Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Matahari Tenggelam Musim Kedua Bab 52_Kembali


__ADS_3

Dia pergi begitu saja, meninggalkan sepucuk surat yang dianggap konyol oleh penerimanya, meminta menganggapnya hanya sebagai senja dan melupakan kebersamaan mereka.


Laki-laki itu yang dulu meninggalkannya begitu saja dengan sepucuk surat yang menyuruhnya menemukan laki-laki lain dan hidup bahagia. Iya... laki-laki itu yang membuat dirinya merasa bahwa dunianya lebih suram dari pada mendung yang berlarut diawan. Laki-laki yang sempat membuatnya berfikir bahwa dia tak pantas untuk bahagia. Laki-laki yang tidak ingin ditunggu dan tidak ingin diingat.


Laki-laki itu berdiri dibawah lampu jalan, sinar kuning lampu jalan membuatnya berkilauan ditengah malam. Tangannya masuk kedalam saku jaket, menyembunyikan rasa dingin ditangannya. Pandangannya menatap lurus ke depan, kelompok matanya tidak dia izin untuk untuk berkedip, jantungnya mulai berdegup.


Seseorang berdiri jauh disana, menghentikan langkahnya dan menatap laki-laki itu dengan emosi yang bercampur dihatinya. Mereka saling menatap dari jarak yang cukup jauh.


Gadis itu mematung melihat laki-laki yang tengah berdiri dibawah sinar lampu.


"Dia... itu benar dia," batinnya.


Meski dari jarak yang cukup jauh tapi gadis itu mengenalinya, meski delapan tahun dia tidak pernah menemuinya namun gadis itu tahu bahwa laki-laki itu adalah dia, Aaron.


Gadis itu melangkahkan kakinya, hanya satu langkah lalu keraguan merayap dihatinya. Dia mencoba memahami keadaan dan pada akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk kembali melangkah. Ia membalik badan dan berpaling, memegangi hatinya yang terasa nyeri dan bahkan jantungnya begitu berdebar. Dia segera berjalan untuk menjauh, ia mempercepat langkahnya.


Melihat gadis itu menjauh, Aaron segera berlari mengejarnya. Mengejar dia yang berjalan menunduk.


Sang gadis terlonjak kaget ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Namun dia segera sadar, jika seseorang ini adalah Aaron. Ia memejamkan matanya, menahan sesuatu yang berkecamuk dihatinya.


"Kenapa berpaling?" ucap Aaron dengan masih terus mendekapnya. Ia merasa bahwa gadis dalam pelukannya ini sangat mungil. Apakah delapan tahun tidak membuatnya tumbuh? Sudut-sudut bibirnya berkedut menahan senyumnya, hatinya dibanjiri kebahagiaan dan rasa syukur karena bisa bertemu dengan gadis yang dia rindukan selama delapan tahun ini.


"Aku merindukan mu Cinderella," bisiknya ditelinga. Cinderella... panggilan yang dia buat sendiri karena nama Bintang terlalu indah dalam pelafalan dibibirnya.


Diam, Bintang tetap diam. Hembuskan angin malam terasa sangat dingin dengan sisa-sisa hujan yang baru saja reda beberapa jam yang lalu. Pelukan Aaron membuatnya lebih hangat.


"Heii... kenapa kau diam? Apa kau tidak merindukan ku? Hmm?" bisiknya lagi ditelinga Bintang, nafas halusnya yang mengenai pipi kanan Bintang terasa sangat hangat. Bintang mengigit bibir bawahnya, jantungnya memompa dengan cepat dan lebih cepat.

__ADS_1


'Rindu? Dia menanyakan rindunya? Kenapa dia masih saja egois seperti dulu. Rindu? Rindu yang perlahan ku lupakan.'


Aaron melepaskan pelukannya. Dia memutar tubuh Bintang hingga berhadapan dengan dirinya. Bintang menundukkan kepalanya.


"Hei, kenapa kau menunduk?" tangan Aaron mengulur dan meraih kedua tangan Bintang. Menggenggamnya dengan hangat. "Kenapa kau menyembunyikan wajah mu? Hmm? Apa kau takut aku tidak menyukai mu lagi karena pasti wajah mu sudah banyak kerutan. Benar?" ujar Aaron dengan nada membully-nya. Mendengar ucapan Aaron, Bintang mulai bereaksi, dengan perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Aaron.


"Hei, aku baru berumur dua puluh empat tahun dan tidak ada kerutan di wajah ku, okey," suara Bintang memecah malam yang mulai hening. Aaron tersenyum bahagia karena akhirnya Bintang bersuara.


"Oh, benarkah? Coba kulihat, aku tidak percaya jika tidak melihatnya sendiri," Aaron melepas genggaman tangannya. Kemudian, dengan pelan, ia mengangkat dagu Bintang dengan jemarinya yang halus. Ia terlihat begitu serius mengecek wajah gadis yang sangat dia rindukan selama delapan tahun ini. Dagu Bintang, pipi kanan, pipi kiri, hidung, kening, kemudian mata... sepasang bola mata itu bertemu, saling menyapa dalam diam. Hatinya terasa sangat pilu dengan semilir angin malam yang mencoba merasakan kehadirannya kembali.


Mata Bintang terasa panas dan dengan sekejap kelopak matanya dipenuhi air mata, hidungnya memerah, lalu perlahan air mata itu jatuh kepipinya. Aaron segera menghapusnya. Dia dengan sedih menatap wajah cantik gadis yang sampai saat ini masih ada dihatinya.


"Jangan menangis, please," suaranya lirih mengusap pipi Bintang.


"Aku benci kamu Aaron," suara Bintang tercepat. Dia mengigit bibirnya, menahan emosi yang bercampur dan rumit dalam hatinya.


"Iya aku tahu," jawab Aaron pelan.


Aaron memegang tangan Bintang, lalu... ia mengangkat wajah Bintang, menatap kedalam matanya dengan cinta yang dia simpan selama delapan tahun lamanya. Ia menunduk dan mencium bibir Bintang dengan lembut, selembut ice cream. Jantung mereka semakin berdebar. Bintang ingin menolaknya namun hatinya berkata lain, ternyata rindu itu masih ada dalam hatinya sampai saat ini. Tapi kemudian, Bintang mengingat sesuatu. Dia segera mendorong Aaron dan mengusap bibirnya.


"Aaron, aku sudah punya pacar sekarang," ucapnya pelan. Ia menatap Aaron yang perlahan menghilangkan senyuman di wajahnya.


"Maafkan aku," ucap Aaron samar. Mata mereka masih bertemu. Tapi Aaron memandangnya dengan pandangan yang berbeda, dia seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Diam... suasana berubah menjadi sangat canggung.


"Sudah larut," Aaron melihat jam dipergelangan tanganya. Bintang mengangguk. "Aku akan mengantarmu pulang," Aaron mendekati Bintang dan meraih tangannya. Tidak ada penolakan, Bintang membiarkan Aaron menggenggam jemarinya.


"Apa kau masih kuat berlari?" tanya Aaron. Tapi dia tidak menunggu jawaban dari Bintang. Iya atau tidak, tidak ada pengaruh padanya. Ia segera menarik Bintang dan membawanya berlari, Bintang mengikuti ayunan kakinya.

__ADS_1


Delapan tahun yang lalu mereka sering melakukan ini. Berlari bersama dan saling bergandengan tangan. Delapan tahun yang lalu Aaron merasa bahwa dia adalah pangeran yang akan selalu menyelamatkan Cinderella sebelum sihirnya berubah. Tapi ternyata dia adalah seorang pecundang yang meninggalkan Bintang dan meminta Bintang untuk melupakannya, tidak salah jika akhirnya Bintang memiliki pacar sekarang.


"Hei, apa kau tahu alamatku? Aku tidak tinggal disana sekarang?" ucap Bintang setengah teriak. Itu langsung menghentikan langkah kaki Aaron. Aah... sial, ucap Aaron dalam hati. Bintang menahan senyum dan menarik tangannya dari genggaman Aaron.


"Aku akan mengantarmu," Aaron kembali meraih tangan Bintang dan membawanya ke mobil. "Sebutkan alamat mu," Aaron mulai menyalakan mesin mobilnya dan memasukkan alamat yang disebutkan Bintang diGPSnya. Pelan, ia menjalankan laju mobilnya.


"Kapan kamu kembali ke Indonesia?" Bintang memulai setelah mereka saling diam beberapa menit.


"Tadi pagi," jawab Aaron singkat dan fokus pada jalanan yang mulai senggang. Bintang mengangguk.


Mereka kembali diam, membisu dengan segala perasaan yang tak dimengerti. Bintang memainkan jari-jarinya, sejujurnya ia merasa sangat gugup saat ini. Dia beberapa kali melirik Aaron yang fokus menyetir. Ini masih terasa mimpi baginya, delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Hingga dia benar-benar merasa menyerah pada harapannya dan membuka tirai hatinya yang sebelumnya tertutup rapat karena laki-laki yang berada disampingnya sekarang. Disaat yang sama dia datang kembali, membawa sebuah bingkisan rindu yang sekarang terasa rumit.


Aaron melirik Bintang yang terlihat gelisah, melihat jari-jari Bintang. Dia ingin sekali menggenggam jemari itu namun dia ragu, ucapan Bintang terus teringat ditelinganya.


'Aku sudah punya pacar' Aaron menggeleng kepalanya pelan, mencoba menampik kenyataan yang baru saja dia dengar dari mulut Bintang sendiri.


Mobil Aaron terparkir didepan sebuah rumah minimalis, berukuran 54-60.


"Kamu tinggal di sini?" tanyanya setelah memperhatikan rumah didepan. Bintang mengangguk. "Kenapa memilih tempat tinggal sekecil ini? Ini bahkan lebih kecil dari tempat tinggal mu dulu," lanjutnya.


"Aku tinggal sendirian. Rumah tipe 54 adalah yang paling ideal. Kamu tahu, aku itu penakut," Bintang menjelaskan alasan kenapa dia memilih rumah minimalis tipe 54. "Terima kasih, sudah mengantar ku, Aaron," ucapnya dan membuka pintu mobil.


"Selamat malam Bintang," Aaron berucap sebelum Bintang benar-benar keluar dari mobilnya. Membuat Bintang menoleh kembali kearahnya dan mengangguk.


"Selamat malam, Aaron," jawabnya dan keluar dari mobil.


____

__ADS_1


Catatan penulis.


Terima kasih pembaca kesayangan, udah bersedia menunggu 😘. Jangan lupa like dan komentar nya Yach... Luv you 😘😘


__ADS_2