
***@***
Ujian sudah dimulai tiga hari ini, aku selalu membawa buku-buku kerumah sakit dan pastinya akan mudah belajar karena ada Ron yang dengan otak cerdasnya mengajariku.
_Sepulang sekolah.
Aku turun dari bus dan segera menyebrang jalan, melangkah pasti dengan tas sekolah yang masih ku gendong di punggung, aku juga membawa beberapa cake dan cemilan.
"Ron...," kataku setengah teriak dengan ceria setelah membuka pintu. Namun, dadaku terasa sesak seketika. Ruangan ini bersih, aku segera berlari membuka kamar mandi, tak ada Aaron. Aku mencoba menghubungi Hpnya tapi sedang dialihkan begitu juga dengan Hp Alan.
Kemudian aku segera berlari ke taman berharap ada dia disana, sama, tidak ada Aaron, lalu berlari mengelilingi seluruh rumah sakit, tetap tak ku temukan dia.
__ADS_1
Aku tidak ingin mendengar kabar yang tidak ingin ku dengar tapi aku tidak tahu lagi harus mencarinya kemana dan pilihan terakhirku adalah bertanya pada resepsionis. Dengan gemetar dan nafas yang tidak teratur aku berdiri didepan resepsionis, menanyakan pasien atas nama Aaron Hemiyas.
Aku mendapat jawaban yang langsung menetralkan pikiranku, memperlancar detakan jantungku dan sedikit bernafas lega. Aaron dibawa ke luar negri oleh keluarganya dini hari tadi. Resepsionis menolak mengatakan tepatnya dimana atas permintaan keluarga.
Meskipun aku tidak boleh tahu keberadaannya tapi aku sangat lega, dia terbang ke luar negri itu berarti kondisinya membaik dan ku harap dia akan baik-baik saja dan benar-benar sembuh.
Dia menitipkan sepucuk surat pada petugas, aku tersenyum menerima ini lalu membawanya ke pantai. Duduk diatas pasir dan membiarkan kakiku disapu ombak. Perlahan membuka suratnya.
"Hai Cinderella jelek tapi sedikit manis" Awalan surat yang membuat bibirku tersenyum.
"Bintang... aku sangat beruntung dan sangat bahagia bertemu denganmu dan aku minta maaf jika aku mengecewakanmu. Aku tidak tahu kapan ini berakhir, lima tahun, delapan tahun atau bahkan sepuluh tahun.
__ADS_1
Bintang... aku tidak memintamu untuk menungguku, aku juga tidak memintamu untuk mengingatku karena aku tahu, menungguku hanya akan membuang masa muda mu yang indah dengan percuma. Kebersamaan kita yang singkat... anggap saja seperti senja yang menyapamu, senja yang menyapa namun perlahan menghilang.
Bintang... sekali lagi ku bilang, aku tidak memintamu untuk menungguku dan aku tidak berharap kamu menungguku. Temukan laki-laki yang bisa menggetarkan hatimu lalu tertawa bersamanya dan hiduplah bahagia"
Aku meremas surat Aaron, aku benci padanya. Segera ku hapus air mataku, aku tidak ingin menangis untuknya, tidak... aku tidak boleh menangis untuknya. Aku benci dia. Kenapa... kenapa aku tidak boleh menunggunya? Kenapa dia tidak ingin aku mengingatnya? Kenapa dia malah ingin aku menemukan laki-laki lain dan hidup bahagia. Kenapa... kenapa dia begitu kejam.
Kau bilang kebersamaan kita seperti senja... iya lihatlah Ron, saat ini senja menyapaku, kau tau... senja memang hanya hadir sesaat dan tidak lama tapi dia selalu hadir setiap hari dan memberikan keindahan pada seseorang yang menunggu matahari tenggelam lalu kamu bagian senja yang mana?? kamu benar-benar egois Ron.
Aku berdiri dan melempar surat Aaron dengan sekuat tenagaku.
Baiklah Ron jika ini kemauanmu... tidak menunggumu, tidak mengingatmu, baik... aku akan benar-benar melupakanmu Ron.
__ADS_1
"Aarooooon aku benci kamu," teriak ku sekencang-kencangnya dan segera menghapus air mataku yang perlahan kembali menetes, tapi semakin aku berusaha menahannya dada ini semakin terasa sesak, aku menangis sejadi-jadinya.
***@****