
***@***
"Apa yang membuatmu kesini?" Bintang akhirnya bersuara, suara yang terdengar dingin. Erfan menghela nafasnya.
"Ini tempat Boss Ron, memangnya cuma kamu yang boleh kesini? Memangnya cuma kamu yang boleh merinduknnya?"
"Ohh" Bintang berdiri dan mengambil minumannya, melirik Erfan sekilas dan melangkah pergi.
"Eh... eh, kenapa kamu malah pergi? Hei..." Teriak Erfan, dia bingung dengan sifat Bintang, dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
'Apa aku salah bicara? Apa aku salah bersikap? Bagian mana yang salah? Apa tadi aku terlalu kasar?? bagaimana sekarang... dia sepertinya marah, habislah aku'
Erfan ngedumel sendiri lalu segera mengeluarkan Hpnya dan mengetik pesan.
'Boss aku sampai disini saja boleh ya? Aku janji akan menjaganya untuk Boss tapi tidak dengan berinteraksi dengan dia langsung. Dia sangat menyeramkan. Aku akan mengawasinya diam-diam okey. Dan tolong jangan terlalu lama mengandalkanku ya boss. Aku juga harus cari pacar bukan? Hahaaa...' ketik Erfan panjang. Send.
Erfan duduk dan memakan semilannya sendiri.
Kenapa cewek begitu rumit. Cewek judes seperti Bintang apa bagusnya, kenapa Boss begitu menyukainya??
__ADS_1
***@***
Sepulang sekolah Bintang tidak langsung pulang tetapi dia mampir ke perpustakaan. Wajahnya seperti kehilangan warna, dia terkadang merasa sangat rindu, merasa sangat kesepian. Dia tidak mencoba melawan tidak juga mencoba menikmati, dia membiarkannya, membiarkan perasaan yang dimilikinya.
Hingga jam ditangannya menunjukkan pukul 16.15 dia baru beranjak dari tempatnya. Berjalan keluar menyusuri koridor sekolah, langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara langkah yang seperti mengikutinya. Dia berjalan lagi, langkah itupun mengikuti, dia berhenti, langkah itupun berhenti. Bintang menghela nafas.
"Erfan, mau sampai kapan kamu membuntutiku?" ucap Bintang tanpa menoleh, seseorang yang membuntutinya seketika menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung harus menjawab apa, dia merasa seperti maling yang tertangkap basah.
Sebenarnya dia hanya ingin memastikan kalau Bintang baik-baik saja dan tidak merasa kesepian, permintaan seseorang yang penting untuknya.
Permintaan yang sebenarnya sederhana namun dia tidak tahu cara memperlakukan wanita, bahkan hanya sekedar menyapanya saja.
Hujan... Bintang mengeryitkan keningnya.
"Ternyata perkiraan cuaca BMKG hari ini belum akurat, yah seharusnya aku tahu bulan november adalah bulan dimulainya hujan, seharusnya aku tidak meninggalkan payungku" gumamnya pelan, dia tidak membawa payung, berjalan dari sekolah ke halte pasti akan membuatnya basah. Bintang berdiri diam, menyaksikan hujan dan merasakan angin yang terasa sangat dingin. Erfan diam-diam mengeluarkan Hpnya dan merekam Bintang.
'Dia masih sangat merindukanmu Boss, Boss Ron harus semangat dan segera temui dia okey' Send.
Erfan mengamankan Hpnya didalam tas, kemudian mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Dia melangkah pelan menghampiri Bintang.
__ADS_1
"Jika kamu menunggu hujan reda itu artinya kamu akan melewatkan bus terakhir" ucap Erfan lalu meraih tangan Bintang dan memberiakan payungnya. Kemudian dia segera berlari menerobos hujan, membiarkan dirinya basah.
Bintang memperhatikan punggung Erfan yang perlahan meninggalkannya kemudian menatap payung yang sekarang ada ditangannya.
'Bodoh... kenapa dia memberikan payungnya padaku? dan membiarkan dirinya kehujanan'
Bintang segera membuka payungnya dan segera berjalan menuju halte sekolah. Ada beberapa murid disana dan pastinya ada Erfan. Pelan, bintang menghampirinya.
"Terima kasih" ucap Bintang sambil menyerahkan payung Erfan, Erfan tersenyum dan tak menerima payungnya.
"Pakai saja... setelah turun dari bus nanti kamu masih harus jalan kerumahmu bukan?"
"Tapi... kamu...." Bintang memperhatikan seragam Erfan yang sudah basah.
"Hahaa aku sudah terlanjur basah dan aku memang sengaja hujan-hujanan, tenang saja"
"Baiklah..." jawab Bintang, lalu mereka saling diam hingga bus datang.
***@***
__ADS_1