
***@***
Aku melemparkan dengan sekuat tenagaku, melempar surat rinduku pada Ayah. Langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga itu berarti sore akan segera berlalu dan diganti dengan senja yang singkat lalu perlahan menemui malam.
Senja saat ini nampak indah, ditambah lukisan awan yang memerah. Ombak memanjakan kakiku, sapuannya membuatku terus rindu.
"Hey... apa mau berdiri disitu terus?" mendengar suara itu aku segera menoleh, Aaron. Dia duduk diatas pasir, aku meninggalkan ombak dan menghampirinya.
"Kamu... dari kapan ada disini?"
"Tak lama setelah kamu membuang botol kecil itu," jawabnya. Aku mengerutkan kening menatapnya.
"Kamu tahu tentang botol itu?" tanyaku penasaran. dia mengangguk. Appa?? aku tidak mengerti, bagaimana dia bisa tahu? aku tidak pernah kesini dengan siapapun ketika membuang botol itu. Aku segera duduk disampingnya, menatapnya yang memandang lurus kedepan.
"Kamu mengikutiku?" tanyaku dan menatapnya tajam. Dia menoleh ke arahku dan menyunggingkan bibirnya.
"Aku tidak mengikutimu," jawabnya.
__ADS_1
"Bohong."
"Jujur."
"Lalu??"
"Kamu saja yang tidak pernah menyadari keberadaanku," ucapnya. Aku semakin tidak mengerti, aku semakin memandangnya tajam, meminta penjelasannya. "Aku selalu ada disini setiap sore,' lanjutnya. Aku melihat kesekeliling, bagaimana bisa aku tidak menyadari keberadaannya.
"Kamu terlalu asik dengan ombak dan surat dalam botol kecilmu," ujarnya. "Aku sering memperhatikanmu... disana," lanjutnya sambil menunjuk sebuah tempat yang cukup jauh dari sini.
"Sejak pertama kamu kesini."
"Apppaaa??" aku melotot mendengar jawabannya, dari pertama? Dia kembali menyunggingkan bibirnya.
"Harusnya kamu tahu kalau ombak akan membawa suratmu kembali ketepi." mendengar ucapannya barusan, aku menatapnya tajam, dia membalas tatapanku.
"Aku telah mengambil surat-suratmu," rasanya mataku bertambah lebar mendengar apa yang dia ucapkan. Dia mengambilnya? Lalu apa dia juga membacanya? Ohh tidak... aku segera menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan wajahku, aku tidak berani melihatnya.
__ADS_1
Aku tahu sekarang dia pasti menertawakanku. Kenapa aku sampai tidak menyadari itu? Sedari pertama aku datang kepantai ini, itu artinya ada berpuluh-puluh surat yang sudah dia baca. Aaaa tidaaaakk...
Aku mulai memberanikan diri sedikit mengintip dari celah jariku. Hah tapi tak kulihat dia, aku segera membuka semua telapak tanganku, ternyata dia sedang berada dibibir pantai dan sedang memengang sesuatu. Tidaakk... itu adalah botol suratku, aku ingin segera bangkit dari duduk ku dan merebutnya tapi dia segera berlari ke arahku dan kembali duduk disebelahku.
"Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan ini," ucapnya sambil memamerkan botol suratku. Dengan cepat aku meraihnya tetapi dengan cepat pula tangannya menghindar. Aku mencobanya lagi, mengikuti setiap gerakan tangannya tetapi aku tetap tidak bisa merebutnya. Aku masih terus mencoba merebutnya hingga posisiku malah seperti sedang memeluknya, wajah kita teramat dekat, bahkan ujung hidung kita hampir bersentuhan, mata kita saling bertemu beberapa saat dalam posisi yang sangat dekat. Aku segera kembali duduk dan mengatur nafasku, ku pikir aku tidak akan berhasil merebutnya.
"Ku mohon berikan itu padaku," ucapku memohon sambil menunduk, aku tidak berani melihat kearahnya, rasanya aku sangat malu sekali.
"Aku tidak akan memberikannya," jawabnya.
"Tapi itu milikku."
"Kamu sudah membuangnya."
"Iya, tapi...,"
"Tidak perlu malu, aku sudah terbiasa dengan surat-suratmu," ucapnya. Aku semakin menunduk menyembunyikan wajahku, aku tidak tahu lagi apa yang harus ku ucapkan untuk mengambil surat itu darinya. "Aku turut berduka dengan apa yang menimpa Ayahmu," ucapnya. Aku diam, dia pasti tahu apa yang terjadi denganku, semua tentangku, bagaimana perasaanku, semua tertuang didalam surat itu.
__ADS_1