
***@***
Setelah kejadian itu aku benar-benar tidak pernah lagi menghubungi Aaron, tidak pernah lagi bertemu dengannya, aku juga tidak berniat untuk mencarinya. Aku ingin menjaga kepercayaan Alan, aku tidak ingin Alan kecewa padaku.
Aku sudah mewakilinya meminta maaf pada Alan, Alan mengaggapnya santai bahkan sama sekali tidak mampermasalahkannya.
Hingga siang ini tiba, ketika aku dan Alan menikmati makan di kantin tiba-tiba banyak yang membahas Aaron. Yang ku dengar... Aaron pingsan ditengah latihan Band. Yang ku tahu memang mereka lagi gencar latihan karena sedang mengikuti lomba Band antar sekolah.
Aku mulai tidak tenang, nafsu makanku seketika hilang, aku sangat gelisah. Aku segera bangkit dari duduk ku.
"Kamu mau menemui preman sekolah itu?" Alan berkomentar, yang dia maksud pastilah Aaron, aku tahu dia tidak benar-benar melupakan pemukulan itu. Aku mengangguk.
"Tidak bisa... Kamu harus tetap disini." cegahnya dan langsung memegang tanganku. Aku bimbang, perasaanku sangat tidak tenang. Perlahan aku menarik tanganku.
"Maafkan aku Alan" ucapku lalu aku segera berlari menuju UKS.
Aaron pingsan? Apa yang terjadi dengannya? Apa setelah kejadian itu, dia kembali membahayakan dirinya sendiri? Kembali mengkonsumsi alkohol, kembali merokok, ahh bodohnya dia. Ini adalah kali kedua aku mengetahuinya pingsan. Dia sudah dewasa kenapa masih sangat labil? Jika merasa marah tidak perlu menjdikan sesuatu yang membahayakan dirinya menjadi pelarian.
__ADS_1
Ternyata ada banyak murid yang berkerumun didepan Uks. Aku menghentikan langkahku, tidak cuma aku yang menghawatirkannya, banyak sekali yang menghatirkannya, dia dicintai banyak orang, dia harus tau itu. Meski tidak bisa melihatnya diUks tapi aku tetap menunggunya diluar bersama puluhan siswa yang lain. Hingga petugas uks kluar dan mengabarkan bahwa keadaan Aaron baik-baik saja saja. Syukurlah... Aku sedikit lega mendengarnya.
"Hai Bintang...," seseorang menghampiriku. Dia menyapa namun terlihat malu-malu.
"Hai... kamu...," kataku, dia mengulurkan tangannya.
"Erfan," ucapnya dan aku membalas uluran tangannya. Erfan adalah pelayan Cafe20 yang ku temui waktu itu.
"Kamu sedang menunggu boss Ron?" tanyanya yang segera ku jawab dengan gelengan.
"Tidak, aku... aku hanya kebetulan lewat saja," bohong ku.
"Tidak sedeket yang kamu pikirkan. Aku dan dia... hanya kenalan dan tidak begitu deket," jawabku mencoba menjelaskan hubunganku dengan Aaron.
"Hahaaa... tapi ku rasa, kamu perempuan spesial buat boss Ron." ucapnya.
"Maksudmu?" Aku menoleh Erfan, dia nyegir.
__ADS_1
"Ah... lupakan, aku hanya asal bicara. Em... aku ingin cerita sesuatu padamu."
"Apa?"
"Aku tahu kamu pasti pernah denger boss Ron menghajar kakak kelas di samping gedung sekolah, kamu tahu kenapa? karena dia melindungi ku," Erfan menatapku lalu tersenyum "Image dia yang sering berkelahi awalnya adalah karena aku. Aku yang tidak bisa melindungi diriku sendiri."
"Maksudmu??"
"Dulu... aku adalah anak korban bullying, hingga aku tidak berani untuk ke sekolah, hingga tiba-tiba dia datang dan selalu ada untuk ku," jelas Erfan. Aku memperhatikannya. "Dia selalu menghajar orang-orang yang suka membully, bukan cuma pada ku tapi pada semua murid yang bernasib sama sepertiku," Erfan memandangku dan tersenyum.
"Bintang... Boss Ron adalah orang yang baik, sangat baik. Dia tidak banyak bicara, tidak pandai menunjukkan perasaannya juga. Dia sangat jarang tertawa tapi dengan mu aku bisa merasakan kalau dia begitu bahagia. Bintang... aku memang tidak tahu bagaimana hubungan kalian, tapi ku mohon jangan jauhi Boss Ron, kau boleh hanya menganggapnya teman atau sahabat."
Aku diam... ucapan Erfan apa artinya, apa maksud dia? Aaron...
"Kenapa kamu tiba-tiba memberitahu ku tentang ini?" tanyaku. Erfan menyunginggkan bibirnya.
"Aku juga tidak tahu." jawabnya rendah.
__ADS_1
***@***