
***@***
Entah ini adalah ide bagus atau malah akan memperburuk sesuatu yang perlahan membaik, sejujurnya aku sedikit ragu tapi tak apa. Alan menggandeng tanganku dan mengantarku masuk kedalam kelas.
"Sekarang, dia adalah pacarku, tidak ada yang boleh menganggunya," ucap Alan sambil meletakkan tangannya di pundak ku. Aku diam menunduk. Aku tahu mereka berbisik tentangku.
"Akan ku pastikan kamu baik-baik saja," bisik Alan pelan. "Tidak akan ada yang berani membully mu," bisiknya lagi, aku mengangguk pelan. Setelah Alan keluar kelas, aku segera duduk di bangku.
"Jadi sebenarnya benarkan dia itu pelakor," bisik Chita pada Lisa.
"Gue bilang juga apa, dia itu nggak sebaik kelihatannya," jawab Chita sambil menatap ku tajam.
"Kemarin pacaran sama Aaron, sekarang pacaran sama Alan... waww hebat banget ya dia," Marsya kini bersuara.
"Stt... udah-udah, ntar dia lapor lagi sama pacar barunya, pelakor kan manis mulutnya," tambah Nilam yang juga melirik ku sinis. Jhuly menyenggol lenganku.
"Ciee, yang udah jadian, ciee," ledeknya. "Apaan sih mereka, iri aja huuu," Jhuly menghibur ku.
"Gue do'ain ya... semoga Lo adalah pilihan yang tepat buat Alan," jhuly merangkul pundak ku.
"Aamiin...," jawabku mengamini ucapannya. Dia lalu berbisik padaku.
"Sekarang, comblangin Gue ama Aaron dong...," mendengar bisikannya aku segera menahan tawaku dan menatapnya.
"Gue mohoooon," ucapnya sambil memasang wajah yang memelas.
"Iya, iya... akan ku usahakan," jawaban ku yang langsung membuat wajah memelasnya berubah, dia tersenyum dan berdiri dari duduknya.
"Yess."
__ADS_1
***@***
Sepulang sekolah, aku berjalan sendiri keluar kelas, berjalan sendiri menekuri lantai. Aku memang sengaja memperlambat langkahku lalu tiba-tiba Alan datang menjejeriku.
"Hai...," sapaku menyapanya dengan senyuman.
"Apa tadi dikelas ada yang membullymu?" Aku menggeleng.
"Nggak ada, kamu sudah memperingatkan mereka jadi tidak akan ada yang berani mengangguku sekarang heheee.... Alan keren."
"Iya doong...,"
Bahagia... itu yang ku rasa saat ini, aku selalu merasa sendiri tapi kali ini aku telah mempunyai Alan.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucapnya sambil menggandeng tanganku.
"Ah tidak perlu Al, aku tidak ingin merepotkanmu," tolakku.
Seperti inikah rasanya punya seseorang yang kau cintai dan mencintaimu, seperti inikah rasanya punya pacar. Ku harap ini bukan pelangi atau senja yang datang cuma sebentar lalu menghilang.
Rasnya jalan ini hanya milik kita berdua, mengayun genggaman tangan sambil sesekali bernyanyi bersama.
Setelah sampai di halte, Alan tak melepas genggaman tangannya, dia masih saja mengenggam tanganku. Sebenarnya aku sedikit malu karena ada banyak mata yang melihat kearah kita, aku hanya menunduk menyembunyikan wajahku.
"Cuekin aja," bisik Alan menenangkan ku. Dia pasti tahu ketidaknyamanan ku saat ini.
Tidak satupun sifat Alan yang membuatku berfikir bahwa dia adalah cowok yang tidak baik. Dari awal bertemu, dia sangat baik, lembut dan segala perlakuannya sangat manis. Meski banyak yang bilang dia playboy tapi tidak untuk ku. Sekali lagi... dia hanya belum menemukan yang tepat.
***@***
__ADS_1
Aku tidak tahu harus dengan cara apa mengungkapkan rasa rindu pada Ayah, aku hanya sanggup menulisnya di kertas lalu memasukkannya kedalam botol kecil dan kemudian melemparnya jauh kepantai. Aku tahu ini cara kuno, tak apa. Aku hanya punya cara itu, berharap ombak akan menyampaikan rindu ku.
Dulu... memang aku benci pantai karena ku pikir ombaknya yang membawa Ayahku tapi semakin lama aku semakin menyukai pantai karena bersamanya aku bisa melepas rindu pada Ayahku.
Senja kali ini... aku berlarian bersama ombak yang semakin tinggi, bermain-main dengannya lalu segera membuang surat rinduku untuk Ayah.
Setelah puas berkejaran dengan ombak, aku mulai melangkah meninggalkannya tapi lalu langkahku terhenti. Dari jauh ku lihat seseorang yang duduk dipinggir pantai, pandangannya lurus kedepan. Aku segera berlari menghampirinya. Aaron.
"Haii...," sapaku setelah berada disampingnya, dia menoleh kearahku.
Ku pikir hanya aku saja yang tahu letak pantai tersembunyi ini, ternyata dia juga tahu. Aku duduk disampingnya. Dia kembali memandang lurus kedepan, entah apa yang sedang dia perhatikan, apakah airnya? Atau ombaknya? Atau pasirnya? Atau awan yang perlahan berubah warna? Atau Apa??
Aku tidak berani menanyakannya, aku ikut memandang lurus kedepan tanpa suara tapi sesekali aku melirik kearahnya. Wajahnya tanpa ekspresi. Suara ombak dan angin saling menyapa tapi kenapa dia tak kunjung bersuara, apa yang sedang dia pikirkan.
"Apa kamu menyukai pantai Ron?" Akhirnya suaraku yang memecah kebisuan, dia menggeleng.
"Aku tidak suka pantai," jawabnya datar tanpa menoleh kearah ku. Aku menatapnya dari samping.
"Mamaku yang suka," lanjutnya pelan lalu menoleh kearahku, menatap mataku.
Mendengar jawabannya aku tidak berani lagi mengusik lebih jauh, ada luka yang terpancar dari sorot matanya. Aku tidak ingin dia melanjutkan kisahnya.
Aku segera berdiri dari duduk ku dan berlari menghampiri ombak, bermain bersamanya lagi. Ternyata bukan hanya aku yang menyimpan kisah disini, ternyata ada orang lain selain aku, ternyata bukan hanya aku yang berbagi kisah dengan pantai dan ombaknya. Aku berlari menghampiri dan menarik tangannya.
"Ron... ku rasa kamu harus berkenalan dengan ombak," ucapku. Dia menurutiku.
Aku membawanya bertemu ombak, mengajaknya berlari.
"Lama-lama kamu akan menyukai pantai," ucapku.
__ADS_1
"Kita lihat saja," balasnya.
Pantai dengan debur ombak yang mampu membuatku menyampaikan pesan rindu untuk Ayah, pantai dengan deru angin yang mampu menyampaikan pesan rindu untuk Ibu, pantai... tempat meluapkan rinduku.