Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 15_14 Febuari


__ADS_3

***@***


14 febuari yang kata kebanyakan orang adalah hari kasih sayang. Bagiku... Semua hari adalah hari kasih sayang, menebar kebaikan pada siapapun. Aku menyiapkan empat kado, untuk Tante, untuk Alan, untuk Jhuly dan... untuk Aaron. Aaaaa entahlah kenapa akhirnya aku memutuskan memasukkan Aaron pada daftar seseorang yang spesial dihari ini. Biar bagaimanapun dia adalah temanku meski seminggu yang lalu dia bilang tak mengenalku. Mungkin aku harus minta maaf lagi padanya.


"Bintang...," panggil sebuah suara yang sangat ku kenal, aku segera menoleh, Alan. Dia menungguku diluar kelas. Seperti biasa banyak mata yang memperhatikan kami, padahal aku sudah memilih kluar kelas belakangan.


"Aku ada sesuatu untukmu," ucapnya dan langsung menggandeng tanganku. Dia mengajak ku kesebuah tempat dilantai tiga, diantara ruang seni dan kebudayaan. Tempat ini seperti balkon yang luas, dari tempat ini aku bisa melihat kedepan, murid-murid yang berhamburan keluar gerbang dan bahkan halte bis terlihat dari sini.


"Apa kamu pernah kesini seblumnya?" tanya Alan.

__ADS_1


"Belum...," jawab ku menggeleng. "Aku tidak menyangka ada tempat seperti ini disekolah ini."


"Itu karena kamu nggak pernah kemana-mana, hanya kelas perpustakaan dan halte sekolah yang paling kamu hafal," ucapnya yang membuatku tertawa kecil, hhh benar.


"Oh ya... Aku ada sesuatu untukmu," aku menoleh dan menghadap kearahnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Perlahan, dia meraih tangan ku lalu membuka kotak kecil ditangannya. Cincin.. aku tidak menyangka dia akan memberiku ini. Aku diam membiarkannya memakaikan cincin itu dijari manisku. Perasaanku semakin indah... tak henti-hentinyanya bibirku tersenyum.


"Aku juga ada sesuatu untukmu," kataku. Aku segera mengambilkan kado yang sudah ku siapkan dan memberikannya pada Alan, dia menerimanya dan terus menatapku. "Aku tidak ingin merasa lebih mencintaimu hanya hari ini saja, aku ingin setiap hari," ucapku membalas tatapan matanya.


Dia lalu mengelus pipiku dengan lembut, aku menikmatinya, senyum diwajahnya terus mempesonaku. Perlahan wajahnya mendekat kearahku, lebih dekat dan kini sangat dekat. Jantung ku seperti genderng yang ditabuh, aku tidak sanggup bernafas dengan baik. Bahkan kini aku bisa mersakan hembusan nafasnya, aku memejamkan mata... Ku rasakan bibirnya yang sudah sangat dekat dengan bibirku, aku mulai berhenti bernafas.

__ADS_1


Bukk... Buk... BUKKK... aku segera membuka mata, Kulihat Alan memegangi bibirnya yang mengeluarkan darah, ahh tidakk. Aaron memukulnya. Lalu kini berganti Alan yang memukul Aaron, lalu Aaron kembali memukul Alan. bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Mereka saling memukul bergantian, mereka tidak mau mendengarkan ku yang terus berteriak meminta mereka menyudahi perkelahian ini.


Aku sangat panik... Ku lihat Aaron mengepalkan tinjunya... aku segera memeluk Alan, berharap Aaron tidak memukulnya lagi... dan memang benar, kepalan tinju itu tidak jadi dia arahkan pada Alan. Aku masih terus memeluk Alan, aku tidak ingin Aaron menyakitinya tapi lalu Aaron menarik lenganku dengan keras hingga pelukanku terlepas.


"Sekali saja Lo berani ngapa-ngapain dia, Gue bunuh Lo," ucap Aaron mengancam lalu menarik lenganku untuk mengikutinya. Aku mencoba melepaskan tanganku tapi tidak bisa, dia sangat kuat memegangi tanganku dan terus menarikku untuk mengikutinya. Aku menoleh, Alan... dia masih meringis kesakitan memegangi wajahnya, Alan... maafkan aku.


Aaron sangat arogan sekali, kenapa dia memukul Alan?? Aku tidak bisa melawannya, aku hanya bisa menurutinya, mengikuti langkahnya. Genggaman tangannya masih sangat kuat memegangi tanganku, dan ini terasa sedikit sakit di pergelangan tangan ku.


***@***

__ADS_1


__ADS_2