Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 23_Tepi pantai 2


__ADS_3

***@***


"Menurutku, kamu tidak perlu sedih justru kamu harus bersyukur," ucapnya. Aku sedikit menganggat wajahku dan sedikit meliriknya. "Iya... harusnya kamu bersyukur karena Tuhan mengambil Ayahmu lebih cepat jadi kamu tidak harus melihatnya bersama perempuan lain selain Ibumu," lanjutnya. Aku diam, aku tidak ingin berkomentar.


Kini... kita saling diam. Senja tak lagi terlihat, kini yang ada adalah lengkungan rembulan yang seolah tersenyum menyapa. Aaron merebahkan tubuhnya diatas pasir lalu aku mengikutinya.


Suara debur ombak dan sentuhan angin membuat suasana terasa lebih melankolis. Entah berapa menit kita sibuk dengan pikiran masing-masing, menyaksikan bintang-bintang dan senyuman rembulan.


Ku keluarkan Hpku dan memutar lagu melalui earphone, aku memberinya satu. Perlahan lagu Peterpan (Noah) menemani kami.


'Ku menatap langit yang tenang dan tak kan menangisi malam, tuk tetap berdiri, ku melawan hari, ku akan berarti ku takkan mati' Suara Ariel mengalun merdu ditelingaku, sesekali aku menyahutnya.


"Aku suka Noah, lagu-lagunya indah" ucapku. Dia mengangguk. "Entah kenapa suara vocalisnya selalu membuatku suka, selalu merasuk kedalam hati," lanjutku lagi.


"Lebayyy...," sambungnya, aku meninju kecil bahunya.


"Oh iya... bukankah kamu pernah bilang kalau kamu tidak menyukai pantai, lalu kenapa setiap hari kesini?" Tanyaku, dia masih saja memperhatikan langit.


"Bukankah aku juga sudah pernah bilang kalau Mamaku yang suka," jawabnya. Aku mengangguk dan menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Mama selalu bilang bahwa ombak akan bisa menghapus semua kenangan pahit, tapi nyatanya??!" lanjutnya lalu dia diam dan menoleh ke arahku. Sinar rembulan menyoroti wajahnya, aku menikmati tatapannya, sorot mata yang menghujam jantungku. Sesuatu yang indah kembali terasa dihatiku.


"Ombak tidak pernah bisa menghapus kisah sedih," ucapnya dingin dan terdengar sinis. Aku menghadapkan tubuhku, meletakkan tanganku didadanya.


"Disini...," ucapku. "Lupakan semua kesedihan disini. Mulailah memaafkan dan semua akan terhapus perlahan," lanjutku. Dia masih menatapku tajam kemudian perlahan berpaling.


Aku masih terus menikmati wajahnya yang tengah menyaksikan langit malam. Lagu Noah kini sudah berganti, alunan musiknya membuat hatiku semakin mendayu.


'Masihku merasa angkuh,


terbang kan anganku jauh,


langitkan menangkapku,


"Bagai bintang di surga dan seluruh warna


dan kasih yang setia dan cahaya nyata."


Suaranya memecah kebisuan kami, dia tiba-tiba menyahut lagu yang sekarang kita dengarkan, mendengar lagu itu dari bibirnya terdengar lebih indah, berbarengan dengan sebuah rasa yang menyusup ke relung hati.

__ADS_1


"Oh bintang di surga berikan cerita dan kasih yang setia dan cahaya nyata."


Aku masih terus memperhatikannya, aku tidak ingin mengganti posisiku. Dia mengangkat tangan kanannya keatas, membuka lebar telapak tangannya.


"Kamu ngapain Ron?"


"Mencari satu bintang."


Aku memperhatikan gerakan tangannya dengan seksama, telapak tangannya kini tak lagi terbuka lebar tetapi sedikit menutup lalu perlahan jari-jarinya benar-benar menutup, seperti mengenggam sesuatu.


"Apa sudah kau temukan?" tanyaku. Dia mengangguk lalu dengan pelan membawa genggaman tangannya ke arahku.


"Aku telah menemukannya dan aku akan menyimpannya," telapak tangannya kini terbuka dan menyentuh wajahku. "Disini." ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya. Sentuhan tangannya diwajahku terasa lembut. Ini sangat indah dan manis, aku menyukainya. Mata kita bertemu, saling menatap dan tersenyum.


"Ron...,"


"Hmm...,"


"Aku suka kamu yang tertawa dan aku tidak suka kamu yang murung. Jadi, teruslah bahagia Ron," ucapku masih terus menyapa matanya, sinar rembulan membuat wajahnya terlihat sangat tampan. Ku genggam tangannya yang masih berada dipipiku.

__ADS_1


"Kau... tidak berniat mencubit pipiku bukan??" gurauku, dia terkekeh.


***@***


__ADS_2