Matahari Api

Matahari Api
Perisai


__ADS_3


Gesna kembali duduk di teras basecamp sembari menunggu malam lebih larut. Kegabutan membuat dia menyambangi warung depan dan membeli sebungkus rokok.


Awalnya karena melihat dia memakai seragam, pemilik warung tidak mau memberi. Memang sih, rokok tidak boleh diperjualbelikan kepada anak di bawah 18 tahun. Gesna lalu beralasan disuruh Kepala Suku dan langsung dikasih. Jitu juga nama itu.


Asap membumbung seperti lokomotif dari bibir Gesna, mengepul tanpa henti. Tatapannya menerawang ke langit.


Rokok yang baru dibeli sudah habis beberapa batang. Setiap kali habis, dia nyalakan lagi yang baru dan berharap malam semakin pekat. Namun, membunuh waktu ternyata tidak semudah itu.


Gesna melihat jam tangan, masih pukul sembilan malam. Biar apa jam sembilan datang ke Splash? Mau bantu bartender bereskan meja bar? Dia mengembus asap gusar, menunggu malam saja susahnya seperti menunggu keajaiban.


Sebuah tangan menyentil rokoknya. Benda putih itu terpental, berputar di udara, dan jatuh di taman depan. Gesna sempat bengong melihat rokok yang bisa terbang lalu menoleh ke sang pembuat onar.


"Ngudut mulu lo. Awas mati." Adit sudah muncul di sampingnya tiba-tiba, entah datang dari mana. Sudah seperti Jelangkung yang datang tidak dijemput dan pulang tidak diantar.


"Ribet banget lo kayak panitia tujuh belasan," sungutnya seraya meraih kotak berwarna biru dan hendak mengambil rokok lagi.


Namun, kotak itu dirampok Adit. "Udah gue bilang, awas mati."


Gesna mendengkus. "Udahlah! Gue lagi nggak minat berantem," ujarnya sembari mengulurkan tangan, meminta rokoknya dikembalikan. Hidup dia sudah ruwet dan dia tidak ingin Adit membuat tambah kusut.


"Ngeyel, dibilangin juga." Bukannya mengembalikan, Adit malah mengantongi rokok hasil rampasan. "Lagian kenapa pakai nama gue buat beli rokok ini?"


Geram melirik garang. Dia tidak perlu ceramah, sekarang. Ditendangnya kursi teras. Bangku yang terbuat dari alumunium itu bergeser ricuh. "Ya, bodo amat! Bukan urusan lo juga! Gue kan tetap bayar. Lo kayak nggak puas-puas ganggu orang? Cari kegiatan yang berfaedah deh sono."


Dengan muka tidak bersahabat, Gesna lalu masuk, meninggalkan Adit di teras. Kenapa sih dengan Adit? Cowok itu seperti masih belum puas saja menganggu. Dulu-dulunya nggak pernah negur, sekarang jadi sok akrab. SKSD Palapa. Sok kenal sok dekat padahal nggak tahu apa-apa. Norak tahu nggak? Norak. En-o-er-a-ka. NORAK.


"Loh, Ge? Dari mana aja lo? Skuter lo dari tadi nangkring tapi wujud lo gentayangan. Numpang parkir apa begimana? Biar tahu gue tentuin tarif parkirnya," sapa Riko begitu dia sampai ke ruang tengah.


Gesna menyengir garing. "Tadi, lagi belajar ngepet. Lo sih jagain lilinnya nggak benar. Ketangkap kan gue jadinya."


"Hari gini ngepet? Pesugihan dong biar lebih cepat."


"Boleh, nanti lo aja ya yang jadi tumbalnya," jawab Gesna sambil menggeplak kepala Riko sebagai respon.


Di ruang tengah masih ada Ilham dan Adrian yang sibuk bermain PS. Sepertinya dua orang itu tidak akan beranjak pulang sampai besok.


"Woy, ke Splash, yuk?"


"Orang-orang mau pacaran. Lo malah dugem. Memang jones, jones." Riko menggeleng-geleng sambil tertawa.


"Kayak punya pacar aja, Ko. Di otak lo kan cuma ada Cecyl, nggak tergantikan." Gesna menjulurkan lidah sambil berkedip-kedip. Semua penghuni basecamp juga tahu kalau Riko hingga kini tidak bisa melupakan mantannya itu.


Riko mendelik. "Kenapa disebut sih namanya?"


"Oh, jadi mantan adalah ... orang yang nggak boleh disebut namanya?" Bibir Gesna mulai bisa tersenyum. Reaksi Riko seperti yang diharapkan.


"Voldemort, dong," sela Adrian dengan mata masih saja ke layar televisi.


Ilham ikut memanasi padahal masih bermain dengan Adrian. "Kasihan Cecyl. Cantik-cantik disamain sama Voldemort."


Riko berdecak sambil mengacak rambut. Cowok itu gusar sendiri dengan gangguan yang ada. "Mingkem nggak lo semua?"


"Sedap! Demen nih gue kalau lo mulai emosi," goda Gesna. "Jadi ... ke Splash kita?"


Setelah melihat Riko mengangguk, Gesna memekik kemenangan dan langsung menuju kamar Riko. "Yes! Pinjam baju sama celana, Ko. Kuy lah! Gue gabut, suntuk, bosen. Pokoknya, kali ini, pantang pulang sebelum padam!"

__ADS_1


Tidak ada yang berubah dengan suasana Splash. Kelab malam yang biasa dikunjungi Gesna masih seperti biasa: keadaan yang ingar bingar, lampu berkelap-kelip, dan musik keras mengentak-entak. Gesna menaruh ponsel di meja setelah mengirim pesan kepada Naraya dan Renard. Mereka hanya berempat di sini. Akan terasa kurang seru tanpa Naraya dan Renard, meski dua orang itu kerjanya berselisih setiap bertemu.


Naraya: Ge, sori nggak ikutan. Lelah akut, Hayati! Tadi abis rapat OSIS, gue langsung latihan sampai potek.


Gesna membaca balasan Naraya. Cewek itu memang atlet pelatnas panjat tebing. Jadwal latihannya padat dan melelahkan. Sudah sepadat itu jadwal, tapi masih mau saja bergabung dengan OSIS. Bodoh sih namanya.


Gesna berdecak dan meraih rokok. Hari ini, dia akrab sekali dengan benda panjang tersebut. Walaupun rokoknya tadi disita Adit, bukan berarti Gesna tidak mampu beli baru. Uang jajannya kan baru diisi ulang.


Pesan masuk lagi ke ponselnya. Kali ini, dari Renard.


Renard: Ada siapa saja di sana?


Gesna: Gue, Adrian, Ilham, Riko.


Renard: Nay nggak ikut?


Gesna: Nggak bisa, capek katanya.


Renard: Sama. Saya skip juga ya. Sori.


Alis Gesna mulai mengernyit. Lantas dia menyeringai sambil berdesis, "Halah, kebaca lo, Renard. Maunya ikut kalau ada Nay doang."


Tangan Gesna memutar-mutar ponsel sembari berpikir. Jadi ... Adji, Renard dan Guntur mau saling bersaing nih? Gesna tertawa lirih. Beruntung sekali jadi Naraya, disukai banyak orang, pentolan-pentolannya basket pula. Padahal pembawaannya cewek itu judes setengah mati.


Ketukan musik DJ terasa tidak asing di telinga. Ini request Gesna tadi. Dia bersorak gembira kala DJ mengambil mik dan menyebutkan namanya, "This song special for Gesna and friends!"


Gesna mengangkat gelas tinggi-tinggi membalas sapaan tersebut dan menelan cairan pahit dalam sekali teguk. Digoyangkan badan mengikuti alunan lagu Tiesto dengan gaya dance robotics. Berseru kencang seperti orang gila dan melagukan lirik, "Bring that as* back like a boom boom boom boom."


Dia hanya ingin lupa kejadian hari ini. Semua beban yang ada ingin dilepas dan melayang ke angkasa. Dia ingin bisa amnesia atau lari sejauh-jauhnya dari semua rasa sakit. Untuk itu diputarnya badan ke kiri dan kanan agar seluruh luka berjatuhan. Luka yang menjadi koreng dan akan meninggalkan bekas.


Seandainya bisa, dia ingin bisa menunjuk-nunjuk kedua orang tuanya dan menyidang mereka langsung. Jika mereka tidak cinta, kenapa menikah sih? Jika mereka tidak sayang dia, Gustav dan Gandhi, kenapa mereka dibiarkan ada?


Orang selalu bilang, keluarga adalah tempat pulang. Tempat pulang apa maksudnya? Kuburan? Iya, cocok sih. Rumahnya kan sesunyi kuburan. Kadang kala sepanas neraka. Makanya dia lebih suka di tempat lain. Di basecamp, di sekolah ataupun di kelab malam.


Jika saja dia bisa memilih, dia pasti akan memilih tidak dilahirkan di dunia, atau dia akan memilih siapa yang jadi orang tuanya. Tentu saja bukan mereka berdua yang dipilihnya.


Gesna terkekeh sekencang mungkin sambil toast dengan yang lain. Tidak peduli yang lain cerita apa, Gesna sibuk menertawai khayalan kosongnya sambil bergoyang.


Sendi-sendinya linu, hatinya lelah. Tidak ada yang tahu bahwa gelak yang bercampur keringat itu juga ada air mata. Toh, tempat ini gelap dan penuh asap. Siapa yang peduli jika dia menangis setitik saja? Sebab, besok, dia akan kembali bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Kepala Gesna terasa berat. Dia menoleh ke arloji, pukul satu dini hari dan Guntur belum juga membaca pesan yang dikirim. Gesna menghela napas keras setengah berteriak. Rasanya kecewa sekali. Tidak bisakah Guntur datang di saat dia sangat memerlukan bahu cowok itu?


"Ge, minum melulu. Haus apa demen?" Ilham menahan tangannya yang sedari tadi meneguk isi gelas.


"Berisik!" Gesna mengibas tangan dan melepas pegangan Ilham.


"Wuih, galak." Ilham mengangkat tangan dan mundur, tidak ikut campur. Cowok itu tentu tahu bagaimana keras hati seorang Gesna.


Tidak ada yang bisa melarang Gesna apalagi kalau sudah kalap. Selama ini, hanya Guntur yang paling dekat dengan cewek itu dan Guntur tidak ada saat ini.


Adrian, Ilham juga Riko hanya bisa saling berpandangan dan sadar kalau akan mendapat masalah. Mereka lalu mencoba menghubungi Guntur. Cuma Guntur yang bisa mengatasi ini. Sebab mereka bertiga hanya kenal Gesna di basecamp juga sebagai sesama anak basket. Bisa berabe kalau Gesna semakin lepas kendali.


Tak lama, kekhawatiran mereka terbukti. Gesna tumbang.


***


"Ge... Woy, Ge... Bangun."

__ADS_1


Guntur menoleh ke arah tiga orang sahabatnya. "Ini anak minum berapa banyak sampai begini? Kenapa nggak dilarang, sih?!"


"Et, selaw, Bro," jawab Riko yang berbaring di sofa sebelah. "Bukan nggak larang, Gege yang maksa. Lo kayak nggak tahu Gege kalau udah maksa begimane?"


"Udah gue halangin kok, Tur. Tapi memang Gege kayaknya lagi suntuk abis, dia sendiri yang tadi bilang gitu," tambah Ilham.


"Suntuk kenapa?" tanya Guntur yang dibalas kedikkan bahu ketiganya. "Masa ngejagain seekor aja nggak bisa, sih!" cecar Guntur lagi.


Pukul setengah tiga pagi, dia diam-diam lari dari rumah dan membelah jalan Jakarta hanya untuk menjemput Gesna yang kabarnya dibawa pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Gila nggak tuh?


"Tur, lo kayak nggak tahu Gege. Dia...."


Belum sempat Adrian membela diri, Guntur memotong lagi. "Intinya lo pada nggak bisa jagain kebo sebiji ini, udah deh nggak usah ngeles. Memangnya kenapa kalau dipaksa? Tinggal paksa balik aja kali."


"Lo mah enak ngomong gitu, Tur. Kan lo kuncennya," sahut Riko sebal.


"Harusnya lo lihat dulu gimana suntuknya dia tadi," jelas Adrian menengahi.


"Halah, udahlah. Ini jadi gimana?" Guntur menatap Gesna yang tertelungkup tak bergerak di sofa.


"Ya, lo anterlah ke rumahnya. Kan lo yang kenal sama keluarga dia, tetanggaan lagi. Kalau kami sih nggak berani ngebayangin muka abangnya."


"Ge, bangun!" Guntur mengguncang-guncang bahu Gesna. Sadar kalau itu tidak akan berhasil, Guntur lalu berusaha memapah Gesna yang belum sadar. Sayang, menggendong orang tidak sadarkan diri bukanlah hal mudah. "Woy, Ge. Bangun. Berat bangke lo! Ceburin kali juga, nih."


"Mana mempan lo ancam gitu." Riko tertawa sambil membantu Guntur membawa Gesna ke mobil. Gesna dibaringkan di kursi penumpang yang sudah direbahkan. Tentu itulah alasan mengapa Gesna disebut kerbau oleh mereka. Kalau sudah tertidur, susah untuk dibangunkan.


Sepanjang perjalanan pulang, Guntur hanya bisa menahan geram. Setelah tadi terbangun dini hari dan menyalakan ponsel yang kehabisan daya, dia seperti orang kesetanan saat membaca pesan ajakan dugem dari Gesna juga pesan SOS dari Riko. Bisa-bisanya Gesna clubbing tanpa bersama dia.


Bukan masalah Guntur merasa ditinggalkan atau tidak diajak, Guntur khawatir jika Gesna ke tempat semacam itu tanpanya. Bukan Guntur tidak percaya dengan Riko, Adrian dan Ilham tetapi mereka baru mengenal Gesna di SMA. Dia lebih dahulu mengenal Gesna. Dan Guntur selalu yakin tidak ada yang bisa menjaga Gesna sebaik penjagaannya.


Guntur menghela napas lelah. Setahunya tadi siang, Gesna bersama Gustav. Kenapa jadi bisa dugem?


Tangannya kembali mengguncang Gesna, berusaha membangunkan saat mobil masuk ke perumahan mereka. Tidak terbayang bagaimana marahnya Gustav kalau tahu Gesna sampai seperti ini, dan Guntur sebagai teman dekat pasti juga kena getahnya. Dia sudah pasrah. Kalaupun Gustav marah, mau bagaimana lagi? Dia harus memulangkan Gesna dengan cepat. Sebentar lagi subuh, Papah akan bangun dan dia bisa ketahuan tidak rumah.


"Ge... Please bantu gue. Lo bangun, dan kita jalan ke kamar lo. Jangan pingsan! Kecuali kalau lo mau lihat gue dicincang Bang Gustav."


Namun, ketika mobil Guntur mendekati rumah Gesna, kekhawatirannya tidak terbukti. Mobil Gustav tidak ada. Guntur menarik napas lega, bergegas meraih kunci di tempat biasa, membuka pintu, lalu terburu-buru menggendong Gesna.


Sial. Kenapa juga kamar Gesna mesti di lantai dua? Dia sudah terengah-engah saat sampai di kamar cewek itu. Setelah membaringkan Gesna di tempat tidur, dibukanya kedua sepatu Gesna.


Mata Gesna masih tertutup rapat. Nyenyak sekali hampir seperti tidak ada dosa. Kalau Guntur tidak sabar, rasanya badan Gesna hendak dia gelindingkan saja dari tangga. Kalau Gesna masih sadar, pasti akan Guntur jewer atau ketok kepalanya pakai kunci Inggris. Ngeselin lo maksimal banget, Ge!


Apalagi badan Gesna bau. Campuran semua aroma: keringat, rokok, alkohol juga segala macam kotoran yang ada di lantai dan menempel pada tubuh Gesna saat jatuh pingsan.


Guntur menutup hidung dan mencari handuk. Membasahi handuk itu dengan air hangat lalu menyeka wajah, leher, tangan dan kaki Gesna. Dibukanya kunciran Gesna dan dibenarkannya rambut yang berantakan itu. Dia menarik selimut Gesna hingga menutupi dada lalu menatap wajah itu selekat mungkin.


Gesna tidak pernah sadar maksud dari larangannya juga tidak menghiraukan semua peringatannya. Cewek itu selalu sesuka hati saja melakukan apa pun tanpa pikir panjang. Guntur sayang Gesna. Namun, Guntur tidak bisa seperti ini terus.


Tadi malam saja, saat berkumpul di rumah, Papah membahas tentang kepatuhan anak sebagai tanda perwujudan sayang kepada orang tua. Guntur sayang Papah dan Mamah. Dia ingin menjadi anak yang patuh dan tidak mau menjadi durhaka. Dia berusaha untuk berubah, nggak membohongi orang tua lagi.


Akan tetapi, rasa-rasanya sulit mengajak Gesna untuk bekerja sama. Gesna masih juga tidak mau berubah.


Guntur menarik napas panjang sekali. Dia selalu ingin jadi perisai untuk Gesna, tetapi dia tidak bisa mengabaikan keluarga. Mereka semua disayanginya.


Dia mengusap kepala Gesna sekali sebelum pulang. Guntur bimbang, merasa berada di percabangan antara maju merangsek atau belok ke samping karena tetap di tempat bukanlah pilihan.


***

__ADS_1


Ternyata ada juga yang baca di sini. 😂


Makasih ya.


__ADS_2