Matahari Api

Matahari Api
Sebuah Kebetulan


__ADS_3


Gesna menggeliat pelan, menarik selimut yang sempat tersingkap. Menggosok-gosokan hidungnya ke guling yang lembut. Memang nggak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan tidur dengan nyenyak. 


Tidur nyenyak? Otak Gesna berpikir lagi. Lalu dia membuka mata, melihat sekeliling. Dia ada di kamarnya sendiri.


Hah? Kamar sendiri? Gesna langsung bangkit terduduk dan mencoba mengingat-ingat. Bukankah dia tadi malam ada di motor bersama Adit? Itu mimpi atau bagaimana?


Gesna buru-buru menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan gosok gigi. Saat berkaca, dia menyadari baju yang sedang dipakai. Kaus bergambar Toothless, monster naga yang kecil, hitam dan lucu di film How To Train Your Dragon. Baju ini yang dibelinya di Bandung. 


Kaki Gesna langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga dan memanggil-manggil Gustav.


"Nggak usah teriak-teriak lo. Gue di sini," seru Gustav dari arah dapur.


Gesna lalu segera menuju dapur. Dia penasaran sekali bagaimana ceritanya sudah berada di kamar, pagi ini. "Bang, gue..."


Kalimat Gesna terpotong begitu melihat siapa yang sedang duduk di sebelah Gustav. Matanya membulat dan bibirnya masih menggantung. Adit ada di sana.


"Kaget banget kayaknya," tegur Adit terkekeh.


Gesna refleks menggaruk belakang kepala dan ikut duduk di samping Gustav. Di meja makan sudah terhidang spageti dan teh manis. Dia berusaha memahami kebetulan yang ada. Berarti tadi malam, dia memang bersama Adit. Namun, bagaimana ceritanya dia sudah ada di kamar?


"Enak tidurnya?" tanya Gustav dengan senyum mengejek.


Gesna hanya diam dan mengambil teh yang menjadi bagiannya. Meneguk teh itu perlahan untuk sembunyikan rasa malu yang tiba-tiba menyebar di muka.


"Lo kalau tidur lihat-lihat tempat kenapa? Kasihan si Adit, begitu sampai ke sini, badannya bungkuk gara-gara lo nemplok di punggungnya."


Gesna melirik Adit dari balik cangkir. Cowok itu hanya tertawa.


"Gue ketiduran ya?" tanya Gesna kepada Adit dan hanya dibalas anggukan. "Serius? Kok gue bisa ada di kamar?"


"Diangkat dialah, dodol. Adit begitu sampai langsung telepon gue. Dia duduk aja gitu di motor, nggak bisa gerak takut lo jatuh."


Bibir Gesna mengerucut. Dia masih tidak percaya kalau dirinya ketiduran. Seingat Gesna, dia sudah berusaha sekeras mungkin untuk membuka mata. Tak ingin berlama-lama dengan kecanggungan, Gesna menarik sepiring spageti, memutar garpu untuk menggulung pasta tersebut dan mulai makan. 


"Gue mandi dulu." Gustav bangkit dari kursi. "Ge, pinjamin Adit baju. Siapa tahu dia perlu mandi sebelum pulang," ujar Gustav sambil berlalu dan meninggalkan mereka berdua.


Gesna mendengar perintah Gustav, tetapi demi semua rasa malu yang tiba-tiba datang. Dia tetap menghadap piringnya. Berkali-kali memutar garpu dan menyendokkan spageti ke mulut.


"Enak?" tegur Adit membuka pembicaraan.


Gesna hanya menggangguk cuek. "Lo kok belum pulang?"


"Lo ngusir?" Cowok itu kembali tersenyum. "Iya, sebentar lagi gue pulang, kok."


Sambil mengangguk-angguk, Gesna kembali meraih tehnya. "Semalam kita sampai jam berapa?"


"Jam tiga."


"Oh..." Gesna membulatkan bibir sambil melirik jam dinding. Sekarang pukul delapan pagi. Untunglah hari Sabtu, jika tidak, dia pasti sudah terlambat ke sekolah.


Adit meraih tisu yang ada di tengah meja dan mengusap sesuatu di pipi Gesna. "Lo makan kayak bocah, sampai ke pipi-pipi."


Gesna langsung menarik tisu yang dipegang Adit. "Nggak usah cari kesempatan lo."


Adit kembali terkekeh. "Udah, ah. Gue pulang dulu." Cowok itu lalu bangkit dan merapatkan kursi. "Kalau gue mau cari kesempatan, waktu masak spageti tadi udah gue taburin bulu perindu."


Gesna terbatuk. Bulu perindu? Masak spageti? Pasta yang sedang ia kunyah tiba-tiba tersangkut di tenggorokannya.


***


"Jadi gimana di Bandung? Ngapain aja lo?" tanya Riko saat mereka sudah duduk berkumpul.

__ADS_1


Malam minggu ini mereka sepakat kumpul bareng. Selain Riko, Ilham dan Adrian, ada Naraya dan Asri ikut serta. Mereka berencana menghabiskan malam minggu dengan nongcu alias nongkrong lucu ala mereka di kafe yang direkomendasikan Riko.


"Adek gue sakit, bege! Mau ngapain coba? Ya nggak ngapa-ngapain." Gesna membaca menu, hendak memesan makan malam.


"Nanti alasan lo aja, padahal pengin madol." Riko terkekeh sambil memperhatikan Gesna. "Eh, baju baru lo, ya?"


"Tuduhan tidak beralasan." Gesna melirik Naraya. "Kalau kata Nay, apa sih falsafah hidup lo? Gitu ya, Nay?" ujar Gesna menirukan kalimat yang sering diucapkan Naraya.


Naraya hanya mengangkat alis tidak peduli. Cewek itu sedang sibuk dengan ponselnya, mengetik-ketik sesuatu. 


Ilham dan Adrian kontan melirik ke arah Gesna. "Iya, baju baru, nih. Mana ada baju Gege begini manis? Tangan panjang lagi," gumam Ilham.


"Cie, baju baru," ledek Adrian. 


Gesna kembali melirik bajunya. Memang dia merasa baju ini lucu. Sehingga tadi pagi langsung dia cuci dan pakai kembali begitu sudah kering. Seolah-olah tidak memiliki baju lain yang bertumpuk di lemari. Gesna meringis, sampai sebuah toyoran datang menyadarkannya.


"Baca menu apa ngehapal lo? Lama amat!" protes Adrian.


"Bawel!" Setelah memesan menu kepada pelayan, dia melirik bajunya kembali. "Manis gimana? Biasa aja, deh."


Riko melempar sebuah permen yang tersuguh di tengah meja. Permen yang disiapkan untuk pengunjung saat menunggu hidangan. Permen itu tepat kena ke kening Gesna dan jatuh di pangkuan. "Lonya nggak sadar. Itu, tumbenan beli baju cewek gitu. Biasanya lo beli baju cowok deh, Ge."


Asri juga ikut mengomentari. "Iya, itu baju cewek. Lihat deh potongannya ramping di pinggang. Kayaknya bukan lo yang beli. Dibeliin Mama, ya?"


Gesna menggeleng cepat. Adit yang memilihkan baju ini untuknya, tapi nggak mungkin bilang kalau dipilih sama Kepala Suku, 'kan?


Di antara semua keributan di meja mereka, hanya Naraya yang masih terlihat serius. Cewek itu juga dilempar permen oleh Riko. "Udah dulu dunia mayanya. Balik dulu ke dunia nyata."


"Bentar, penting ini!" ujar Naraya judes sembari melempar kembali permen itu ke Riko. Permen itu malah jatuh ke pangkuan Gesna.


"Tapi, kayaknya gue pernah lihat baju Gege. Di mana ya?" Ilham berusaha memutar ingatan. Namun, gagal. Cowok itu sepertinya masih penasaran. 


Gesna mengambil permen yang ada di pangkuan. Di balik bungkus permen tersebut ada tulisan lucu berisi perintah-perintah aneh. Sebuah ide datang tiba-tiba untuk mengisi malam minggu ini. "Ngapain jadi bahas baju deh. Main tantangan permen, yuk?"


Naraya yang akhirnya menyudahi aktivitas berbalas pesan kemudian ikut memperhatikan. Cewek itu menyatukan ponselnya dengan kumpulan ponsel di tengah meja. "Kuy! Tapi bentar gue intip satu dulu. Apaan prank-nya sih?" Setelah mengambil satu permen dari tangan Gesna, cewek itu meringis kecil.  "Boleh! Ayoklah. Gimana?"


Ketiga cowok yang berada di meja mengangguk, Asri juga setuju. Gesna mengaduk isi akuarium lalu menyodorkan ke yang lain.  Setiap orang sudah mengambil satu permen, dalam diam mereka membaca prank yang ada.


"Punya gue, nyanyi lagu wajib nasional di depan umum." Ilham membalik permen, menunjukan kebenaran ucapannya. Tidak lama cowok itu berdiri menuju ke tengah kafe.


Ilham bernyanyi lagu Maju Tak Gentar dengan cuek. Ah, terlalu mudah. Kafe ini diisi pasangan muda mudi. Tentu Ilham hanya ditertawakan sekali lalu dibiarkan saja. Ilham kembali ke tempat duduk. "Lo apa, Ko?"


Riko mendesah, miliknya terlalu sulit. "Gue kalah, deh. Gue bayarin tagihan ini."


"Memang apaan, sih?" Gesna mengambil permen di tangan Riko. Tawa Gesna meledak. "Telepon mantan terindah! Mampús!"


Bukan hanya Gesna, yang lain ikut tertawa.


Riko mengangkat kedua tangan, tidak mau mengikuti tantangan. 


"Nggak bisa gitu dong, Ko. Ikutinlah tantangannya. Cepet telepon!" paksa Gesna sembari meraih ponsel Riko dari tengah meja. "Speaker jangan lupa."


Riko mengusap wajah, kalut. Terlalu sulit menghubungi orang terindah yang sempat singgah dan menorehkan luka.


"Buruan! Bemo!" ledek Naraya. "Atau lo udah lupa nomornya? Ci, masih ada nomor hape Cecyl nggak?"


Asri menyahut cepat, "Ada! Ada banget. Mau lo?"


Riko mengumpat berulang kali. Di ponselnya juga masih ada nomor Cecylia. Belum ada niat sama sekali untuk menghapus nomor itu. Mau tak mau, Riko mengambil ponsel yang disodorkan Gesna dan menekan panggilan.


"Halo," sapaan lembut di seberang membuat Riko terdiam. "Halo, Ko?"


"Hai, Cyl," balas Riko kaku. Semua yang ada di kursi ikut diam dan menonton kejadian. Memperhatikan bagaimana seluruh kosakata milik Riko lenyap dan cowok itu tidak tahu mau berbicara apa.

__ADS_1


"Iya. Kenapa, Ko?"


Gesna menutup mulut dibantu dengan telapak tangan. Dia sudah ingin menertawai Riko keras-keras. Apalagi melihat Riko berulang-ulang mengusap muka resah.


"Ng-gak apa-apa. Cuma ..." Riko terlihat menggaruk kepala. "... Cuma ngecek nomor lo masih aktif atau enggak. Soalnya gue lagi bersih-bersih kontak."


Cewek di seberang telepon terdiam. Sementara Gesna mendorong kepala Riko dengan gemas, Naraya dan Asri mulai berusaha menahan tawa yang hampir lepas seperti biasa.


"Oh," jawab Cecylia pelan. "Kirain kenapa."


"Iya, sori ganggu. Udah dulu, ya." Riko segera mengakhiri panggilan. Hampir setahun setelah putus dari Cecylia, Riko tidak pernah mau mengenal cewek lain. Semua anak basecamp mengetahui itu, sehingga cerita Riko dan Cecylia selalu menjadi olok-olokan. 


"Uhm.. Eh, BTW, lo nggak ganggu sih sebenernya," sela Cecylia sebelum Riko menekan tombol merah.


Ilham langsung menepuk-nepuk bahu Riko, memberikan dukungan. Sedangkan Riko masih tampak canggung sekali. 


Seperti mengerti kejanggalan penelepon, Cecylia mengakhiri pembicaraan. "Ya udah, deh. Bye, Riko. Take a good care." Kemudian terdengar suara telepon terputus dari ponsel yang  sedari tadi dihidupkan pengeras suaranya.


Adrian terkekeh sambil memandang yang lain. "Kalau kata Dear Nathan. Mantan itu artinya manis di ingatan."


"Bukannya manusia setan?" tanya Riko berdengkus dan menaruh ponsel ke meja.


Gesna langsung menggetok kepala Riko. "Nggak usah setan-setanin mantan. Nyatanya lo kicep juga, taï badak."


Untuk melepaskan suasana tidak enak, Asri menyodorkan diri setelah Riko. "Punya gue sekarang, pesan jajanan di kantin sambil ngerap. Besok Senin kalau gitu."


"Ah, itu sih gampang," kata Ilham.


"Kayak punya lo enggak?" balas Asri. "Punya lo apa, Nay?"


Naraya menunjukan permen yang dipegang. "Baca Pancasila di depan umum," jawabnya, "gue baca sekarang, ya."


Riko menahan Naraya. "Enggak, enggak. Kalau baca sekarang sih kemudahan! Lusa bacanya, di lapangan habis upacara. Pokoknya yang ada embel-embel 'di depan umum' harus di sekolah jangan di sini."


"Berarti gue juga Senin dong?" tanya Adrian menunjukan permen bagiannya. "Punya gue, goyang heboh dua menit di depan umum."


Riko mengangguk. "Kenapa prank-nya mudah-mudah semua, sih? Punya lo apa, Ge?"


Gesna mengerjap. Dia lupa membaca tulisan di permen sendiri. Tangannya dengan cepat membalik permen. Nggak mungkin! Gesna menelan ludah. Nasibnya akan sangat sial malam ini.


"Apaan?" Riko mengambil permen Gesna seperti yang dilakukan cewek itu tadi terhadapnya. "Siap terima tantangan apa pun," ucap Riko lantang dengan mata berkilat jenaka. "Jadi, Ge. Lo mau ditantang apa?"


"Anjay. Jangan yang aneh-aneh, ya." Gesna mulai melobi Riko. Kata-kata 'apa pun' itu terdengar cukup mengerikan.


"Nggak bisa gitu, dong," sela Ilham. "Riko aja tadi bisa jalanin tantangan yang paling susah buat dia."


Tangan Gesna maju dan menoyor Ilham. "Eh, taï badak. Lo dapat yang mudah tadi, ya. Jangan mempersulit orang. Di akhirat nanti lo dipersulit juga," ujar Gesna meyakinkan.


Naraya terkekeh berdengkus. "Alesan lo, Gege. Ngeles terus kayak bajaj. Kasih tahu ajalah, Ko. Apa tantangannya?"


"Apa, woy?" tanya Riko meminta yang lain berikan ide. Mereka tampak mulai memikirkan ide paling memalukan untuk Gesna.


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Kafe semakin ramai. Panggung yang berada di samping pintu masuk juga mulai dihidupkan lampu-lampunya. Seorang MC naik ke panggung dan menyapa para pengunjung.


"Guntur mana sih, lama banget?" tanya Ilham. 


"Iya, tadi udah gue kirimin pesan tapi belum dibalas," tambah Riko.


"Sabar, lagi kebaktian kali. Yang penting lo udah kasih tahu kita di sini, 'kan?" sela Gesna. Sebagai orang yang paling tahu jadwal Guntur, dia ikut menenangkan.


Tepuk tangan penonton menyambut band yang masuk, membuat perhatian mereka teralihkan. Lampu tembak mengarah ke tengah panggung. Di atas panggung, seorang menghadap belakang sambil memetik gitar. Dari instrumental petikan gitar dan entakan drum, baik Naraya dan Gesna tampak mengenali lagu yang akan dibawakan.


"Nay. SOAD, Nay." Gesna menyenggol pelan Naraya. System of A Down adalah salah satu band heavy metal kesukaan Naraya.

__ADS_1


Naraya mengangguk sambil mulai ikut bernyanyi. Mengiringi sang vokalis yang mulai membalikkan badan. Cara vokalis memainkan gitarnya sangat keren, tetapi bukan itu yang membuat Gesna ingin pingsan sambil melotot di tempat. Melainkan karena vokalisnya adalah Adit.


__ADS_2