Matahari Api

Matahari Api
Ingatan Paling Mengerikan


__ADS_3


Gesna paham sekali dengan dirinya sendiri. Dia kalau sudah tidur, sering kali seperti bangkai dan susah untuk dibangunkan. Meskipun alarm berdering-dering sekencang apa, selagi tidak ada manusia yang menguncang-guncang badan dan memercikkan air, dia tetap akan tidur.


Hari ini, Gustav tidak pulang. Abangnya tidak bisa diharapkan untuk membangunkan Gesna agar merapat ke rumah Guntur, tengah malam nanti. Berusaha untuk tetap terjaga, Gesna menyalakan semua lampu di kamar. Gitar yang akan diberikan sebagai kado juga sudah Gesna siapkan di dekat pintu. Gitar itu gitar yang kemarin dikembalikan Adit. Yah, daripada mubazir lebih baik dikasih kepada Guntur saja.


Di rumah ini, tidak ada yang akan memainkan gitar itu. Gustav dulu suka bermain gitar. Namun, kesibukan kuliah membuat Gustav jarang menyentuh gitar lagi. Segala maket, segala desain baik yang di kertas maupun yang di komputer, membuat muka Gustav berlekuk-lekuk. Boro-boro mau main gitar, jika sedang luang, abangnya itu lebih memilih tidur seharian atau menonton televisi. Dan belakangan, Gustav jarang sekali memiliki waktu luang.


Gesna memilih meraih buku sketsa. Dia mau menggambar sekaligus sebagai ucapan ulang tahun nanti. Tangannya menarik garis pelan dan melengkung, menggambar siluet seorang manusia berbadan tinggi. Sisi kanan dan kirinya diberi sayap. Bukan manusia, Gesna sedang menggambar malaikat. Guntur itu guardian angel. Meski sekarang yang harus dijaga Guntur bukan dia lagi, Guntur tetap penjaga yang baik.


Gesna lalu menggambar gitar, gitar dengan rangka kosong di tengah. Khas gitar yang akan dia berikan. Malaikatnya sedang bermain gitar di taman seindah surga, dikelilingi bunga-bunga mekar, langit biru terang berawan putih dan rumput-rumput yang hijau sempurna. Tak lupa Gesna menggurat inisial namanya JGV dan ucapan 'Selamat Ulang Tahun, Gun!'


Bibir Gesna mulai menguap, matanya memberat. Ya ampun, masih jam sepuluh malam. Masih ada hampir dua jam lagi dia harus bertahan agar tidak tidur. Minum kopi? Apa dia membuat kopi saja, ya?


Efek habis letih sehabis latihan memang membuat badan ingin tidur saja. Gesna yang sudah menyeduh kopi kemudian meletakkan cangkir itu di meja. Dia beralih ke jendela dan membuka daun jendela, duduk di kusen sekadar menghirup angin malam. Menimang-nimang ponsel yang tidak ada pemberitahuan, Gesna ingin menelepon seseorang.


Dari tadi, pesannya kepada yang lain hanya dibalas singkat atau belum dibaca. Asri dan Adji bilang sudah mengantuk, ingin tidur. Kemungkinan anak basket yang lain juga seperti itu. Naraya tidak membaca pesan hingga malam, mungkin juga sudah tidur. Biasa yang belum tidur kalau malam-malam dan sering mengiriminya pesan itu cuma Adit, sih.


Tangan Gesna otomatis menggaruk belakang kepala. Kenapa otaknya menyebut nama itu? Mentang-mentang tadi berpapasan tidak sengaja. Lagi pula dari seluruh murid di sekolah yang jumlahnya ratusan, mengapa mesti berpapasan dengan Adit, coba?


Gesna mulai memaki benak sendiri. Nama itu tidak boleh disebut, tidak boleh diingat. Haram hukumnya. Gesna tidak mau kenal, tidak mau ingat, tidak mau berteman. Pandangannya teralih keluar. Suasana sepi. Hanya ada lampu-lampu temaram yang tunduk menerangi jalan, berdiri kokoh di antara pohon-pohon berdiri rindang.


Dulu, ada yang meminta dia untuk melihat ke jendela dan cowok itu sudah ada di bawah pohon sana sambil tersenyum seolah tahu kalau jendelanya berhadapan dengan pohon. Aih, Gesna berdecak keras sambil mengoper ponsel ke tempat tidur. Ingatan macam apa ini? Gila, ini mengerikan sekali.


Tergesa, Gesna menutup jendela dan turun dari kusen. Mencari kesibukan lain dengan mengamati gambar di dinding yang belum selesai. Dia meraih pensil, membuat sketsa tambahan tipis-tipis. Memasukkan gambar malaikat, gambar gitar, gambar gelas kopi yang sama sekali tidak ada sambungannya. Gesna sendiri belum berani untuk mewarnai karena khawatir hasilnya jelek. Sebuah ingatan melintas lagi. Bukankah Adit pernah menawarkan diri untuk mengecat seluruh dinding kalau Gesna merasa gambar-gambar ini terlalu penuh?


Gesna segera melempar pensil ke meja dan meringkuk di tempat tidur. Kenapa ada Adit-Adit terus sih sedari tadi? Dia pasti lagi kurang sehat. Oh, iya, mungkin ini efek dari dengkul yang membentur. Mungkin benar kata Guntur, otaknya lagi terjepit.


Memar kebiruan masih terlihat pada kaki yang tertekuk di depan muka Gesna. Tidak ada yang bantu mengompres, hari ini. Tidak ada yang menggendongnya sampai sofa, tidak ada yang membukakan sepatu hingga dia berjuang untuk membuka sendiri. Tentu saja, tidak ada juga Cha-cha gratis yang memenuhi kulkas apalagi disuapi makan.


Gesna mengumpat sejadi-jadinya, menyurukkan kepala di bawah bantal. Ada apa dengan hari ini? Sekali berpapasan saja, efeknya menyeramkan sekali. Lebih seram daripada film horor berhantu, lebih mendebarkan dari film memotong-motong manusia. Bayangan tentang Adit datang satu per satu. Gesna baru menyadari dia tidak mengembalikan gelang merah yang melingkar di tangan, dikasih Adit ketika di Bandung. Sial, gelang ini susah sekali untuk dilepas.


Saat melewati kaca, Gesna baru sadar kalau dia memakai baju Toothless pemberian Adit. Dia membuka lemari buru-buru dan mengganti baju itu. Kenapa dia juga tidak mengembalikan baju ini? Gesna menggumpalkan baju Toothless dan melempar ke pakaian kotor.


Dia lelah sekali, kepalanya terasa berdenyut. Gesna tidak jadi meneguk kopi, meraih bungkusan kebutuhan obat yang selalu ada di tas untuk mengambil sebutir obat sakit kepala. Setelah meminum obat, Gesna bahkan melongo beberapa saat. Bungkusan obat ini dulu juga dibelikan Adit, 'kan?


Gesna melempar bungkusan, kembali menjejalkan kepala di tempat tidur. Padahal, dia sudah memblokir semua tentang cowok itu termasuk teman-temannya. Semua disingkirkan dengan bersih, tanpa sisa. Adit tidak bisa mengirimi pesan atau menelepon. Cowok itu juga tidak datang lagi ke rumah, tidak mengadang di sekolah dan mereka tidak bertegur sapa ketika bertemu.


Kepala Gesna terasa makin sakit. Ini pasti karena dengkulnya berulah. Pasti karena itu. Selebihnya bukan karena apa-apa. Ini hanyalah kebetulan sebab dia sedang tidak enak badan. Gesna berusaha menenangkan diri sambil melirik jam.


Tiga puluh menit lagi pukul dua belas, dia segera menghubungi Pelangi. "Ngi, udah bisa belum? Gue ngantuk parah ini, ya." Jelas dia bohong, rasa mengantuknya sudah lenyap karena sebuah nama yang datang tanpa diundang.


Cewek yang mengangkat teleponnya bahkan menjawab dengan suara khas orang bangun tidur. "Udah. Kakak ke sini, ya. Aku tunggu di bawah."


Gesna mematikan beberapa lampu dan hanya menghidupkan lampu tidur. Menunduk untuk membuka kotak gitar, memasukkan gambarnya di sana, lalu mengusap kotaknya sesaat sebelum dia tutup kembali dan disandang.


Kaki Gesna menuruni tangga perlahan. Gitar ini adalah barang yang dibeli dengan amarah meluap-luap. Seandainya Adit cerita lebih dahulu, mungkin Gesna tidak semarah itu. Mendengar semua cerita dari orang lain tentu lebih menyesakkan. Buat apa lagi Adit menjelaskan? Nasi sudah menjadi bubur.


Dia berjalan keluar rumah tanpa kendaraan. Guntur bisa mengenali bunyi skuternya di suasana sesunyi ini. Lagi pula, berjalan sedikit untuk mengulur waktu juga lebih baik. Dengkulnya masih agak nyeri, tetapi bukan masalah berarti.


Di teras, sudah ada Pelangi dengan muka tertekuk. Cewek itu setengah menggerutu. "Nggak bawa motor? Pantesan lama."


"Kalau gue bawa skuter, kedengaran Guntur nanti," bisiknya ikut masuk.


Mereka berdua berjingkat-jingkat di kegelapan rumah. Gesna menuju ke depan kamar Guntur untuk menaruh gitar dan Pelangi membangunkan orang tua. Cewek itu membawa serta kue dengan jajaran lilin yang belum dinyalakan ke lantai dua.


Mamah mengetuk pintu kamar Guntur dan Papah menyalakan lilin-lilin. Terdengar sahutan rendah dari dalam, pintu kemudian dibuka.

__ADS_1


"Happy Birthday!" seru mereka semua sambil menyalakan lampu lantai dua.


Muka bangun tidur Guntur yang belum begitu sadar lantas terdiam sesaat. Tak lama, wajah itu berangsur cerah dan tersenyum. Mereka semua lantas duduk di ruang tengah lantai dua, meminta Guntur untuk meniup lilin.


"Selamat ulang tahun, anak Papah. Yang rajin belajarnya, rajin ibadahnya. Semoga selalu jadi kebanggaan orang tua, keluarga dan semua orang." Papah memeluk anak lelaki satu-satunya dan pelukan itu dibalas Guntur.


"Anak Mamah udah gede. Selamat ulang tahun, Abang." Mamah juga memeluk Guntur dengan bangga.


"Idih, manja amat si Abang. Buruan ini dipotong, lapar tahu dari tadi ngelihatin kue ini," decak Pelangi mengulurkan pisau pemotong kue. "Buat Pelangi yang gede potongannya."


"Iya, galon." Guntur mengacak pelan kepala Pelangi dengan sayang. "Makasih, ya. Pasti ini ide lo sama Gege, 'kan?"


"Ayo, ayo. Papah, Mamah, Pelangi, Gugun. Lihat sini, biar Gesna foto. Satu, dua, tiga." Gesna tersenyum, sibuk mengabadikan semua melalui ponselnya. Foto Guntur meniup lilin-lilin, memotong kue dan menyuapkan kepada keluarganya. Juga mereka berempat yang terlihat sangat hangat dan menyenangkan.


"Gesna, sini. Hayuk kita fotonya berlima. Ngapain kamu di situ aja?" ajak Mamah melambai. "Abang kan tangannya panjang, bisa buat selpih."


"Kalau rame-rame namanya wefie, Mah," ralat Guntur.


"Sama aja." Mamah mengibaskan tangan dan tertawa.


Mereka lalu berfoto, memaksakan lima kepala masuk ke dalam satu bingkai. Pelangi dan Gesna yang sadar kalau mukanya bakal terpotong berada di samping Papah Mamah, lalu beranjak ke belakang sofa. Berdiri di belakang Guntur sambil memosisikan jari mereka di kepala Guntur seolah cowok itu memiliki tanduk.


"Woy, Ge, Ngi," desis Guntur yang hanya dibalas tawa keduanya.


"Abang mau kado apa?" tanya Papah. "Atau mau undang teman-temannya makan siang sama-sama?"


Guntur mengangguk. "Makan aja, deh, Pah. Besok. Biar Abang bisa kasih tahu mereka hari ini."


Papah mengiakan permintaan Guntur. "Itu, kado dari Gesna kok enggak dibawa ke sini?"


Guntur tahu isi kotak itu. Dia tidak menerima kado yang diulurkan Gesna. Ditatapnya Gesna dengan perasaan berkecamuk. "Ge, ini kan...."


Gesna berdesis, meminta Guntur diam. Cewek itu kemudian tersenyum sambil menaruh kotak di pangkuan Guntur. "Dipakai, ya. Oke? Oke?"


"Buka, buka," sahut Papah antusias. Lelaki itu semakin semangat melihat gambaran Gesna juga gitar yang berlekuk indah dengan rangka kosong di tengah. "Wah, cakep banget semua. Gambarnya, gitarnya. Papah besok-besok boleh pinjam gitar nggak, nih?"



"Tes coba, Pah." Guntur memberi gitar tersebut ke Papah.


"Wah, gitarnya terlalu bagus untuk dipakai amatir." Gitar yang diterima Papah langsung dimainkan. Papah menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, diiringi Mamah dan Pelangi. Mereka berlagu sambil bertepuk-tepuk kecil dan gembira.


Semua itu kembali direkam Gesna dengan dada yang menghangat. Setidaknya, gitar tersebut dipakai oleh orang yang tepat. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain kado yang diberikan, disukai oleh penerimanya.


Mereka menutup acara dadakan tersebut dengan sama-sama memakan kue yang telah dipotong Guntur.


"Abang, potongan buat Gesna harus besar. Lihat badannya, kurus banget sekarang. Kayak orang nggak makan," titah Mamah kala Guntur memotong kue. Wanita itu yang langsung memberikan bagian Gesna. "Harus habis, ya. Mamah enggak mau tahu."


"Maaaah." Gesna merengek. "Gesna ini lagi diet."


"Diet apaan?" Mamah mendelik sementara yang lain tertawa, sadar kalau itu hanya alasan Gesna. "Lihat, 'kan, Pah? Udah kayak papan sekarang."


"Yah, siapa tahu lagi tren anak zaman sekarang, Mah? Gesna kan populer jadi ikuti zaman. Gitu, bukan?" Papah tertawa.


Gesna menggeleng sambil memotong kue beraroma cokelat. "Gesna ini cupu, Pah. Enggak terkenal. Guntur tuh terkenal. Anak basket, anak OSIS juga. Pacarnya juga anak OSIS," balas Gesna dengan menyuap kue pakai tangan kanan sementara tangan kiri mengutak-atik ponsel, mengirimi semua rekaman dan foto kepada Pelangi juga Guntur.


"Lho, kamu punya pacar, Bang?" Muka Mamah langsung berubah.

__ADS_1


"Ge," gumaman Guntur terlepas.


Gesna langsung menutup mulut yang keceplosan, apalagi Guntur sudah membelalak ke arahnya. Dia meringis sambil menusuk-nusuk kue. Mana dia tahu kalau Guntur tidak cerita ke keluarga? Dia saja cerita kok ke Gustav saat pacaran dengan Adit. Sial, kenapa Adit lagi, sih? Gesna menggaruk kepala.


"Baru dekat aja, Mah. Gege suka asal tuduh memang," jelas Guntur sambil melirik Gesna yang pura-pura sibuk dengan kue untuk menyelamatkan diri sendiri.


"Benar, Gesna?" Mamah kembali memastikan ke Gesna. Tatapan Mamah membuat Gesna gelagapan.


"Gesna enggak tahu, Mah. Kirain pacaran." Dia mengerjap-ngerjap, berusaha menampilkan muka tak berdosa.


"Ye, namanya sesama anak OSIS. Wajar kalau sering bareng-bareng." Guntur menarik pelan rambut Gesna, mengode Gesna agar jangan berkata hal-hal yang berbahaya lagi.


"Mah, Kak Gesna menginap di sini aja, ya? Masa dia enggak bawa motor, katanya takut Abang bangun." Pelangi memotong pembicaraan untuk menyelamatkan kedua kakaknya. Gesna paham, pasti malam ini cewek itu akan menginterogasi Gesna khas adik-adik yang mau tahu gosip tentang sang kakak.


"Ya, udah. Hayuk tidur. Ini sisa kue biar Mamah masukin kulkas. Jangan sampai kesiangan besok. Gesna mau Mamah bangunin jam berapa? Jam lima atau setengah enam?"


"Banguninnya dari jam lima, Mah. Kebangunnya jam setengah enam," ledek Guntur terkekeh, yang langsung disikut Gesna.


Mereka bangkit, menuju kamar masing-masing. Guntur kembali dipeluk Mamah dan Papah, sementara Gesna sudah ditarik Pelangi ke kamar untuk ditanya-tanyai.


"Kak, siapa pacar Abang?" selidik Pelangi setelah menutup pintu.


Gesna menggeleng, berpura-pura bodoh. "Enggak tahu, tanya aja dia. Gue enggak tahu apa-apa."


"Bohong."


Gesna mulai berdesis. "Gue anak jujur yang lugu dan polos tanpa dosa, Ngi. Tega lo menuduh gue seperti itu. Apa salah dan dosaku?"


Pintu kamar Pelangi diketuk pelan. Suara Guntur berdesis memanggilnya. "Gege, buka."


Gesna rasanya mau melompat ke tempat tidur, sayang Pelangi malah membukakan pintu.


"Ge, jangan ngomong gitu lagi ke Mamah," pinta Guntur ketika masuk ke kamar Pelangi. Tatapan Guntur tidak main-main.


"Iya, sori. Gue enggak sengaja," aku Gesna menunduk dan menjentik-jentikkan kuku yang sebenarnya tidak kotor.


Tangan Guntur naik ke kepala dan mengacak rambut Gesna. "Iya, dimaafin. Awas lo lain kali," ujar Guntur melembut sambil merangkul bahu Gesna. "Lo udah enggak apa-apa?"


Gesna mengedik santai, menjawab seolah semua tidak masalah.


"Gitarnya enggak apa-apa buat gue?"


"Tanya lagi, gue suruh bayar lo," dengkus Gesna malas sambil menepuk bahu Guntur.


Rangkulan Guntur semakin erat, memeluk Gesna sesaat. "Makasih ya, surprise-nya, kadonya." Guntur juga menggapai Pelangi dengan tangannya yang satu lagi. "Lo juga, Ngi. Makasih ya, adek gue sayang."


"Ada maunya pasti," cibir Pelangi saat Guntur mencium puncak kepalanya.


"Tahu aja lo. Lo pasti udah tahu dari Gesna. Jangan kasih tahu Mamah sama Papah." Guntur merangkul Pelangi di sebelah kiri dan Gesna di sebelah kanan. "Foto bertiga, yuk. Buat ganti foto lama kita yang udah jadul banget."


"Kalau foto bertiga, katanya yang di tengah cepat mati, Gun," ejek Gesna ketika mereka berkali-kali ganti gaya muka.


"Gue baru juga ultah, doa lo kenapa udah jelek banget?" Guntur menoyor kepala Gesna. "Sana tidur lo pada. Besok sama gue aja ke sekolahnya, ya, Ge. Jalan lo masih aneh, tuh."


Gesna mengangguk, menatap kepergian Guntur sambil menutup pintu. Dia senang kalau Guntur bahagia.


"Oke, Kak Gesna," bisik Pelangi menarik tangan Gesna ke tempat tidur. "Jadi ... Pelangi ketinggalan cerita apa, nih?"

__ADS_1


__ADS_2