Matahari Api

Matahari Api
Mengenal Lebih


__ADS_3


Adit masih memperhatikan Gesna yang terlihat antusias menjajarkan gelas-gelas plastik kosong berukuran sedang. Cewek itu menuang beberapa sendok cat putih dalam setiap gelas, lantas menambahkan beberapa tetes warna biru, merah dan kuning. Mengaduk satu per satu gelas sehingga menjadikan warna lebih muda dari pigmennya.


Setelah jadi dan disisihkan, Gesna menuang cat putih lagi ke dalam tiga gelas kosong. Kali ini untuk membuat warna sekunder, yang merupakan campuran dari dua warna primer. Gelas keempat ditetesi warna biru dan kuning yang ketika diaduk menghasilkan warna hijau. Lalu gelas kelima berisi tetesan biru dan merah yang menghasilkan warna ungu. Gelas keenam berupa warna jingga hasil penyatuan merah dan kuning.


Belakangan, Gesna selalu mengeluh bosan di rumah. Cewek itu juga mengungkapkan keinginan untuk dugem. Sehingga hari ini, Adit berinisiatif membantu Gesna menyelesaikan mural yang belum selesai. Dia sudah membeli kebutuhan-kebutuhan cat yang habis, tambahan kuas juga hal-hal penting yang nanti akan membantu Gesna untuk menghilangkan bosan.


Dalam diam, Adit menatap garis sketsa di dinding kamar Gesna, sedang cewek itu sudah berdiri di atas kursi. Mengoleskan cat berwarna jingga pada gambar matahari yang dia buat, menambahkan sedikit merah di inti matahari juga bias-bias kuning di ujung pancaran cahaya. Langitnya dibikin seperti gelombang laut. Gambar Gesna terlihat kontras satu sama lain. Bagaimana tidak, cewek itu menaruh kereta api di langit, ikan di udara dan burung menggantung terbalik di pohon seperti kelelawar.


Dengan kuas kecil, Gesna mengisi warna bergantian. Setelah memakai gradasi jingga kemerahan, kali ini, cewek itu memakai gradasi biru dan turunannya untuk warna ikan-ikan sehingga berwarna biru keunguan. Adit masih diam, mengamati bagaimana Gesna sedang sibuk dengan dunianya sendiri.


"Keramean nggak, sih?" Gesna mulai menoleh ke arah Adit yang sedari tadi duduk bersila di belakang.


"Enggak, kok."


Gesna berhenti sejenak. "Keramean kayaknya." Cewek itu turun dan mundur menuju sebelah Adit, memandang beberapa gambar yang sudah diwarnai. "Iya, nggak, sih?"


Adit menggeleng-geleng. "Enggak. Bagus, kok. Kalau mural kan bagus warna-warni gitu."


"Kayak enggak terkonsep," decak Gesna sebal dan menaruh gelas plastik di samping. Pasti cewek itu terbersit ingin menghapus gambar.


"Anggap aja konsep kamu ini  freestyle. Hajar! Bagus, kok. Beneran." Adit sampai menaikkan jempol untuk meyakinkan cewek itu sekali lagi. Memang gambar dan warna yang Gesna torehkan bagus. Sayang, cewek itu tidak percaya diri.


Gesna mengangguk, maju kembali ke dinding yang mau diwarnai. Kepalanya kembali menoleh. "Kok diam aja, sih? Bantu warnain sini."


"Memangnya enggak apa-apa? Nanti aku salah warnain?"


"Kan konsepnya freestyle? Warnain aja terserah warna apa, nanti pinggir gambarnya aku poles lagi pakai cat hitam." Gesna melihat Adit yang masih ragu-ragu. "Buruan, Nyo. Biar cepat selesai."


Adit berdiri, mulai mengambil gelas plastik berisi cat biru. "Kenapa bisa kepikiran bikin kayak gini?"


"Lihat di jalan. Lagian tembok polos doang itu ngebosenin. Bayangin! Setiap hari, kita dikelilingi bangunan-bangunan kaku yang membosankan? Di sekolah, di rumah, di kamar."


"Yang enggak membosankan menurut kamu, yang kayak gini?" tanya Adit sambil naik ke kursi kosong dan mewarnai gambar kereta api yang berjalan di angkasa. "Enggak takut kalau malam gambarnya bakal hidup?"


"Kebanyakan nonton film!" Gesna terkekeh geli. Tangannya masih mewarnai ikan-ikan yang berenang di udara. Ikan itu berwarna serupa buah beri. Ikan aneh yang bisa ada di udara selain iklan sebuah stasiun televisi.


"Kalian sekeluarga pintar gambar semua, ya? Mama kamu desainer, Abang calon arsitek, kamu juga bagus banget gambar doodle-nya."


"Kok tahu Mama desainer?" Mata cewek itu memicing, menyadari kalau Adit sudah mengetahui lebih banyak dari yang pernah dia ceritakan. Gesna lalu berdesis, "Dasar, ya."


Adit tidak menampik kalau dia memang mencari tahu itu. Kalau guru-guru saja tahu siapa Meilan, tentu tidak susah baginya untuk mencari tahu. Lagi pula, mengetikkan nama orang melalui mesin pencarian tidaklah sulit. Sekali tekan, keluar semua jejak digitalnya. "I just wanna know you better."


"You did it."


"Not all." Adit meringis sambil memandangi gambar bayi-bayi burung yang ada di dalam gerbong kereta api. Kereta api di langit membawa bayi burung. Kurang ajaib apalagi pikiran pacarnya ini? "How 'bout you tell me something I don't know?"


"I hate my parents."


Pengakuan Gesna yang pertama hanya didengar Adit tanpa komentar.


"I like clubbing." Tangan Gesna berpindah ke awan yang berbentuk macam-macam. Ada yang berbentuk piza, spageti bahkan paha ayam goreng.


"I know, but why? Lagian, belakangan ini kamu udah enggak dugem."


Bahu Gesna mengedik. Matanya masih fokus ke gambar di hadapan. "Karena ada kamu. I don't like lonely night, empty room and it all sucks."


Sedikit banyak setelah masuk ke dalam kehidupan Gesna, dia sangat paham bagaimana berada dalam dunia yang terlihat ramai tetapi merasa sendiri. Gesna bukan sepertinya yang memiliki Bara dan Miko, yang dengan mudah berkumpul di basecamp. Kesibukan Naraya tentu membuat cewek itu tidak bisa menampung kedatangan Gesna kapan saja. "How about DJ? Who's your favourite?" tanyanya mengalihkan pertanyaan.

__ADS_1


"David Guetta, Tiesto, Martin Garrick."


Adit bergumam sambil memoles satu monster lucu berbadan buntal dan bermata melotot."Do you ever heard Steve Aoki, Afrojack or Nicky Romero?"


Mengerjap ketika mendengar nama yang tampak asing, Gesna lalu menggeleng. Dia membiarkan Adit menyetel sebuah lagu dari ponsel dengan volume sedang sebelum kembali mewarnai bayi burung. Bunyi genderang drum yang ditabuh dramatis menjadi pemula lagu, sampai ketukan berubah menjadi lebih ramai dengan lagu yang Gesna kenal. "Who's this?"


"Steve Aoki."


Gesna memperhatikan video yang sedang Adit putar, ternyata dari YouTube. Seseorang DJ berambut lurus sepanjang pinggang sedang memegang mik, menegur para penonton. Dia mulai melengkungkan senyum. "Kamu tahu juga beginian?" imbuhnya takjub.


"Dari teman-teman juga. Ada anak Indiebest yang rapper dan juga suka utak-atik turntable. Kalau kamu mau, nanti aku minta dia mixing lagu buat kamu."


"Cewek?"


"Cowok. Namanya Rexy. Dia yang kasih tahu kalau Steve Aoki ini keren. Setelah aku tonton video-video Aoki, gayanya memang nyentrik dan mixing-nya keren."


Gesna terkekeh begitu melihat kaus yang dipakai Steve Aoki bermotif penuh dan berwarna-warni seperti dinding kamar yang sedang digambarnya. Apalagi saat menyadari celana DJ itu sesempit legging yang biasa dipakai para wanita. "Baru ini lihat cowok pakai baju pink gonjreng, celana legging penuh motif dan lompat-lompat kayak cacing kepanasan."


"Kalau di Amerika kan yang penting karya. Gaya aneh malah jadi ciri khas," jelas Adit tertawa kecil, membenarkan ucapan Gesna tentang penampilan aneh Steve Aoki. "Terus apa lagi yang aku belum tahu?"


Tangan Gesna yang sudah pindah mewarnai buntut ular kecil dengan gradasi kehijauan seperti daun itu, berhenti di udara. Sepertinya Adit cukup tahu banyak. Cowok itu tahu dia tidak suka bubur ayam diaduk, tahu dia tidak suka sayur, tahu dia berselera melihat makanan pedas, tahu dia suka dugem, suka Cha-cha. "Aku suka lihat kamu main gitar, nyanyi ataupun sekadar jailin aku."


Adit semakin tertawa. Dia hendak tahu tentang Gesna, bukan penilaian orang tentangnya. "Aku juga suka lihat kamu main basket, gambar, ketawa-ketawa, dan apa pun yang bikin kamu bahagia," balas Adit yang mulai turun dari kursi. Yang mau diwarnai sudah sejajar dengan mukanya. "Tapi bukan itu yang aku maksud, Non."


Gesna mendengkus. Gambar yang ada di depannya sudah tertutup lapisan cat. Dia juga turun dari kursi, mulai mewarnai bagian tengah. "You know me better, Nyo."


"Oh, ya?" Adit tidak bersuara lagi. Ketukan berirama hasil racikan Steve Aoki mengisi keheningan yang tercipta. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. "Ini jelek nggak kalau rumah siputnya diwarnain biru?" tanya Adit.


Gesna menoleh. Komposisi warna yang dipulas Adit lumayan masuk. Cowok itu pasti pernah melihat mural-mural dan mengerti apa yang diinginkan Gesna. "Enggak, bagus, kok. Itu burung yang kamu warnain pink warna-warni kayak sampul novel yang pernah dibawa si Nay."


"Yang judulnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, bukan?"


"Iya, benar. Penulisnya Eka Kurniawan," ujar Adit yang langsung menyadari lengosan tidak tertarik dari Gesna. "Kalau monster ini, jasnya aku warnain kayak jas Conan."


"Eh, iya mirip Conan. Kamu tambahin kacamata juga, ya? Kok aku baru sadar sih?" Gesna mengamati monster yang menjadi tambah lucu setelah ditambahkan jas biru, dasi kupu-kupu merah dan kacamata berbingkai hitam.


"Hampir semua cewek pembaca komik pasti suka Detektif Conan," sahut Adit dengan yakin. Serial petualangan detektif yang badannya mengecil karena kerja obat itu memang masih digila-gilai hingga sekarang. Dia lalu duduk di lantai, karena dinding tengah sudah terisi warna.


Gesna juga sudah duduk. Cewek itu malah sedikit menunduk untuk mengukir liukan rumput-rumput yang ditaruh pada gambar paling bawah. Lelah menunduk, Gesna mulai tengkurap sambil menyangga kepala dengan bantalan lengan. Adit yang bagiannya sudah hampir selesai juga mengikuti Gesna untuk menelungkupkan badan, agar bisa mewarnai bagian bawah.


"Kamu suka matahari?" Adit memperhatikan hanya ada matahari di gambar ini, tidak ada bulan atau bintang.


"Matahari selalu sadarin aku kalau aku berhasil melewati semua malam itu." Gesna tersenyum.


"Nama Aditya berarti matahari. Mamaku dulu suka panggil aku dengan nama My Sun." Adit melirik ke sebelahnya sambil menaikturunkan alis.


"Fix! Sekarang, kamu matahari aku," tandas Gesna tertawa.


Setelah menuntas memberi sentuhan kekuningan di ujung rumput, Adit bangun dan membuka tasnya, mengeluarkan infokus kecil di sebelah komputer Gesna. Cowok itu menyetel posisi agar tembakan sinar dari infokus menuju ke dinding samping yang polos. "Password Wi-Fi rumah ini apa?"


Gesna yang telah menyelesaikan dinding dan bersandar di kaki ranjang, menyebutkan sejumlah angka yang dimasukkan Adit ke komputer. Di dinding, tampak Steve Aoki yang tadi dilihatnya di ponsel Adit. Bibir Gesna semakin melengkung ketika melihat di dinding kamarnya ada gambar para penonton bergoyang-goyang. Dia pun ikut mengangguk-angguk kecil. Adit menyalakan lampu disko kecil yang selama ini ada di meja Gesna dan mematikan lampu kamar. Rupanya Adit ingin membuat kesan seolah mereka ikut di dalam pesta tersebut.


"Kamu enggak perlu dugem lagi, cukup party di kamar aja." Adit duduk dan ikut bersandar di sisi ranjang. Cowok itu menaruh sebuah headphone yang suaranya enak sekali di telinga Gesna. Seakan ketukan demi ketukan DJ benar-benar berada di depan matanya, sekarang.


Gesna menoleh. Adit juga sedang memakai headphone yang sama. Dan Gesna tahu headphone bluetooth merek ini tidak murah.


"I love you," bisik Gesna.


"I love you first." Adit tersenyum, sambil mengusap mukanya. "Di kelab malam itu banyak bahayanya. Kamu bisa tetap ngedengerin lagu-lagu kesukaan kamu, tapi enggak perlu ke sana. Oke?"

__ADS_1


Gesna mengangguk dan menabrakkan kepalanya ke dada Adit, memeluk cowok itu dengan bahagia. Tidak ada hinaan sedikit pun atas selera musiknya, tidak ada cibiran karena hobi yang seharusnya tidak boleh untuk anak di bawah umur. Tidak ada tuduhan miring seperti yang orang-orang katakan kepada cewek pengunjung kelab malam. Adit benar-benar beda dan dia benar-benar beruntung memiliki pacar seperti Adit.


"Makasih, Adit. Makasih."


"Aku selalu suka melihat kamu ketawa dan tersenyum, tapi bohong kalau aku suka lihat kamu dugem walaupun kamu ketawa di situ. Setiap orang pasti pengin pacarnya menjadi lebih baik. Untuk diri kamu sendiri."


Kepala Gesna terangguk lagi dari balik dekapan Adit.


"Oh, ya. How about Guntur? Aku yakin antara kamu dan Guntur ada sesuatu. Lebih dari sekadar sahabat," tembak Adit sambil mengusap kepala Gesna. "You can't hide it from me, Non. Monster tinggi yang kamu gambar ini, dia kan? Buku sketsa kamu yang waktu itu aku ambil juga banyak gambar Guntur di sana."


"Dia sahabat aku."


"Yakin? Cuma ada gambar Guntur, lho. Bukannya kamu juga sahabatan sama Ilham, Riko dan Adrian?" gumam Adit yang bisa Gesna dengar dari balik ketukan-ketukan tinggi Aoki. Cowok itu melerai pelukan dan membenarkan rambut Gesna yang teracak. "Aku harus banyak-banyak nahan rasa kesal setiap kali kamu sama dia. Karena aku melihat kalian lebih dari sekadar sahabat."


"Dulu..." Gesna menegakkan badan. Adit sudah terlampau banyak mengetahui tentangnya bahkan yang tidak diungkap. "Dulu, aku memang pernah suka sama dia, tapi sekarang, enggak lagi. Dia benar-benar sahabat buat aku. Aku sekarang sukanya sama kamu. Ingat aja, aku ya yang minta kita balikan."


"Guntur tahu kamu suka sama dia?" tanya Adit memperhatikan muka Gesna dan cewek itu menggeleng. "Kenapa enggak dikasih tahu?"


"Aku enggak mau merusak persahabatan dengan pengakuan kayak gitu, Nyo. Belum tentu dia suka. Lagi pula, kegeeran amat dia nanti."


"Waktu itu, kamu bilang kalau kamu suka sama aku. Nggak takut aku kegeeran? Kamu juga mau jadi pacar aku, nggak takut hubungan pertemanan kita ke depan bakal rusak nanti?"


"Enggak tahu. Aku kan enggak sahabatan sama kamu. Kalau kamu mau kegeeran, ya silakan. Kalau ke depannya kita enggak berteman..." Gesna terdiam. "Jangan! Enggak mau! Kan udah janji harus kasih tahu biar enggak salah sangka dan harus dengar penjelasan."


Dia kembali memeluk Adit dengan erat. "Aku suka wangi kamu, lho, Nyo," desis Gesna sambil mengendus-endus aroma tubuh Adit.


Adit tergelak sambil menciumi kepala Gesna. "Aku juga suka wangi kamu. Tukeran parfum aja kita?"


"Aku nggak pakai parfum," aku Gesna terkekeh sambil menuju minyak wangi anak-anak yang ada di atas meja. Botol bergambar kartun Thomas And Friends, berwarna biru. "Mungkin wangi karena pakai sabun, sampo sama body spray yang sama, ya?"


"Bener-bener anak bayi!" Adit mencubit gemas pipi Gesna. "Itu pantasnya dipakai Gandhi."


"Biarin, aku juga kan masih kecil, masih dalam masa pertumbuhan."


"Kecil dari mana? Dilihat dari lantai tiga?" Adit mengusap kembali pipi Gesna. Meninggalkan sebuah kecupan ringan di sana. Namun, kedua tangan Gesna yang sudah terkalung di leher Adit menahan kepalanya yang akan tegak hingga hidung mereka bersentuhan.


Napas mereka terasa dekat dan tidak ada yang bisa mengeklaim siapa yang memulai lebih dahulu. Sebab sepasang bibir itu sudah bertaut, menyesap manis dari penyatuan yang ada.


Tangan Adit mengusap pelan kepala dan menyusup di tengkuk Gesna. Membawa tubuh mereka semakin rapat. Gesna pikir dia sudah mati karena jantungnya meronta sekencang mungkin, mengalahkan entakan tinggi musik yang mengalun di telinga masing-masing. Saat Adit menjauhkan wajah, Gesna bahkan masih ada merasakan bagaimana hangatnya bibir itu.


"Udah pernah ciuman juga sama Guntur?"


Adit kembali mengusap pipinya yang masih terasa panas. Laki-laki memang bisanya merusak suasana. Gesna refleks melotot. "Ya, enggaklah, bodoh. Mana ada sahabatan yang kayak gitu!"


Dia lalu berdiri, melepas headphone dan meninggalkan Adit. Badannya yang masih meriang hasil ciuman tadi, memerlukan asupan minum. Namun, ternyata Adit mengejar. Cowok itu menarik lembut lengannya dan merengkuh pinggang Gesna. "Cuma tanya. Jangan marah."


"Pertanyaannya enggak mutu. Bikin bad mood," sungut Gesna.


"Aku cuma cemburu sama setiap orang yang dekat sama kamu, cemburu sama mereka yang lebih dahulu kenal kamu, cemburu sama mereka yang lebih mengerti kamu dan lebih dahulu menjaga kamu." Adit merapikan anak rambut Gesna dengan jemarinya, menyelipkan hingga ke belakang telinga. Wajah jengkel cewek itu diusapnya sekali lagi.


"I love you. I love you, the most," bisik Adit menunduk. Sebelah tangannya memeluk tubuh Gesna, sebelah lain berada di dinding, menahan agar tubuh Gesna tidak menempel pada dinding yang belum kering.


Dia menyatukan bibir mereka kembali. Mencecap rasa yang akan terus menjadi candu. Seakan sekali tidak pernah cukup. Menukar udara dan pagutan. Tidak ada yang ingin melepas meski akan kehabisan napas.


🌺🌺🌺


Yang baca Pembalasan Andara pasti tahu siapa Rexy, ya? 🤭


Ya udah. Jangan mupeng lihat Gesna sama Adit ya.

__ADS_1



__ADS_2