Matahari Api

Matahari Api
Perubahan Berarti


__ADS_3


"Biasa aja lihatnya, jangan kayak kambing lihat rumput," ujar Adit meniru ucapan Gesna, tadi siang. Dia tersenyum puas saat bisa menjelaskan apa yang sedari tadi menjadi alasannya naik ke lantai dua dan mencari Gesna. Membaca segala gunjingan di Lambe School membuat Adit geram dan langsung mengirimkan peringatan melalui pesan.


Seperti yang pernah Adit tanyakan kepada Gesna, tidak ada yang boleh mengganggu ratunya selain dia. Mengganggu Gesna berarti berniat mengganggu dia juga. Adit tinggal menunggu, jika dalam beberapa jam akun itu kembali mengunggah berita sedangkan peringatannya diabaikan, berarti orang di balik akun itu memang memiliki nyali terlampau tinggi. Atau bosan hidup. Atau ingin mati dan berniat menantangnya.


Adit melirik ke samping. Muka cewek itu masih tampak terperangah dengan penjelasan panjang Adit barusan. Tak lama, Gesna berdengkus terkekeh, menertawainya. "Biar gue tebak. Nilai bahasa Indonesia lo pasti delapan?"


Alis Adit menaik, dahinya berkerut. Dia lalu tertawa. Ada urusan apa dengan nilai bahasa Indonesia? "Sembilan. Kenapa?"


Gesna mencibir. Ada gabungan ekspresi tidak percaya dengan ekspresi menyesal sudah bertanya. "Pantesan, lancar amat mengarang indahnya. Iya, dah, percaya. Sombong bet yang nilai Bindo sembilan."


"Eh, nggak maksud sombong lho," ralat Adit. Dia memang menyebutkan itu refleks saja sebagai jawaban. Tidak terselip ingin pamer sedikit pun. Lagi pula, untuk apa sebuah nilai dipamer-pamerkan? Tidak ada gunanya.


Mereka kembali memandang ke bawah. Efek Rumah Kaca sudah menyelesaikan pertunjukan, berganti dengan bintang tamu satunya lagi, Fiersa Besari. Adit melirik jam digital di sebelah kiri atas ponsel. Pukul sembilan malam. "Makan, yuk," ajaknya.


"Makan apa?"


"Rumput aja biar kayak kambing," tukas Adit yang langsung dibalas dengan pukulan Gesna. "Mukul terus, Non. Cita-citanya mau jadi petinju, ya?"


"Garing pasti, nih. Garing," potong Gesna berniat mengejek.


"Enggak, ah." Adit menggeleng sambil menarik lengan Gesna, mengajak cewek itu berdiri dari kursi dan berjalan turun dari lantai dua. "Petinju, 'kan? Soalnya hati aku udah babak belur gitu sama kamu."


Kaus basah terlipat yang sedang dipegang Gesna, langsung dijejalkan ke muka Adit. "Non," protes Adit menarik kaus yang ada. "Aku udah pernah bilang kayaknya, jangan kasar-kasar. Nanti aku cium."


Bukannya takut, cewek itu malah menendang pelan kaki Adit yang mulai menuruni tangga. Gesna bahkan tidak merasa berdosa jika tindakannya tadi bisa membuat Adit jatuh berguling. "Heh! Didengar orang nanti. Yang vulgar-vulgar kayak gitu jangan diomongin nggak lihat tempat."


"Vulgar apaan?" elaknya tidak terima sambil memperhatikan muka Gesna. Di bawah temaram lampu tangga, wajah itu tampak bersemu. "Jadi, kalau lihat tempat, boleh?" bisik Adit lebih merapat ketika mereka ada di tikungan tangga.


Cewek itu berdecak sambil mendorong bahunya, berusaha mengalihkan pandangan yang membuat Adit terkekeh geli. Dia meraih tangan Gesna dan menggenggam erat. Kali ini, Gesna tidak menolak, tidak menepis ataupun protes. Langkah cewek itu mengikutinya menuju stan makanan.


"Kamu mau makan apa?"


"Piza."


"Memang ada?" Saat Adit menoleh, dia melihat Gesna tersimpul kecil. "Oh, ngerjain aku lagi, ya?"


Gesna tergelak, berusaha mengabaikan banyak mata yang mulai sadar akan kehadiran mereka dan melirik sembunyi-sembunyi. Biar saja mereka mau bilang apa, yang penting bagi Adit, dia berbeda. Meski terselip keraguan di relung Gesna, apakah ini benar-benar nyata?


"Di sini cuma ada snack-snack aja, Non. Kalau mau yang berat, aku pesanin dari Go-Food aja apa?" tawarnya. Adit paham selera makan Gesna bisa berubah-ubah. Cewek itu bisa makan dengan lahap, bisa juga memandang dingin lauk yang diidamkan setiap orang lapar dan memilih mengonsumsi Cha-cha.


Cewek itu menyengir. "Hidup kali, berat! Hari ini, lo kayak lagi di-endorse Gojek. Go-Food, Go-Food melulu dari tadi. Lihat luar aja, yuk. Lagi pengin jadi manusia, pengin makan nasi."


Adit menggeleng-geleng. Bukan tidak setuju dengan ajakan Gesna, hanya saja jawaban cewek itu sering di luar perkiraan. Bagi sebagian cowok, cewek yang susah ditundukan memang menantang. Mungkin baginya juga begitu. Tidak terbayang jika cewek yang disukainya tipe penurut. Disuruh ini mau, dibilang itu oke. Iya, kalau dia benar, dia juga anak SMA yang bisa salah.


Prinsip. Mungkin itu kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan Gesna. Cewek itu cukup keras mempertahankan pendapatnya meski terbuka dengan tawar menawar yang masuk di akal.


"Memang biasa makan apa? Orang?" tanya Adit ketika mereka berhasil menyeruak dari lautan manusia yang berdempet-dempet.


"Bunga kantil," sahut Gesna asal dengan seringai dramatis dan berusaha semengerikan Suzanna.


Mereka berjalan melewati gerbang sekolah. Di sepanjang sekolah, banyak penjual dadakan berkumpul mulai dari menjual nasi goreng, sate hingga pecel lele. Gesna menunjuk tenda pecel lele yang berjarak lima meter dari mereka.


"Eh, Bang Adit? Gege?" Sebuah suara datang dari balik spanduk pecel lele. Dua orang yang baru keluar dari sana berjalan ke arah mereka. "Ternyata beneran, ya?" tanya Adrian takjub. Mata Adrian melirik kepada tautan tangan mereka.


Riko di samping Adrian memicingkan mata, berusaha tidak tertawa padahal sudah tidak dapat ditahan. "Kayaknya ada yang kami nggak tahu, nih. Pedih hati gue, Dri. Katanya teman, tapi tahunya belakangan," sindir Riko dengan memegang dada seolah terluka.


Gesna memutar bola mata enggan. Dia memang tidak ada memberi tahu siapa pun. Hanya Adji, Guntur, Naraya dan Asri yang tahu. Buket bunga dan unggahan Adit yang mengacaukan rahasia itu, tentu di luar prediksi Gesna.


"Lo pada nggak tahu apa, nih?" Adit terkekeh sambil menoleh ke arah cewek yang terlihat salah tingkah di samping. "Memangnya Gesna belum kasih tahu?"


Gesna rasanya sudah ingin tenggelam apabila aspal di bawah kaki berbaik hati membelah diri. Salahnya memang, semenjak gosip di Lambe School merebak, dia belum mau membuka dan membalas semua pesan yang tiba-tiba ramai di ponsel.

__ADS_1


"Kabarnya Abang jadian sama Gege. Apa benar?" tanya Riko mencoba klarifikasi.


"Kelihatannya gimana?" Adit mengangkat kaitan kedua tangan mereka ke udara. Usaha Gesna untuk menurunkan genggaman gagal. Adit makin mempereratnya. "Dia ... pacar gue."


Tuhan! Gesna ingin lompat dari menara tertinggi di Jakarta!


"Buruan, ah. Gue lapar." Gesna menarik tangan, memberi tanda kepada Adit untuk menyudahi perbincangan. Mereka lantas masuk ke tenda yang terdiri dari tiga meja panjang berjajar dan setengahnya dipenuhi orang sedang makan.


Suka dengan perubahan Gesna yang terasa cukup berarti, Adit membiarkan Gesna memilih lauk mereka. Cewek itu memesan ayam goreng, nasi uduk juga tahu dan tempe goreng juga air mineral dingin.


Saat pesanan datang, penjual sempat menegur Adit seakan-akan sangat kenal. "Silakan, Bang. Pas banget, kebetulan ayamnya tinggal dua lagi. Spesial buat abang sama sang pacar yang lagi manis-manisnya."


Gesna refleks menoleh, menarik bibir datar ke arah Adit. Penjual ini sepertinya bukan termasuk pembaca Lambe School, tetapi mengapa tebakannya enak sekali?


"Biasa, kita artis," bisik Adit seraya mendekatkan piring berisi nasi uduk ke arah Gesna. "Makan yang banyak, jadi pacar aku butuh tenaga."


Malas menjawab kebenaran ucapan itu, Gesna berdiri dan berjalan menuju wastafel alumunium yang dipasang tidak permanen di dekat gerobak penjual. Mencuci tangan memakai sabun dan mengibas sedikit untuk mengeringkan. Ketika berbalik, dia terperanjat. Di belakangnya, ada Guntur dan Joceline. Cowok itu sempat tersenyum kecil ke Gesna sebelum melirik ke ponsel yang berdering.


"Aku angkat telepon sebentar. Pesanin ayam goreng aja, ya," ujar Guntur kepada Joceline sebelum menjauh dari tenda yang ribut.


Ceweknya Guntur terlihat mengangguk dan memesan kepada si penjual. "Ayam gorengnya dua ya, Bang."


"Aduh, Neng. Ayam goreng habis, tinggal lele dan udang. Mau?"


Gesna dapat mendengar dengan jelas kalimat sang penjual saat bersisian. Dia juga menangkap situasi kebimbangan yang terpancar dari Joceline hingga berakhir dengan memesan satu porsi lele dan udang. Ketika sampai di tempat duduknya, Gesna masih diam, tampak memperhatikan Joceline.


"Makan, gih. Katanya lapar?" ajak Adit yang menunggu Gesna untuk makan bersama. Cowok itu hanya mencuci tangan di kobokan yang tersedia.


"Duluan. Gue bentar lagi makannya." Gesna memegang piring kecil berisi sepotong ayam. Matanya melirik ke arah pintu tenda dengan kaki diayun-ayun. Ketika yang ditunggu mulai masuk kembali dan duduk, Gesna segera bangkit. Membawa sepiring ayam yang belum disentuh ke arah meja Guntur dan menukar dengan sepiring udang goreng yang tersedia di hadapan cowok itu.


"Pas banget," sapanya kepada pasangan itu. "Gue tiba-tiba pengin udang, Gun. Barter dah, ya. Lo kan baik hati lagi rajin menabung."


Gesna memamerkan gigi lalu membawa pergi udang tanpa peduli. Melirik kepada Joceline saja dia malas meski tahu muka perempuan itu mendadak pucat karena terkejut. Kembali ke tempat duduk, Gesna tetap santai seperti tidak dari melakukan kekejaman yang berarti.


"Kalau mau udang, kan bisa pesan udang. Kenapa harus ambil punya orang?" tegur Adit yang menontoni kelakuan Gesna menjarah isi meja Guntur. Sekasar-kasarnya Gesna, tidak pernah cewek itu merebut makanan orang lain. Baru tadi, dia lihat Gesna seperti preman. Sehabis menjarah, sekarang, pacarnya terlihat bahagia memakan udang hasil rampasan.


Menyadari kening di sebelahnya berkerut-kerut, Gesna melanjutkan penjelasan sambil mencocol udang ke sambal dengan tangan.


"Guntur itu Kristen Advent. Selain haram makan babì dan anjìng, dia juga pantang makan binatang laut yang nggak bersisik dan bersirip. Paling aman sih makan ayam sama sapi aja. Orang Advent malah banyakan yang vegetarian," jelas Gesna berdecap-decap kepedasan. "Lo malu nggak kalau gue order nasi tambah?"


Adit menggeleng dan langsung memanggil penjual, memesankan seporsi nasi tambahan.


"Jadi? Guntur nggak boleh makan udang?" tanya Adit sembari menyodorkan nasi di piring kecil yang baru datang.


Gesna menerima dan menuangkan nasi ke dalam piringnya yang kosong. Dia mulai melanjutkan makan, porsi udang yang tersaji cukup banyak. "Iya. Udang, cumi, lele juga nggak boleh karena nggak bersisik. Belut juga nggak boleh. Makanya, dulu, kami kalau cari makan di luar itu straight banget."


Kepala Adit terangguk paham. Pantas saat di Bandung, Gesna bilang kalau mereka selalu memastikan halal dan nonhalal pada makanan. Ternyata nonhalal versi Guntur lebih banyak lagi daripada Muslim. "Aku baru tahu lho kalau ada Kristen yang haram makan babì dan anjìng."


"Setelah kenal Guntur, gue juga baru tahu, tapi memang belum banyak yang tahu, sih. Di KTP juga masih ditulisnya Kristen Protestan, Advent kan sub dari Protestan. Padahal bedanya lumayan jauh."


Gesna berusaha membuka botol dengan sebelah tangan yang tidak berminyak. Botol itu langsung diambil Adit yang telah selesai makan dan cuci tangan. Setelah dibuka, dia sodorkan kembali botol berembun tersebut ke Gesna. "Memang apa bedanya?" tanyanya penasaran. Hari ini, dia dapat pengetahuan baru yang tidak tercatat di buku.


"Banyak. Advent kebaktian hari Sabtu, biasa disebut Sabat. Dari Jumat malam sampai Sabtu malam dikhususkan mereka untuk beribadah. Selama itu juga mereka nggak boleh nonton, baca buku atau ngelakuin hal-hal yang berbau duniawi. Pegang hape pun nggak boleh. Kalau jengukin orang sakit boleh."


Gesna meneguk air mineral lalu membasuh tangan yang kotor di kobokan. Piring kosong yang ada ditumpuknya menjadi satu. Cewek itu bergumam sambil membuka jari satu per satu seolah sedang mengabsen. "Apa lagi, ya? Di Advent, haram untuk merokok, haram minum teh, kopi, apalagi alkohol. Guntur juga nggak boleh pakai perhiasan atau ditindik apalagi sampai menato tubuh. Beberapa pantangannya mirip kayak Islam, kan?"


"Kamu tahu banyak ya tentang Guntur?" Adit menarik segaris senyum tipis. Ternyata bukan Guntur saja yang banyak tahu tentang Gesna, cewek itu juga sebaliknya. "Berapa lama kalian kenal, Non?"


"Ya, lumayan banyaklah. Namanya juga kenalnya udah sekitar lima-enam tahun gitu. Gimana dia dulu alay aja gue tahu," desis Gesna sambil tertawa kecil teringat bagaimana cupu dan kakunya seorang Guntur. "Dit, lo masih mau balik nonton di dalam nggak?"


"Kenapa?"


Tanpa keinginan untuk menjelaskan, Gesna hanya menjawab singkat. "Ngantuk, pengin rebahan."

__ADS_1


Sebenarnya bukan itu, sih. Letih yang dia rasa tentu saja disebabkan oleh berita heboh yang melanda. Gosip yang masih berusaha dibiarkan tanpa berniat mengiakan atau membantah. Lagi pula gandengan Adit tadi seharusnya dipahami mereka sebagai isyarat kalau cerita itu bukanlah bualan.


Adit mengangguk, mengandengnya menuju barisan mobil-mobil yang parkir di luar pagar sekolah. Cowok itu tidak bertanya apakah Gesna bawa skuter atau tidak, tetapi memang hari ini Gesna tidak membawa skuter. Gesna tidak tahu apakah mukanya terlihat terkejut atau tidak, kala Adit membukakan pintu mobil. "Bawa mobil?"


"Iya, buat taruh gitar," balas Adit yang sudah masuk ke kursi pengemudi. "Kalau ngantuk, kursinya direbahin aja. Untung juga aku pilih bawa mobil, ya?"


Dengan mengalihkan pandangan kepada lampu-lampu jalan yang mulai terlihat berlarian, Gesna hanya menghela napas. Padahal dia ingin Adit naik motor. Seabsurd itu memang keinginannya, hari ini.


"Pejamin aja matanya," usul Adit yang hanya disambut anggukan Gesna.


Tidak, dia tidak tidur. Hanya memejamkan mata, berharap satu hari yang berhasil mengubah dan menjungkirbalikkan kedamaian hidupnya bisa berakhir bahagia. Mencari sensasi dan mendapatkan atensi orang banyak bukan kegemaran Gesna. Sedari awal, dia memang tidak suka ranah pribadinya diusik dan menjadi perbincangan massal. Namun, pada akhirnya, Gesna juga merasakan bagaimana menjadi Naraya, Adji ataupun Renard yang diintai dan selalu menjadi pembahasan. Orang-orang yang suka memantau dan mengomentari akun gosip itu kurang kerjaan atau bagaimana?


Sebuah panggilan membuat Gesna kembali membuka mata. "Sudah sampai, Nona. Apakah Nona tertidur?"


Tas yang tadi Gesna taruh di jok belakang, diraihnya. Dia menggeleng. "Gue nggak tidur. Lo tahu kan gue susah bangun?"


Adit mengusap rambut yang turun ke dahi sambil tertawa. Tak peduli semalam apa pun, senyum itu terlihat bersinar.


"Iya juga, ya. Eh, sebentar, deh. Aku pengin kamu dengar lagu ini."


Pergerakan Adit cukup cepat, membuka dan meraih gitar akustik yang ditidurkan di jok tengah. Mungkin itu juga yang membuat band cowok itu juara satu. Di saat band lain berlomba memakai gitar yang ketika digenjreng berisiknya bukan main, The Tahan Banting malah mengusung konsep akustik. Seolah sengaja menonjolkan kemampuan jari-jari dan vokal Adit.


"Judulnya?" tanya Gesna sembari menggeser posisi badan, mengarah ke kemudi.


"Tarian monyet."


"Ha?" Gesna tidak pernah mendengar judul lagu itu. Barulah ketika Adit memetik dan menyanyi, dia tahu bahwa lagu yang dimaksud adalah Dance Monkey. Dia hendak tertawa sambil menutup mulut dengan telapak tangan.


"They say oh my god I see the way you shine. Take your hand, my dear, and place them both in mine. You know you stopped me dead while I was passing by. And now I beg to see you dance just one more time."


Kedua sudut bibir Gesna tidak bisa untuk tidak tersenyum. Adit membesarkan hatinya semalaman ini, membuktikan kepada semua kalau cowok itu memang memilih dia. Bagaimana Adit memperlakukannya di depan umum tentu akan membuat yang lain semakin iri. Benar kata Adit, yang jadi pacarnya kan cowok itu. Mungkin yang perlu Gesna lakukan hanyalah tidak peduli, biarkan saja mereka berbicara apa. Kenapa juga harus peduli ucapan orang lain?


"Ooh I see you, see you, see you every time. And oh my I, I, I like your style. You, you make me, make me, make me wanna cry. And now I beg to see you dance just one more time."


Adit bahkan sempatkan menjawil dagunya sebelum melanjutkan nyanyian.


"So they say. Dance for me, dance for me, dance for me, oh. I've never seen anybody do the things you do before. They say move for me, move for me, move for me, ay. And when you're done I'll make you do it all again."


Sebagai manusia biasa yang berusaha tetap di bumi meski bobot tubuh terasa ringan, dusta kalau Gesna tidak sedang berseri-seri. Melihat bahu Adit bergerak-gerak dan jarinya yang masih memetik dawai sambil mengetuk badan gitar, Gesna lalu teringat sesuatu. "Dit, tunggu sebentar di sini," pintanya setelah Adit menyelesaikan lagu dan bergegas masuk ke rumah.


Tak lama, Gesna datang dan masuk ke mobil kembali. "Sini tangan kanan lo."


Mengabaikan Adit yang terlihat bingung, Gesna menggunting kuku jempol Adit yang tadi patah. "Yang kayak ginian jangan dibiarin lama-lama, bahaya."


Setelah selesai menggunting bagian tajam, Gesna melipat gunting kuku. "Ya, udah. Balik gih. Makasih ya buat hari ini."


Katakanlah Adit terpana sekaligus bodoh di saat bersamaan dan muka Adit tidak bisa berbohong. Gesna kembali tertawa. "Biasa aja lihatnya, jangan kayak kambing lihat rumput."


Setelah menyarungkan gitar pada kotaknya, Adit menatap Gesna. Perubahan Gesna hari ini cukup banyak. Dia tidak jadi menyesal telah mendeklarasikan hubungan mereka tanpa persetujuan Gesna. "Aku juga makasih buat hari ini. Kamu senang, Non?"


Gesna mengangguk, meraih tas dan melangkah turun. "Senang. Gue juga suka sama nyanyian lo, tadi. Hati-hati di jalan."


Dia tergesa melambai lalu sedikit berlari ke pintu rumah. Di balik pintu, Gesna memegang dada yang berontak-rontak sedari tadi. Astaga, dia masih hidup. Berusaha mengintip dari jendela, mata Gesna mengamati mobil Adit yang menghilang. Kakinya yang terasa tak bertungkai dipaksanya naik kemudian langsung merebahkan semua perasaan campur aduk di tempat tidur.


Masih dengan menggigit-gigit bibir bawah, Gesna mulai membuka ponsel. Dia menemukan banyak sekali pemberitahuan dan Ilham menjadi orang terbanyak melakukan spam di Line. Cowok itu bahkan kembali mengirimi huruf P begitu pesannya dibaca dan meminta Gesna segera mengangkat telepon.


"Apa, sih? Ribet amat malam-malam?" dengkus Gesna sambil meringkuk dan mengangkat telepon Ilham. Walaupun Adit sudah pulang, wangi dari baju yang dia pakai membuatnya merasa cowok itu masih hadir, sekarang. Penjelasan Ilham selanjutnya membuat dia terdiam dan senyumnya mendadak surut.


***


 


Nb. Pembahasan tentang agama ini tidak bermaksud untuk SARA. Malah berharap yang tidak tahu menjadi tahu.

__ADS_1


 


Jika mau diskusi atau beri masukan silakan.


__ADS_2