
Pukul sembilan kurang lima belas, Gesna baru sampai di rumahnya. Tadi, dia memutuskan untuk bangun di saat suasana sudah kondusif. Lalu diajak makan malam oleh keluarga Guntur sebelum pulang. Jadilah, Gesna pulang semalam ini.
Sebenarnya itu biasa, ia terbiasa main sepanjang hari di rumah Guntur. Beberapa kali pernah menginap bersama Pelangi. Begitu pun Guntur, cowok itu selalu beralasan main dan begadang di rumah Gesna ketika mereka akan pergi dugem atau kongkow di luar sampai malam. Jadi, jika ponselnya tidak aktif atau tidak menjawab, seperti mengerti, Gustav akan menghubungi Guntur untuk menanyakan keberadaan dia juga sebaliknya.
Ponsel? Gesna merogoh kantong, mencari ponsel. Di mana ya ponselnya? Ketika berusaha mengingat, tatapannya terpasung ke sebuah motor yang parkir di sebelah teras. Dia seperti mengenal motor itu.
Gesna bergegas mendorong pintu depan. Teriakan gembira khas cowok-cowok saat bola masuk ke gawang menyerbu telinganya. "Goooooool!"
Keributan Gustav kalau sedang menonton sepak bola memang tak tertandingi. Gesna tidak heran, Gustav suka segala jenis olahraga bola. Ya basket, ya sepak bola, ya polo air. Kayaknya kalau kenal tolak peluru, Gustav juga akan menyukai olahraga itu.
Dia berjalan masuk melewati ruang televisi. Di sana, ada Gustav dan temannya. Pantas ributnya dobel, orangnya juga dobel. Tanpa peduli atau menegur, Gesna menaiki tangga hendak ke kamar.
"Woy, Ge! Babon amat lo tidur di rumah orang," tegur Gustav.
Gesna hanya berdecak dan terus menaiki tangga. Gustav bicara seperti itu kok di depan temannya, sih? Enggak sekalian pinjam toa masjid biar didengar satu komplek?
"Gege!" panggil Gustav lagi.
Gesna berhenti, terpaksa membalik dan melongok ke bawah. "Apa sih, Bawel?"
Gustav menunjuk cowok di samping. "Ini! Adit udah dua jam nunggu, lo kacangin aja? Turun sini."
Mata Gesna berpindah ke sosok di sebelah Gustav yang ikut tengadah ke atas. Cowok berjaket jins itu tersenyum. Senyum yang membuat Gesna makin menampilkan muka tidak suka.
Seperti mengerti, Gustav menengahi. "Ge, turun! Jangan nggak sopan gitu sama tamu."
"Malas," sahut Gesna pendek.
Gustav membelalak, tidak pernah-pernahnya Gesna berperilaku kasar kepada tamu. "Gesna."
Gesna memberengut. Kenapa sih ada orang nyasar ke rumahnya? Perasaannya sedang tidak baik, apalagi dari mendengar perkataan Guntur ke Mamah.
"Jessica!" seru Gustav mengeluarkan jurus andalannya, menyebut nama depan Gesna saat cewek itu hendak membuka pintu kamar.
Gesna berdecak lagi. Jika tidak dituruti abangnya itu akan menggemakan nama yang tidak disukainya berulang-ulang. Mau tidak mau, Gesna turun ke arah mereka. Dikantonginya kedua tangan pada saku celana. Matanya menyapu sosok Adit dari atas sampai bawah.
"Ngapain lo ke sini?" tanyanya dengan muka ketat.
Adit kembali tersenyum menatap cewek jutek itu. Kaos kebesaran berwarna abu-abu dengan tangan sesiku, celana pendek berpotongan lurus berwarna hijau pupus, sandal teplek ala hotel. Rambutnya pendek lurus berbelah samping. Matanya menyorot kesal. Dan semua itu seperti lubang hitam yang berhasil menarik Adit untuk mendekat. "Kan tadi udah gue bilang mau ngapel?" jawab Adit santai.
Pertandingan sepak bola sudah selesai. Gustav berdiri dan menyingkir dari sebelah Adit. "Ge, tamunya dibikinin minum," ujar Gustav mengingatkan. Karena tadi saat menonton, Adit hanya minum air mineral gelas yang ada di atas meja. "Buruan. Adit udah nunggu lo dua jam. Lo aja kalau disuruh nunggu lima belas menit ngomelnya sampe dua tahun."
Gesna hanya memasang tampang masa bodoh seolah tidak mendengar.
"Jessica!" seru Gustav lagi-lagi memakai jurus terakhir.
Gesna melenguh kesal. Sambil menggaruk telinga yang tidak gatal, dia berjalan ke dapur. Kakinya dientak-entakkan ke lantai supaya Adit tahu kalau dia tidak senang menerima cowok itu jadi tamunya.
"Sori ya, Dit. Mungkin dia lagi kesal karena dipaksa bangun atau gimana. Maklumin aja, ya?"
Adit melengkungkan bibir dan mengangguk. Ada banyak hal yang ingin diketahuinya tentang Gesna dan dia berusaha mencari tahu dengan cara yang biasa. "Gesna sering tidur di sana?"
Gustav mengangguk. Adit tadi sudah bercerita kepadanya bahwa cowok itu mengenal Gesna di basecamp. "Sering. Udah kayak rumah keduanya. Sesering-seringnya dia ke basecamp, lebih sering lagi di sana."
"Dekat banget ya mereka?" Ekor mata Adit mengikuti punggung Gesna yang menghilang perlahan.
Tawa Gustav mengudara. " Ya, gue sempat mikir mereka pacaran. Kalau aja lo nggak nongol hari ini, gue mikirnya si Guntur itu pacar Gesna."
"Memangnya Kakak ini siapa?!" sela sebuah suara. Pelangi yang sedari tadi diam-diam masuk dan mendengar percakapan, langsung memotong kalimat Gustav.
"Eh, ada Pelangi. Dit, kenalin. Ini Pelangi, adeknya Guntur." Gustav berinisiatif mengenalkan gadis kecil yang tiba-tiba datang. Baik Pelangi maupun Adit hanya bertatapan.
"Memangnya Kakak ini siapanya Kak Gesna?" Pelangi mengulang pertanyaannya. Mata Pelangi memicing. Ada rasa ingin tahu yang sangat kentara.
"Gue?" Adit tersenyum pelan. Dia ingat Pelangi, nama itu disebut Gesna dan Guntur, tadi pagi. Sembari berdiri, dia berjalan ke arah Pelangi lantas mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Kenalin, gue Adit. Calon pacarnya Gesna."
"Nggak mungkin. Kakak jangan ngaku-ngaku."
Gesna berjalan keluar dapur dengan sebuah nampan berisi dua cangkir teh. Keinginan menaburi garam di teh tersebut dipupuskan, sebab ada Gustav dan abangnya akan sangat marah jika dia bertindak seperti itu. Mendengar pekikan Pelangi, dia mempercepat langkah. "Kenapa, Ngi?"
__ADS_1
"Kamu nggak percaya, adek kecil?" ujar Adit sembari terkekeh. "Tanya aja sama Gesna."
Pelangi mencebik. "Ini hape Kak Gesna ketinggalan di kamar Pelangi. Ya udah, Pelangi pulang dulu."
Gesna hanya bisa diam menatap kepergian Pelangi. Adik kecilnya itu seperti sedang kesal. Tidak ada salam perpisahanan yang manja ala Pelangi.
Dia meraih ponsel. Dilihatnya layar sekilas, ada beberapa telepon dari Gustav dan nomor asing yang tidak terjawab. Nomor dengan akhiran sama seperti nomor Adit yang menelepon, kemarin. Gesna memang belum berminat menyimpan nomor Adit.
"Ngomong apa sih lo tadi sama Pelangi? Nggak disaring dulu sebelum ngomong."
Adit balik menatap. Sengaja difokuskan pandangan ke mata Gesna. "Kenapa? Kan benar."
Gustav tersenyum, memperhatikan dua orang di hadapan. "Ehem. Nyamuk nih gue? Nyamuk banget kayaknya. Ya udah, gue ke kamar dulu yak, pengin mandi."
"Makasih ya, Bang," sahut Adit, dibalas Gustav dengan mengangkat tangan.
Pandangan Adit kembali ke Gesna, belum pernah-pernahnya dia mau menunggu seseorang sampai dua jam. Andai tadi sikap Gustav tidak bersahabat, tentu dia akan pergi. Akan tetapi, di luar dugaan, abang Gesna itu tersenyum ramah saat dia bilang ingin menemui Gesna.
Bukan hanya itu, Gustav gencar bertanya ada hubungan apa Adit dengan Gesna. Gustav juga membantu menelepon Gesna berulang kali dan mengajak Adit menunggu sambil nonton pertandingan sepak bola agar tidak bosan. Walaupun sikap Gesna angker, semua itu termaafkan karena sambutan Gustav tadi.
"Gue nggak dipersilakan duduk dan minum tehnya, nih?" goda Adit kepada Gesna.
Gesna menatap Adit tajam. "Nggak gue kasih izin aja, lo datang. Apalagi cuma duduk sama minum?"
Seolah mendapat angin segar, Adit duduk kembali di sofa. Ia menepuk tempat di sebelahnya. "Sini, duduk. Jangan jauh-jauh gitu dong. Siapa tahu jodoh."
Adit lalu meraih cangkir teh dan meneguknya. "Manis. Kayak lo."
"Omongan lo apalagi. Kemanisan! Kebanyakan gula. Bentar lagi kencing manis gue," ujar Gesna ketus.
"Ya, nggak apa-apa, dong? Kan ngomong manisnya cuma sama lo. Nggak sama yang lain." Adit masih santai tidak terpengaruh ucapan Gesna. "Eh, lo anak pertama?"
Gesna menarik segaris senyum sinis. Dia tahu Adit sedang berusaha mencari topik pembicaraan. "Basa basi. Lo udah tahu gue punya abang."
"Oh," jawab Adit. "Iya gue lupa. Soalnya lo pertama di hati gue."
Hampir saja Gesna menyiramkan secangkir teh di atas meja ke muka Adit kala mendengar gombalan itu. Gila, lempeng banget mulutnya!
Gesna masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya menguliti Adit. "Mau lo sebenarnya apa, sih? Lo masih nggak terima gue usir dari parkiran dulu?"
Adit menaruh cangkir kembali ke atas meja. Sudut bibir itu tertawa kecil. "Enggak tuh."
"Terus? Pakai kasih-kasih apel-lah, usilin gue-lah, datang ke sini. Apa maksud dari segala macam tingkah lo ini?" Jelas, Gesna tidak suka banyak berbasa-basi dengan manusia seperti Adit. Orang itu pasti punya maksud, deh.
Adit menaikkan pandangan, memperhatikan Gesna. Tangannya teremas. Ada keinginan untuk mencubit pipi Gesna yang terlihat menggemaskan. "Jangan jutek-jutek. Kan udah gue bilang, semakin lo jutek, gue semakin suka."
Gesna mengemam sambil berkacak pinggang. Suhu otaknya sudah berstatus awas level empat, siap meledak kapan saja. Dia tidak habis pikir kenapa Adit masih bisa santai padahal sudah dia kasari dari tadi. Ini anak perlu dipedesin level berapa, sih?!
"Gue mau kenal lo aja, Gesna. Nggak boleh?'
"Itu urusan lo. Gue nggak pengin kenal sama lo."
"Nggak masalah," ujar Adit mengedikkan bahu. "Let me know you."
Cowok itu kemudian membuka plastik putih yang ada di atas meja, mengambil sebuah apel bawaannya dan melempar pelan ke Gesna.
Gesna tidak sempat menghindar. Tangannya malah otomatis menangkap buah yang datang. Kecepatan tangan seorang shooting guard di tim putri memang tidak perlu disangsikan.
"Bagus juga reaksi lo," ulas Adit melihat kecekatan Gesna. "Sayang, reaksinya cuma sama barang aja. Sama gue enggak."
"Lo nggak penting soalnya," tembak Gesna pedas sembari menimang-nimang apel. Kira-kira kalau dilempar ke kepala Adit, bakal marah nggak ya?
Adit tersenyum kecil. "Ck. Ngegemesin banget sih. Gue cubit nanti pipinya."
Cowok itu bangkit dari sofa dan mendekati Gesna lalu berlutut penuh drama. "So, Snow White... Would you like to go out with me sometime, perhaps for coffee or movie?"
Gesna memicing. Kulit Adit terbuat dari apa, sih? Badak banget. Segala penolakannya tidak berhasil sama sekali. Kalau saja dia tidak boleh jahat kepada tamu, tentu sudah ditendangnya Adit yang sedang berlutut.
Tahan, Gesna. Tahan. Dia sadar berhadapan dengan siapa. Mungkin benar kata Zella, dia harus memakai rencana, taktik bila perlu intrik. Sebab cowok ini sepertinya sukar dikalahkan.
"Gimana?" tanya Adit lagi.
Gesna menarik napas dalam-dalam. Coba menekan ego sendiri dan sembunyikan strategi. Dia lalu tersenyum. "Oke, deh. Gue kasih kesempatan lo sekali."
__ADS_1
Jawabannya jelas menuai reaksi heran di muka Adit. Ya, Gesna tahu ini sangat di luar dugaan cowok itu.
"How about tomorrow at 2 PM?" Adit lalu menawarkan hari.
Gesna bergeleng. Tidak, bukan Adit yang boleh menentukan. Harus dia yang memegang kendali. "No, Thursday at 4 PM."
Adit mengangguk setuju. Gesna menghela kelegaaan. Setidaknya masih ada empat hari lagi dan dia bisa menyusun skenario terbaik untuk cowok yang tidak kenal menyerah ini. Sementara waktu, mungkin ia harus berubah manis, tidak seperti tadi, sampai Adit berhasil dibuatnya jera.
"Baik, Hamba permisi pulang dulu, Putri." Adit membungkukkan badannya seolah Pangeran dari negeri dongeng. "Bye, Sugar."
Gesna mendengkus kecil berusaha keras menyabar-nyabarkan diri. Diantarnya Adit keluar rumah dengan senyum manis. Cowok tak tahu diri itu malah melambai tangan seolah kissbye.
Tahan, Gesna. Jangan muntah sekarang, ujarnya dalam hati. Lo lihat aja nanti apa yang gue bikin, Dit.
***
Tadi, saat mengetahui ponsel Gesna tertinggal di kamarnya, Pelangi girang setengah mati. Bahkan sebelum orang yang dianggap kakak itu menghubungi dan menanyakan keberadaan ponsel, Pelangi sudah mengantarkan lebih dahulu.
Pelangi datang ke rumah itu dengan alasan ingin mengantar ponsel Gesna yang ketinggalan. Namun, alasan yang lebih mendasar adalah dia ingin bercerita tentang Ghazi dan ucapan cowok itu, tadi sore. Ia ingin mendengar masukan dari Gesna tentang apa yang harus diperbuat. Ia ingin membagi rasa deg-degan bodoh dan letupan konyol yang dia rasa semenjak sore. Sayang, Gesna tadi tertidur di sofa saat Ghazi berpamitan pulang.
Pelangi sangat tidak menduga jika kedatangannya ke rumah Gesna malah akan mempertemukan dia dengan orang lain, yang akan merebut Gesna dari dia dan abangnya.
"Nggak mungkin," seru Pelangi tidak terima. "Kakak jangan ngaku-ngaku."
Gustav terlihat terkejut sementara Gesna berjalan maju ke arah Pelangi, memisahkannya dengan Adit. "Kenapa, Ngi?"
Pertanyaan yang datang seolah berupaya memisahkan Pelangi agar tidak membuat keributan, bukan untuk membantah pernyataan itu. Pelangi menatap Gesna kesal. Keinginan untuk menceritakan Ghazi kandas, tersisa rasa tidak terima yang begitu besar. "Ini hape Kak Gesna ketinggalan di kamar Pelangi. Ya udah, Pelangi pulang dulu."
Ia menaruh ponsel Gesna di meja, kemudian berbalik, pulang ke rumah dengan perasaan sedih luar biasa.
Sepanjang jalan pulang, Pelangi memikirkan kemungkinan cowok yang datang tadi adalah benar calon pacar Gesna. Sungguh, ia tidak rela. Kalau Gesna jadi pacar orang lain, belum tentu bisa akrab dengannya. Bisa saja malah membuat Gesna menjauh. Bagaimana juga jika pacarnya Gesna tidak suka Gesna dekat dengan keluarganya? Dengan dia dan Guntur?
Pelangi tidak bisa membayangkan itu. Dia memasuki rumah dengan muka tertekuk dan tanpa salam, berjalan cepat menuju kamar.
"Napa lo?" tanya Guntur yang kebetulan berpapasan. "Ketat amat itu muka kayak semp*k baru?"
Pelangi menyangkal. "Nggak apa-apa."
Seluruh makhluk di muka bumi juga akan tahu jika cewek berkata 'nggak apa-apa' dengan muka yang tidak bersahabat berarti ada apa-apa. Guntur mencocokkan dengan kepergian Pelangi barusan.
"Kenapa sama Gesna?" tanyanya lagi tepat sasaran.
Pelangi masuk kamar dengan bibir mengerucut. Guntur mengikuti. "Tadi waktu Pelangi kembaliin hape Kak Gesna. Rupanya Kak Gesna lagi diapelin cowok," cetus Pelangi.
Ia duduk di pinggir tempat tidur. Matanya menatap foto dengan pigura berwarna putih di atas meja. Fotonya dengan Gesna dan Guntur.
"Temannya kali." Guntur coba menenangkan. Ia tahu Pelangi kalau sudah sayang sama sesuatu, maka akan sangat sayang sekali dan cenderung tidak mau membagi. Bawaan anak bungsu.
Pelangi menatap Guntur garang. Seolah Guntur salah bicara. "Kalau teman, kenapa dia bilang dia calon pacarnya Kak Gesna?! Kok Abang nggak ada cerita?" serangnya lantas membalik badan dan memeluk guling.
"Ye... Abang beneran nggak tahu, Ngi. Tidur, gih. Udah malam."
Guntur menyelimuti Pelangi lalu meninggalkan gadis itu di kamar. Setelah menutup pintu kamar Pelangi, ia bergegas meraih kunci motor. Ucapan Pelangi perlu dibuktikan.
"Mau ke mana?" tanya Mamah.
"Keluar sebentar beli karton, buat tugas."
Di dalam hati, Guntur berulang kali meminta maaf kepada Mamah atas kebohongannya. Dia menghidupkan motor dan melaju menuju blok rumah Gesna. Motor itu dia matikan di persimpangan. Rumah Gesna sudah terlihat dari tikungan.
Guntur menatap gamang keadaan rumah Gesna. Memang benar ada tamu. Ada motor merah yang parkir di sana. Apakah benar ada cowok yang sedang mendatangi Gesna?
Dia memutuskan untuk duduk di jok dan menunggu di bawah pohon besar yang cukup remang. Guntur penasaran terhadap cowok yang berhasil meluluhkan Gesna.
Tak lama, pintu rumah Gesna terbuka. Mata Guntur rasanya seperti melompat keluar. Dia melihat Adit keluar dari rumah itu, diiringi Gesna. Cowok itu hidupkan motor merah yang parkir sedari tadi, dan kissbye ke arah Gesna.
Telapak tangan Guntur berkeringat. Dia menonjok pelan batang pohon. Senyum Gesna manis sekali mengantar kepergian Adit.
Ternyata cowok yang lo suka itu Adit ya, Ge?
__ADS_1