
Baru selangkah Gesna memasuki rumah Guntur, pekikan senang Pelangi sudah menggema. "Kak Gesnaaaaa."
Gesna menutup kedua telinga ketika Pelangi menghambur ke arahnya dan memeluknya. Raut kekanakan itu setengah merajuk. "Ke mana tadi malam? Kok udah dua minggu nggak ke sini, sih?"
"Kak Gesna sibuk pacaran, Ngi," jawab Guntur membuat Gesna ingin menelannya bulat-bulat.
"Mana mungkin. Kak Gesna nggak punya pacar. Iya kan, Kak?" Pelangi menggelantung di lengan Gesna. Ia hanya mengangguk atas pertanyaan adik kecilnya itu.
Guntur menahan tawa. "Lagian siapa yang mau sama orang gragas kayak dia, Ngi."
"Heh!" Tendangan Gesna lepas juga ke arah Guntur. "Jangan racuni Pelangi dengan argumen lo itu."
Badan Guntur berguncang, tawa berdengihnya lepas. Ia menarik sejumput rambut Gesna. "Satu dunia juga tahu itu, Gege sayang. Lo sih nggak bakal laku kalau nggak berubah. Nggak ada yang berani sama lo."
"Dikata gue Sailormoon pakai berubah."
"Nggak cocok lo jadi Sailormoon. Boboiboy aja deh."
Gesna baru selesai mandi. Rambutnya masih basah. Dia pasrah saat Pelangi menggiringnya menuju kamar anak itu.
"Stop. Abang nggak usah ikutan. Ini urusan cewek." Pelangi berdiri di depan pintu kamarnya, meminta Guntur untuk pergi.
"Widih... Lo pikir gue bawa Gesna ke sini buat lo doang? Sok oke amat lo nyabotase dia." Abang Pelangi itu berkacak pinggang tidak mau kalah.
Tidak peduli oleh jawaban Guntur, Pelangi melambaikan tangan, dan memberikan ucapan selamat tinggal. "Nanti! Pakai giliran. Kak Gesna ke sini kan buat Pelangi. Udah abang tidur aja kek, nonton kek, nyapu kek, mandi kek atau pesan makan. Mamah Papah kondangan soalnya. Bye," sahutnya kemudian menutup dan mengunci pintu.
Gesna dapat mendengar daun pintu itu sempat digedor Guntur. Kakak-adik itu berjawab-jawaban dari dalam dan luar pintu. Dia hanya tersenyum sambil duduk di atas kasur Pelangi melihat keributan yang ada. Ada rasa yang hangat menjalarinya ketika merasa diperebutkan. Ia merasa dianggap penting. Ia merasa dianggap ada.
Setelah selesai perdebatan sengit, Pelangi duduk di sampingnya. "Kak, Pelangi mau cerita."
Mata bulat Pelangi mengerjap lucu. Gadis kecil itu telentang di samping Gesna sambil melihat langit-langit. Kamar Pelangi yang dominan warna putih ini terasa nyaman dengan dekorasi yang sangat feminin. Ranjang berwarna putih dipasangi seprai berwarna merah muda. Lemari pakaian dan kaca besar juga berwarna putih, terlihat manis dengan gorden bermotif flamingo.
"Kak Gesna pernah suka sama cowok, nggak?" tanya Pelangi mau tahu.
Gesna tersenyum kecil dan bertanya balik, "Kenapa?"
Pelangi tidak menjawab tetapi rona mukanya mendadak berubah warna. Gesna sudah dapat menarik kesimpulan sendiri dari penglihatannya. "Lo lagi suka sama cowok, ya? Yang mana anaknya?"
Badan Pelangi menegang, tidak percaya Gesna akan dengan mudah menebak. "Kelihatan ya, Kak?"
Gesna menyengir. "Udah... Yang mana anaknya? Gue pengin lihat."
Gini-gini Gesna juga tahu tanda-tanda seorang cewek yang tertarik sama cowok. Pelangi merogoh kantong piama, mencari sesuatu di ponsel lalu menunjukan sebuah foto ke Gesna. Foto bersama saat sedang di dalam laboratorium. Ada lima orang di foto itu termasuk Pelangi. Namun, Gesna dengan mudah dapat mengira siapa yang dimaksud Pelangi. Ia menunjuk seorang cowok yang berdiri paling belakang, tepat di belakang Pelangi. "Pasti yang rambutnya berdiri ini, ya?"
Pelangi menutup mukanya, malu. Ia mengangguk di bawah kedua telapak tangan.
"Cie...." Tawa Gesna tersembur.
"Kak. Jangan gitu dong, kan malu."
"Ejiye... Jiye... Nggak shanggooop. Boleh juga selera lo." Gesna masih geli. Cowok pilihan Pelangi itu terlihat berkulit gelap dan senyumnya manis, tapi dari penampilan sudah terlihat bahwa dia tipe pembangkang. Gesna berdecak. "Pasti badboy, ya?"
"Sebenarnya Ghazi nggak nakal, Kak." Pelangi menatapnya sungguh-sungguh. Cara Pelangi berbicara terlihat membela cowok itu.
Gelak Gesna terlontar lagi sampai matanya berair. Kalau cewek sudah suka sama cowok ya begitu, salah pun tetap dibela. "Oh, namanya Ghazi. Udah punya pacar belum?"
"Tolong ya Kak Gesna. Ini Pelangi bukan pelakor. Nggak mungkin dong Pelangi suka sama pacar orang."
Gesna terkekeh. "Tinggal jawab belum aja suseh amat. Iya, iya. Jadi, lo mau minta advice apa dari gue?"
Ia lalu meraih sebuah minuman botol di atas meja belajar dan membukanya. Tenggorokannya terasa kering.
Pelangi tersenyum penuh makna, pipinya masih kemerahan. Mata bulatnya berbinar indah. Tidak salah jika Mamah memberi nama gadis kecil ini Pelangi. Gadis kecil ini memang sangat cantik. "Ajarin Pelangi cara dekat sama Ghazi tapi nggak malu-maluin. Kak Gesna pasti berpengalaman. Pelangi pengin bisa merebut hati cowok yang Pelangi suka."
Bulir-bulir jeruk dari minuman botol itu tersesat di tenggorokan Gesna. Berpengalaman dalam merebut hati cowok yang dia suka? Cowok yang disukainya saja sahabat sendiri dan nggak peka-peka.
***
"Ge... Ngi... Makan dulu."
Ketukan berulang kali mendarat di pintu kamar Pelangi, mengganggu dua orang cewek yang sedang khusyuk membahas Ghazi.
__ADS_1
"Woy, lo berdua. Buka nggak pintunya?! Gue dobrak nanti," ancam Guntur kesal.
Pintu kamar bergerak membuka, kepala Pelangi keluar dari celah pintu. "Abang cari hobi lain sih selain gangguin Pelangi sama Kak Gesna," sungut Pelangi.
"Hobi gue main basket, main gitar. Ngapain juga gangguin lo pada, nggak ada untungnya!" sahut Guntur. Ia masuk ke kamar Pelangi dan menarik tangan Gesna. "Makan dulu."
Pelangi masih bersungut. "Kak Gesna aja yang diajak makan? Pelangi enggak?!"
Mata Guntur membulat dan bibirnya mengerut. "Gue udah ngajak lo dari tadi buntelan galon."
"Abaaaaang! Pelangi nggak gendut, ya! Enak aja! Abang tuh yang tiang listrik!" Pelangi melayangkan cubitan ke lengan Guntur. Dia lalu menarik Gesna dari pegangan Guntur dan terjadi tarik menarik antara mereka berdua. "Kak Gesna sama Pelangi. Lepasin nggak, Bang!"
"Udah lo sabotase dari tadi, galon! Sekarang giliran sama gue dong!" Guntur tidak mau kalah.
"Ih, enggak. Urusan Pelangi belum kelar!"
"Enak aja lo anak kecil, nggak mau ngalah melulu!"
Gesna ingin menggaruk rambut yang tidak gatal. Namun, kedua tangannya dipegangi mereka. Ia berusaha menengahi. "Ini kita jadi makan apa kagak, ya?"
"Pelangi nggak mau makan kalau Bang Guntur nggak lepasin Kak Gesna," ancam Pelangi masih sembari menarik cengkeramannya di tangan Gesna.
"Gue bilang Mamah, lo nggak kasih makan tamu." Guntur balik mengancam seraya menarik Gesna dari sisi yang lain.
"Pelangi bilangin Papah kalau Abang maksa."
Gesna mengeluh pelan, tidak tahu harus bagaimana. "Bentar lagi mati kelaparan gue."
Akhirnya Guntur mengalah. Sudah takdirnya, cowok akan mengalah kepada cewek. Seperti peraturan tidak tertulis saja tetapi diketahui semua orang. Mereka menuju meja makan, makanan siap saji sudah ada di atas meja.
Pelangi memperhatikan sajian di meja. "Es krimnya mana?"
Guntur mengambil tiga piring dan memberi kepada yang lain satu per satu. Ia lalu menyibak plastik putih dan keluarkan isi: ayam goreng, sup, nasi putih dan kentang. "Nanti, habis makan. Udah mau jam dua. Makan dulu."
Gesna mengambil bagiannya dengan diam. Ada rasa haru menyelinap ketika makan di rumah ini. Mungkin bagi sebagian orang, kebersamaan adalah hal yang mudah dan murah. Namun, tidak bagi Gesna. Kebersamaan menjadi barang mahal untuknya.
Pelangi makan sembari melihat ponsel. Tangan kirinya terlihat mengetik sesuatu.
"Makan dulu, Ngi. Makan jangan sambil main hape," tegur Guntur.
"Ya, nggak gimana-gimana." Gesna mencolekkan ayam ke sambal. "Kalau dia datang ya tinggal bukain pintu."
Pelangi terlihat gelisah, makannya jadi tidak konsen. "Terus, nanti Pelangi bilang apa?"
"Bahas APBN aja atau utang Negara," tandas Gesna terkekeh. Dia hanya berniat menjaili Pelangi. "Udah, nggak usah dipikirin, biarin ngalir aja. Bicarain hal-hal di sekitar kalian aja."
Ayam Gesna sudah habis. Ia meraih kulit ayam Guntur yang sengaja cowok itu sisihkan untuk dimakan akhir episode. "Makasih ya, Gun."
Sebagai penyanjung kulit ayam dan pemegang teguh aliran kulit ayam dimakan belakangan, Guntur sudah mau protes sekaligus menoyor Gesna. Namun, ia menyadari satu hal. Setelah sekian lama, selera makan Gesna sudah kembali normal seperti semula. Belakangan, cewek itu terlihat tidak nafsu bahkan sulit menghabiskan makan semenjak perceraian orang tuanya. Guntur hanya mengecapkan lidah pertanda mengalah, lalu berdiri untuk membasuh tangan.
Pintu rumah terketuk. Pelangi masih makan sambil bermain ponsel, Gesna sedang mencuci tangan sedangkan Guntur baru menyesap sodanya. Guntur menuju pintu rumah untuk melihat siapa tamu yang datang.
Pelangi mendekati Gesna untuk mencuci tangan dan menaruh piring kotor. "Bang Guntur pasti sayang banget sama Kakak."
Gesna menoleh ke Pelangi, kaget mendengar ucapan gadis kecil itu. "Kok gitu?"
"Seumur-umur dia bakal ngamuk kalau kulit ayamnya diganggu. Tumbenan tadi enggak."
Gesna tahu tadi Guntur memang aneh. Biasanya cowok itu akan mengomel ke siapa saja yang mengambil kulit ayamnya. "Lagi jinak aja kali," sahut Gesna pendek. Tanpa Pelangi ketahui, Gesna-lah yang sangat menyayangi abangnya Pelangi.
"Kakak suka sama abang, nggak?" tanya Pelangi berbisik sambil membasuh tangan di bawah keran.
Gesna yang sedang mengeringkan tangan memakai serbet, merasa sedang dijebak. "Ngomong apaan lo, Ngi?"
Pelangi menaikturunkan alis tipisnya. "Padahal, Pelangi restuin loh Kak Gesna jadi kakaknya Pelangi. Mamah Papah pasti juga sama."
Gesna sudah akan memekik girang dalam hati. Ada rasa hangat di saraf pipinya dan ada hasrat ingin tersenyum yang setengah mati ditahan.
"Cie, merah. Cie..." Pelangi tertawa. Gesna melempar serbet ke arahnya.
"Apaan nih lempar-lempar serbet?" Guntur datang ke arah mereka.
"Ini, Bwang—"
__ADS_1
Gesna langsung membekap Pelangi. "Nggak ada apa-apa. Siapa yang datang?"
"Ngi, teman lo tuh." Tatapan Guntur terlihat menyelisik. "Ghazi," tambahnya.
Pelangi terdiam kaku dan berusaha berpikir harus bagaimana. Setelah Gesna melepaskan belitannya, ia bergegas ke kamar untuk mengganti baju. Perasaannya tidak karuan saat ini. Sekilas, ia melihat Gesna melenggang sambil bersiul ke arah pintu. Bahasa tubuh Gesna ketika hendak atau habis mengusili seseorang.
"Kak Gesna, jangan," panggilnya. Telat, Pelangi. Gesna sudah keluar menghampiri Ghazi.
"Cari siapa?" tanya Gesna ramah. Basa-basi, ia tahu cowok itu mencari Pelangi.
Cowok itu menoleh. "Cari Pelangi, Kak."
Gesna duduk di kursi teras, di samping cowok itu. "Oh, Pelangi. Lo siapa? Hujan?"
"Ghazi, Kak."
Cowok itu menjawab pertanyaan Gesna dengan sopan. Sebuah poin bertambah di mata Gesna. Dia mengangguk-angguk, mirip batang bunga monstera Mamah di depannya yang tertiup angin. "Satu sekolah?" tanyanya.
"Sekelas malah, Kak."
Gesna tertawa. "Wooh. Pelangi kok nggak bilang kalau punya teman sekelas yang ganteng gini," godanya.
Guntur datang menyusul ke teras. "Ge... Nggak usah gangguin orang, napa?"
Tawa Gesna berubah mencebik. "Siapa yang gangguin? Gue temenin Ghazi, selagi Pelangi ganti baju. Ya kan, Zi? Lo keberatan gue temenin?"
"Nggak kok, Kak."
"Nah, Ghazi aja nggak papa." Gesna mulai mengeluarkan amunisinya. Cowok yang mau mendekati Pelangi harus dites terlebih dahulu. "Jadi dalam rangka apa kemari, Zi?"
Ghazi terlihat berpikir, seolah takut salah jawab. "Santai aja, Zi. Santai... Santai kayak di pantai, selow kayak di pulo," ujar Gesna masih mengetes Ghazi.
Ghazi tersenyum dengan menampilkan gigi. Senyuman Ghazi malah membuat Gesna terdiam. Sudut simpul itu seperti tidak asing. Gigi cowok itu putih dan berderet rapi, senyumnya hangat, jauh dari kesan nakal. Seperti senyum Adit.
"Lo punya kakak, Zi?" tanya Gesna coba mencocokkan.
"Ghazi anak tunggal, Kak."
"O-oh." Gesna menjawab pendek. Berarti Adit bukan kakaknya Ghazi. "Nggak usah pakai Kakaklah, panggil aja gue Gesna. Siapa tahu akrab."
Guntur yang sedari tadi memperhatikan Ghazi lalu menyela, "Apa sih lo, Ge? SKSD amat."
"Ya, mana tahu si Ghazi punya kakak atau sepupu. Bisa dikenalin sama gue. Ya, kan, Zi?" Gesna mencoba berdalih.
Ghazi terlihat menjawab ucapannya dengan tersenyum.
Pelangi datang dengan terburu-buru ke arah teras. Sikap itu malah membuat Gesna ingin sekali menjaili Pelangi. "Eh, ini Pelanginya udah datang. Lama amat, Non. Udah hampir gue ajak nge-date Ghazi lo."
Pelangi kehabisan kata-kata. "Kak..."
"Ya udah, kami tinggal dulu ya, Zi." Gesna menarik lengan Guntur. "Kalau ada kakak sepupu lo yang manisnya kayak lo, bolehlah dikenalin sama gu—"
Guntur langsung membekap Gesna dengan satu telapak tangan saja. Dari tadi, Gesna didiamkan malah menjadi-jadi centilnya.
Ghazi melongo melihat adegan itu, Pelangi tertawa kecil.
"Nggak, nggak. Dia cuma bercanda, kok. Ya udah, kami tinggal dulu, ya," ucap Guntur sambil berlalu.
Ia menyeret Gesna ke dalam rumah dan melepas bekapannya. "Ngomong apa sih lo, Ge? Bikin malu," ujarnya tidak suka melihat Gesna kecentilan seperti tadi.
"Ya, kenapa coba? Kita tuh nggak tahu jodoh kita tuh ada di—"
Guntur membekap lagi dan mendorong badan Gesna agar duduk di sofa. "Diam nggak lo? Masih piyik ngomongin jodoh."
"Lepwass." Gesna sekuat tenaga menyingkirkan tangan Guntur di mulutnya. "Sirik aja lo!"
"Ngapain gue sirik? Sama lo lagi," cibirnya. Ada rasa tidak terima di ceruk hati, melihat aksi berlebih Gesna ditujukan kepada orang lain, selain dirinya. Guntur berusaha menahan itu sedari tadi.
"Terus tadi apa? Nggak mau kalah saing banget. Takut ya lo nggak punya teman kalau gue punya pacar?"
Gesna menghidupkan televisi, menyetel serial televisi yang ada. Adegan tembak-tembakkan terjadi entah antara siapa dan siapa. Api di mana-mana dan suasana sangat gelap.
"Cemburu, mungkin," jawab Guntur lirih. Ia lelah sekali menyembunyikan rasa yang ada.
__ADS_1
"Apa?"