Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
jawaban


__ADS_3

"Kau gila Evan, benar-benar gila" suara Lia terdengar gemetar, dia segera mengusap bibirnya.



"Menikahlah denganku Li..." ucap Evan tulus, dia sangat tidak tega melihat Lia begitu susah payah menghidupi dirinya dan Bintang, bekerja sepanjang hari dan pulang dengan wajah yang sangat lelah, dia tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya begitu menderita, Lia menatap Evan.



"Jawabanku dua tahun lalu sudah cukup jelas Evan"



"Kau juga cukup jelas tahu bahwa aku masih menunggumu, kamu mau berapa tahun lagi? Hmm?"



"Evan... Ak..." Lia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Evan kembali menciumnya.



"Kali ini aku tidak menerima penolakan dan alasan apapun"



Evan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Lia keluar dari mobilnya. Lia menunduk dan berjalan keterasnya namun belum sampai tangannya memegang gagang pintu, Evan memeluknya dari belakang, membuat Lia menurunkan tangannya.



"Aku ingin mendengar jawabanmu" Bisik Evan pelan ditelinga Lia. Lia memejamkan mata dan menarik nafasnya. Sebenarnya apa yang dia ragukan dari Evan? Tidak ada, Lia bahkan memutuskan hubungannya dua tahun silam tapi Evan masih tetap teguh pada petasaanya, laki-laki ini yang sedari dulu ada untuknya.



"Aku..."


__ADS_1


"Aku akan menciummu lagi jika kau menolak"



"Kenapa kau mengancamku?"



"Kamu hanya tinggal bilang 'Yess' tidak ada kata lain, tidak ada pilihan lain" Lia melepaskan pelukan Evan, memutar badannya dan menatap Evan.



"N... Yess" Lia menjawab dengan penuh senyum, Cupp... Evan kembali menciumnya


"Heiii... kau melanggar" Lia mendorong Evan, wajahnya memerah. Evan langsung mendekapnya penuh hangat.



"Terimakasih Lily..." bisiknya, Lia membalas pelukan Evan, hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan.




'Hai... gadis kecil, mulai saat ini kau harus memanggilku paman' Bintang langsung terbelalak dan sangat bahagia membaca pesan dari Evan, dia bahkan tak sadar membuang selimutnya kelantai dan melompat-lompat di atas tempat tidur seperti anak kecil, dia merasa sangat bahagia.



'Paman... aku bahagia sekali, selamat Paman' balas Bintang dengan emoticon love.



***@***


__ADS_1


Dua minggu tidak terasa begitu cepat berlalu, ini adalah hari pertama sekolah setelah libur panjang tengah semester. Dan itu artinya mulai saat ini hari-hari Bintang akan sangat sibuk karena harus menpersiapkan diri untuk ujian akhir.



Bintang bangun lebih pagi bahkan sebelum ayam berkokok, menyelesaikan tugasnya membersihkan rumah lalu sarapan dan langsung berangkat ke sekolah. Semangaaat.....



"Bintang..." Jhuli memeluknya setelah dia masuk kelas.



"Hai... gimana liburannya?"



"Seru... seru banget, oh iya aku ada oleh-oleh" Jhuly langsung menarik Bintang ke bangku. Iya hingga kelas tiga mereka satu kelas dan bahkan satu bangku. Jhuly memberinya gelang khas daerah yang dia kunjungi kemarin, gelang itu sama seperti yang dia kenakan.



"SMA sebentar lagi usai" Suara jhuly menjadi sedikit pelan.



"Kita akan jadi sahabat selalu, okey" Bintang merangkul jhuly, jhuly tersenyum tipis.



"Terkadang aku khawatir Bin... sahabat di sekolah lalu kemudian menjadi orang asing setelah lulus sekolah, sangat disayangkan"



"Hmm... aku kurang tahu kalau itu tapi aku akan selalu menjaga petsahabatan ini, berusaha terus memupuknya agar tidak mudah layu" Bintang menatap Jhuli "Dari sekian banyak orang disekolah ini, aku cuma punya kamu, aku bukan murid yang mudah bergaul dan tidak disukai tapi kamu mau berteman denganku, terima kasih jhuly" Lanjut bintang, Jhuly memegang tangannya.


__ADS_1


"Aku lebih suja sedikit sahabat namun tulus dari pada banyak sahabat namun palsu" ucap Jhuly, Bintang tersenyum. kemudian bel masuk berbunyi dan menyidahi obrolan mereka.


__ADS_2