
Satu yang Gesna sadari. Pemaksaan memang tidak akan membuat orang bahagia. Sebagaimana dia tidak suka dipaksa, dia juga merasa beberapa hari terakhir kedatangan Adit hanya basa-basi. Cowok itu datang, menungguinya makan lantas pergi kembali. Mirip satpam komplek yang lagi patroli, nggak ada beda.
Dongkol? Jelas Gesna dongkol. Dia juga kebosanan, tetapi tidak ada orang yang bersedia temani ke Splash. Riko, Adrian, dan Ilham menolak dengan beragam alasan. Kalau Guntur pasti sedang sibuk dengan Joceline atau dengan OSIS, yang jelas tidak akan bisa menemaninya ke dunia malam lagi.
Gesna sudah kehabisan akal mau melakukan apa. Dia sudah menonton tivi dan lihat film di Netflix, merasa tidak ada yang menarik hati. Menonton konten-konten lucu di YouTube tapi jatuhnya malah garing setengah mati dan terkesan dipaksakan. Mau melanjutkan gambaran di dinding kamar, tapi dia belum ada ide. Akhirnya tangan Gesna menekan nomor Adji, berharap cowok itu memiliki waktu luang.
"Kak, gue gabut," panggil Gesna mengeluh. "Mati gaya bener gue. Mana dengkul masih belum bisa kompromi lagi."
"Dengkul lo masih belum baikan juga?" tanya Adji di seberang.
"Gitulah." Gesna merebahkan kepala di bantal. Sore ini terasa sangat sepi. "Ngapain yuk kita?"
"Ngopi mau?" tawar Adji baik hati.
Gesna melonjak girang, tak lama langsung meringis karena lututnya kembali nyeri. "Gitu, kek. Kuylah, jemput gue ya? Si putih lagi di bengkel. Body-nya lagi dicantikin lagi."
"Iya, paham. Lo siap-siap, deh. Bentar lagi gue jemput."
Gesna langsung bangkit begitu telepon terputus, memilih baju dan celana pendek. Baret di lutut sudah mengering, tetapi untuk memakai celana panjang masih butuh perjuangan.
Adji datang setengah jam dari telepon berakhir, mengangkutnya pergi dari rumah.
"Kak, lo tahu nggak?" Gesna membuka suara. "Gue sama Nay perang dingin. Dia nggak tegur gue sampai sekarang."
Naraya sudah kembali bersekolah tetapi mereka berdua tidak bertegur sapa. Gesna pernah memancing menegur Naraya dan tidak dijawab oleh cewek itu.
"Kok bisa?"
"Lo tanya gue? Terus gue tanya siapa?" cibir Gesna sambil menaikkan bahu. "Kenapa juga dia yang kesal? Harusnya yang kesal itu kan gue. Dia udah bohongin gue. Ya, nggak, sih?"
Adji masih fokus ke jalan di depan mereka. Dalam diam, cowok itu seperti ikut berpikir. "Lo ngerasa nggak kalau Nay itu susah dimengerti? Sampai sekarang aja, gue tuh masih nggak paham apa yang ada di pikirannya."
Tawa Gesna terlepas. Matanya menyorot lucu ke sebelah sambil mencela. "Gitu tuh cewek yang lo suka itu."
"Dia sahabat lo, kalau lo lupa," balas Adji tidak mau kalah.
Gesna menyengir. Setahun lebih bersahabat dengan Naraya, dia juga masih belum banyak mengerti tentang cewek itu. Terlalu tertutup dan misterius.
Adji memarkirkan mobil di sebuah mal terdekat. Sore ini sedikit mendung, matahari sembunyi di balik awan-awan kelabu. Gesna turun berhati-hati.
"Lo perlu dipapah nggak?"
"Nggak usah," tolak Gesna cepat. "Bikin malu aja. Memang gue nggak bisa jalan apa? Ngopi di mana, nih?"
Mata Gesna berkeliling. Di sekitar mereka banyak sekali kedai kopi, mulai dari yang eksklusif hingga yang biasa saja. Baru saja tangan Gesna hendak memilih kedai kopi yang prestisius, punggungnya didorong Adji menuju pojok.
"Starbucks aja udah, nggak usah banyak gaya," ujar Adji menetapkan pilihan. Cowok itu seperti tahu kalau Gesna sering iseng mencoba-coba yang berakhir tidak suka dan tidak habis.
Gesna berdecak. "Nggak eksploratif lo, Kak. Orang yang nggak eksploratif itu kayak nggak menikmati hidup."
Adji membiarkan dia memilih tempat duduk sementara Adji memesankan minuman. Tak lama cowok itu mendatangi meja pilihan Gesna. "Iya, gue tahu lo eksploratif," bahas Adji. "Jadian sama Kepala Suku juga bagian dari eksplorasi lo jangan-jangan?"
Tawa Gesna meledak. Badannya sampai berguncang geli sambil menunjuk Adji. "Anjay. Kok tahu sih lo?"
"Jangan aneh-aneh lo. Perasaan jangan dimain-mainin." Adji kemudian duduk di samping Gesna. "Adit ke mana? Kok lo nggak sama dia?"
"Latihan band." Mata Gesna berputar malas. Tangannya mengaduk dan menyuap whipping cream yang ada di atas kopi. "Kan besok ada festival."
"Festival kita, kan?" Adji menoleh. "Gue juga ikut, kok. Sama Adjam dan kawan-kawan. Tadi, baru ambil nomor peserta."
Kopi ini tidak pahit, manis sekali malah. Namun kalimat Adji barusan membuat yang disesap Gesna terasa pahit. Adji saja yang akan ikut festival masih bisa nongkrong-nongkrong santai. Kenapa Adit mesti latihan? Setiap hari pula.
__ADS_1
"Gue mau bawain lagu khusus buat Nay, Ge. Doain ya supaya dia bisa maafin gue."
Diam-diam, Gesna melirik Adji dengan prihatin. Sebegitu besar rasa cowok itu terhadap sahabatnya, tetapi Naraya memilih tidak mau tahu. Itu jahat sekali. Melupakan apa yang pernah Adji buat selama ini. Gesna tidak mau komentar, sehingga dia hanya menyesap kopi.
"Ge," panggil Adji sambil menunjukkan layar ponsel ke dia. "Nay bikin puisi buat Renard, dimuat di BOS."
Bibir Gesna membulat. Selama ini, Naraya selalu mengirim puisi dengan merahasiakan nama, memakai nama pena. Dan hari ini, bisa-bisanya mengirimi BOS puisi dengan nama asli? "Wow! Ada apa gerangan mereka berdua?"
Bahu Adji merosot, bersandar di kursi. Lama Adji terdiam memandangi sekitar. Tempat duduk yang Gesna pilih memang di bagian luar ruangan yang lumayan terbuka, hanya saja tetap memiliki atap.
"Lo pernah merasa di posisi antara masih mau usaha sama mau nyerah sekaligus nggak?" tanya Adji sambil memperhatikan gerimis yang mulai jatuh.
Gesna menggeleng. Ya, dia belum pernah di posisi itu. Saat bersama Guntur, dia memutuskan menyerah lebih dahulu. Dan dia belum pernah jatuh hati sebelum itu.
"Cowok kalau sedih, kadang nggak bisa menangis, Ge. Kami nggak kayak cewek-cewek yang gampang luapin perasaan lewat air mata. Tapi, kami tetap punya hati. Yang namanya sedih, mau nangis atau enggak, tetap aja berdarah-darah." Adji berdecap sambil menyesap es kopi, dan mengantongi ponsel. "Hati cowok juga bisa sedih dan berdarah walaupun nggak nangis."
Melihat Adji murung, Gesna memilih diam. Bercanda pun dia tidak berani. Sambil minum kopi, tangannya mengutak-atik ponsel. Instagram terbuka. Lingkaran paling kiri adalah akun Miko dan ditekannya. Cowok-cowok itu live IG lagi dan komentar-komentar yang datang seperti kemarin.
Gesna mengipas leher dengan tangan. Ruangan ini nggak pakai AC, ya? Kok panas banget? Tangan Gesna menarik gelas dan mulutnya mengirup kopi dengan rakus.
"Haus, Ge? Gitu amat ngisapnya?"
Gesna hanya melengos. Sebelah tangan masih memegang ponsel. "Kalau bisa isap otak orang, udah gue isap isi otaknya."
Mata Gesna turun ke notifikasi pesan. Baguslah, orang yang dimaksud mengirimi dia pesan.
Mr. A: Kamu lagi ngapain?
Gesna: Mau tauk aja.
Mr. A: Ditanya bener kok gitu jawabannya?
Gesna: NGGAK USAH BANYAK TANYA LO KAYAK SATPAM.
Gesna berdecak. Ini anak sok ganteng stadium empat. Orang yang kayak begini harusnya dimusnahkan saja dari muka bumi. Sok sibuk, sok spesial dan sok-sok yang lain. Bukankah Gesna pernah bilang ke Adit kalau cowok itu lebih baik nggak usah sok. Karena sok tahu ataupun sok ganteng nggak baik buatnya. Eh, sekarang soknya Adit makin bertambah. Anak sok, bagusnya dikerjain saja memang.
Gesna: Dit, makan malam nanti gue pengin piza.
Mr. A: Mau varian yang mana? Toping apa?
Gesna: Meat Lovers pake stuffed crust.
Mr. A: Oke
Senyum Gesna mulai terkembang. Otaknya berpikir kalau Adit akan datang dengan piza dan dia bisa memarahi cowok itu lagi seperti yang lalu. Namun, ternyata Gesna salah. Saat malam, orang yang mengetuk pintu dan membawakan piza bukan Adit.
"Kok Mas yang antar, sih?" protesnya.
"Iya, memang saya yang antar. Atas nama Mbak Gesna, ya?"
Gesna mengangguk, menerima kotak yang diberikan. "Kenapa Mas yang antar?" tanyanya berulang kali membuat petugas antar piza terheran-heran.
***
Lapangan basket yang biasanya kosong, kali ini, sudah tersulap menjadi lebih keren. Ada dua panggung berdiri, satu yang setinggi dua meter masih kosong. Panggung itu untuk penampilan bintang tamu, nanti malam. Panggung lainnya yang setinggi pinggang orang dewasa, sudah dikerubungi umat manusia tidak peduli sinar matahari siang ini lumayan sadis. Pengeras suara yang bergantungan, tidak juga mengalahkan suara pekikan ramai membahana khas cewek-cewek.
Gesna memutar bola mata dengan malas. Dia yang memilih duduk di sudut terpencil lapangan, mulai mengipasi diri dengan kipas tangan milik Asri. Di depan sana, orang yang mengirimi piza ke rumahnya sudah ada di atas panggung. Cowok berkaus lengan panjang yang ditarik sesiku itu sedang menyandang gitar dan menegur penonton lalu dibalas teriakan histeris.
Bibir Gesna maju untuk mencibir. "Ini nih yang gue nggak suka sama acara outdoor. Panas!" keluhnya.
Asri yang sudah kembali dari umrah, kemarin, menoleh dengan tatapan heran. "Tumben lo ngeluh panas? Biasanya demen banget jemur diri di lapangan."
__ADS_1
Ekor mata Gesna memperhatikan Adit. Sedikit saja cowok itu bergerak, penonton teriak. Adit menunduk, mereka teriak. Adit tersenyum, mereka teriak lebih kencang, sudah mirip suku primitif yang hidup pada zaman batu. "Ye, gue jemur diri main basket kali, bukan nontonin kucing-kucing alay kurang makan gini," ejeknya mendengkus.
Mulut Asri membuka, mencoba menyerna maksud Gesna. "Kucing alay kurang makan gimana?" Cewek itu menoleh ke sekitar. "Nggak ada kucing di sini."
Jari Gesna refleks menggaruk belakang kepala. Susah memang bicara dengan Asri yang tidak mengerti perumpamaan, cuma tahunya rumus-rumus. Dari kejauhan, terlihat cewek-cewek kelas Ester yang waktu itu berniat untuk memelet Adit sudah berdiri tidak tahu malu di depan panggung.
"Bang Adit, foto dong." Gerombolan itu mengarahkan ponsel ke arah Adit dan Adit tersenyum.
Gesna membuang muka tidak suka. Sok ganteng stadium empat. Kepalanya sudah berasap. Kipas yang Gesna pegang dikibasnya semakin cepat. Udara sekitar membuatnya tidak nyaman.
Ganteng-ganteng cool bajingan.
"Ge... Rusak nanti kipas gue," protes Asri melihat kekejaman Gesna terhadap kipas kesayangannya.
Gesna berdecak garang, merasa dilecehkan. "Elah, berapa sih harga kipas ini? Gue ganti nanti kalau rusak. Jangan kayak orang susah deh lo. Gue beliin sepuluh nanti kalau kipas ini rusak."
"Nyokap belinya di Shanghai, harganya 40 dollar," cicit Asri seraya meringis tidak enak.
Tangan Gesna lalu berhenti, melipat kipas tangan yang berharga sialan dollar dan mengembalikan ke Asri. "Nih, gue balikin. Gue beli teh kotak dulu. Panasnya udah kayak di Padang Mahsyar."
Kaki Gesna melangkah ke koperasi. Dibanding kantin, koperasi-lah yang terdekat dari lapangan. Dia mengambil dua buah teh dingin dalam kemasan dan membayar ke penjaga. Satu langsung disesapnya sembari berjalan, satu untuk Asri masih digenggam.
"Gue sekarang paham kenapa dia disebut Kepala Suku. Auranya itu, lho. Auraaaa..." Seorang cewek membuka kedua tangan naik di udara, tersenyum kepada teman-temannya.
"Kata anak kelas sebelas, kabarnya udah punya pacar," bisik sang teman. "Tapi, kalau dia mau jadiin gue pacar kedua juga gue rela. Rela."
Gesna menoleh ke kerumunan tersebut. Geng anak-anak kelas sepuluh sedang merumpi dan tersenyum-senyum sok manis. Wah, lancang sekali mulut mereka.
"Heh, lo pada jangan berdiri di jalan, bisa?" tegur Gesna dengan lirikan hendak membakar orang. Anak-anak itu langsung menyingkir, memberi jalan. Gesna berdengkus sambil kembali berjalan ke lapangan. Ditegur seperti itu saja langsung kicep, sok-sokan mau jadi yang kedua.
Belum tahu mereka, siapa pacarnya Kepala Suku? eram Gesna dalam hati sambil menaikkan dagu. Seandainya mereka tahu kalau pacarnya Adit itu Gesna, bagaimana ya reaksi mereka? Bibir Gesna tersenyum sinis. Kencing-kencing di tempat, mungkin.
"Kalau Kak Adit lagi nyanyi gini, ketampanannya naik berkali lipat. Gue masih nggak percaya dia pernah patahin gigi anak orang." Seseorang di sebelah Asri berbicara dengan teman di sampingnya. Gesna yang sudah duduk, menggerak-gerakkan kakinya dengan gusar.
"Ye, kita juga belum masuk ke sini, waktu itu. Mitos aja kayaknya."
Gesna melirik dengan tampang tidak peduli. Ternyata teman sekelas Asri. Dia mulai memasang telinga. Kalau mereka bilang mau jadi kedua lagi, kayaknya enak menendang kakinya. Ikut duduk bergabung dengan kelas Asri sepertinya adalah satu kesalahan, Gesna melengos pelan.
Dia melirik ke bagian lain. Tak jauh dari dia, ada gerombolan anak Pespel. Biasa juga Gesna ikut bergabung dengan mereka, tapi di sana ada Naraya dan Naraya lagi mode siap perang kepada Gesna. Tidak tahu kenapa.
Seperti sadar sedang dilirik, Naraya menoleh. Tatapan mereka bertemu dan cewek itu langsung membuang muka. Gesna juga mengembalikan pandangan ke depan. Berusaha menikmati performa The Tahan Banting sembari mengenyahkan keinginan untuk melempar bom molotov kepada orang-orang yang mengerumun atau memanggil-manggil Adit.
Harusnya dia larang saja Adit ikut-ikut festival. Gesna yakin, dengan sedikit mengancam atau merengek, pasti Adit akan setuju. Dia menata rambut dalam sekali ikatan. Membiarkan potongan kotak-kotak yang biasa disembunyikan di balik rimbun rambut, terlihat oleh yang lain. Biar saja orang yang lihat akan mengatainya preman.
Kalau Adit Kepala Suku. Dia ini Ratu Kepala Suku.
Mata Gesna beredar, mencari penjual bunga. Dia mau memberi Adit bunga dan melihat bagaimana reaksi cowok itu saat diberi bunga. Apakah Adit akan tersenyum seperti saat diberi bunga sama para cewek? Atau melotot? Atau bagaimana jika reaksinya malah marah?
Gesna sudah tidak peduli. Penjual bunga yang sedang lewat dipanggilnya dan dia memilih sekuntum mawar. Baru saja Gesna berdiri dari bangku semen, menepuk sebentar celana yang berdebu. Di tengah lapangan sudah ada teriakan riuh.
Kepala Gesna naik, melihat ke depan. Naraya telah ada di depan panggung, mengulurkan sekuntum bunga untuk Adit. Darahnya menggelegak tanpa kendali. Apalagi saat dia melihat Adit tersenyum dan mengecup bunga dari Naraya dengan sedikit membungkuk.
Mengecup bunga.
Gesna ulangi.
Mengecup bunga.
Hal itu yang membuat penonton lain berseru riuh rendah. Sebab bunga yang lain hanya diterima Adit tanpa perlakuan spesial.
Maksud Naraya ini apa? Bukannya Naraya tahu kalau Adit mendekatinya? Kemarin-kemarin malah bilang mendukung dia bersama Adit. Kenapa sekarang pakai acara kasih-kasih bunga ke pacar orang? Cewek itu sengaja menabuh genderang perang?
Gesna mengangguk sambil merèmas tangkai bunga yang dipegang.
__ADS_1
War invitation accepted.