Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Tumpangan 2


__ADS_3

"Kau..." Lia kehabisan kata-kata, dia merasa benar-benar malu. Genggaman hangat tangan Evan membuat jantungnya berdebar.



"Turunkan di sebrang jalan saja" pinta Lia tapi Evan seperti tidak mendengar apa yang dia ucapkan "Awas aja kalau sampai mobilmu melewati gerbang utama kantorku, seumur hidup aku tidak akan memaafkanmu" ancam Lia, Evan meliriknya dan mengaku kalah untuk saat ini, dia menurut lalu pelan menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Lia segera menarik tangannya tapi Evan masih menggenggamnya dengan kuat.



"Jam berapa kau pulang"



"Aku tidak pulang"



"Kau mau menginap di kantor?"



"Sepertinya itu lebih baik dari pada memberitahumu jam berapa aku pulang"



"Ok aku akan diam disini sepanjang hari menunggu mu keluar kantor, jika kamu menginap aku akan diam-diam menyelinap kedalam untuk menemanimu"



"..." Lia kembali kehabisan kata-kata.


__ADS_1


"Kamu hanya tinggal memberitahuku, gampangkan? Atau kamu berniat mengulur waktu untuk bersamaku pagi ini"



"19.00" jawab Lia segera. Jawaban itu membuat genggaman tangan Evan segera terlepas.



"Bagus" ucapnya, lalu membiarkan Lia membuka pintu mobil tapi kemudian Evan kembali menarik lengan Lia.


"Hati-hati sayang... aku akan menjemputmu nanti" ucap Evan, wajah Lia memerah tapi Lia segera menarik tangannya dan segera keluar mobil kemudian menutup pintu dengan dengan kencang. Evan menatap punggung Lya yang neninggalkannya.



Jam 18.30 Evan sudah memarkirkan mobilnya dipinggir jalan setelah sebelumnya dia pulang dan mengganti pakaian yang lebih santai. tiga puluh menit kemudian dia melihat Lia berjalan keluar, Evan segera menghampirinya dan membunyikan klakson, membuat Lia dan teman disebelahnya menoleh.




"Kenapa menjemputku disini?"



"Kenapa?"



"Kau membuatku malu"


__ADS_1


"Sebegitu memalukannya diriku hingga kamu tidak ingin temanmu melihatku" suara Evan seperti anak kecil yang sedang merajuk, Lia menoleh ke arahnya.



"Please Evan aku sangat lelah hari ini, jangan mengajakku bertengkar" ucap Lia, Evan mengangguk lalu diam. Beberapa menit kemudian Lia sudah terlelap di bangkunya. Evan tersenyum memperhatikan wajah Lia, dirapikannya rambut Lia yang menutupi pipi.



Ketika mobil Evan perlahan parkir dihalaman Lia, wanita itu masih terlelap dalam tidurnya, Evan membenarkan posisinya dan memberinya bantal kecil. Mata Evan memperhatikannya dengan seksama, hatinya menjadi pedih, dia tidak tega membiarkan wanita ini begitu keras dalam bekerja.



Satu jam kemudian Lia terbangun dari tidurnya, mengerjap-ngerjapkan matanya lalu memperhatikan sekeliling dan langsung membuatnya sadar bahwa dia sudah sampai di depan rumah.



"Hmm sudah sampai ternyata" gumamnya, dia melirik Evan yang sibuk memainkan game online diHpnya "Jam berapa ini?" Lia bertanya pada dirinya sendiri lalu matanya melihat jam di mobil Evan "Astaga... aku tidur satu jam dimobilmu, dasar bodoh kenapa tidak langsung membangunkanku"



"Kamu terlihat sangat capek, aku tidak tega membangunkanmu" Evan menyudahi permainannya diHp dan langsung meraih tangan Lia.



"Jangan macam-macam..." Lia menarik tangannya tapi Evan memegangnya dengan kuat "Jangan gila Evan... lepaskan aku, aku harus segera masuk, aku capek dan harus segera istirahat, besok harus berangkat pagi lagi" Lia mencoba berontak, evan masih memeganginya dan menatapnya tajam



"Evan please jangan bikin aku semakin muak dengan mu, lepaskan aku. Jangan bikin kesabaranku habis, aku akan benar-benar teriak kalau kamu tidak segera melepaskanku, kau pikir aku hanya mengancammu? tidak, aku akan benar-benar teriak, kamu membuatku sangat muak..."


Evan mencium bibir Lia, Lia mencoba menghindar tapi Evan segera memegang tengkuknya dan semakin menekan bibirnya, jantung Lia sangat berdebar dan bahkan terasa akan melompat keluar. Dia tidak ada kekuatan sedikitpun untuk melawan Evan hingga Evan sendiri yang melepaskannya.

__ADS_1


__ADS_2