
***@***
Bis melaju dengan pelan, mataku mengamati satu persatu gedung yang terlewati, terkadang juga membaca papan iklan yang berjejer dipinggir jalan tapi sungguh fikiranku tidak disini. Tatapan nanar Tante rosa membayangiku, penyesalan yang mendalam terlihat dimatanya.
"Akhirnya kita memutuskan untuk menikah dan menyembunyikan hubungan ini. Kemudian kejujuran Mas hendra mengunggkap semuanya. Kejujuran yang ku pikir akan membawa dampak baik ternyata malah semakin membuatku merasa bersalah. Aku tahu Ratna sangat terpukul karena aku sahabatnya ternyata malah menikah dan punya anak dari suaminya. Ratna tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku," cerita Tante Rosa mengakhiri kisah masa lalunya. Apa Ron tahu tentang kisah ini?? mungkin tidak.
"Halte flamboyan," teriak kondektur menyadarkan lamunku. Aku segera berdiri dan turun dari bis, berjalan menuju rumah.
Kisah yang baru saja ku dengar masih terngingang difikiranku. Aku mempercepat langkahku dan segera mengganti seragamku. Karena besok hari minggu, malam ini aku berencana menginap dirumah sakit.
"Salam Tante buat Aaron ya sayang, sejujurnya Tante ingin ikut denganmu tapi katamu Aaron nggak mau ketemu orang lain."
"Iya tan... nanti aku sampein salam Tante."
Aku membawa beberapa buku dan pakaian ganti.
Ada Om hendra disana duduk disamping Aaron dan Tante rosa yang duduk di sofa sambil membaca majalah. Mereka menyambutku hangat, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Papa Aaron. Kisah yang tadi siang ku dengar kembali terngiang di telingaku.
"Ron... baru saja tertidur setelah tadi menjalani serangkaian pemeriksaan," jelas Tante Rosa. Kemudian kita bertiga duduk di sofa. Papa Ron sangat ramah, beliau bahkan sempat bercerita bagaimana Aaron waktu kecil, Ron kecil sudah menjadi idola para ibu-ibu komplek, mereka yang mempunyai anak cewek sudah daftar ingin berbesanan.
__ADS_1
"Stop cerita tentang ku Papa...," Aaron tiba-tiba bersuara membuat kita bertiga menoleh berbarengan kearahnya.
"Kamu tidak tidur ternyata," komentar Om hendra.
"Bagaimana aku bisa tidur, kalian berisik sekali," protesnya.
"Tante... tolong bawa orang tua ini pulang," ucap Aaron. Tante rosa tersenyum dan mengangguk.
"Ahh Papa tahu kenapa kamu menyuruh Papa pulang," om Hendra melirikku lalu mengedipkan matanya pada Aaron.
"Tante segera bawa orang tua ini pulang," Aaron mengulangi permintaannya, Tante rosa mengelus pundak suaminya.
"Ok anak muda... kita pamit dulu," Om Hendra berdiri lalu disusul Tante rosa.
Dilihat dari luar, mereka adalah keluarga yang sangat hangat dan harmonis, sebuah keluarga yang menyenangkan.
Aku mengantar mereka sampai pintu lalu kembali masuk. Duduk dikursi disampingnya.
"Ron... kau merasa lebih baik-baik saja kan?"
__ADS_1
"Tentu... apa lagi sekarang ada kamu disini."
"Hahaa jika keberadaanku selalu membuatmu merasa baik-baik saja, aku akan berada disini sepanjang waktu."
"Ide yang bagus, tapi kau harus sekolah Nona..." ucapnya, matanya menatap lekat pada mataku. Aku tersenyum dan mengangguk. "Sebentar lagi ujian akhir bukan? Kau harus semangat jangan jadi gadis bodoh yang hanya bisa menulis surat dalam botol," lanjutnya yang langsung membuatku memukul bahunya, dia masih saja menyebalkan.
"Aww..." dia meringis kesakitan dan malah membuatku khawatir.
"Ron... jangan bercanda, aku hanya memukulmu pelan."
"Saat ini... aku merasa sangat tidak enak," ucapnya dengan wajahnya yang menahan sakit.
"Bagian mana yang sakit Ron... aku... aku panggil dokter dulu ya," ucap ku gugup.
"Tidak... disini..." dia menunjuk dadanya, aku segera menyentuh dadanya, namun ketika aku belum sempat memahami situasi yang terjadi dia sudah mengecup pipiku, membuat wajahku memerah seketika.
"Kau mengerjaiku Ron..." aku menarik tanganku dari dadanya tapi dia lebih cepat menahannya.
"Saat ini aku merasa jauh lebih baik," ucapnya dengan seuntai senyum indah diwajahnya. Sesuatu yang menusuk kembali terasa dihatiku. Aku sangat menghawatirkannya. Aku menarik sudut bibir ku untuk tetap tersenyum, dan meletakkan kepalaku didadanya. Aku menatapnya...
__ADS_1
"Harus... kau harus selalu baik-baik saja, atau aku akan menghukum mu."
***@***