
***@***
Dan akhirnya inilah yang ku putuskan, inilah pilihanku. Aku menunduk mengatur nafasku, memberi semangat dan keberanian pada diri sendiri. Ku angkat wajahku dan menatapnya, dia yang berdiri didepan ku.
Aku mengajaknya bertemu ditempat yang dulu dia memberiku cincin.
"Alan... Maafkan aku," ucapku memulai. Alan diam dan terus menatapku tajam. Awalan kata yang mungkin bisa dia tebak.
"Ternyata aku salah... Menganggap bahwa menyukaimu adalah cinta. Aku minta maaf," ucapku yakin dan tenang. Alan masih diam memandangku. "Ternyata cinta itu milik orang lain...,"
"Aaron?" ucapnya memotong ku. Aku mengangguk.
Plok, plok, plok.... Dia berepuk tangan dengan teratur. Aku menatapnya bingung.
"Hahhaaa... Akhirnya kamu berpaling dariku demi dia. Ah tapi tidak apa-apa, paling tidak aku sudah berhasil menyakitinya," ucapnya yang semakin membuatku bingung. "Aku tahu dari awal Aaron menyukaimu, makanya aku sangat tertarik ingin memilikimu...," ohh ternyata begitu. Aku menatapnya sinis.
"Apa kamu lihat mimik mukanya ketika kita jadian di cafe?? Hahhaaaa menyedihkan, aku suka melihatnya. Ohh apa lagi kejadian pas valentine ketika dia memukulku. Kau tahu Bintang....," dia kini menatap mataku tajam, mengangkat daguku dengan ujung telunjuknya.
"Aku sangat menyukai adegan itu, aku sangat menikmati pukulannya, sangat menikmati amarah di dadanya. Hahhaaa...., dia pasti benar-benar marah waktu itu, lucu dan menyedihkan." PLAKKK....
__ADS_1
aku menamparnya dengan keras, tangannya kini tak lagi di daguku.
"Oh... jadi begitu?!! kamu tahu... orang yang paling menyedihkan di dunia ini adalah kamu Alan. Kamu yang tidak pernah benar-benar merasakan cinta dan menerima cinta dari siapapun. Kau tahu Alan... Bahwa hatimu sebenarnya teluka atas semua kelakuan mu hanya saja kamu tidak mau mersakannya, kamu hanya sibuk mikirkan bagaimana menyakiti hati hati orang lain," ucapku dan masih terus memandangnya tajam dan sinis
"Mungkin bahkan kamu tidak bisa merasakan cinta dari orangtua mu... Hidup mu benar-benar sangat menyedihkan," Mantap ku ucapkan itu padanya. Dia menatap ku tajam namun tak mengatakan apa-apa.
Aku segera pergi meninggalkannya tapi lalu aku segera berbalik, melangkah kembali menghampirinya, ada sesuatu yang ku lupa. Ku lihat dia yang masih berdiri ditempatnya, aku segera meraih tangannya dan mengembalikan apa yang dulu pernah dia berikan padaku. Dia tetap diam ditempatnya lalu aku kembali pergi meninggalkannya. Apa kata-kata ku menyakitinya? Hhh biarlah, dia pantas mendapatkan itu. Aku tidak habis pikir ternyata dia mendekatiku karena Aaron, kenapa? Apa yang membuatnya membenci Aaron.
***@***
"Tante... ternyata aku telah salah mengartikan suka sebagai cinta," kataku sambil bersandar dibahu Tante, dia mengusap rambutku.
"Aku tidak tahu perasaan ini apa, aku takut mengartikan salah lagi jadi aku tidak berniat mengakuinya."
"Yaelah... serius banget sih...," Tante kembali mencubit pipiku, kali ini lebih keras hingga membuat ku meringis kesakitan.
"Tante... sakit," ucapku sambil mengelus pipiku.
"Si pemilik jaket itu ya?"
__ADS_1
"Ron Tante... Aaron."
"Iya... ya Aaron, apa dia yang akhirnya memenangkan hatimu?"
"Tante... aku tidak bilang kalau aku mencintai Ron, sejujurnya aku masih bimbang. Sudah ah... aku mau tidur. Malam ini aku tidur di kamar Tante." Aku segera menarik selimut dan memejamkan mataku.
"Kamu tahu... setiap pagi, Tante liat Aaron diujung gang," ucap Tante yang membuatku langsung membuka mata lagi. "Dia memakai jaket dan memakai masker, tadinya ku pikir dia berniat jahat tapi ternyata dia hanya memperhatikan mu, dia akan pergi setelah kamu berangkat sekolah." lanjut Tante.
"Tante jangan ngarang cerita deh," ucapku dan memejamkan mata lagi.
"Emang kamu pikir Tante penulis novel?? pinter ngarang cerita, Tante ada fotonya nih," Aku segera membuka mata lagi lalu duduk dan mengambil Hp ditangan Tante. Benar... ini adalah Aaron, meskipun dia memakai jaket dan masker tapi aku tahu kalau ini adalah Aaron.
"Bagaimana Tante tahu kalau ini Ron?? bukankah Tante cuma sekali ketemu dia?"
"Hahaaa... kamu pikir Tante punya ingatan yang buruk??
"Iya lah... nama Ron saja Tante sering lupa."
"Hahaa... sepertinya kamu sangat suka menyebut namanya jadi Tante pura-pura saja," jawab Tante yang membuatku segera bersembunyi dibalik selimut.
__ADS_1
***@***