
Pukul 19.00. Bintang memakai sweater-nya dan berjalan kesebuah mini market didepan perumahannya. Dia mengambil beberapa mie instan, beberapa sarden dan keperluan lainnya. Tangannya berhenti mengambil barang ketika pupil matanya melihat seseorang yang berada di seberangnya, mata mereka bertemu... tatanan barang-barang yang tidak menutupi rak dengan sempurna membuat mata itu begitu bebas memperhatikannya.
Bintang segera mengalihkan pandangannya dan berdiri dengan benar, dia segera berbalik dan melangkah pergi tapi kemudian, keranjang belanjaannya menyenggol tatanan minuman bersoda yang tengah promo. Dia memejamkan matanya... karena hampir semua orang yang di mini market memperhatikan dirinya. Aaron menghampirinya, ia mengambil beberapa botol minuman yang terjatuh dan menatanya kembali bahkan sebelum pegawai melakukan itu. Tanpa kata Aaron meninggalkannya dan kembali memilih.
Bintang segera pergi ke kasir. Sebenarnya masih ada yang ingin dia beli namun keberadaan Aaron membuatnya enggan meneruskan belanja. Dia keluar dengan terburu, hingga tanpa sengaja kakinya menendang tong sampah di samping pintu.
"Hati-hati Neng..." tukang parkir menahan tawanya.
"I-iya Pak," jawab Bintang menahan malu. Dia segera kembali melangkah dengan cepat meninggalkan minimarket. Setelah memasuki gang perumahannya dia sedikit melambatkan irama langkahnya namun dia langsung menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Dia berhenti melangkah untuk memastikan jika langkah itu mengikutinya atau tidak. Langkah itu tetap ada namun melambat lalu seseorang berdiri menjejerinya, itu membuat Bintang terlonjak kaget, dia segera menoleh.
"Hah, ya ampun," dia memekik. "Aaron... kau membuatku jantungan," tangannya mengelus dadanya yang berdebar. "Kamu ngapain disini?" tanyanya.
"Aku?"
"Iya, siapa lagi."
"Pulang," jawab Aaron. Bintang mengerutkan keningnya.
"Kau salah jalan Bung," ucap Bintang lalu segera melangkah pergi dengan cepat. Lagi-lagi dia melangkah terlalu cepat dan dia tersandung oleh kakinya sendiri. Bruukkk... lututnya mengenai asal, belanjaannya tercecer. Bintang memejamkan matanya, astaga... sangat memalukan. Sebenarnya ini bukan hanya kesalahan pada kakinya tetapi juga kesalahan pada jantungnya, dia terlalu grogi.
Aaron menahan senyumnya dan memunguti belanjaan Bintang, memasukkannya kedalam kantong plastik lagi. Kemudian, dia jongkok di depan Bintang.
Aaron berjalan dengan penuh senyum, jantungnya berdegup kencang dan sangat indah, dia juga bisa merasakan detak jantung Bintang saat ini. Iya... saat ini Aaron menggendong Bintang dipunggungnya.
"Apa kau selalu seceroboh ini ketika berjalan?" tanya Aaron.
"Tidak, ini karena kamu," jawab Bintang.
"Oh ya? Karena terlalu bahagia bertemu dengan ku?"
"Ge-Er, kamu pembawa sial."
__ADS_1
"Hahaa dan pembawa kebahagiaan, benar?"
"Jangan narsis deh," Bintang mengelak. Aaron membawanya berlari.
Ron... aku sangat bersyukur karena kamu kembali sehat. Tapi seharusnya kau tidak kembali dihadapan ku. Kenapa kau masih saja egois? Kenapa kau kembali ketika aku sudah memutuskan untuk melupakan mu.
Bintang membuka pintu rumahnya perlahan lalu berjalan tertatih kedalam.
"Silahkan masuk," Bintang mempersilahkan. Aaron tersenyum dan masuk membuntuti Bintang. Matanya menyapu seluruh ruangan. Ruangan ini tidak banyak pajangan, dinding bercat putih dan hanya ada sebuah foto keluarga yang terpasang didinding.
"Apa ini Tante Lia?" Aaron berdiri dibawah dibawah foto besar yang terpasang diruang tamu. Foto Evan, Lia, Bintang dan putra kecil Lia.
"Iya," jawab Bintang. "Kau mau minum apa Ron?"
"Tidak perlu," Aaron menarik Bintang dan membuat Bintang duduk di kursi. "Beritahu aku dimana kotak obat," ucap Aaron. Bintang menunjuk sebuah sebuah kotak p3k yang terlihat dari ruang tamu.
Aaron segera mengambilnya lalu berlutut dibawah Bintang. Tangannya mulai memegang lutut Bintang yang berdarah.
"Baiklah," Aaron berdiri lalu mundur beberapa langkah. Bintang mendongak untuk menatapnya. "Selamat malam," ucapnya lalu melangkah pelan untuk keluar dari rumah Bintang.
"Selamat malam," jawab Bintang tak kalah pelan bahkan hampir tidak bersuara. Tapi tiba-tiba Aaron kembali lagi, ia merebut antiseptik dari tangan Bintang dan kembali berlutut. Bintang menatapnya bingung.
"Ron, berikan pada ku," Bintang mencoba merebut antiseptik dari tangan Aaron namun tidak bisa dan akhirnya dia mengalah dan membiarkan Aaron mengobati lukanya.
"Apa ini sakit?" tanya Aaron sambil terus membersihkan luka dilutut Bintang.
"Tidak, hanya terasa sedikit perih."
"Kau harus memperhatikan jalan mu lain kali."
"Ku bilang ini bukan karena aku yang tidak memperhatikan jalan tapi karena kamu. Kamu pembawa sial."
__ADS_1
"Berarti lebih baik aku tidak muncul dihadapan mu?"
"Iya," jawab Bintang cepat. Mendengar jawaban Bintang yang tanpa ragu, Aaron memencet luka dilutut Bintang, itu membuat Bintang menjerit refleks.
"Coba ulangi lagi, aku akan membuat luka di kakimu lebih sakit dari ini."
"Apa delapan tahun membuat mu berubah menjadi iblis Ron?" Bintang terkekeh.
"Iya, jika aku iblis maka kamu adalah tawanan iblis yang cantik," jawab Aaron. Matanya menatap wajah Bintang dengan sendu. Wajah yang dia rindukan selama delapan tahun ini. Bintang tersenyum. Kemudian, Aaron melanjutkan mengobati lutut Bintang.
"Selesai."
"Terima kasih Aaron. Emmm aku tidak bermaksud mengusir mu tapi... rasanya kurang baik jika kamu masih disini," Bintang memperhatikan Aaron Yang mengembalikan kontak obat.
"Aku tahu Cinderella," Aaron berdiri didepannya. Ia membungkuk dan mengusap pipinya lembut. "Selamat malam," ucapnya lalu melangkah keluar dan menutup pintu.
Ponsel Bintang berdering saat itu juga. Bintang tersenyum aneh melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Tangannya mengulur dan menerima panggilan.
"Cinderella," suara Aaron.
"Iya," Bintang membuka tirai sedikit, ia melihat keluar jendela. Dari sini, dia bisa melihat Aaron sedang berdiri membelakangi pintunya.
"Saat ini aku ingin menjadi iblis dan menculik mu dari tangannya."
"Apa kau yakin iblis akan menang?"
"Kenapa tidak?" Aaron menjawab dengan keyakinan dihatinya. Bintang menghela nafas, dia menatap Aaron dibalik tirai.
"Ron... dengarkan aku. Saat ini aku sudah memiliki pasangan dan kita serius untuk kedepan. Kau hanya masa laluku. Temukan wanita lain dan hiduplah bahagia bersamanya," Bintang memejamkan matanya.
Aaron menunduk, matanya menatap lantai. Kalimat Bintang seperti menamparnya, kalimat Bintang adalah kalimat dalam suratnya delapan tahun lalu.
__ADS_1
Mereka diam, tak ada kata selanjutnya hanya terdengar hembusan nafas yang berat. Bintang menutup tirai dan memutuskan panggilan.