Matahari Api

Matahari Api
Diam-diam


__ADS_3


Jika bagi setiap manusia, tidur adalah kebutuhan penting untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi bagi Gesna, saat ini, tidur adalah satu-satunya cara untuk bisa lari dari pikiran yang semalaman bergerak gelisah. Bayangkan saja, dia kembali pukul tiga dini hari dan ketika memejamkan mata, otaknya masih saja memikirkan perkataan Guntur. Dia tidak benar-benar tidur.


"Ah, mana pingsan ini?! Woy, Ge... Gege!"


Gesna merasakan sebuah tangan menepuk-nepuk badan. Tepukan itu juga datang ke pipi bertubi-tubi seperti memaksa Gesna untuk bangun. Padahal, Gesna belum lama bisa pejamkan mata setelah mengosongkan pikiran. Dia mengucek mata, terganggu.


"Kan, ini sih bukan pingsan," seru Asri yang berseragam olahraga dan duduk di bangku yang ada di samping ranjang UKS.


"Ada apaan, nih?" tanya Gesna memperhatikan sekeliling. UKS  tiba-tiba jadi ramai. Ada Asri, Guntur, dan Renard. Padahal, tadi, dia hanya datang bersama Naraya dengan cita-cita luhur sejagat raya yaitu tidur.


Ditanya seperti itu, Naraya malah terlihat menahan tawa dengan memegangi perut. Cewek itu belum menjelaskan kenapa Asri, Guntur dan Renard ikut bergabung. Oh, iya, ada satu lagi yang luput dari pandangannya tadi, ada Adji —kakak kelas yang akrab dengannya dan Naraya— di sini.


"Bagaimana kabar kalian? Sehat?" tanya Renard memperhatikan Naraya dan dia. Renard memang termasuk orang-orang yang Gesna undang ke kelab, kemarin malam. Cowok itu juga saksi bagaimana keangkeran Naraya juga kondisi terakhir dia.


"Aman," jawab Naraya singkat.


Guntur mulai berdiri. Badannya menjulang setinggi kolam renang dewasa. Telapak tangan sebesar globe yang tadi menepuk-nepuk muka Gesna kini mulai menjitak kepala. "Gue pikir beneran pingsan tahu! Dia kan semalam berat banget. Bikin khawatir aja sih, lo," ujar Guntur.


Gesna hanya berdecak dan menepis serbuan tangan Guntur. Dirinya sedang tidak ingin dibercandai. Perdebatan dengan Guntur tadi malam membuatnya malas berbicara dengan cowok itu.


Menyadari dia mendadak jutek kepada Guntur, senyum miring khas Naraya terlihat, dan cewek itu yang menjelaskan duduk perkara. "Sori. Tadi, karena Gege ngantuk berat, kami ke UKS. Terus gue lapar tapi malas ke koperasi jadi nitip beliin roti sama adek kelas yang lewat. Gue bilang aja ada yang pingsan. Eh, kenapa jadi panjang begini ceritanya?"


Asri bergeleng-geleng. "Ya, panjang, Nay. Adek kelas yang lo suruh itu, langsung ke kantin buat kasih tahu kalau Gege pingsan. Memangnya lo pada pulang jam berapa?" tanya Asri. Meskipun diajak mereka berdua tadi malam, Asri menolak.


"Jam tiga," balas Gesna. Setelah berdebat dan menolak dipapah Guntur, dia memilih ikut Naraya pulang dan tidur di rumah teman sebangkunya itu. Rumah Naraya yang tidak ada siapa-siapa lebih aman daripada rumahnya. Gustav bisa saja belum tidur saat dia pulang.  Lagi pula, menginap di rumah Naraya cukup terjamin. Ukuran seragam mereka sama, Gesna bisa meminjam seragam sekolah Naraya.


"Masih malam. Kenapa nggak pulang pagi aja sekalian?"  Sindiran datang dari sudut. Gesna dapat melihat Adji menaikkan kedua alis. Sang mantan kapten basket sebelum Renard itu terlihat tidak suka mendengar jawabannya.


Gesna menggaruk belakang telinga dan melirik ke Naraya, bermaksud meminta bantuan. Naraya biasanya sangat ahli dalam mematahkan kalimat Adji. Namun, Naraya tampak masa bodoh seperti tidak mendengar apa pun sedangkan tatapan tajam Adji terlihat berbeda. Gesna lantas menyengir, segera menyadari ada yang janggal dari mereka berdua. "Tadinya malah kagak mau pulang tapi ternyata si Nay masih ingat jalan pulang," celetuknya asal untuk memancing reaksi Adji.


"Sok oke," dengkus Adji dan langsung pergi meninggalkan UKS.


Gesna sebisa mungkin menggigit bibir, tawanya sudah hendak tersembur. Dia diam-diam menemukan benang merah mengapa Naraya begitu mengerikan semalam dan mengapa Adji begitu marah, hari ini. Pasti ada apa-apa antara mereka berdua. Setelah Adji pergi, Asri dan Renard juga pamit  meninggalkan ruang UKS. Hanya tinggal dia, Guntur dan Naraya.


"Ge... Udah enakan?" Tidak sadar sedang didiamkan, Guntur malah menaruh tangan di pelipis Gesna untuk menerka suhu. "Masih ngantuk? Pusing nggak pala lo?"


Gesna bergeleng dan duduk. Sebenarnya, bukan badan tidak panas, hati yang panas. "Kantin yuk, Nay."


"Nggak ah, kalian aja. Gue ada urusan sedikit." Naraya mengedikkan bahu lantas beranjak pergi. Meninggalkan dia berdua saja dengan makhluk paling nggak peka sedunia.


"Lo lapar nggak? Makan, yuk?" ajak Guntur sambil melirik jam tangan. "Masih ada waktu."


Tanpa banyak bicara, Gesna hanya mengangguk dan bergegas memakai sepatu. Dia mengekori Guntur yang sudah berdiri di depan pintu UKS, tetapi langkah Guntur berhenti dan menatapnya.

__ADS_1


"Ge, kok pucat? Lo sarapan nggak tadi pagi?"


Gesna hanya mengawangkan alis tanpa jawaban. Membiarkan bahunya dirangkul Guntur dan diarahkan ke kantin. Sepanjang perjalanan di koridor, Guntur menyeramahinya tentang kesehatan dan dia hanya mengangguk-angguk saja demi ketenteraman hidup. Ocehan itu akhirnya selesai juga setelah mereka sampai di kantin.


"Diemin aja gue terus, lo pikir gue pembaca berita apa?!" protes Guntur saat mereka memasuki kantin yang cowok itu pilih.


Gesna berdecak. "Kenapa kantin ini, sih?"


"Terus lo maunya ke mana? Kantin Pespel? Situ sih enak, kenal akrab sama penghuninya yang buas-buas." Guntur terkekeh berdengih sambil memesankan nasi ayam kepada penjaga kantin.


Keadaan kantin cukup ramai. Bahkan ada beberapa pasang mata terarah ke meja yang dipilihkan Guntur. Gesna tahu sebabnya. Selain karena dia lebih sering di kantin Pespel dan jarang mendatangi kantin ini, juga karena dia bersama Guntur Pamungkas. Cowok yang tingginya kayak monster, ketawanya mirip jin tapi banyak yang mengidolai. "Daripada di sini, isinya makhluk halus semua. Kesambet gue nanti," gumam Gesna melengos.


Kantin yang dilabeli kantin seribu umat ini banyak didominasi para cewek dan lihatlah, tingkah mereka semua mendadak sok anggun ketika Guntur datang. Bahkan ada beberapa yang pura-pura menyapa Guntur dan dirinya. Jelas sih, sapaan ke dia hanya basa-basi. Cewek-cewek itu sebenarnya hanya ingin menyapa Guntur.


Dalam hati, Gesna sering heran kenapa mereka mengidolakan Guntur? Kalau banyak yang suka dengan Renard yang tampan kebule-bulean dan menduduki jabatan kapten basket putra juga ketua OSIS, mungkin masuk akal. Namun, Guntur kan nggak tampan. Guntur itu imut, item mutlak.


Tapi meski hitam, Guntur adalah jagoan sekolah. Yang kalau di lapangan seperti percampuran titisan jerapah dan macan tutul lepas dari kandang, gesit banget menahan serangan, merebut bola dan langsung menembak balik bola ke ring lawan. Ya, ya, ya. Yang seperti itu sering membuat telinga Gesna pekak di kursi penonton karena teriakan pemandu sorak dan para cewek.


"Makan, Ge!" Ucapan Guntur menyadarkan dia. Tangan panjang nan legam itu meletakkan dua piring nasi dengan ayam goreng juga segelas teh manis hangat di hadapannya. "Mulut lo mesti dikasih tenaga."


Gesna berdecak ringan karena memang belum nafsu makan. Rasa lapar tidak datang dari tadi padahal perutnya belum diisi sebutir nasi.


"Kalau lo bilang nggak nafsu awas aja, gue suapin pakai sekop semen," timpal Guntur menjulurkan lidah. Memang bukan Guntur namanya jika tidak bisa mendeteksi gestur dia. Gesna hanya bisa diam dan menggaruk belakang kuping yang tidak gatal. Kepalanya didorong pelan oleh Guntur dan piring berisi nasi didekatkan Guntur ke depannya. "Makan, oi! Jangan nggak makan, nanti mati."


"Setan!" gumam Gesna pelan membuat Guntur tertawa berdengih lagi. Dengih khas, seperti orang kehabisan napas, yang cuma pernah didengarnya dari satu orang yaitu Guntur. "Lo yang awas mati, ketawa kayak keselek seluruh dosa umat manusia gitu."


Dibalas Gesna seperti itu hanya membuat Guntur mencibir kecil. Tangan itu mulai menyendok nasi dan menggigit ayam. "Dosa lo juga ngikut ya, Ge? Kan gue banyak kecipratan dari lo."


Gesna membulatkan mata sambil mendorong teh manisnya ke arah Guntur. Dia mulai terpengaruh untuk membalas, tidak bisa bertahan lebih lama mendiamkan serangan Guntur. "Noh, ngaca di air butek. Dosa lo bejibun, ya! Tukang bohongin Mamah."


Guntur mendorong pelan belakang kepala Gesna. "Ye, gue bohongin Mamah juga karena lo. Eh, tadi malam Mamah tanya kita pergi ke mana? Soalnya waktu Papah lewat rumah lo, motor gue nggak ada."


"Terus lo bilang apa?"


"Beli nasi goreng sama lo," tukas Guntur sambil terus mengunyah dengan cepat.


Gesna mengangguk dan mulai sendokkan nasi pelan-pelan. Disingkirkannya timun, tomat dan selada yang ada ke pinggiran piring. Guntur ini selalu saja sengaja membiarkan orang menaruh sayur di piringnya padahal tahu dia tidak suka sayur. "Ngapain sih dikasih sayur? Gue ini bukan kambing."


"Bawel," balas Guntur. Timun, tomat dan selada yang disisihkan Gesna kemudian diambil Guntur dan dipindahkan ke piring cowok itu. "Omong-omong dosa kita kudu sama berat, Ge. Biar ke nerakanya nanti kita barengan ... tapi kalau pakai absen, lo sih yang bakal dipanggil duluan."


Gesna mulai lupa kekesalannya. "Bagusan sok ganteng daripada sok tahu, Gun. Gimana-gimana juga tetap lo yang bakal masuk duluan. Lo tahu nggak sekarang ada neraka jalur undangan buat orang yang hobinya nge-ping chat?"


Kursi panjang yang mereka duduki berguncang-guncang. Ada anak nasi yang melompat keluar dari mulut Guntur sehingga cowok itu menundukkan kepala ke meja untuk hindari perhatian yang lain. Gesna tahu sih, Guntur sengaja mengirimi ping di pesan supaya dia kesal, tapi ping berulang-ulang itu tidak sopan.


"Gempa, woy! Gempa!" ujar Gesna sambil menyikut Guntur yang masih tertawa. "Lo hobi banget kayaknya bikin teman kesal. Cari hobi lain yang menghasilkan coba, ngepet gitu."

__ADS_1


Tawa Guntur sudah mereda, mulai kembali habiskan makanan dan meneguk air mineral miliknya. "Nggak, ah. Hobi gue udah jelas, basket. Bagusan sok cantik daripada sok tahu," tandas Guntur balik mengejeknya. Mata Guntur memperhatikan dia makan. "Ya elah, makan aja lama, Ge. Gimana mau masuk tentara? Belum dites udah gugur lo."


Gesna mengaduk nasinya yang masih setengah piring dengan mata mendelik lebar. "Ya, ngapain juga gue masuk tentara? Mohon maaf nih ya, Bang. Gue mendingan masuk angin daripada masuk tentara jadi makan gue nggak perlu dicepat-cepatin. Finalis Putri Indonesia kayak gue ini makannya mesti elegan."


"Putri Indonesia kayak lo? Meledak panggung." Guntur terkekeh-kekeh lagi. "Kenapa milih masuk angin daripada masuk tentara? Perbandingan lo nggak apple to apple."


"Ya iyalah, mendingan masuk angin. Memang sakit tapi bentaran doang. Lah, biar apa gue masuk tentara? Ujian hidup gue udah banyak, nggak usah ditambah-tambahin. Entar gue tinggal nyari suami jenderal aja, beres."


"Bangun, woy. Udah siang, masih mimpi aja. Istri jenderal, jenderal apa? Jenderal kancil?"


Gelak Guntur kembali nyaring membuat Gesna melotot dan berdesis, "Laknat banget sih lo, kalau ngetawain gue selalu nomor satu."


Guntur melirik pelan, tawanya sudah hilang. Dari gerak mata cowok itu, Gesna tahu kalau Guntur mulai serius. "Nggak usah ngambek-ngambek ke gue. Lagian salah lo sendiri. Kenapa coba semalam undercontrol  kayak gitu?"


"Siapa yang undercontrol? Biasa aja," jawab Gesna sekenanya.


"Gue serius." Guntur yang tahu letak kelemahan Gesna lantas menjewer telinganya. "Lo tuh kayak makin amburadul, tahu nggak?"


Tangan Gesna menepis. Dia kembali mengunyah ayam sambil melirik jam tangan. "Bentar nih, bentar. Kalau lo mau khotbah, gue mesti setel timer dulu biar kultum lo nggak lebih dari tujuh menit. Gumoh gue nanti."


"Kaleng. Dibilangin bener, juga." Guntur kembali mendorong kepala Gesna dan dibalas dengan cengiran ala cewek itu. "Pokoknya lo ingat ya, Ge. Jangan ke tempat begituan kalau nggak sama gue. Bahaya, tauk!"


Gesna memilih hanya bergumam sambil menggigiti ayam, terlihat tidak mendengarkan dengan serius penjelasan yang ada.


"Kita nggak bisa gini terus, Ge. Gue khawatir, cepat atau lambat Mamah bisa tahu," tambah Guntur.


Mulai merasa bosan, Gesna memutar mata. Belum sempat dia menjawab, sesosok cewek berdiri di samping meja mereka dan memanggil Guntur, "Guntur...."


Percakapan mereka terhenti dan Guntur jadi menoleh ke cewek berkulit putih dengan rambut sebahu yang terlihat sedikit gugup. "Sori ganggu, gue tadi Line lo tapi belum dibaca. Bisa rapat nggak sekarang? Renard, Naraya, sama yang lain udah di sekre."


Kepala Gesna langsung memindai sosok yang datang. Selain berprestasi di basket, Guntur juga menjabat sebagai bendahara OSIS. Kadang Gesna nggak habis pikir, mengapa teman-temannya mau saja dibuat pusing oleh organisasi? Di lingkup pertemanan dia, ada Naraya, Renard dan Guntur yang semuanya masuk ke dalam kepengurusan inti OSIS tahun ini. Dan beginilah risiko berteman dengan orang famous di sekolah, ada saja yang mengkudeta mereka.


Kursi panjang mereka bergoyang, Guntur merogoh ponsel di saku celana. "Oh, iya, sori, Ling. Gue nggak lihat hape. Tadi urus bayi gorila sakit," ujar Guntur sambil mendorong kepala Gesna entah keberapa kali. "Eh, Ling, kenalin ini Gesna. Ge, ini Joceline, sekretaris OSIS."


Cewek yang dikenalkan Guntur itu hanya tersenyum kaku sambil mengulurkan tangan. Gesna tahu sih Joceline, semua calon pengurus OSIS kan wajib berpidato di lapangan saat pencalonan. Dia menyambut uluran tangan Joceline dengan berat hati, entah kenapa. Tangan pucat itu terasa dingin kala mereka bersalaman.


"Ge, gue duluan, ya. Udah, jangan ngambek lagi. Gue yang traktir makan ini. Nanti langsung ke kelas aja lo kalau masih lemas." Guntur kemudian berdiri sembari menepuk pelan kepalanya. Langkah Guntur terburu-buru keluar kantin, diikuti Joceline.


Pandangan Gesna masih tertancap pada bayang Guntur yang menghilang. Diam-diam, ada rasa yang berusaha dia sangkal, ada keinginan yang dia lawan, semua itu hinggap tiba-tiba mengganggunya.


Semalam, saat Guntur menyebut nama Naraya dalam bisikan, pikiran Gesna tiba-tiba kosong. Di musik yang semakin kencang, entakan yang semakin tinggi, pengunjung yang semakin larut dalam peluh dan ketidaksadaran masing-masing, Gesna merasa hatinya berdentang karena dipukul oleh sesuatu yang kasar dan keras. Sekian lama dia berusaha menyangkal perasaan yang tidak boleh ada untuk sahabat sendiri, semalam pula Gesna merasa benar-benar kalah.


Gesna menyayangi Guntur lebih dari sekadar sahabat, sudah sejak lama.


 

__ADS_1



__ADS_2