Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 20_Kelinci manis


__ADS_3

***@***


Aku menunggu Aaron di depan cafe, ini adalah satu-satunya caraku untuk menemuinya, rasanya sangat sulit untuk menemukannya saat ini di sekolah. Dia sudah sangat sibuk mengikuti lomba Band.


Aku memang tak begitu lama duduk disini tapi ternyata aku sedikit merasa bosan disini, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Ku keluarkan buku kecil dari tasku dan mulai menggambar sesuatu.


Sejujurnya aku tidak pandai menggambar, ini hanya iseng saja. Coretan ku membentuk seekor kelinci yang sedang menggigit wortel, hahaaa lucu juga, tak puas sampai disitu aku menuliskan nama dibawahnya.


"Lagi ngapain Nona?" sebuah suara mengagetkn ku, suara yang tepat disamping telingaku. Aku segera menghentikan kesibukanku dan segera menoleh. Wajahnya sangat dekat denganku, dengan segera aku kembali berpaling. Dia mengambil buku kecil ditanganku tanpa meminta izin.


"Waw...waw... Bagus sekali," ucapnya melihat gambarku. "Apa ini tulisannya?? Hmm Cinderella jelek," ucapnya lagi yang membuatku berdiri dan merebut paksa buku kecilku, Hhhh apaan itu, nyata-nyata aku nulisnya Aaron jelek. Melihatku cemberut malah semakin membuatnya tertawa.


Seperti itulah dia... sangat menyebalkan.


"Oke... oke baiklah. Cinderella cantik," Ucapnya sambil merangkul pundakku. "Cantiiiik sekali... kau ingin jalan kemana cantik?" mendengar ucapannya aku segera mencubit pinggangnya.


"Astaga Ron, sejak kapan kamu jadi genit begini?" tanyaku. Dia masih terus merangkul pundakku.


"Apanya yang genit, aku hanya bilang kamu cantik."


"Pujianmu membuatku merindiiiing."

__ADS_1


"Dibilang jelek manyun, dibilang cantik malah merinding. Aku harus bagaimana?" dia melirikku kemudian mencubit pipiku.


"Aaauuu...,"


"Dilarang banyak protes Nona" ucapnya. Kemudian, kami berjalan menyusuri jalanan kota, membahas apapun.


Rasanya tak ada habis-habisnya kisah untuk dibagi denganya. Aku bahagia, apalagi jika melihatnya tertawa lepas. Aaron... sepertinya nama mu kini tertulis dihatiku.


***@***


Entah seperti apa dunianya, kelihatannya sangat nyaman. Entah seperti apa dunianya, kelihatannya sangat menyenangkan meski kita yang melihatnya merasa sedih.


Aaron mendekati Ibunya, duduk disampingnya lalu bercerita. Aaron pandai bercerita hingga membuat ibunya diam dan terus menatapnya. Aku yang sedari tadi menyaksikan dari kejauhan tertarik untuk mendekati mereka.


"Pangeran... apa dia adalah Cinderella yang sering kamu ceritakan?" tanya beliau menunjukku, Aaron tersenyum dan mengangguk. Aaron kemudian meraih tangan sebelahku dan mengenggamnya sedang tangannya yang satu menggenggam tangan ibunya.


"Pangeran akhirnya menemukan siapa pemilik sepatu kaca itu, akhirnya mereka saling jatuh cinta, menikah lalu hidup bahagia selamanya," lanjut Aaron menyudahi kisahnya.


****


"Terimakasih untuk hari ini, terimaksih udah menemaniku menjenguk Mama," ucapnya ketika mengantarku pulang, aku tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih udah mau mengajakku menjeguk Ibu mu Ron," jawabku. Dia malah langsung mencubit pipiku.


"Kenapa hobi banget sih cubit pipiku?" protesku sambil mengelus pipiku.


"Kamu tau nggak, jawaban terimakasih itu gimana?? kenapa malah bilang terimakasih lagi??"


"Iyaa... kembali kasih Ron," kataku sambil memamerkan senyum dan kedipan mata.


"Astagaa kelinciku manis sekali...," ucapnya dan kali ini dia mencubit kedua pipiku.


"Aaauuuu," aku sedikit teriak.


"Uhum...," seseorang berdehem, menghentikan Ron yang mencubit pipiku. Kita menoleh ke asal suara. Seorang bapak-bapak yang duduk dibangku sebelah Ron.


"Dasar anak muda jaman sekarang tidak tahu tempat," ucapnya padaku dan Ron. Aku segera memukul bahu Ron, dia yang bikin suasana jadi ribut. Iyaa... sekarang kita sedang berada didalam bus.


"Maafkan saya pak," Aaron menguncupkan kedua telapak tangannya.


"Ahh lupakan... aku hanya mengingat masa mudaku dulu. Melihat kalian, aku jadi baper," ucap bapak-bapak itu yang langsung membuat Ron menyalaminya.


"Salam jiwa muda Pak."

__ADS_1


"Hahaa...," Bapak itu menyambut uluran tangan Ron dan akhirnya mereka malah jadi teman sepanjang perjalanan dan cuekin aku.


***@***


__ADS_2