Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 16_Semakin kacau


__ADS_3

***@***


Aku menyuruhnya duduk di bangku dipinggir jalan. Dia menurut, kemudian, aku segera berlari ke sebuah mini market membeli obat luka. Aku masih tidak habis pikir Aaron melakukan itu pada Alan. Apa yang membuatnya marah? Apa yang membuat membuat dia tersinggung? Aku dan Alan tidak ada hubungannya dengan dia. Tapi aku tidak ingin menanyakan perbuatannya, aku ingin dia bercerita sendiri padaku.


Ku lihat dia yang duduk menunduk, aku menghampirinya lalu duduk disampingnya. Pelan, tangan ku mengulur untuk memegang wajahnya... Seketika juga mata kita bertemu, saling memandang beberapa saat tapi dengan segera ku alihkan pandangan ku pada luka di pelipis dan bibirnya. Luka yang dia cari sendiri.


Segera ku bersihkan luka dipelipisnya, lalu menempel plaster. Dia hanya diam membiarkanku. Sebenarnya hatiku sangat berkecamuk tapi saat ini ku tidak ingin berbicara.


Ku sentuh ujung bibirnya, dia sedikit menghindar.


"Aww," pekiknya pelan. Aku tahu itu sakit, lalu kusentuh lagi dengan lebih hati-hati, dia diam. Aku tidak tahu bagaimana rasanya hatiku saat ini. Tapi jujur meskipun aku sangat kesal dan benci perbuatannya yang tiba-tiba memukul seseorang tapi aku tidak merasa marah padanya.

__ADS_1


Entah apa yang dia pikirkan, dia terus saja melihat kearahku, menatap wajahku, untuk kali ini aku tidak berani membalas tatapan matanya.


"Sepertinya kamu sudah baikan, aku pulang dulu," ucapku singkat dan segera bangkit dari dudukku tapi dengan cepat Aaron memegang pergelangan tanganku. Aku diam, berdiri mematung membiarkannya, aku tidak ingin melihatnya, ku palingkan wajahku. Hatiku tiba-tiba terasa perih, aku ingin menangis, rasanya air mata sudah ada dipelupuk mataku, tidak, aku tidak ingin menumpahkannya, aku segera melihat keatas, kata orang... dengan melihat keatas kita bisa menahan air mata.


"Aku tidak ingin kamu kenapa-napa Cinderella...," ucapnya pelan. Ah, dasar, dalam keadaan seperti ini dia masih bisa memanggil ku Cinderella. Aku kembali menunduk membiarkan setetes air mata jatuh. Aku tetap diam hingga dia melepaskan pergelangan tanganku.


"Bukankah kemarin kamu bilang tidak mengenalku? Kenapa sekarang menghawatirkanku? Sangat lucu," Ucapku. Dia berdiri dan langsung memelukku.


"Salahkan aku karena aku begitu marah padamu."


***@***

__ADS_1


Apakah sekarang api itu sudah membakarku? Apakah sekarang aku menyakiti hati Alan? Atau aku telah menyakiti hatiku sendiri? Kenapa aku begitu perduli dengan Aaron, aku bisa saja menggigit tangannya lalu pergi menghampiri Alan tapi kenapa tak kulakukan, aku malah seperti begitu pasrah ketika dia menarikku dan membawaku bersamanya.


Aku bisa saja meninggalkannya lalu menemui Alan tapi kenapa aku malah mengobati lukanya? Sebenarnya aku ini kenapa.


Aku membuka tas dan mengeluarkan kado yang tadinya ingin ku berikan padanya. Tapi... dia mengacaukan segalanya. Aku tidak tahu apa kita bisa berteman lagi setelah ini. Aku juga tidak tahu apa yang harus ku ucapkan pada Alan besok.


'Alan bagaimana keadaanmu?' sebuah pesan ku kirim pada Alan.


'Aku baik-baik saja, kamu tidak usah hawatir" balasnya cepat. Syukurlah, semoga dia tidak berfikir macam-macam padaku.


'Justru aku yang khawatir padamu' Alan mengirim pesan lagi 'Kemana dia membawamu?'

__ADS_1


Aku tidak tahu harus membalas apa, rasanya semuanya jadi kacau. Aku mematikan ponsel ku.


***@****


__ADS_2