Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 26_Tanpa Kabar


__ADS_3

***@***


Setelah malam itu, aku tidak lagi pernah menemukannya. Hampir setiap jam aku mencoba menghubunginya tapi yang ada hanya jawaban operator yang bilang bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.


Aku bahkan beberapa kali ke cafe tapi tetap tidak ada dia. Kemana dia?? Apa dia terlalu memikirkan kekalahan itu?? Kenapa harus terlalu memikirkannya, dia sudah malakukan yang terbaik. Atau dia merasa sangat bersalah pada sekolah. Entahlah.


Dia membuatku sangat gelisah, kemana sebenarnya dia. Seperti hari-hari kemarin, sepulang sekolah ini aku mencarinya lagi distudio, berharap ada dia disana tapi ternyata sama seperti yang sudah-sudah aku tetap tidak menemukannya.


"Emmm maaf, aku... sedang mencari Aaron, apa dia datang hari ini?" tanyaku pada teman satu band Aaron.


"Dia udah ngundurin diri," jawabnya. Jawaban yang membuatku kaget.


"Ngundurin diri?" tanyaku tak percaya.


"Iya...," jawabnya. "Final minggu lalu adalah perfom terakhir dia," lanjutnya.

__ADS_1


"Maaf jika boleh tahu, kenapa dia memutuskan keluar dari band," suaraku terasa berat, aku tidak menyangka kalau dia sampai keluar band.


"Tidak ada yang tahu alasannya."


Langkahku terasa gontai, Aaron sama sekali tidak ada kabar dan dia bahkan memutuskan untuk keluar dari band. Dia ini kenapa??


Aku tidak langsung pulang kerumah tetapi aku pergi ke pantai, harapanku masih sama, aku ingin bertemu dengannya. Aku duduk diatas pasir, diam menyaksikan ombak, aku ingin dia tiba-tiba datang lalu duduk disampingku. Rindu ini mulai membuncah, setetes rasa yang ku rasa semakin menjadi dihatiku, tapi hingga senja datang dia tak kunjung menghampiriku bahkan hingga matahari benar-benar tenggelam.


Aku mulai ragu pada harapanku, ku pikir dia tidak akan kesini menemuiku.


*****


Malam ini aku kembali mencarinya di cafe semoga malam ini ada dia. Aku menunggunya dengan cemas, berharap dia akan naik keatas panggung dan melambaikan tangannya padaku, tapi... ternyata sama seperti kemarin. Tak kutemukan dia, aku kecewa. Dia bahkan sama sekli tidak memberiku kabar apapun. Kemana dia? Kenapa dia?


"Bintang...," Erfan menghampiriku. Kenapa dari kemren tidak terpikirkan olehku, seharusnya aku bertanya saja sama dia.

__ADS_1


"Erfan... apa Ron sudah tidak menyanyi disini lagi?" tanyaku. Dia lalu menggeser tempat duduk dan duduk di depanku.


"Iya...," jawabnya. Aku menghela nafas, kecewa dengan jawaban Erfan. Jika dia tidak disini lagi lalu harus kemana aku mencarinya. "Tiga minggu yang lalu," ohh tiga minggu yang lalu?? ditiga minggu yang lalu itu juga aku tak menemukannya.


"Apa kamu tau dia kemana Erfan?"


"Dia balik kerumah orangtuanya," Jawab Erfan yang memberi sedikit senyum dibibirku, itu berarti dia baik-baik saja dan syukurlah itu berarti hubungan dengan Papanya sudah membaik.


"Hmmm gitu ya. Ok makasih ya untuk infonya Erfan, Aku tidak bolak balik kesini. Kau tahu Erfan... tiga minggu ini aku seperti orang gila karena mencarinya. Aku takut dia kenapa-napa, dia bahkan tidak memberitahu aku apapun dan aku tidak bisa menghubungi nomernya. Tapi aku bersyukur dia telah kembali kerumah," kataku dan segera pamit padanya.


"Ah Bintang...," dia menghentikanku.


"Ada yang dia titipkan padamu," ucapnya sambil menyerahkan sesuatu. Handycame. Aku menerimanya... Handycame ini, dulu yang dia pakain untuk mengabadikan pertemuanku dengan Noah.


"Terimakasih," ucapku dan kembali pamit.

__ADS_1


***@***


__ADS_2