Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 28_Menyalahi Aturan


__ADS_3

***@***


Aku segera mematikan handycame dan segera kembali ke cafe20. Fikiranku kacau, sebenarnya... apa yang dia takutkan? Aku tidak pernah melihatnya sesedih tadi. Ron... apa yang kamu takutkan.


Sesampainya dicafe aku segera menemui Erfan, dia menyuruh ku duduk dan aku segera menurutinya, aku tidak sabar ingin segera mendengar penjelasannya dan semoga dia tahu apa yang terjadi pada Aaron.


"Bintang... sebenarnya aku menyalahi aturan," ucapnya memulai. Aku menatapnya serius


"Handycame ini seharusnya tidak ku berikan padamu sekarang, tapi aku tidak bisa membiarkan mu begini, menurutku kamu harus tahu," Erfan menghela nafas lalu membalas tatapan ku, menggenggam tangan ku.


"Boss Ron sakit" ucapnya pelan tapi seperti badai ditelinga ku... Aaron sakit?? Aku menggeleng... Dia semakin mengenggam tanganku kuat.


"Kanker otak" jelasnya lagi.

__ADS_1


Air mata ku menetes perlahan, dada ku terasa sesak. Aaron... Tidak, dia tidak akan kenapa-napa, dia akan baik-baik saja, dia tidak bisa egois begini.


Aku menarik tangan ku yang masih dalam genggaman Erfan, aku segera berlari meninggalkannya. Aku terus berlari tanpa arah mencoba memahami situasi ini, sebuah kabar yang langsung menghancurkan hati ku. aku... Ahh Aaron.... Aku harus bagaimana??


Air mata ku terus menemani setiap langkah ku hingga rasanya aku tak sanggup lagi berlari, aku terjatuh bersimpuh.... Aku ingin berteriak.


Aku menangis sejadi-jadinya ketika sampai di rumah, aku tidak sanggup lagi menahan sesak di dada ku. Hingga beberapa saat dan akhirnya aku mulai memahami apa yang sekarang terjadi. Tangisan ku tidak akan mengubah apapun.


"Tante..." aku menatap Tante dan memeluknya.


***@***


Aku melihatnya dari balik pintu kaca, menghapus sisa air mata ku, mencoba menguatkan hati ku.

__ADS_1


"Bintang," suara seseorang di belakang ku, aku segera menoleh kearahnya. Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik, dia menyunggingkan senyum padaku "Masuklah, dia mungkin menunggu mu" ujarnya sambil membuka pintu dan mengajak ku masuk. Pelan, aku melangkah masuk kedalam dengan berat.


Melihatnya terbaring lemah dengan peralatan medis yang menempel di tubuhnya membuat hatiku seperti teriris, sangat perih tapi aku tidak ingin menangis.


Pelan, aku menghampirinya, matanya terpejam , kini dia sangat lemah, tak ku temukan sosok Aaron yang menyebalkan.


Hei Ron, kau lihat saja aku akan menghukum mu setelah ini. Siapa yang menyuruh mu seperti ini? Kau berencana menyembunyikannya dari ku? Bagus... kau benar-benar menyebalkan.


Tante itu mengusap bahu ku lembut, mencoba menguatkan ku tapi sungguh aku tidak tahan melihatnya begini. Minggu-minggu yang lalu dia masih sangat manis, kenapa sekarang begitu lemah, matanya terpejam dengan sangat rapat. Aku mengulurkan tangan ku, aku ingin menyentuhnya namun tangan ku terhenti sebelum aku sanggup menyentuhnya, aku tidak sanggup, hati ku terasa sangat sakit, dadaku semakin sesak, mata ku terasa panas. Aku berbalik tak ingin melihatnya, aku segera berlari keluar dan menangis di bangku, menutup mata ku dengan kedua telapak tangan ku. Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin dia baik-baik saja.


"Menangislah sayang jika itu membuat mu tenang" ucap tante tadi, dia duduk menjejeri ku, melihatnya duduk di sebelahku, aku segera menghapus air mataku.


"Tante tahu saya?" tanya ku dan di jawab anggukan olehnya.

__ADS_1


"Sedikit... Ron pernah bercerita sedikit tentang mu" jelasnya


"Apakah tante..." ucapku menggantung.


__ADS_2