
Adit menoleh ke cewek yang mendadak tegang di samping. "Buruan bayar. Mbak kasirnya nunggu tuh."
Ia menjawil hidung Gesna lalu berbisik, "Di kantong kiri hoodie lo. Mau lo yang ambil atau gue yang rogoh?"
Gesna tidak tahu bahwa Adit melihatnya menggenggam dompet curian. Terlihat dari kaca yang ada di belakang mereka, saat Adit menoleh tadi.
Adit memang menemukan hal ganjil dari kepedulian Gesna yang tiba-tiba. Tiada angin tiada topan. Dan kecurigaannya terbukti.
Gesna membuang napas pasrah. Gagal! Ia gagal. Tangan kirinya meraih dompet Adit dan mengembalikan ke pemilik. Di luar dugaan, Adit tidak menerima. Hanya memintanya membayar, "Bayar gih. Buka aja."
Kasir mulai tidak sabar. Melihat hal itu, Gesna nekat membuka dompet yang berukuran sejengkal. Tempat uang yang terbuat dari kulit itu terlipat dua. Sebelah kanan berupa deretan kartu dan ada sebuah sekat. Sedangkan sebelah kiri ada dua buah sekat. Dari sekat kiri terlihat jejeran kertas berwarna merah, Gesna mengambil sesuai kebutuhan dan memberikan ke kasir.
Setelah transaksi selesai, Adit mengambil kantong yang sudah disiapkan kasir. Gesna mengikutinya keluar dari toko baju. Sampai di luar, Gesna kembalikan dompet sambil menyeringai. "Sori, gue iseng aja tadi."
Bukannya diterima, cowok itu malah berjalan santai dan bernyanyi iklan sebuah pusat perbelanjaan, "Kerja lembur bagai kuda. Sampai lupa orang tua. Oh, hati terasa durhaka. Maksud hati bahagiakan orang tua. Apa daya dipalak preman. Sungguh kejam itu preman."
Adit lalu meliriknya. "Eh, bukan dipalak ini sih. Dirampok sama dompet-dompetnya."
Tersindir, Gesna menepuk kepala Adit dengan dompet berwarna hitam bertuliskan merek terkenal. "Ini gue balikin, Bajuri. Nggak usah lebay."
Adit tetap mengelak dengan keras kepala.
"Ambil gih. Nanti beneran gue rampok baru tahu rasa," ancam Gesna.
"Dompet aja yang dirampok? Hati Abang enggak?" Adit mengedip genit membuat Gesna pura-pura muntah. "Rampok aja. Lo tahu sisa isi dompet gue. Mau ngerampok kok recehan."
Saat membayar tadi, Gesna jadi tahu berapa sisa uang yang ada. Tapi tetap saja jumlah itu lumayan untuk pegangan di dalam dompet.
"Lo memang biasa bawa duit banyak ya, Dit? Bahaya bege." Gesna menyusul langkah Adit. "Bagusan cashless."
"Nggak ah, biasanya nggak banyak. Kan kemarin niatnya mau jalan sama lo, jadi gue nyiapin uang. Siapa tahu gue dipalak. Eh tahunya bukan dipalak lagi, dirampok." Adit menyindir.
"Si anjay. Ini gue balikin! Sama baju gue tadi juga gue bayar. Siapa juga yang mau ngerampok? Masih punya duit kali gue buat beli." Gesna mulai sebal. Langkahnya berhenti dan menyodorkan dompet Adit. "Ambil nggak? Kalau lo nggak mau terima, gue buang ini dompet!"
Adit ikut berhenti. Matanya mengamati Gesna sekilas. Entah kenapa, berulang kali, ada rasa senang mendapati Gesna yang terganggu oleh ulahnya. "Marah-marah mulu. Cepet tua nanti, Non. Lo pegang dulu dompet gue. Tangan gue lagi pegang belanjaan ini," ujarnya sembari mengangkat kedua tangan yang memegang kantong belanjaan.
Jelas itu hanya alasan, Gesna tahu. Dia mengikuti Adit ke parkiran dengan misuh-misuh.
Perjalanan pulang ditempuh dalam diam. Gesna sendiri sebenarnya menyukai kota Bandung. Kota ini memang tidak sedingin dahulu tetapi pohon-pohon besar masih ada dan membuat nyaman.
"Lo tahu nggak itu namanya taman apa?" Adit merenggangkan kaca helm dan menunjuk sebuah taman yang mereka lewati tepat di bawah jalan layang. Tempat itu dipenuhi tempat duduk seperti kubus.
Gesna memajukan badan agar suara Adit terdengar jelas. "Apa?"
"Baca aja."
"Mana?" Gesna masih penasaran dan mencari jawaban. Motor Adit berjalan pelan di dekat taman tersebut.
"Itu yang warna merah."
Mata Gesna terpaku pada sebuah tulisan besar yang ditunjuk Adit, berwarna merah dengan satu aksen putih. JOMBLO.
"Jomlo, kayak lo." Adit terkekeh membuat Gesna menepuk helm cowok itu. "Ke situ yuk nanti."
"Dih, ngapain?"
"Sebagai sesama jomlo, harus saling mengunjungi. Siapa tahu ketemu jodoh di sana." Itu ide teraneh yang Gesna pernah dengar di dalam hidup. "Apalagi mojang Bandung kan cantik-cantik. Putih, manis, lembut."
Adit menyebutkan kriteria cewek yang disukai banyak cowok kebanyakan. Hal itu membuat Gesna muak. "Lo sukanya yang putih, manis, lembut? Noh pacarin aja kental manis! Palsu dan iklannya sesat. Lagian kayak orang susah aja lo pakai nyari-nyari jodoh di tempat begituan. Baru tahu gue kalau lo norak."
Tangan Adit membenarkan spion kiri sehingga Gesna bisa melihat mata itu dari pantulan kaca. Adit melirik spion dan menatap matanya, "Kalau nggak setuju, nggak perlu ngegas, Non."
Cowok itu meraih tangannya yang sedang memegang kantong belanjaan. "Pegangan, gue mau ngebut."
Benar saja setelah peringatan itu Adit memang memacu motornya, dan tidak lama mereka telah sampai di rumah sakit.
Gandhi sedang tertidur ketika mereka kembali. Adit masuk ke kamar mandi untuk berganti baju sedangkan Gesna menghampiri pengasuh. "Gimana makannya tadi, banyak?"
"Nggak begitu, Kak. Tapi mulai mau makan."
Gesna mengangguk, mengusap tangan Gandhi. Pintu kamar mandi terbuka. Adit sepertinya tidak cuma berganti baju, tetapi juga membasuh muka lagi. Ada titik-titik air yang masih tersisa di wajah, membuatnya terlihat segar. Cowok itu menaruh sepatu di pojok ruangan dan mengenakan sandal jepit.
"Gue pergi dulu ya," ujar Adit sambil bergerak ke arah pintu keluar.
"Mau ke mana?" tanya Gesna tidak mengerti. Dan jawaban Adit membuat mulut Gesna ternganga.
"Jumatan, Non."
***
Guntur menoleh heran kala sekre kedatangan Naraya pada istirahat pertama. Biasanya, Naraya selalu keberatan untuk rapat saat istirahat. Kata cewek itu, jam istirahat harus dipakai untuk istirahat bukan untuk rapat.
Renard membahas cepat apa saja yang menjadi agendanya. Setelah diprotes tentang keefisienan rapat, ada perubahan cukup signifikan. Cowok itu memberitahu kalau tim inti OSIS akan membantu kepanitiaan dalam hal mencari dana. Tim inti memang tidak tertulis namanya di proposal, tetapi keberhasilan acara ini merupakan tanggung jawab bersama. Ada beberapa kelompok yang sudah dibagi untuk mulai menyebar sponsor.
__ADS_1
Guntur sendiri berkelompok dengan Renard, Naraya dan Joceline. Hari ini, mereka akan menyebar proposal ke arah utara. Kebetulan Renard sudah membuat janji temu dengan satu perusahaan besar.
"Sekarang aja, yuk?" ajak Naraya ketika rapat selesai dan tinggal mereka berempat di dalam sekre.
Tatapan Renard menyipit. "Do you wanna cutting classes?"
Giliran Naraya melirik tajam. "Ini hari Jum'at. Kalau mau ketemu orang mesti pagi-pagi, belum lagi di jalannya. Pengalaman gue tahun lalu, ada jenis staf yang hilang dari kantor habis makan siang."
Cewek itu memandang Guntur. "Tur, lo jelasin coba ke dia. Bedanya dispen sama madol."
Sebelum pertikaian seperti kemarin dimulai, Guntur berinisiatif memotong pembicaraan. "Ya udah, ya udah. Kita jalan aja habis istirahat ini. Gimana?"
Joceline dan Naraya mengangguk. Guntur menunggu jawaban dari Renard. Anak itu pasti keberatan meninggalkan pelajaran. "Nggak apa-apa kita ninggalin pelajaran. Ini risikonya kalau memang mau tanggung jawab," tambahnya meyakinkan Renard.
Renard mengembus napas. "Oke. Ayo kita bersiap."
Di benak Guntur sudah ada ide cemerlang yang akan dia aplikasikan. Ini semata untuk kebaikan bersama. Renard dan Naraya harus bisa saling mengenal dan berhenti saling serang.
"Biar cepat, kita bagi dua kelompok lagi aja. Gue sama Ling-ling, Renard sama Naraya," ujar Guntur di parkiran. "Jadi, masing-masing kelompok bisa datangi empat kantor dan titipin proposal. Punya waktu juga buat bicara sama orang kantor itu kalau misalnya perlu penjelasan."
"Gue sama lo ajalah, Tur," elak Naraya.
Guntur menggeleng. Dia harus membuat Naraya tetap bersama Renard. "Kalau lo sama gue, waktu kelompok mereka yang ditanya-tanya. Lo yakin mereka bisa jelasin semeyakinkan kita?"
Naraya terdiam sesaat, seperti menyadari kebenaran kata-katanya. "Ya udah, iya." Cewek itu mulai naik ke motor hitam Renard. "Awas lo kalau ngeselin lagi. Gue tinggal."
"Saya atau kamu yang ngeselin?" balas Renard pelan.
Dari balik kaca helm bogonya, Naraya terlihat melotot. "Wah, wah, wah. Tur, gue sama lo aja."
Guntur langsung menekan gas, menjalankan motor meninggalkan sekolah. Pura-pura tidak mendengar panggilan dari Naraya demi kebaikan.
Bahunya tertepuk dari belakang. Joceline coba memberi tahu. "Tur, Naraya panggil. Katanya mau boncengan sama lo."
Sambil membuka sedikit kaca, Guntur tertawa. "Biarin aja. Gue sengaja pasangin mereka berdua. Biar nggak keseringan berantem. Nggak pusing lo dengarnya?"
Joceline mengemam. "Nanti Naraya marah sama kita, Tur."
"Enggak. Lo tenang aja. Naraya nggak separah yang kita pikir, kok."
Guntur lalu menutup kembali kaca helm dan mulai berkonsentrasi ke jalanan. Dia ingat Gesna pernah bilang kalau Naraya itu aslinya baik. Hanya saja, tidak banyak yang berani berinteraksi dengan cewek itu di sekolah.
Tentu Guntur lebih percaya Gesna daripada desas-desus di sekolah. Gesna kan dekat sama Naraya, sudah beberapa kali juga menginap di rumah Naraya.
Oh, iya. Tadi di parkiran kok nggak ada skuter Gesna, ya? Anak itu masuk sekolah atau enggak? Guntur berdecak. Dia akan menghubungi Gesna setelah selesai urusan proposal.
Naraya menaruh nampan yang berisi kentang, burger dan segelas minuman soda. Mereka sepakat bertemu berempat di salah satu restoran cepat saji setelah mengantar proposal. Mengedarkan proposal dan menjelaskan isi proposal cukup menguras energi.
"Tidak dua-duanya," jawab Renard dengan ekspresi kecut. Menandakan dia tidak suka dituduh demikian.
"Apaan?" tanya Guntur berusaha menengahi sebelum terjadi pertengkaran lagi.
"Renard, mau tahu aja tentang rumor gue di sekolah," balas Naraya dengan enteng. Cewek itu mencolek kentangnya ke sambal.
"Bertanya bukan berarti peduli."
"Hilih," cibir Naraya. "Udah mau jadi reporter BOS juga lo?"
Tanpa mereka berdua sadari, senyum Guntur mulai mengembang. Dia yang duduk di hadapan Naraya dan Renard mulai yakin kalau rencananya berhasil. "Ling, lo tahu nggak?"
Joceline menoleh.
"Kalau Korea Selatan ..." ucapnya dengan menoleh ke Naraya. "... dan Korea Utara." Begitu menyebut Korea Utara kepalanya menatap Renard.
"... mulai membicarakan perundingan damai?" tanyanya ke Joceline.
Joceline yang tidak paham lalu mengangguk saja. "Iya tahu. Walaupun kata bokap gue, Korut udah nolak lagi gara-gara Korsel latihan perang sama AS. Tapi, semoga selesai ya, Tur. Kalau nggak ada perang-perang kan hidup rasanya lebih nyaman."
Mendengar tanggapan Joceline yang serius, Guntur hanya tersenyum simpul. "Iya, damai."
Dia lalu melihat kedua orang di hadapan. "Hidup terasa lebih nyaman," ulang Guntur dengan menekankan kata-kata barusan.
Guntur yakin mereka mengerti maksud perkataannya. Terlihat Naraya memutar mata sedangkan Renard memilih diam sambil meneguk soda.
Langit di luar terlihat mendung dan gerimis mulai turun. Oh iya, dia belum menghubungi Gesna. Guntur lalu terburu-buru menelepon.
"Telepon siapa lo? Gelisah amat." Naraya yang duduk di hadapan ternyata memperhatikan Guntur.
Memang sih, sedari tadi, Guntur berdecak-decak terus. Habisnya ponsel Gesna tidak aktif. Dia sudah mengirimi Gustav pesan tetapi belum dibalas. Mungkin Gustav sedang kuliah.
"Gege. Hapenya nggak aktif," balas Guntur sambil menutup telepon. Apa Gesna sedang sakit? Atau bagaimana kalau ponselnya hilang? Dia berdecak lagi. Gesna dan ceroboh adalah paduan kata yang tidak bisa dipisah.
"Oh, Gege. Dia nggak masuk. Lagi di Bandung."
"Bandung? Ngapain?" Guntur mengernyit. Gesna tidak suka berurusan dengan mamanya. Jadi, ke Bandung adalah hal yang selalu cewek itu hindari.
__ADS_1
Naraya hanya mengedikkan bahu lantas membuka kertas burger, menggigit bagian pinggir sambil menatap hujan di balik jendela yang ada di samping mereka.
Ponsel Guntur berbunyi. Pesan masuk dari Gustav.
Guntur membaca pesan itu dengan dada bergemuruh. Adakah kalimat yang lebih mengerikan daripada kalimat yang dibacanya?
Bang Gustav: Gesna ke Bandung dengan Adit.
***
Sepulang Adit dari salat Jumat, Gesna merasa aneh. Pasalnya cowok itu hanya mengajak makan di kafe rumah sakit dan langsung kembali ke kamar. Lalu, cowok itu tenggelam dalam sebuah buku dan mengabaikannya.
Jika dari kemarin Gesna ingin Adit diam dan tidak banyak bersuara. Kenapa sekarang rasanya sepi sekali? Dia menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
Gandhi masih tertidur. Adiknya itu sedang pemulihan, kerjanya tidur saja. Pengasuh sedang izin keluar untuk makan siang. Gesna berulang kali mengganti saluran televisi, tontonannya membosankan.
Dia beralih ke ponsel yang baru hidup. Hening. Tidak ada yang menghubungi. Tidak Naraya, Asri atau Guntur. Ya ampun kenapa sunyi sekali? Dia sudah mati gaya saat ini.
Gesna mengacak rambut, frustasi. Matanya melirik ke Adit yang seolah tidak terusik. "Lo beli buku?" tanyanya memecah keheningan.
"Iya," jawab Adit pendek tanpa menoleh.
"Kapan?" Gesna hanya ingin mencari pembicaraan agar ruangan tidak selengang kuburan.
Gesna menunggu beberapa detik, Adit tidak kunjung menjawab. Cowok itu seperti sadar bahwa Gesna sendiri sudah tahu jawabannya. Pake nanya lagi, Markonah!
Adit beranjak dari sofa dan duduk di sebelahnya. Mata cowok itu tetap terpaku pada buku dengan gambar siluet perempuan, tidak ada mengindahkannya sedikit pun.
Gesna berdecak kesal, meraih ponsel dan menelpon Guntur. Tiga kali dia berusaha menghubungi Guntur, tetapi tidak diangkat.
Ponsel ditaruh kembali di meja. Dia gabut segabut-gabutnya. Matanya berputar di ruangan mencari sisa kertas notes yang biasanya ada di meja tetapi semua habis.
Perlahan dia berdiri dan menuju ke sudut ruangan. Mulai duduk di lantai dan menggores pena yang sedari tadi digenggam. Dinding dekat kamar mandi ini terlalu polos. Nggak asyik.
Baru saja ia menggambar sedikit Eiffel, terdengar pekikan pelan di samping.
"Astaga, Gesna! Yang benar aja sih lo?" Adit menarik paksa pena dari tangannya. Tatapan Adit merajam dia.
"Boring gue. Gabut! Mana nggak ada kertas lagi. Terus gue gambar di mana? Di muka lo?!" keluhnya. Lagi pula dia tidak peduli jika nanti rumah sakit keberatan. Tinggal klaim saja dan masukan ke tagihan, akan dibayar mamanya nanti.
Adit terlihat menghela napas sabar. Cowok itu menarik tubuhnya agar bangun dari lantai dan duduk kembali di kursi meja makan. Gesna pikir Adit akan berhenti membaca. Namun, ternyata Adit meraih buku yang terbalik di meja dan membaca kembali.
Demi menara Eiffel yang belum lengkap di dinding tadi, rasanya Gesna ingin menggigit Adit! Bibir Gesna sudah mengerucut tidak terima dan mengata-ngatai Adit dalam hati.
Tiba-tiba, sebuah telapak tangan terpampang di depan muka Gesna.
"Gambar di sini aja."
Mata Gesna membelalak, menatap Adit tidak percaya.
"Beneran! Gambar di sini aja," ulang Adit.
Mengerjap beberapa kali untuk memastikan tawaran, lantas Gesna langsung meraih tangan Adit. Dia perlu menggambar untuk hilangkan suntuk. Penanya mulai bergerak dengan cekatan di telapak tangan kiri Adit.
Pertama, ia menggambar garis luar dahulu. Kemudian barulah dilengkapi dengan menebalkan beberapa garis agar terlihat hidup. Menggambar selalu mampu membuat Gesna rileks. Dia bahkan lupa kalau dirinya harus selalu waspada dengan Adit.
Ponsel Gesna di meja bergetar. Gesna mengangkat dan mengepit ponsel itu dengan bahu. Kedua tangannya sedang bekerja, yang kanan menggambar dan yang kiri memegang jari Adit agar lurus.
"Halo, Cinta!" jawab Gesna. Tangannya masih terus mengisi totol hitam di gambar jerapah.
"Lho, kok gue? Tadi gue telpon tiga kali ya tapi nggak jawab! Oh, kalau itu, kemaren hape gue lowbat, nggak bawa charger cuy. Baru belinya tadi pagi di PVJ."
Adit melirik Gesna dari balik buku. Cewek itu masih sibuk dengan gambarnya namun tetap juga bisa menjawab ponsel. Cewek memang multitasking.
"Dengerin dulu ceritanya dong, Cinta. Ah, kamu mah bawel, aku nggak suka." Gesna terkekeh sambil memegang jari Adit yang bergerak-gerak karena kegelian. "Jadi gue ke Bandung karena kemarin siang ditelepon Mbak, dibilang Gandhi masuk IGD. Ya, gue lompatlah, ngebut ke Bandung."
Gesna membuat telinga, mata dan muncung jerapah. "Yaelah, Gugun cinta. Kan gue bilang, gue langsung lompat. Sori, bukan nggak mau kabarin. Gue nggak kepikiran. Gue beneran panik. Gandhi? Udah lumayan kok. Lagi recovery aja."
Adit menelan ludah. Dia tahu Gesna dan Guntur dekat, tetapi dirinya sendiri meragukan kemurnian persahabatan mereka. Meski mata ke buku, telinga Adit tetap terpasang dan dapat mendengar. Telapak tangannya terasa geli oleh pena Gesna tetapi ada hal lain yang membuat tambah geli. Karena dipegang lembut oleh jari Gesna!
"Gue? Sekarang masih di Bandung. Nggak usah, nggak papa kok, Gun."
Setelah mentotol-totolkan seluruh badan jerapah, Gesna membuat ekor dan tapak kakinya.
"Apa? Nggak kedengeran!" seru Gesna seraya menaikkan volume. "Ha? Lo lagi di jalan? Lo kehujanan? Geblek, ngapain nelepon?! Bahaya ogeb!"
Adit merasa tarikan napasnya mendadak berat. Deretan huruf di depan sudah tidak terbaca lagi. Ia hanya fokus menajamkan pendengaran. Geli di telapak tangan sudah berkurang, indra perabanya mulai beradaptasi.
"Oh, barusan nyampe. Ya udah, lo istirahat dululah. Langsung mandi, ganti baju. Gue?" Gesna terlihat diam sejenak, lalu melanjutkan bicaranya, "Gue sama Gandhi, sama Mbak, sama ..."
Jari telunjuk dan tengah Adit menekuk, ia berpura-pura masih geli. Itu membuat tangan kiri Gesna memegangi jarinya. Adit tekukan jari lagi, mengaitkan jarinya ke jemari Gesna. Dalam diam, Adit menunggu namanya disebut.
"Ha?" Gesna masih asyik dengan telepon. "Enggak, udah kok itu aja. Sama mereka berdua aja. Ya udah, lo istirahat dulu sono. Salam buat Mamah, Papah sama Pelangi ya."
__ADS_1
Tangan kiri Gesna melepas kaitan jari Adit dan meraih ponsel yang terjepit. "Iya. Siap, Bosque. Nanti salamnya gue sampein. Dadah."
Gesna mematikan ponsel. Dan Adit merasa mata pena yang menggurat tangan tadi seperti menggurat jantungnya juga. Dia masih saja dianggap tidak ada.