Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 12_Mama Aaron


__ADS_3

***@***


Sekarang, sekolah kembali menyenangkan, bahkan terasa lebih menyenangkan. Bertemu dengannya bahkan tak harus lagi sembunyi-sembunyi.


"Pagi cinta," sapanya setelah aku turun dari bis, aku tidak menyangka kalau akan langsung ada dia setelah turun bis, aku tersenyum sambil menyambut uluran tangannya. Dia sangat manis, semua yang dia lakukan sangat manis, semua yang dia ucapkan sangat manis. Aku tak lagi menghiraukan siswi yang menatapku sinis atau mereka yang menganggapku merebut Alan dari mereka.


***@***


Aku membuntuti Aaron tanpa kata, aku tidak ingin bertanya apa-apa padanya, mengetahui yang dia tuju adalah sebuah tempat di rumah sakit membuat hatiku pilu.


Siapa yang akan dia temui disini? Dia lalu berhenti disebuah taman rumah sakit, dibawah pohon besar. Aku menahan sedihku ketika dia menunjuk seseorang yang tengah asik memainkan jari-jarinya.


"Mamaku...," ucapnya sedikit tercekat. Seorang ibu yang sibuk dengan dunianya sendiri. Aku memperhatikannya dari jauh, terkadang beliau tersenyum, terkadang juga tertawa lalu tiba-tiba berubah jadi sangat sedih dan tiba-tiba menangis. Iya... ini adalah Rumah sakit jiwa.


"Dia tidak mengenaliku," ucap Aaron datar. Aku mengenggam tangannya, mencoba memberinya kekuatan. Aku tidak ingin berkata apa-apa, untuk kali ini aku hanya ingin mendengarkannya.


"Ini semua gara-gara laki-laki ******** itu, laki-laki yang tidak punya otak itu," Aaron mulai bercerita. "Keparat itu membawa perempuan lain kerumah dan membuat Mama jadi seperti ini," aku semakin menggenggam tangannya. "Keparat itu adalah Papaku," Aaron menarik tangannya dari genggamanku, dia membelakangiku dan meninjukan tangannya dengan keras dipohon. "Aku membencinya," ucapnya sedikit cercekat. Aku memegang pundaknya dan mengusapnya pelan. "Aku membencinya, sangat membencinya," ucapnya berulang-ulang, tanganku perlahan turun kepinggangnya dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Aku tahu kamu orang yang kuat Ron, aku tahu ini tidak mudah tapi aku tahu kamu pasti bisa melewatinya," ucapku pelan.


Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata dia mempunyai masalah seberat ini. Genggaman tangan dan ucapannya dimalam itu kembali melintas dalam benakku, dia yang merindukan Ibunya. Hati ku terasa sangat perih, aku memang belum lama mengenalnya tapi entah kenapa aku merasa sangat sedih dengan keadaannya.


***@***


Ke esokan harinya.


Aku langsung menemukan sosoknya ketika membuka pintu, Alan. Dia duduk diatas motor, entah sejak kapan dia menunggu disitu.


"Pagi pangeran...," ucap ku yang membuatnya terkekeh. "Dari kapan berada disini?"


"Dari tadi."


"Kenapa tidak mengetok pintu?"


"Namanya juga kejutan," jawabnya lalu memberikan helm untukku, aku menerimanya dan segera naik ke atas motor.

__ADS_1


"Mulai saat ini setiap pagi aku akan menjemputmu," ucapnya, Aku mengangguk. Perlahan motornya melaju, membawaku bersamanya, kebersamaan seperti ini yang sering ku bayangkan, perhatian seperti ini yang sering ku impikan. Kusenderkan kepalaku dipunggungnya.


***@***


"Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar" Komentar Tante malam ini ketika kita tengah menonton Tv. Aku mengerutkan kening dan menatapnya.


"Tante lihat tadi Alan menjemput dan mengantarmu pulang," lanjut Tante, aku mengangguk membenarkan ucapannya "Tante juga lihat kemarin pemilik jaket itu mengantarmu pulang" aku kembali mengangguk membenarkan ucapannya "Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar" ulangnya, aku menghela nafas panjang. Aku paham apa yang Tante maksud, kalaupun aku tidak sampai terbakar olehnya tetapi sifat api tetaplah panas.


"Iya Tan..." jawabku pelan.


"Jika kamu telah memilih Alan maka tinggalkanlah pemilik jaket itu."


"Aaron," sambungku cepat.


"Iya Aaron. Jangan menyakiti hati Alan dengan kebersamaanmu dengan Aaron. Apalagi... jika nanti kamu malah menyakiti hati keduanya, dan pasti kamu yang akan merasa lebih tersakiti oleh perasaanmu sendiri," aku diam menunduk mendengar ucapan Tante, benar sekali. Jika aku telah menerima Alan, lalu apa yang membuatku ragu.


***@***

__ADS_1


__ADS_2