
"Eh bintang... sebenernya Lo itu udah jadian belum sih?" Nilam menghampiri bangku ku.
"Kalaupun sempat jadian pasti cuma buat mainan Aaron doang kan ya... kaya' pas dulu dia pacaran ama Alan, nggak lama terus mereka putus," sahut Chita.
"Karma tuh karena dulu Lo ngerebut Alan dari Gue. Sekarang tahu kan rasanya dicampakkan hahaaa..." sambung Marsha.
"Eh tapi denger-denger gosipnya kalau Aaron menghajar Alan itu demi dia lho, wowww pelakor sih ya jadi manis banget mulutnya pasti, sampai dua cowok keren berkelahi karena dia."
"Hehh dasar kalian ya," Jhuly berdiri dari duduknya "Sekali aja nggak usah ngurusin hidup orang lain bisa nggak?" ucapnya dengan nada emosi. Aku memegang tangannya memintanya untuk tidak meladeni mereka.
"Waww kok jadi Lo yang sewot?" Nilam menatap Jhuly sinis.
"Gua hanya kasihan ya ama mulut-mulut tajam kalian, di jahit langsung ama malaikat baru tahu rasa Lo semua," kata Jhuly semakin meninggikan suaranya.
"Aww... sakiit," ucap Nilam, Marsha, Chita hampir barengan. Mereka menutup mulut mereka masing-masing.
__ADS_1
"Ihh takuut..." Marsha bersuara dengan nada meledek. "Cabut yuuk ah... takut ih serem," lanjutnya lagi lalu meninggalkan bangku kami.
"Heran deh sama tuh manusia, kerjaannya nyinyirin orang mulu," Jhuly kembali duduk, aku tersenyum padanya.
"Sabar...," ucapku. Dia menatapku.
"Kebalik kalee... hahaaa."
****
Langkahku terhenti ketika aku melihat seseorang yang tengah berdiri di koridor, pandangannya melihat lurus jauh ke depan, mataku mengikuti arah pandangannya dan ku temukan Ibu Aaron yang sedang makan disuapi oleh suster, kemudian mataku melihat lagi ke arah seseorang itu, langkahku pelan menghampirinya.
"Siang tante..." sapaku pelan padanya, seperti yang sudah ku duga beliau melonjak kaget mendengar suaraku.
"Oh bintang" katanya langsung menoleh ke arah ku, aku tersenyum dan menjejerinya.
__ADS_1
"Tante sudah lama disini?" Tanya dan dijawab anggukan pelan olehnya. Matanya kembali memperhatikan Ibu Aaron. Ibu aaron yang terlihat sangat menikmati makanannya.
"Dia adalah teman dekatku, teman, sahabat dan juga saudara buatku" ucap Tante rosa tanpa mengalihkan pandangannya, mendengar itu aku membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Kita berteman sedari kecil hingga kita remaja," Tante rosa menghela nafas kemudian menatapku.
"Ron sudah bercerita pada mu bukan?" tanyanya padaku tapi aku tidak tahu harus menjawab apa, aku hanya diam, tidak mengangguk tidak juga menggeleng.
"Iya... aku adalah wanita yang membuat mamanya harus berada disini," ucapnya. Matanya langsung berkaca-kaca .
"Aku dan Ratna bagai saudara kembar yang tidak dapat terpisahkan, bagai malam dengan rembulan. Bahagianya adalah bahagiaku, lukanya adalah luka ku.
Hingga kisah itu dimulai, kisah dimana dia harus dijodohkan oleh orang tuanya. Wajahnya berbinar, senyumnya merekah, suaranya terdengar sangat nyaring dan bahagia. Dia bilang... dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang dijodohkan oleh orang tuanya," kisah tante Rosa, matanya melihat ke atas, aku tahu beliau menahan air matanya.
"Seseorang yang dijodohkan padanya ternyata adalah kekasihku, aku tidak tega mengambil senyum dari bibirnya, aku tidak sanggup melukai hatinya dengan berkata jujur bahwa seseorang itu adalah kekasihku," Tante Rosa tidak lagi melihat ke atas, pandangannya kembali memperhatikan ibu Aaron, lalu tersenyum simpul. Aku masih terus diam, tidak tahu harus bicara apa.
__ADS_1
"Aku melangkah mundur, aku memutuskan menghilang dari kehidupan mereka dan meminta Mas Hendra untuk menerima perjodohannya dengan Ratna tapi ternyata takdir berkata lain, tepat sehari setelah pernikahan mereka, aku menemukan diriku tengah mengandung buah cintaku dengan Mas hendra. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain menghubunginya kembali dan memberitahunya bahwa aku tengah mengandung anaknya," Tante Rosa kini menunduk. Aku masih diam dengan segala pikiranku. Sebuah kisah yang sangat rumit.