
"Aaron... kita memang lahir dari Ibu yang berbeda, tapi aku tetap Kakak mu yang seharusnya terus melindungimu. Kita memang lahir dari Ibu yang berbeda tapi kamu tetap adik ku yang seharusnya berbagi tawa dan duka bersama. Sejujurnya dalam hatiku, aku tidak pernah membencimu tapi aku membenci diriku sendiri," Pelan, tangan Alan terangkat untuk memegang lengan Aaron. Tapi Aaron segera menarik lengannya dari sentuhan Alan, kemudian ia memutar kepalanya, menatap Alan dan mengangkat ujung bibirnya. Ia tersenyum dengan sinis.
"Kenapa? Kenapa kamu menceritakan ini padaku? Agar aku mengakui mu? Menerima mu? Mengakui Ibu mu? Hh?" suara Aaron dingin. Alan menghela nafas.
"Bukan... aku tidak lagi berharap kamu menerimaku, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku menyayangimu."
"Ckk... banci," Aaron menatap tajam Alan lalu melanjutkan ucapannya. "Kamu seperti cewek yang menyatakan perasaannya pada cowok yang sekarat hahaa," Alan diam.
"Kamu harus tahu kalau aku tidak akan mati dengan mudah, aku tidak rela jika aku lebih dulu mati sebelum kamu, benar-benar tidak rela. Kamu membuatku merindukan keluarga yang utuh setiap hari, kamu mengambil keluargaku yang lengkap, Mamaku... dan untuk kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengambil Papa dari ku," Suara Aaron berat dan serak, melawan berbagai macam emosi yang memenuhi hatinya.
"Bagus...," Alan tersenyum. "Kau harus tetap hidup untuk melihatku mati bukan? Jadi... teruslah hidup sebelum menyaksikanku mati," ucapnya.
"Bodoh."
"Haa iya aku bodoh."
"Ck, kau idiot gila."
"Haa kau benar," Alan tidak sanggup lagi menahannya, dia dengan segera memeluk Aaron, menahan isaknya. Tidak ada penolakan dari Aaron, dia membiarkan Alan memeluk dirinya.
"Hei banci... apa saat ini kau menangis?" Aaron menepuk punggung Alan yang masih memeluknya, Alan menggeleng.
__ADS_1
"Hei aku belum mati... kenapa sudah menangisiku?" Aaron kembali menepuk punggung Alan. Alan menyeka sisa air matanya. Mengambil nafas panjang.
"Maafkan aku Ron...," suara Alan sangat serak mengucapkan itu. Saat ini perasaan Aaron terasa hangat, tenang dan indah, dia membalas pelukan Alan.
****
Pagi ini dokter mengizinkannya keluar ruangan sebelum menjalani serangkaian kemo, aku mengajaknya menikmati sejuknya udara pagi yang merindukannya.
"Pagi ingin menyapamu, angin sejuknya lama tak menyapamu," kata ku sambil mendorong kursi roda. "Kamu juga merindukannya bukan?" tanyaku.
"Aku lebih merindukan malam," jawabnya.
"Oh ya, kenapa?"
"Berarti kamu juga suka bulan?"
"Tidak," jawabnya cepat.
"Kenapa? bukankah malam juga menghadirkan bulan?"
"Jika aku menyukai bulan maka bintang pasti cemburu padaku," mendengar jawabannya aku segera memukul bahunya. Dia terkekeh dan langsung mengenggam tanganku.
__ADS_1
"Hei jelek... berhenti memukulku."
"Aku bahkan ingin mencekikmu," candaku lalu menghentikan kursi roda di depan sebuah bangku taman, kemudian aku duduk di depannya. Aku memperhatikan wajahnya, menikmati tatapannya, menyelami hatinya.
"Bintang..." Aku tersenyum dia menyebut namaku "Ehem, Cinderella..." ulangnya yang langsung membuatku memukul bahunya lagi.
"Sepertinya kau punya hobi baru sekarang," komentarnya
"Apa?"
"Memukul bahu ku," jawabnya dan langsung membuatku menambah pukulan kebahunya bertubi-tubi, dia tertawa renyah. Tangannya kemudian mengelus lembut pipikum
"Sebenarnya aku tidak ingin kamu mengetahui keadaanku tapi ternyata akhirnya kamu tahu," ucapnya, matanya menatap lekat pada mataku.
"Kau tahu kan Bintang, jika... jika Tuhan mengambil sesuatu dari kita maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik,"
Bibirnya mencoba tersenyum tapi aku tahu itu senyum yang terlalu dipaksakan, aku memengang tangannya yang berada dipipiku, mengenggamnya. Aku menatap tajam matanya dan berharap dia tidak akan bicara sesuatu yang tidak ingin ku dengar.
"Jika nanti... Tuhan benar mengambilku dari mu maka pasti Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik," mendengar kata itu keluar dari mulutnya, mataku terasa panas, air mata seakan langsung memaksa keluar, dengan segera aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku. Aku mengeleng.
"Ron... dengarkan aku. Jika ada yang lebih baik darimu, jika ada yang lebih segala-galanya darimu, aku tidak perduli dan aku tidak akan mau, karena aku hanya ingin kamu," Air mataku semakin membanjiri pipiku, tangan hangatnya mengusapnya lembut, matanya berkaca-kaca. Aku segera memeluknya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu, kamu harus tau itu, jadi ku mohon jangan pernah menyerah," bisikku ditelinganya, dadaku sungguh terasa sesak. Dia mengangguk dan membalas pelukanku.
***@***