Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 13_Jangan Lakukan Ini Lagi


__ADS_3

***@***


Aku melihatnya dari lantai tiga, ia duduk sendirian di belakang sekolah. Apakah ketika istirahat dia sering disana? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini, atau hanya aku yang tidak menyadarinya. Ku urungkankan niat ku untuk keperpustakaan dan langsung berlari menuruni tangga, berlari menghampirinya. Aaron.


"Hai...," sapa ku. Dia menghentikan tangannya yang tengah asik memainkan Hpnya, ia mengangkat wajahnya dan menatapku.


"Hai...," balasnya singkat dan kembali sibuk dengan Hpnya. Aku langsung duduk di sebelahnya. Diam... selalu saja begitu, ku amati langit biru yang sebagian tertutup awan lalu tiba-tiba aku mengingat sesuatu.


"Apa sepulang sekolah nanti kamu ada latihan band?" tanyaku memulai.


"Kenapa?" ucapnya yang malah balik bertanya padaku. Dia masih sibuk dengan Hpnya.


"Kamu belum menjawabnya, kenapa malah balik bertanya?" protes ku.


"Kenapa?"


"Harusnya jawab dulu dong."


"Kenapa?"


"Aaron...," aku mulai kesal dengannya. Ku ambil hp yang ada ditangannya, lalu ku ketik nomer hp ku.


"Ini nomer Hp ku. Jika nanti sepulang sekolah kamu tidak ada jadwal latihan, temui aku di cafe deket sekolah," kataku sambil mengembalikan Hpnya.


***@***


Aku sudah mengatakan pada Jhuly kalau Aaron akan datang menemuinya siang ini sepulang sekolah. Semoga Aaron tidak mengecewakannya.


"Apa kamu yakin dia akan kesini Bin?" Jhuly mulai ragu, karena Aaron tak kunjung datang.

__ADS_1


"Tenanglah dia pasti akan datang."


"Menurut mu apakah Aaron akan suka dengan kado yang kusiapkan?"


"Hmm, tentu saja." jawabku menenangkannya.


"Oh iya Bi, bukannya kamu bilang ada janji dengan Alan?"


"Astagaa.... iya, aku hampir lupa," ku lihat jam fi pergelangan tangan ku. "Masih sempat sih, aku tungguin kamu dulu deh nggak apa-apa, takut Aaron mengecewakan."


"Huwa... Bintang terbaek, lope-lope deh," Jhuly merangkul ku.


"Eh bentar, ada panggilan masuk. Nomor tak di kenal," aku melirik Jhuly... "Yess...,"


"Kamu dimana Cinderella?" ucap suara disebrang sana.


"Aaron...," bisik ku pelan pada jhuly. Mengetahui kalau Aaron yang sedang telfon, Jhuly segera menata rambutnya dan mempermanis duduknya.


"Hay...," kulambaikan tanganku padanya. Melihat lambaianku dia segera berjalan kearah ku.


"Apa aku terlambat Nona?" tanyanya setelah sampai di depanku.


"Tidak...," jawabku menggeleng. "Sini duduk," Aaron duduk dikursi yang telah kusiapkan.


"Oh iya kenalin...," aku menepuk pundak Jhuly. "Teman sekelas dan sebangkuku, namanya Jhuly," kataku memperkenalkan Jhuly. Aaron menyambutnya hangat.


"Hay...," sapanya pada Jhuly.


"Sebenarnya... dia yang ingin bertemu denganmu," ucapku sambil tersenyum, Aaron menatapku.

__ADS_1


"Heheee iya, dia sangat mengagumimu," jelasku lagi. Aaron masih menatapku, aku menyenggol lengan Jhuly, memintanya ikut menjelaskan pada Aaron. Ku lihat Jhuly yang malah bengong menatap Aaron.


"Jhuly... Jhuly...," panggilku pelan sambil menyenggol lengan Jhuly. Ku lirik Aaron yang masih menatap ku, pandangan matanya beda dari sebelumnya, ada aura yang mencekam.


"Jhuly," Panggilku lagi sambil menginjak kakinya.


"Awww sakit," pekiknya pelan. Aku segera memberinya isyarat untuk menjelaskan pada Aaron.


"Emm maaf Aaron, aku yang menyuruh Bintang mengundangmu kesini," Jhuly mulai membantu ku menjelaskan, Pandangan mata Aaron masih tajam kearahku. 'Ya Gustiii... rasanya menyeramkan' batinku.


"Okey kalau gitu, aku tidak akan mengganggu kalian berdua," Aku segera berdiri. "Sukses ya Jhul," kataku sambil menepuk bahu Jhuly pelan lalu aku pamit pada mereka berdua. Ahh selamat...


***@***


"Ciee yang habis janjian, gimana lancar nggak? Ron itu nggak semenyeramkan yang orang ceritain. Ron sering mukul siswa yang menyinggungnya apa lagi keluarganya, hmm... ku rasa orang-orang seperti itu memang harus dihajar, siapapun tidak akan rela jika keluarga disinggung, benarkan? Kalau aku jadi Ron mungkin bukan hanya menghajar mereka tetapi akan ku racun diam-diam, hahaaa..." cerocos ku setelah duduk dibangku, tapi upss Jhuly diam saja dan wajahnya sangat murung.


"Kenapa?" tanyaku. Jhuly langsung memeluk ku.


"Aku patah hati," ucapnya. Aku mengelus punggungnya dan melepas pelukan.


"Apa yang terjadi setelah aku pergi."


"Tidak terjadi apa-apa, Aaron hanya diam saja dan sesekali memainkan Hpnya. Dia bahkan tak menjawab setiap laki aku bicara, dia seperti orang bisu saja. Hingga akhirnya dia berdiri dan bilang 'Jangan lakukan ini lagi, aku benci' lalu dia pergi begitu saja, hix...," Jhuly kembali memelukku.


"Itu terdengar menyakitkan Bin...,"


"Ya ampun kenapa dia begitu, eh gimana dengan kadomu? Apa dia menerimanya?" mendengar pertanyaanku Jhuly melepaskan pelukannya.


"Mana berani aku memberikan kado yang tidak berharga ini," jawabnya sambil mengeluarkan kotak kado dari dalam laci meja.

__ADS_1


***@***


__ADS_2