
"Udah?" tanya Adji saat Gesna menghampiri.
Gesna mengangguk. Akhirnya di antara sekian banyak orang yang dikenalnya, hanya Adji yang mau menemani dia nonton Spiderman. Gesna ingin sekali menonton. Kepalanya terasa butek, hatinya masih sesak dan dia perlu hiburan. Dia sadar kalau Guntur sudah tidak memiliki waktu bersamanya lagi, sehingga bagaimana dia mau mengajak nonton atau dugem?
"Gue balikin skuter ke rumah dulu boleh?"
"Boleh, yuk."
Adji dan Gesna berpisah di parkiran. Gesna menuju parkiran motor sedangkan Adji menuju parkiran mobil. Mobil Adji mengikuti skuternya sampai ke rumah dan ketika Gesna selesai memarkirkan barang kesayangan itu, dia segera naik ke mobil Adji.
"Lo ada hubungan apa sama si Adit?" Adji menyengir penuh arti ke Gesna. Mungkin itu pertanyaan yang ingin cowok itu tanya sedari tadi, saat Adit menariknya dari pelukan Adji.
Bola mata Gesna berputar. "Hubungan apa? Nggak ada hubungan apa-apa."
Kepala Adji langsung menoleh heran plus kaget. "Serius lo? Muka Adit kayak mau nerkam gitu, tadi."
"Ngapain gue bohong sih sama lo, Kak? Lo aja udah tahu perasaan gue sama Guntur," gumam Gesna.
"Ya, bukan gitu, Ge. Kalau tadi yang peluk lo itu gue atau anak-anak basket, gue paham. Ini Adit. Gue dari tadi masih nggak habis pikir, ada apaan lo berdua." Adji mulai terkekeh. Alis tebal cowok itu berkerut-kerut.
"Memang kenapa kalau itu Adit?" tanya Gesna sampai menaikkan kedua alis.
Tawa Adji masih tersisa di muka. Cowok itu menggeleng-geleng.
"Ge, itu Adit," tekan Adji serius. "... Kepala Suku. Dia nggak mungkin datang dan peluk cewek yang nggak dia kenal apalagi sampai bilang apa tadi?"
Adji berusaha mengingat. "Dia sudah punya bahu buat bersandar," tutur Adji sambil kembali tertawa.
Gesna memukul bahu Adji. Memang sih kalau dipikir-pikir kalimat Adit itu agak berlebihan dan menggelikan. "Udahlah. Gue juga nggak ngerti Adit kenapa. Biarin aja."
Kakak kelasnya itu masih mesem-mesem mendengar penjelasan Gesna. Seperti memiliki kesimpulan sendiri dari interaksi antara Adit dan Gesna yang dilihatnya.
Gesna kembali mengayunkan tangannya ke bahu Adji. "Udah, deh. Nggak usah bahas Adit."
"Iya, iya," sahut Adji tersenyum kecil sembari memperhatikan jalanan. "Kayaknya pengin banget lo nonton Spiderman ini."
"Suntuk gue. Mau ngapain coba? Main basket? Yang ada bolanya nanti gue bedel atau ringnya gue robohin."
"Itu bukan suntuk, Ge. Itu sih memang jiwa vandal lo aja yang meluap-luap."
Gesna berdecak sambil melihat jalanan. Sebenarnya dia juga nggak menyangka sih kalau Adit akan seperti itu. Apalagi tempatnya di sekolah, bukan di rumah sakit atau apalah yang nggak bakal ada orang mengenali mereka berdua. Benar juga kata Adji, seorang Kepala Suku datang tanpa permisi terus memeluk dia. Si Adit kesambet apaan?
Mobil Adji sudah sampai ke mal yang paling dekat di kawasan mereka. Dahulu, dia sering sekali jalan bertiga bersama Adji dan Naraya, sekadar menonton, duduk-duduk nongkrong atau main. Namun, setiap orang akan berubah. Begitu juga Naraya dan Adji. Kesibukan membuat mereka makin jauh dari Gesna. Apalagi sedikit banyak Gesna tahu kalau di antara Adji dan Naraya ada kisah yang nggak bisa dianggap biasa saja.
Dia tahu kok ada kecanggungan antara Adji dan Naraya. Cewek itu mulai jarang datang ke kantin Pespel. Sekalinya datang ke kantin, seperti tidak saling kenal dengan Adji.
Gesna mengikuti langkah lebar Adji. Dalam hati Gesna tersenyum. Adji ini digandrungi cewek-cewek di sekolah. Sebab dia tampan, mantan ketua I OSIS dan mantan kapten basket. Para cewek tuh tahu saja ya calon bibit-bibit unggul penerus bangsa. Buktinya Adji juga termasuk anak basket yang banyak dipepet cewek. Memanglah ya, kolaborasi anak yang pintar berolahraga dan pintar berorganisasi itu menjadi kombinasi yang memukau.
Gesna mengembus napas pelan, kembali teringat Guntur. Namun, dia suka Guntur bukan karena Guntur anak basket juga anak OSIS. Dia suka Guntur meskipun Guntur bukan anak basket dan anak OSIS. Dia suka Guntur jauh sebelum Guntur setenar ini. Dia suka Guntur yang dahulu.
"Ge," desis Adji.
Cowok itu tiba-tiba berbalik hendak mengajak Gesna pergi hingga ada satu suara yang sangat dia kenali, membuat badan Gesna membeku sesaat.
__ADS_1
"Eh, ada Kak Adji?"
Guntur. Tidak salah lagi itu suara Guntur. Gesna menggeser kepalanya, keluar dari badan Adji yang menutupi pandangan. Dadanya terasa dihantam batu lagi, untuk yang kedua kali, di hari yang sama.
Di kursi tunggu bioskop, dia melihat ada Guntur, Joceline, Renard dan Naraya. Guntur seperti memberi tahu yang lain akan kedatangannya dan Naraya menoleh ke arah dia.
Tatapan mereka bertemu.
Gesna memicing dan Naraya menyapu pandangan detail ke dia. Kalau tidak ingat ini bioskop, Gesna ingin sekali melempar tas ke arah Naraya.
Cewek itu bilang dia sibuk. Cewek itu bilang dia nggak bisa menonton. Cewek itu bilang nanti diatur kembali jadwal menonton mereka saat Asri pulang umrah. Tapi kenapa malah nonton lebih dahulu tanpa mengajak dia? Seandainya dia tidak datang bersama Adji saat ini, mungkin dia nggak tahu kalau Naraya berbohong. Luar biasa memang.
Saat ini, dia dikelilingi para pembohong. Orang terdekat malah berpotensi erat untuk mengecewakan. Mama, Papa, Guntur dan sekarang Naraya. Luar biasa sekali. Gesna berdengkus keras sambil tertawa dingin.
Adji menariknya untuk duduk di salah satu sofa tunggu setelah membeli tiket. "Udah, santai coba, santai. Muka perang lo jangan ditunjukin banget."
Gesna melirik tajam. "Gue udah cerita kan tadi sama lo, Kak? Gue ngajak Nay buat nonton. Dia bilang dia sibuk. Ini yang katanya sibuk?"
Tahu kalau dia sedang emosi, Adji menepuk-nepuk pelan punggung Gesna. Cowok itu bangkit dan menuju ke konter penjualan minum. Membelikan Gesna minum.
"Minum dulu coba," ujar Adji sembari menyodorkan sekaleng minuman dingin.
Gesna menimang-nimang kaleng yang dinginnya mampu membuat tangan kebas.
"Jangan lo lempar, Ge. Nggak ada ring di sini," tambah Adji pelan.
Gesna mulai menyengir. "Tahu banget lo, ya, Kak." Dia membuka penutup kaleng dan menyesap minuman. Ekor matanya mengarah ke tempat duduk Guntur dan Joceline. Sepasang simpanse yang lagi jatuh cinta itu terlihat sedang berbicara sambil tertawa-tawa.
"Adji," panggil Renard.
Adji dan Gesna menoleh ke arah Renard. Bukannya berbicara kepada Adji, Renard malah tertawa-tawa dengan Naraya. Tangan Naraya bahkan membekap mulut Renard.
Adji hanya diam dan menunduk, membuang pandangan ke arah lain. "Sumbu sabar gue panjang buat dia, Ge. Dia mesra sama semua teman cowoknya, gue rasa," gumam Adji sambil menyesap minum miliknya.
Ada benarnya yang Adji bilang. Walaupun jutek, seluruh penghuni kantin Pespel menyayangi Naraya dan rela melindungi Naraya dari apa pun. Terbukti saat Naraya berdebat keras dengan Renard di depan kantin. Anak-anak Pespel langsung menghajar Renard. Hal yang belum tentu ada jika peristiwa itu terjadi kepadanya, sekarang. Sebab Guntur sudah tidak ada di belakang Gesna.
Gesna berdeham mengiakan. Jujur, dia kecewa. Naraya yang bilang ada urusan OSIS malah ternyata double date sama pasangan Guntur. Kenapa enggak bilang saja kalau mau double date? Dia sebagai sahabat pasti berusaha mengerti, kok. Tidak perlu main kucing-kucingan dan terakhir ketahuan seperti ini.
"Lo tuh yang harusnya sabar," tambah Adji. Matanya melirik ke Guntur dan Joceline yang duduk bercerita berdua.
Gesna meringis perih. "Nasib gue! Baper sama friendzone."
"Masih mending lo, sih. Hubungan lo sama Guntur jadi tetap awet, Ge. Lo lihat aja gue sama Nay gimana sekarang. Nyesal juga gue pernah kasih tahu perasaan gue sama dia. Dia malah jauhin gue gitu."
"Tapi lo lega, 'kan? Nah, gue nyesek."
"Serba salah juga sih, ya. Lihat sisi positifnya aja sih, Ge. Lo sama Guntur masih bisa sahabatan kayak dulu. Masalah perasaan lo tinggal lo handle ulang. Coba gue? Mesti gimana coba? Udah telat juga kalau mau bilang ke dia, 'gue cuma bercanda'."
"Sabar, Bro!" Gesna menepuk pundak Adji. "Yang namanya jodoh nggak akan ke mana. Kata pepatah, sejauh apa pun dia pergi kalau jodoh bakal baliknya ke kita juga."
"Bahasa lo! Kayak benar aja." Adji tertawa, Gesna ikut tertawa.
Setidaknya, saat ini, mereka bisa menertawai luka. Hanya itu yang bisa dilakukan sebab tangis juga tidak akan mengubah segala yang sudah terjadi.
Gesna kembali ke rumah saat hari hampir gelap. Di studio, dia dan Adji saling membesarkan hati masing-masing. Dia berusaha biasa saja dengan Guntur dan Joceline di sampingnya, juga Adji yang menurut pengakuan cowok itu, berjuang keras untuk sabar melihat Naraya dekat dengan Renard. Tetapi, sabar tidak semudah teori, lapang dada tidak seenteng bicara. Dia dan Adji permisi pulang lebih dahulu setelah film berakhir, tidak ingin ikut duduk atau kumpul bersama mereka berempat.
__ADS_1
Saat masuk ke teras, Gesna menatap motor besar yang ada. Dia tahu ini motor siapa. Dia mulai hafal plat motor yang bersamanya di Bandung. Gesna mengusap muka lelah.
Kenapa Adit datang? Ada apa lagi? Bukankah cowok itu sudah diminta pergi?
Gesna membuka pintu depan perlahan. Melihat Adit duduk di sofa sambil menonton TV sendirian. Tidak ada Gustav. Cowok itu menoleh ketika mendengar pintu didorong.
"Ngapain lo di sini?" tanya Gesna bingung. Saking bingungnya dia tidak bisa memilih kata yang lebih baik untuk bertanya maksud kedatangan Adit.
Adit tersenyum. "Ditanya kek udah berapa lama nunggu? Nunggunya sama siapa aja? Datangnya jam berapa?"
Gesna melepas sepatu asal dan duduk di samping Adit setelah melemparkan tas ke karpet. "Iya, dari jam berapa lo datang? Abang mana?"
"Kenapa hape lo nggak aktif?" Bukan menjawab, Adit bertanya balik.
Gesna keluarkan ponsel dari saku dan menunjukkan ke Adit. "Lowbat."
Adit hanya berdecak dan mengacak rambut Gesna yang lepek. "Bersih-bersih dulu sana. Mandi biar wangian."
"Mandi nggak mandi juga gue tetap cakep," elak Gesna sambil bersandar di sofa. Kedua kakinya dinaikkan ke meja kecil di depan sofa. Mukanya masih kusut. Menonton yang harusnya sebagai ajang menghilangkan suntuk malah mendatangkan lebih banyak energi negatif.
Adit melirik jam dinding. "Gue nunggu lo dua jam tiga puluh menit delapan belas detik. Mandi sana, nggak perlu luluran, ya."
Cowok itu menurunkan kedua kaki Gesna dari meja lantas menepuk pelan lengannya.
Gesna melengos. Dia tidak suka diatur-atur. Namun entah kenapa, kali ini, permintaan itu diikutinya. Mungkin karena merasa sudah gerah dan perlu menyegarkan badan. Tidak sampai dua puluh menit, dia sudah turun dari kamar.
Adit menatapnya yang memakai kaus oblong berwarna hitam dengan celana pendek berwarna hijau tentara. "Hoodie lo mana?"
Gesna mengangkat sebelah alis, heran atas pertanyaan barusan. "Dicuci. Kenapa?"
"Pakai jaket. Udah malam."
"Memang mau ke mana?"
"Cari makan. Lo nggak lapar? Gue sih lapar ya tungguin orang hampir tiga jam." Cowok itu menyengir penuh sindiran.
Gesna menyapu pandangannya ke arah Adit dari atas ke bawah. Cowok itu sudah berganti baju, tidak memakai seragam. Seperti memang sudah siap untuk pergi. "Ya, mana gue tahu lo di sini. Memangnya gue punya cermin ajaib apa?"
Dia memutar badan, kembali ke kamar. Membuka lemarinya dan menarik satu dari susunan jaket yang ada, kemudian memakainya buru-buru. Deru mesin motor Adit terdengar dari kamarnya. Gesna berlari turun dan mengikat asal sepatu. Dia juga sudah lapar. Pura-pura baik-baik saja tentu menghabiskan banyak asupan tubuh.
"Yuk," ajak Gesna sambil memakai helm.
Adit merenggangkan kaca helm. Cowok itu mematikan motor dan turun kembali, menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Gesna.
Adit tidak menjawab. Tangan cowok itu menyatukan ritsleting jaketnya, mengancingkan sampai atas lalu berlutut, melepas ikatan sepatu yang dibikin asal kemudian mengikat kembali dengan baik dan kencang.
"Ingat, sayangin diri sendiri dulu baru sayangin orang lain," tukas Adit kembali ke motor.
Cowok itu tentu tidak tahu kalau Gesna sudah menggigit bibir dari balik helm. Benar kata Adji, antara dia dengan Adit ini aneh. Dibilang bersahabat juga tidak, dibilang ada hubungan juga ... dia tidak tahu hubungan seperti apa ini.
🌺🌺🌺
Hoodie lo mana?
__ADS_1
Iya, Bang. Ini dipake, Bang!