dia tahu itu lagu Iwan Fals. "Iwan Fals," gumamnya sambil melepas earphone dan melirik Asri yang menunggu reaksinya. "Kenapa?"
"Ih, dengarin dulu." Asri kembali menjejalkan paksa earphone itu ke telinga Gesna.
Dan kuakui tanpa kemunafikan, kucinta kau. Bahwasanya keakuanku bersumpah, kucinta kau.
"Yakin lo nggak melting?" Asri mengamatinya. Gesna menggeleng, walau hati mulai berisik.
Bayangmu menghantui setiap gerakku dan kemauanku. Dahagaku akanmu, matikan emosi juga ambisiku.
"Gila, benar-benar kebal lo. Salut gue. Antara kebal atau enggak punya hati beda tipis sih, Ge." Asri terkekeh-kekeh sambil meneguk minum. "Gue kalau enggak dari TTB, enggak bakal tahu lagu-lagunya Iwan Fals."
TTB yang dimaksud Asri adalah The Tahan Banting. Gesna hanya mengedik, melepas earphone kembali dan bangkit, hendak mengambil teh botol. Seolah konspirasi tingkat dewa, anak-anak kantin yang sedang bergitar menyanyikan lagu yang sama. "Dan kuakui tanpa kemunafikan, kucinta kau. Bahwasanya keakuanku bersumpah, kucinta kau."
Tidak ada yang tahu dia putus dengan Adit, kecuali anak-anak basecamp. Naraya dan Asri juga belum tahu. Untuk peristiwa menggemparkan yang membuat malu basecamp, Gesna percaya cerita itu tidak akan ke mana-mana. Kecuali Adit memang berengsek dan ingin seluruh dunia tahu kalau cowok itu menjadikannya taruhan. Hingga saat ini, keadaan aman. Tidak ada gosip apa pun mengenai mereka berdua kecuali insiden bunga di tengah lapangan.
"Ge, Gege!" Asri menjerit cepat, meminta Gesna datang. "Lihat! Lihat! Ini Lambe School repost foto si Guntur."
Di layar Asri, sudah terbuka akun Lambe School. Di akun itu, terpampang foto Guntur bersamanya juga foto gitar dan gambarnya untuk Guntur.
Gesna mengambil ponsel Asri. Bertiga melihat komentar yang masuk sederas air.
Gambarnya Gesna itu? Bagus banget. Baru tahu Gesna bisa gambar.
Buset, Guntur dibeliin gitar. Kalau Adit ultah dikasih apa? Toko musik kali, ah. 🤪
Keperawànan, kali. 🤧
Lho? Memang masih peràwan? 🤭🤭
Mereka itu sahabatan? Gue pikir pacaran. 🤸
__ADS_1
Iya, deketan Guntur sama Gesna kayaknya. Guntur bukannya pacar Joceline? 🤔
Si Gesna juga pacarnya Adit, 'kan? 🤔
BTW. Jangan-jangan mereka berdua selingkuh di belakang pacar masing-masing? 👻
Gesna terus menggulir layar dengan sesuatu yang meletup-letup di kepala. Enak saja mereka menuduh dia selingkuh. Dia dan Guntur tidak pernah selingkuh. Itu lagi, ada yang meragukan keperàwanan dia. Tajam-tajam sekali jempol mereka.
"Eh, buset. Bang Adit komen," tunjuk Asri sambil tertawa setelah membaca bersama-sama komentar yang ada.
Kalau mau ngomongin orang, langsung aja. Jangan lewat akun beginian. Gue tunggu di kantin biru. -Adit-
Dan buat lo, admin akun. Baca DM gue!
Naraya berdengkus terkekeh. "Rasain mereka. Kicep semua."
Gesna hanya bungkam, mengembalikan ponsel ke Asri. Apa Adit masih membelanya? Atau hanya membela diri sendiri karena disebut-sebut di sana? Kenapa sih orang-orang itu mengganggu hari bahagia orang lain? Guntur sedang berulang tahun dan harus menghadapi gosip-gosip seperti ini.
"Udah, nggak usah lo pikirin. Entar kita report ramai-ramai aja," tandas Naraya sembari meneguk jus jeruknya.
"Gue enggak suka mereka gosipin Guntur di hari ulang tahunnya," gumam Gesna sambil mengamati tangan sebelah kiri Naraya yang selalu berkutat dengan handgrip. Dia pernah tanya kenapa Naraya tidak bisa lepas dengan handgrip? Ternyata kekuatan otot tangan kiri cewek itu masih belum maksimal. Menurut Gesna, Naraya terlalu memaksakan. Sebagai pemakai tangan kanan, bukankah wajar kalau tangan kiri lemah? Kecuali orang kidal.
Naraya hanya menyunggingkan senyum miring. Cewek itu sudah sering menjadi bahan gosip di akun-akun sejenis. "Gosip kayak gitu jangan lo tanggepin. Lo perlu tahu, tapi enggak perlu baper. Anggap aja artis," balas Naraya santai.
"Perlu tahu? Gue malah enggak kepengin tahu." Gesna berdengkus malas. "Udah gue blok malah."
Naraya kembali tertawa sinis, berbisik rendah ke arah Gesna. "Enggak perlu ikutin gosipnya, tapi lo perlu memantau sesuatu yang berpotensi besar mengganggu lo. Dan itu enggak salah."
"Jadi? Lo follow akun begituan?" Gesna membulatkan mata, menunggu jawaban Naraya.
Naraya mengangguk. "Second account is a must, darling. Lo cari zaman sekarang siapa cewek yang nggak punya second account Instagram? Lo doang kalik."
Asri mengangguk, mengiakan ucapan Naraya. "Buat follow yang beginian. Gue sih enggak mau follow dari real account gue."
Butuh beberapa menit bagi Gesna untuk memahami akun cadangan yang dimaksud Naraya dan Asri. Apa hanya dia yang tidak terpikir memiliki akun lain? Ponselnya bergetar, nama Ilham muncul di layar.
"Apa, Ham?" sapanya pelan sambil bangkit. Niatnya berjalan ke arah luar kantin, mencari posisi yang tidak begitu ramai.
Ilham terdengar terburu-buru menanyakan di mana Gesna. Kemudian satu kalimat tambahan terasa memukul jiwa Gesna sehingga dia kembali terduduk.
"Kenapa lo?" Naraya yang menyadari perubahan di diri Gesna langsung menoleh. Pandangan cewek itu lalu tertuju ke Ilham yang datang menyusul Gesna di kantin Pespel.
"Ge," panggil Ilham buru-buru. "Gue mau cabut alasan sakit. Lo mau ikut nggak?"
Gesna masih terpaku dengan pikiran kosong, membuat Naraya bertanya ke Ilham. "Ada apaan, Ham?"
"Bokapnya Guntur meninggal."
Beberapa yang mengenal Guntur langsung bangkit dan mendekat ke Ilham, bertanya macam-macam. Setelah menjelaskan sedikit, Ilham mengajak Gesna untuk membolos. "Ayo, Ge. Buruan."
Cowok itu berlari ke arah depan. Gesna refleks ikut berlari mengejar Ilham. Dia sudah tidak peduli dengan tas sekolah atau peralatan lain, Naraya pasti akan membantu membereskan. Begitu sampai di depan, motor Ilham diandang Budi.
"Mau ke mana?" tanya Budi dengan tatapan penuh selidik ke Ilham dan Gesna.
"Bokapnya Guntur meninggal, Bang. Gue mau cabut. Tolong izinin gue," pinta Ilham dengan jujur. Dia tidak perlu berbohong kepada Budi. Lelaki itu tentu mengenal anak-anak basket yang sering pulang sore dan duduk-duduk di pos satpamnya. Budi sudah pasti mengenal Guntur dan Ilham meminta pengertian Budi akan hal ini.
Budi terlihat berpikir keras. "Nanti aja, kan bisa waktu pulang sekolah."
"Nggak bisa gitu, dong. Kami sahabatnya," desak Gesna penuh harap. "Lo pasti paham gimana rasanya, Bang."
__ADS_1
Mata Budi melirik ke arah ruang Tata Usaha. Kepalanya menggeleng. "Gue enggak bisa izinin dua sekaligus. Ilham aja. Dia kan bawa motor."
"Terus gue, gimana?" sanggah Gesna yang mulai frustasi. Dia tidak membawa kendaraan karena tadi pagi bersama Guntur ke sekolah. Kalau Ilham meninggalkannya, akan memakan waktu untuk mengorder ojol.
"Lo kan kenal Naraya, Mbak." Budi mengedik, lalu memberi kode ke CCTV. "Udah, minta bantuan Naraya aja. Jangan lama-lama di sini, kelihatan guru piket nanti."
Paham maksud Budi, Gesna mendekat ke Ilham dan berbisik. Meminta cowok itu menunggunya di warung fotokopi depan sekolah. Dia lalu berbalik, lari kembali ke arah kantin.
"Nay, Ci. Bantuin gue." Gesna langsung meraih tangan Naraya. "Budi nggak bisa keluarin sekali dua. Bantuin gue manjat dinding belakang."
Naraya berdecak sambil menampilkan muka malas. Namun, akhirnya bangkit dan berjalan ke arah tembok yang dimaksud. Asri juga mengikuti mereka, cewek itu diminta Naraya berjaga di tikungan yang kadang-kadang dilewati orang.
Tembok dengan acian semen kasar yang berada di belakang sekolah itu menjadi tempat pertama kalinya dia dan Naraya bertemu. Saat guru piket mengejar Gesna yang cabut pelajaran, dia berlari ke arah belakang. Di tembok itu, dia mendapati Naraya sedang berada di paling atas tembok, hendak melompat keluar. Gesna lantas terburu-buru mengikuti cara Naraya menaiki kursi, berpegangan dengan dinding lalu terjun keluar sebelum sempat terlihat guru piket. Setelah itu, mereka berdua berkenalan dan menjadi sahabat hingga sekarang.
"Lho, kok udah enggak ada meja kursi lagi?" desis Gesna bingung. Dahulu, ada tumpukan meja dan kursi rusak tidak terpakai di dekat dinding, yang bisa menjadi akses untuk melompat sebab pohon-pohon tinggi sudah ditebang.
"Udah lama disingkirin." Naraya tersimpul. "Namanya juga anak OSIS-nya kayak gue yang banyak pengalaman cabut. Daripada entar ketahuan nantinya, lebih baik gue suruh singkirin."
"Terus jadi gimana? Mentang-mentang lo bisa cabut pakai surat dispen terus ngelupain kami yang perlu cabut juga." Gesna sudah ingin sekali menoyor Naraya. Kok bisa-bisanya cewek itu memotong akses darurat yang sering dipakai untuk kemaslahatan penghuni kantin.
Naraya hanya tersungging miring. Matanya mengawasi sekitar. "Udah, nggak usah bawel lo. Buruan sini."
Naraya berjalan membelah rumput-rumput yang setinggi dengkul. Berdiri di samping tembok yang sudah mulus, tidak ada tumpukan barang bekas lagi. Gesna mendekati Naraya, berusaha menebak pikiran cewek itu.
Dengan kedua telapak tangan yang dikaitkan, Naraya lantas meluruskan kedua lengan ke bawah. "Gue hitung sampai tiga. Di hitungan ketiga lo lompat."
"Hah? Lompat?" Gesna sampai melotot.
"Iya, lompat. Kayak anak cheers itu. Jangan ngaku anak basket deh lo kalau nggak pernah lihat atraksi anak cheers."
Gesna kemudian paham maksud Naraya. Cewek itu menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan kaki Gesna untuk memanjat.
"Yang penting lo pegang tembok atas dulu." Naraya menunjuk puncak tembok. "Masalah manjatnya entar gue bantuin dorong. Oke?"
Setelah mengangguk, Gesna menarik napas dalam-dalam. Kaki kanan dia naik ke telapak tangan Naraya. Cewek yang sudah berlutut itu mulai menghitung dan ketika hitungan ketiga, Gesna berusaha melompat dibantu dorongan tangan Naraya dari kakinya tadi.
Puncak dinding berhasil Gesna pegang, tetapi badannya masih menggantung di sana. Dia tidak ada tumpuan kaki lagi. "Nay, gimana nih?"
Tangan Naraya memegang sepatu Gesna dan menekan ke arah dinding. "Ini dindingnya enggak rata, Gege. Bisa lo pijak. Buat apa guna lo beli sepokat mahal pakai antislip? Ini gunanya. Lo pijak terus sambil manjat, kan lo sering lihat gue latihan."
Kalau tidak ingat dia harus secepat mungkin keluar sekolah, tentu Gesna ingin sekali mencaci Naraya. Kemampuan memanjat cewek itu jelas yahud, tapi kemampuan memanjat dia di dinding polos jelas nol besar. Dia berdecak sambil coba memijak dinding, mendorong tubuhnya ke arah atas.
"Nah, itu bisa. Terus, Ge. Kalau udah sampai, siku lo taruh di atas."
Cewek itu terus memberikan instruksi hingga Gesna berhasil merayap ke puncak. Mengabaikan serpihan semen di seragam dan lengannya yang sudah lecet.
"Lihat kanan kiri dulu lo sebelum lompat," tambah Naraya.
Gesna mengangguk. Jalanan luar aman, kosong dan tidak ada yang melihat dia di atas tembok kecuali Ilham. Dengan ancang-ancang, dia segera melompat ke aspal. "Nay, thanks!" serunya sambil terburu-buru naik ke motor Ilham.
"Iya! Nanti gue sama anak OSIS nyusul ke sana," sahut Naraya sambil membalik. Badan cewek itu mendadak beku, sebab di samping Asri sudah ada seseorang lagi dengan tatapan mematikan.
Adit.
🌺🌺🌺
Paham enggak gambaran mereka berdua kayak gimana?
__ADS_1
Ginilah kira-kira. 😂