Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 39_Jangan Lakukan Apapun


__ADS_3

Hujan masih sangat deras ketika Bintang turun dari bus, dia harus berjalan hati-hati untuk menghindari genangan air.


"Hei gadis kecil... maaf," tegur suara sedikit teriak pada Bintang, Bintang menoleh keasal suara. Seseorang berdiri dihalte, dia melambai dan tersenyum pada Bintang.


Wajahnya bersih dengan sedikit kumis tipis yang terlihat eksotik, dia mengenakan stelan kemeja warna biru tua dengan dasi yang selaras. Bintang melangkah menghampirinya.


"Maaf jika merepotkanmu... boleh minta tolong?" ucapnya sedikit mengeraskan suaranya namun sopan, suara bising hujan memang membuatnya harus berbicara sedikit keras. Bintang mengangguk.


"Aku terjebak hujan disini dan mobilku ada di sebrang sana," ucapnya lagi sambil menunjuk mobil yang terparkir lumayan jauh dari tempat mereka berdiri saat ini, bintang mengangguk


"Adik kecil... bagaimana jika Kakak saja yang memegang payungnya?" Bintang segera memberikan payungnya pada seseorang yang menyebut dirinya Kakak, sang Kakak tersenyum menerima payung dari Bintang.


Sejujurnya dalam hatinya sedikit mengira bahwa Bintang adalah seorang tunawicara karena sepanjang dia bicara, Bintang hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka berjalan beriringan hingga telah sampai disamping mobil yang dituju.


"Terima kasih adik kecil, hari ini Kakak ada pertemuan yang sangat penting jadi ku harap kita bertemu lagi dilain waktu. Kakak janji akan mentraktirmu makanan enak, okey" ucapnya sambil mengembalikan payung pada Bintang.


"Tidak perlu Kak," jawab Bintang yang membuat sang Kakak melonjak kaget, karena dalam pikirannya Bintang tidak bisa bicara, dia menahan tawa, menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ok, baiklah siapa nama mu?" tanyanya setelah menghilangkan keterkejutannya.


"Bintang."


"Hmm nama yang bagus," ucapnya lalu membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam, kemudian, ia membuka separo kaca dan tersenyum.


"Terima kasih tumpangan payungnya Bintang... semoga kita bertemu lagi," ucapnya ramah kemudian perlahan melajukan mobilnya.


***@***


Bintang duduk dibus dengan earphone ditelinganya, dia sesekali melirik kedepan ketika bus berhenti karena ada penumpang yang hendak naik.


Dia melongokkan kepalanya tepat ketika Erfan naik bus dan berjalan kearahnya. Bintang memperhatikan Erfan, Erfan melempar senyum ketika melewatinya, kali ini Efan tidak duduk disampingnya, dia duduk dibangku paling belakang. Bintang menarik dirinya dan bersandar dijendela kaca bus, memperhatikan jalanan sambil sesekali menyahut lagu yang dia dengar melalui earphone.


Bis berhenti di halte sekolah dan Bintang segera turun, lalu dengan segera Erfan membuntutinya. Bintang berjalan pelan menuju sekolah, begitu juga dengan Erfan yang membuntutinya dari belakang.


Dengan sengaja bintang menghentikan langkahnya, mengetahui Bintang berhenti melangkah, dengan segera Erfan mengerem langlahnya. Bintang menghela nafas dan memutar badannya, melihat Erfan yang berusaha menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Apa Ron yang menyuruh mu begini?" tanya Bintang yang membuat Erfan segera mengangkat wajahnya dan segera menggeleng, dia harus menyembunyikan ini dari Bintang.


"Tidak," jawabnya.


"Bagus," kata Bintang, dia lalu melangkah menghampiri Erfan, membuka tasnya dan mengambil payung dari dalam tas miliknya.


"Terima kasih payungnya Erfan," ucap Bintang sambil menyerahkan payung di tangannya. Dengan canggung Erfan menerimanya.


"Dia memintaku untuk melupakannya jadi tolong jangan lakukan apapun, okey," segera setelah mengucapkan itu pada Erfan, Bintang pergi dengan mempercepat langkahnya. Erfan diam terbengong dan merasa sangat bersalah pada keduanya. Dia tahu Bintang merasa tidak nyaman dengan kelakuannya, siapa yang akan tahan terus dibuntuti dan merasa diawasi.


"Boss Ron maafkan aku," gumamnya pelan.


Ujian tengah semester sudah dimulai dan semua murid mulai sibuk belajar, bahkan perpustakaan yang biasanya sepi di jam istirahat menjadi ramai saat ini.


Bintang lebih memilih belajar dibelakang sekolah seperti hari-hari biasanya, Erfan tak lagi pernah menganggunya, mereka cuma sesekali berpapasan secara tak sengaja. Tapi sebenarnya diam-diam Erfan terus memperhatikannya dari jarak yang tak diketahui Bintang.


***@***

__ADS_1


__ADS_2