Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 56_Tetangga Baru


__ADS_3

Pagi hari, Bintang sudah rapi dan menunggu Keenan menjemputnya. Hari ini mereka akan mengunjungi Tante.


"Sayang, aku menunggu mu di depan," pesan Keenan pada Bintang. Mendapat pesan itu, Bintang segera membuka pintunya, matanya langsung menemukan Keenan yang berdiri di halaman rumahnya, dia tersenyum menyapa. Kemudian, mata Bintang menoleh pada seseorang yang berada di depan Keenan, dia berdiri berhadapan, Aaron. Bintang sedikit tersentak melihatnya, ngapain Aaron pagi-pagi ada di sini. Dia menutup kembali pintunya lalu berjalan canggung kearah Keenan.


"Morning Babe," Keenan meraih tangan Bintang dan menggenggamnya. "Udah siap?" tanyanya perhatian. Bintang menatapnya dan mengangguk pelan. "Dia cewek Gue, Bro...," ucap Keenan memperkenalkan Bintang. Ini membuat Bintang langsung menunduk.


"Ooh, Hay... Kakak, salam kenal. Saya penghuni baru di rumah sebelah Kakak," Aaron menguncupkan kedua telapak tangannya, ia menatap Bintang dengan senyum manis dibibirnya. Bintang sedikit mendongak dan membalas senyumnya dengan canggung.


'Apa dia bilang? Kakak? Dia memanggilku Kakak? Kita bahkan seumuran,' Bintang ngedumel dalam hatinya.


"Okey, Aaron. Sampai jumpa lagi," Keenan pamit pada Aaron dan membawa Bintang untuk masuk kedalam mobil. Bintang menoleh sebentar kearah Aaron sebelum ia menghilang dibalik mobil, mata mereka bertemu dengan sendu. Aaron tersenyum padanya dan kemudian menunduk.


Pelan, mobil Keenan melaju menjauh dari rumah Bintang.


"Babe," panggil Keenan tanpa menoleh.


"Ya?"


"Tetangga baru mu, ganteng," komentarnya dengan wajah masam. Bintang langsung tertawa terbahak-bahak mendengar itu dan melihat ekspresi Keenan.


"Kenapa? Apa kau tidak percaya diri sekarang?"

__ADS_1


"Sedikit," jawabnya. Bintang mengarahkan kaca spion kearah Keenan.


"Hmm lihatlah... siapa yang ada didalam kaca ini? Bukankah dia sangat tampan. Si tampan yang lagi manyuuun," ucap Bintang yang langsung membuat Keenan tertawa dan mencubit pipi Bintang.


'Aaron tetangga baru ku? Sebelah rumah ku? Bagaimana bisa? Kemana pemilik rumah yang sebelumnya? Ini bukan hal yang baik, aku akan bertemu dengannya setiap hari.'


Setelah hampir dua jam, kini mereka sampai di rumah yang mereka tuju. Pagar menjulang tinggi yang otomatis terbuka ketika mendeteksi mobil yang di kenal.


Rumah milik Evan Sandimar. Presiden Narayan S Cosmetic, NSC... Brand Cosmetics nomor wahid diNegara ini. Keenan memarkirkan mobilnya di samping taman depan. Bintang segera keluar dan berlari kecil menghampiri seseorang yang tengah membaca ditaman.


"Hallo Pangeran Dev...," Bintang mencium Pangeran kecil Deva. Deva segera menutup bukunya dan memeluk Bintang. "Hmmm, muach... kangen, kangen, kangeeeen," Bintang terus-terusan mencium pipi pangeran kecil ini.


"Hahaa kau ini tetap bayinya Kakak yang lucu," Bintang ganti mencubit pipi Deva.


"Mom nungguin Kakak, dari kemarin udah ngomel terus gara-gara ponsel Kakak susah di hubungi."


"Okey, Kakak laporan kedalam dulu," Bintang mencium pipi Deva lagi, kemudian berjalan menghampiri Evan dan Keenan yang sudah duduk santai di teras.


"Paman," Bintang memeluknya.


"Gimana kabar mu dua minggu ini nak?" tanya Evan setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


"Luwar biasaa," jawab Bintang. "Okey, teruskan keseruan kalian. Aku masuk dulu," lanjutnya. Bintang segera masuk kedalam rumah dan langsung menuju ruang makan, tepat... ada Lia disana sedang menyiapkan sarapan.


"Tante...," Bintang setengah teriak melihat Tantenya. Dia masih saja manja seperti dulu.


"Sayang," Lia memeluk keponakannya dan menghentikan tangannya yang telaten menata piring. Di hari libur, Lia pasti akan memasak sendiri dan menyiapkan semuanya sendiri.


"Gimana kabar mu dua minggu ini sayang?" Tanya Lia, Bintang terkekeh mendengar pertanyaan ini. Pertanyaan yang sama persis dengan pertanyaan Evan.


"Baik Tante," jawab Bintang.


"Ponsel mu kenapa susah dihubungi? Tante jadi mikir yang bukan-bukan," Lia mengomelinya.


Bintang duduk di kursi, ia mengambil nafas yang dalam dan memandang Lia.


"Tante... dia telah kembali," ucap Bintang pelan yang langsung membuat Lia mematung, ia menghentikan segala aktifitasnya. Dia kemudian menoleh kearah Bintang.


"Dia?" Lia menatap Bintang dengan tajam. Melihat perubahan di wajah Bintang, Lia tahu siapa yang Bintang maksud. "A-Aaron?" tanya Lia terbata. Rasanya dia tidak berani untuk menyebut nama itu, nama itu yang berusaha untuk dilupakan oleh keponakannya. Delapan tahun lalu, ketika Bintang dengan basah kuyup pulang kerumah dan menangis menceritakan jika Aaron telah meninggalkannya, saat itu... hati Lia juga sangat sakit. Dia tidak pernah melihat keponakannya menangis sesedih itu.


"Kau bilang apa?" Lia semakin mendekat. Dia berharap salah mendengar apa yang Bintang ucapkan.


"Aaron telah kembali," Bintang mengulangi ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2