Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 42_Tamu Tak Diundang2


__ADS_3

"Kak duduklah, ku ambilkan minum dulu"


"Tidak... tidak, kamu terluka jadi duduk saja disitu" Lia segera menghampiri dan menyuruh Bintang duduk. Lia dengan bergegas kedapur, mulutnya masih komat kamit karena kedatangan tamu yang tak diundang.


"Takdir memang sangat baik" Ucap Evan penuh senyum lalu menaruh kaca matanya diatas meja.


"Em... Kak, apa kakak pacar Tante?" Bintang bertanya dengan berbisik.


"Bukan..." jawab Evan mendekat ke Bintang "Tapi calon suaminya" Lanjutnya, Bintang tersenyum.


"Siapa? Siapa yang mau menikah denganmu, jaga bicaramu Evan" sahut Lia dengan membawa minuman.


"Aku sedang tidak ada lemon saat ini jadi hanya ku buatkan teh hangat dengan sedikit madu" ucap Lia sambil menaruh minuman dimeja, Bintang menahan senyumnya dan melirik Evan yang memperhatikan Lia.


'Bahkan minuman Ka evan aja tante begitu hafal, sepertinya mereka mempunyai hubungan yang unik'


"Terimakasih Lily..." Ucap Evan, pandangannya tak lepas dari Lia.


"Segera minum dan segera pulang"


"Tante... kenapa tante mengusirnya" Bintang berkomentar, Lia segera menoleh dan kembali tersadar bahwa Bintang mempunyai luka. Dia segera berlari kedalam mengambil kotak obat.


"Kak... sepertinya Tanteku sangat memperhatikanmu" Bintang berkomentar lagi setelah Lia kedalam.


"Hahaa... iya aku juga merasa begitu, kamu siap-siap punya paman ya gadis kecil"


"Siipp, Aku mendukung kalian"


"Stt... stt orangnya datang" Evan memberi isyarat pada Bintang. Mereka lalu diam seolah tidak berbicara apapun.


"Sini, mana saja yang luka" Lia memegang lengan Bintang dan membersihkan lukanya.

__ADS_1


"Tante, sepertinya aku bisa melakukannya sendiri, aku bawa kotak obat ini kekamar aja ya" Bintang segera mengambil kotak obat dan berdiri.


"Tidak, Tante akan mengobatimu, duduk diamlah" cegah Lia.


"Aku... sepertinya lebelet pipis Tan. Bye" Bintang lalu segera berjalan cepat meninggalkan mereka berdua, Bintang mengacungkan jempolnya pada Evan.


"Apa kabarmu Li?" tanya Evan memulai setelah Bintang benar-benar menghilang dari hadapan mereka. Dia menatap Lia dengan penuh kehangatan, Lia diam tidak menjawab pertanyaan Evan.


"Sekarang aku menemukanmu kembali, jadi ku mohon jangan menghindariku" ucap Evan, Lia tetap diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya dia sangat merindukan laki-laki didepannya ini tapi dia tidak punya keberanian untuk jujur. Lalu beberapa menit mereka saling diam.


"Sampai kapan kamu berencana tetap duduk disitu?" suara Lia akhirnya keluar, Evan menarik ujung bibirnya, tersenyum melihat Lia yang gelisah.


"Kamu mengusirku?"


"Iya... aku tidak ingin kamu berlama-lama disini"


"Aku tahu kamu bohong"


"Segera pulang atau aku panggil Pak Rt" ancamnya sambil menunjuk Evan, Evan berdiri, memegang telunjuk Lia dan segera menangkap Lia dalam peluknya.


"Kamu mengancamku?" bisiknya, Lia mati-matian berusaha melepaskan pelukan Evan tapi sungguh mustahil, tubuhnya terlalu mungil untuk bisa menang dari Evan.


"Ayolah... kita bukan remaja lagi, kita bicara baik-baik okey"


"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi Evan, aku sudah cukup jelas menjawab semua pertanyaanmu dua tahun lalu" Lia kini berhenti membuang-buang tenaganya untuk melawan Evan.


"Hingga saat ini aku masih menunggumu, kau tahu"


"..."


"Lily... aku tahu alasanmu kenapa tidak memberiku harapan, karena dia bukan? Menikah bukan berarti kamu tidak bisa memperhatikannya lagi, menikah bukan berarti kamu meninggalkannya. Dia sudah remaja sekarang, sebentar lagi dia lulus sekolah kan? Menikahlah denganku Ly... aku akan menghidupi kalian, kalian akan hidup terjamin"

__ADS_1


"Kamu menyombongkan uangmu Evan, apa kamu pikir aku tidak bisa hidup terjamin jika aku tidak menikah denganmu? Aku bisa menghidupi dia dan diriku sendiri tanpa mu."


"Bukan itu yang ku maksud, kau salah paham denganku..."


"Cukup Evan lepaskan aku?"


"Tidak"


"Lepaskan atau aku teriak"


"Teriak saja"


"Kamu membuatku kesulitan bernafas Evan"


"Bohong"


"Agrhh... baiklah kamu menang, peluk aku sepuasmu" Ucap Lia setengah teriak, dia sangat kesal dengan Evan. Evan tersenyum dan sangat puas dengan keputusan Lya.


Beberapa detik mereka terdiam, menikmati detakan jantung yang seolah seirama.


"Aku merindukanmu sayang" bisik Evan ditelinga Lia, Lia sedikit menghindar, bisikan Evan membuat jantungnya semakin berdebar.


"Jangan panggil aku seperti itu, kita sudah putus dua tahun yang lalu"


"Aku tidak pernah menyetujui itu"


"Evan stop membuatku muak" Lia meningggikan suaranya.


"Lily..." suara Evan serius. "Tolong pertimbangkan perasaanku, jangan membuatku mengulangi untuk kesekian kalinya" lanjut Evan dan melepaskan pelukannya, kemudian dia berjalan keluar dan segera pergi mengendarai mobilnya.


Sementara Lia diam seperti terpaku ditempatnya, memegangi jantungnya yang sedari tadi berdetak tak beraturan.

__ADS_1


***@***


__ADS_2