Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Tumpangan


__ADS_3

Diam-diam sebelum masak Bintang terlebih dulu mengempeskan ban mobil Tantenya, Evan sudah mengajarinya kemarin.



"Kenapa Tante?" Bintang pura-pura berlari dengan cemas



"Ini... ban mobil kenapa bisa kempes" jawab Lia sambil memencet aplokasi Ojol, berbarengan dengan itu sebuah mobil parkir di depan rumahnya. Bingang tersenyum, sementara Lia terlihat shock ketika melihat bahwa itu adalah mobil milik Evan dan benar saja Evan segera turun dari mobil lalu menghampiri mereka.



"Pagi..." sapanya ramah.



"Pagi kak..." Jawab bintang, Lia diam pura-pura tidak mendengar sapaan Evan dia masih sibuk mncari driver ojol.



"Pas... pas banget Kak evan kesini" Bintang menarik lengan Lia "Tante mendingan bareng Kak Evan" ucap Bintang, Lia meliriknya tajam lalu segera memahami situasi.



"Jangan bilang hari inu kalian sekongkol"



"Haaa mana berani..." Bintang mengangkat kedua telapak tangannya "Tante pasti akan memcincangku kalau aku berani sekongkol dengan Kak evan" lanjut Bintang nyengir.



"Bintang... ini tas kamu yang kemarin ketinggalan di mobil" Evan menyerahkan tas bintang yang memang sebenarnya akal-akalan mereka saja.



"Makasih Kak evan..." bintang menerimanya



"Li.. mari ku antar"



"Terima kasih tapi tidak perlu, aku sedang memesan ojol" Lia menggerak-gerakan Hpnya memcari sinyal, hari ini benar-benar sungguh sial, ban kempes lalu Hp yang tidak ada sinyal. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah Bintang sudah menggantu card Lia dengan card kosong tanpa kuota.


__ADS_1


"Baiklah. Bintang... Kakak pamit dulu ya" Evan memutar badannya melangkah pelan sambil menghitung pelan. Satu... dua... tiga... em...



"Tunggu..." suara Lia menghentikannya. Yess teriaknya dalam hati, dia merasa menang.


Lia berjalan menghampirinya



"Aku ikut kamu" ucapnya singkat, Evan segera membukakan pintu mobil untuk Lia.



"Aku duduk dibangku belakang saja" tolak Lia pelan.



"Kamu pikir aku driver ojol?"



"Iya... nanti akan ku bayar"




"Okey Evan kamu menang" Lia melangkah dan segera duduk.



Lia tahu kalau berdebat dengan Evan hanya akan menyia-nyiakan waktunya, dia harus segera berangkat. Pelan, Evan meninggalkan halaman setelah berpamitan pada Bintang.



Lia diam menyembunyikan wajah, dia berpaling, tidak ingin menunjukkan wajahnya pada Evan, dia yakin panggilan Evan diterimanya tapu dia sungguh tidak tahu apa yang dia ucapkan.



"Kamu kerja dimana Li?" Tanya Evan memulai



"Kamu tidak perlu tahu" jawab Lia kaku, tawa Evan langsung meledak mendengar jawaban Lia barusan


__ADS_1


"Apanya yang lucu sampai membuatmu tertawa?" komentar Lia, dia masih berpaling.



"Kamu tidak mau memberi tahuku dimana tempatmu bekerja, haaa baiklah kamu akan ku bawa ke kantorku"



"Jangan gila Evan"



"Kamu ada didalam mobilku sekarang dan kamu tidak mau memberitahuku" ucap Evan santai. Lia tertawa dalam hati mendengar ucapan Evan, dia mengigit bibirnya dan semakin menyembunyikan wajahnya karena malu.



"ABI Grup" jawab Lia singkat, Evan mengangguk-angguk.



"Perusahaan yang bergerak di bidang bahan bangunan, bagus. Pantas saja bikin kamu tidak bisa tidur"



"Pengarang handal... siapa yang bilang aku tidak bisa tidur? Setiap hari aku tidur dengan nyenyak" jawab Lia, dia masih saja memperhatikan jalan dari balik kaca, Evan terkekeh mendengar jawaban Lia, dia semakin bersemangat menggodanya.



"Aku tidak pandai mengarang, kau jelas tahu itu..." kata Evan, saat ini mereka menunggu lampu merah "Kamu sendiri yang memberi tahuku" lanjut Evan.



"Ckkk... kau hanya menerka"



"Tidak... kamu yang memberitahuku" Evan keukeh pada pendapatnya lalu dia menghentikan audionya namun sedetik kemudian evan menyalakan lagi dengan suara yang membuat Lia merah padam. Dia dengan sengaja memutar dengan keras, suara Lia yang mengoceh tidak jelas pagi tadi, Evan merekamnya.



"Evan kau gilaaaa" Lia teriak menunjuk Evan, Evan langsung sigap menangkap tangan Lia yang menunjuk dirinya, menggenggamnya dengan kuat, ini... ini yanh Evan inginkan, menggenggam tangan Lia.




__ADS_1



__ADS_2