Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 30_Dia Adikku


__ADS_3

***@***


"Memangnya siapa yang mengasihani Lo? Gue kesini mau nertawain Lo," ucap Alan tak kalah sinis. "Rasanyaa Gue semakin benci sama Lo, Gue benci harus ketemu Lo disini, Gue lebih suka kita duel," ucap Alan lalu dia memegang lenganku, memegangnya dengan sangat kuat hingga lenganku terasa sakit.


"Lihat Ron... Aku bisa menyakitinya kapan saja aku mau," ucapnya sambil mencengkram lenganku lebih kuat. Oughh rasanya sakit sekali hingga membuatku meringis menahan sakit.


"Lihat Ron... lihat baik-baik," ucap Alan lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Apa maksud Alan. Bukankah dia barusan meminta maaf padaku dan menyesal, kenapa sekarang dia begini? Aku mencoba melepaskan cengkramannya dilenganku tapi tidak bisa, dia semakin mendekatkan wajahnya dan kini dia malah memeluk pinggangku, wajahnya semakin dekat, hembusan nafas yang tidak teratur mengenai wajahku.


"Brengsek Lo, Alaaaann.... singkirkan tangan kotor Lo darinya. Berani Lo sakiti dia, Gue bunuh Lo" Aaron memaksa suaranya berteriak, mendengar itu Alan segera melepaskanku dan mendekati Aaron.


"Hahaaaa... Lo lemah kaya' gini mau bunuh Gue?? Lo harus sehat dulu... Baru bunuh Gue," ucap Alan sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi sepertinya bukan tertawa, iya... ternyata dia tidak sedang tertawa tetapi dia mencoba menyembunyikan air matanya, lalu dia segera membalikkan badan, ia membelakangi Aaron


"Gue tunggu ancaman Lo, atau Gue bener-bener menyakiti Bintang," ucap Alan mengancamnya, lalu dia langsung berjalan keluar meninggalkanku dan Aaron.

__ADS_1


Aku mengejarnya... Ternyata dia duduk menunduk dibangku luar. Pelan, aku duduk menjejerinya, aku tahu yang dia rasakan, aku mengerti bagaimana perasaan dia, aku tahu ia terluka.


"Aku adalah Kakak yang paling bodoh," ucapnya, terisak. "Bagaimanapun kisah kita, dia adalah adikku. Mana boleh aku menykitinya?? Dia adalah adikku, adik yang harusnya ku jaga. Seharusnya sebagai kakak, aku harus selalu menjaganya," Alan semakin menunduk dan terisak.


"Jika sesuatu sampai terjadi sama dia... selamanya aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," melihat Alan seperti ini, aku tidak sanggup menahan air mataku, aku ikut menangis bersamanya.


"Bintang...," panggilannya, ia menoleh dan menatapku."Dia adalah adikku... Dia adikku..." ucapnya sangat pilu, aku mengangguk dan mengenggam tangannya, mencoba memberinya kekuatan meski aku sendiri merasa sangat rapuh.


Kemudian, tante Rosa datang menghampiri kami dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Alan segera bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Ibunya.


"Ma... lihatlah anak kesayangan mu itu. Tidak seharusnya dia lemah," Alan semakin terisak di pelukan Ibunya.


"Aku bersedia menggantikan sakitnya Ma...," mereka berpelukan dengan air mata yang terus menglir dari mata keduanya. Banyak cinta disekeliling mu Ron... ku mohon berjuanglah.

__ADS_1


***@***


Pagi hari di sekolah.


"Bin... apa bener gosip yang beredar kalau Aaron tidak sekolah di sini lagi?" Jhuly langsung mendaratkan pertanyaannya ketika aku duduk dibangku, aku menggeleng pelan. "Tidak... atau tidak tahu?" tanyanya lagi, aku menoleh ke arahnya.


"Tidak tahu," jawabku singkat lalu segera berpaling dan menunduk.


"Aku sering memperhatikan mu Bin... akhir-akhir ini setiap pagi matamu bengkak, apa itu ada hubungannya dengan Aaron? Apa kalian ada masalah??" tanyanya lagi tapi aku membiarkannya, aku diam menekuri lantai.


"Oke baiklah... aku tidak akan memaksamu cerita, aku hanya berharap kamu dan Aaron baik-baik saja," ucapnya memegang lenganku, aku mengangkat wajahku dan tersenyum padanya.


"Terima kasih Jhul."

__ADS_1


__ADS_2