
***@***
Aku segera menyelesaikan sarapanku kemudian bergegas memakai sepatu dan berjalan. Jika yang diceritakan Tante benar, itu berarti Aaron sedang menungguku pagi ini.
Mataku tajam memperhatikan poss satpam yang tak terpakai dan memang benar ada seseorang disana. Aku sangat kenal jaket itu dan dia mengenakan topi dariku, dia memakai masker hitam.
Aku segera mengalihkan pandanganku setelah mengetahui keberadaannya, berpura-pura tidak mengetahui apapun. Kemudian, aku menundukkan kepalaku ketika langkah ku tepat melewatinya, menahan senyumku lalu ku pencet nama Ron diHpku yang otomatis langsung menyambung keHpnya. Suara dering ponselnya terdengar. Aku semakin menahan tawaku.
"Kamu menyadari keberadaanku?" ucapnya dan langsung menghampiriku. Aku segera menyudahi panggilanku diHpnya.
"Sejak kapan Ron jadi penguntit?" ledekku yang membuatnya siap mencubit pipiku tapi dengan sigap aku menghindar dan berlari meninggalkannya.
"Penguntit yang tertangkap." teriakku dan dia segera mengejarku.
Kita menaiki bis yang sama dan duduk bersebelahan, aku memberinya isyarat agar diam dan tidak bersuara lalu aku memberinya satu earphone ku.
"Noah??" tanyanya, aku mengangguk dan menempelkan jari telunjukku kebibir memintanya untuk diam.
"Hu'um...," jawabku.
_Sesampainya di Sekolah.
"Hei, Cinderella sepertinya kamu jadi selebriti sekarang, lihatlah banyak mata yang memperhatikanmu," ucap Aaron ketika kita memasuki sekolah bareng.
"Itu karena aku jalan bersama mu Ron."
"Gitu ya... jalan bareng preman sekolah, apa kamu tidak takut?" Aku langsung menyikutnya dengan keras.
Lirikan dan bisikan mereka sudah tidak lagi ku hiraukan, aku sudah tidak memikirkannya lagi, aku sudah terbiasa dengan omongan-omongan mereka.
__ADS_1
"Bintang, apa benar kamu putus sama Alan?" Jhuly langsung bertanya setelah aku duduk dibangku. Aku mengangguk mengiyakan. "Apa benar itu karena Aaron?" tanyanya lagi yang langsung membuatku menatapnya tajam, dia nyengir. "Sorry kalau kepo heheee."
"Apa gosip yang beredar seperti itu?" tanya ku menyelidik. Jhuly mengangguk.
"Iya... bahkan mereka bilang kalau Aaron sempat menghajar Alan," jawabnya menjelaskan.
Insiden itu sudah lama terjadi, ku pikir tidak ada yang mengetahuinya tapi ternyata malah mencuat sekarang entah siapa yang menyebarkannya. Nama Aaron pasti menjadi topik terhangat sekarang dan pasti menjadi pihak yang salah, iya memang dia yang bersalah, memang dia yang memukul Alan duluan. Aku menghela nafas panjang dan memegang tangan Jhuly.
"Kamu tahukan kalau Aaron tidak akan memukul seseorang jika tidak ada penyebabnya?" ujarku.
"Berarti memang benar kalau Aaron sempat memukul Alan?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Bintang... aku ingin jujur padamu, maaf jika ini salah. Ini... hanya pendapatku, hanya pendapatku," Jhuly mendekatkan dirinya padaku. "Menurutku Aaron itu menyukaimu, benar-benar menyukaimu," ucapnya setengah berbisik. Aku menatapnya tajam.
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri," ucapku sambil memencet hidungnya.
"Jadi kamu tidak percaya ama pendapatku??"
"Aaaa baiklah mari kita lihat."
***@****
"Tante... cinta pertama Tante kelas berapa?" tanyaku sambil memijat pundaknya.
"Huss, nggak sopan tanya-tanya cinta sama orang tua."
"Tante masih muda kok, kalau dilihat nih... kita itu sebelas dua belas gitu, nggak jauh beda," kataku yang langsung membuatnya tertawa.
"Hahhaaaa... seratus ribu...," ucapnya, yang sekarang membuatku tertawa.
__ADS_1
"Selain masih terlihat muda... Tante juga anggun dan elegan," kataku lagi.
"Hahhaaa... dua ratus ribu."
"Selain terlihat muda dan elegan Tante juga baik hati dan tidak sombong," kataku lagi.
"Hahahaa.... satu juta," ucapnya.
"Hahaaa... mantaappp," kita tertawa bersama.
Tante... entah bagaimana jika dia tidak merawatku, mungkin saat ini aku ada dipanti asuhan atau malah jadi gelandangan. Tante... meski masih muda dia begitu keIbuan, lembut dan sangat pengertian.
"Tante...," aku memeluknya dan bersandar dibahunya.
"Hmm," jawabnya dan mengelus punggungku.
"Aku sudah remaja sekarang, aku setiap hari curhat masalahku dengan Tante. Sekarang, aku siap jadi tempat curhat Tante."
"Hahaa... apa yang mau dicurhatin?? kerjaan?? emang kamu ngerti?"
"Yaa meskipun aku tidak mengerti paling tidak ada tempat buat Tante cerita," aku memegang tangan Tante.
"Tan... aku serius. Jika Tante menunda menikah karena aku, aku akan merasa sangat bersalah dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri." mendengar ucapanku Tante memukul bahu ku dengan keras.
"Dari mana pikiran itu? Tante nggak suka kamu mikir begitu."
"Iya maaf," Aku memeluknya dengan erat.
Tante... terima kasih untuk semuanya.
__ADS_1
***@***