Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 27_Rekaman Vidio


__ADS_3

***@***


Apapun yang terjadi dengannya aku selalu berharap yang terbaik untuknya. Aku turut bahagia karena akhirnya dia mau pulang kerumahnya lagi, bahagia karena akhirnya luka dihatinya perlahan memudar dan berdamai pada keadaan.


Aku tidak segera pulang tetapi aku duduk di bangku trotoar. Ku hirup angin malam dalam-dalam, membiarkannya sejenak sebelum akhirnya menghembuskannya kembali.


Ini baru tiga minggu dan aku sangat merindukannya, aku memaksakan senyum diujung dibibirku, bagaimana jika dia tidak menemuiku lagi? Bagaimana jika hanya aku saja yang merasakan rindu ini.


Perlahan ku buka handycame di tanganku. Mungkin ini sebagai obat rindu tiga minggu dia tidak pernah menemuiku. Pelan namun pasti handycame ini mulai memperlihatkan vidio Aaron.


Vidio pertama adalah dia yang tengah memegang botol kecil berisi suratku untuk ayah, mataku langsung terbuka lebar melihat ini. Dia terlihat senyum jahil memamerkan botol yang dia pegang. Dengan perasaan malu aku tetap menonton vidionya.


"Kau sangat lucu sekali, hahaaa. Ah kamu bukan cuma lucu tapi juga sangat bodoh."


ucapnya sambil tertawa dengan puas. Membuatku mengerucutkan bibir melihat tingkahnya.


"Oh maaf jika aku tertawa." ucapnya lagi diakhir vidio bagian pertama.


Lalu next, vidio berganti lokasi, di pantai, sebuah suasana pantai di sore hari, matahari masih lumayan terik kemudian kameranya mengarah pada sosok yang tengah berdiri dibibir pantai. Aishh tidak... itu aku. Ini sangat membuatku malu, andai saja dia ada disini saat ini maka aku akan segera memukul bahunya dengan keras.


'Aku menunggumu membuang botol kecilmu" ucapnya berbisik, aku semakin gemas melihat tingkahnya.


Lalu next, dia disebuah kamar dan dedepannya ada beberapa botol suratku, wajahnya penuh senyum dan menatap serius pada kamera.


"Aku tidak lagi menganggapmu lucu apalagi bodoh. Kamu itu unik, kamu bisa menyukai sesuatu yang dulu kamu benci dan bahkan kamu bisa berteman dengannya. Ombak"

__ADS_1


Mendengar ucapannya kali ini bibirku mulai tersenyum.


Lalu next, dia ada dibelakang sekolah.


"Pertama kalinya bertemu denganmu, benar-benar bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Kamu yang salah menyatakan cintamu. Sejujurnya... apa kamu tahu... bahwa aku sudah lama memperhatikanmu heheee. Ternyata yang kamu sukai adalah Alan, dia?? apa bagusnya dia? Aku bahkan sangat membencinya"


Aku ingat kejadian itu, ketika aku salah menyatakan cinta padanya.


Lalu next, dia sedang bernyanyi dipanggung cafe, dia bernyanyi dengan sempurna dan sesekali tersenyum ke arah kamera.


"Hei... gadis segeralah datang aku menunggumu"


ucapnya setelah menyelesaikan lagunya, dari tanggalnya ini diambil ketika dia mengajakku janjian dicafe sebagai ucapan terima kasih.


Lalu next


Senyumku semakin mengembang mendengar ucapannya.


Lalu next, dia berada disebuah kamar.


"Aku tahu Alan sengaja melakukan itu, membawamu ke cafe dan kalian jadian disana, tepat didepanku. Sakit?? Aku tidak tahu apa namanya, tak apa... aku hanya berharap Alan selalu membuatmu bahagia, tapi... ketika kamu malah menemuiku setelah itu dan kita berlari sekali lagi, rasanya aku tidak ingin melepaskan genggaman tanganku, aku ingin bersamamu, Cinderella."


Aku menghentikan vidionya lalu memperhatikan kesekeliling, ini adalah bangku dimalam itu. Melihat ini membuatku berfikir bahwa memang dia telah menyiapkan vidio ini sedemikian rupa.


Aku melanjutkan melihat vidionya lagi, vidio kali ini memperlihatkan pelipisnya yang telah diplester dan ujung bibirnya yang terluka.

__ADS_1


"Maaf tadi aku memukulnya" ucapnya singkat. Aku menghela nafas panjang. Lalu next, dia berada di pantai.


"Untuk kali ini aku merasakan takut, aku ingin selalu melindungi mu"


ucapnya dengan mimik muka yang serius, ekspresi wajah yang sangat rumit, aku mengerutkan kening. Lalu next.


"Aku bahagia akhirnya kamu putus dengan Alan, aku bahkan melihat kamu menamparnya hahaaaa terima kasih sudah mewakiliku" ucapnya dengan tawa yang puas. Ah dasar ternyata dia mengetahui itu. Lalu next.


"Bintang..." ucapnya memanggil namaku dan memamerkan senyum malu yang tak pernah ku lihat sebelumnya.


"Ah aku hampir tidak sanggup menyebut namamu. Namamu kenapa begitu indah hingga membuatku kesulitan menyebutnya dibibirku, aku lebih senang menyebut namamu dalam hatiku hahaa lucu sekali karena ketika aku menyebut namamu rasanya jantungku ingin meledak,"


mendengar ucapannya membuat pipiku memerah, andai dia disini mungkin dia akan segera mencubitnya.


Lalu next


"Menciummu membuatku sangat tenang. Tapi... ketakutanku semakin bertambah, aku semakin takut menghadapinya. Aku ingin selalu bersamamu, kita akan tertawa dan menari bersama ditengah hujan dimalam hari"


Mendengar ucapannya hatiku menjadi tidak tenang, aku merasa ada yang aneh dengan ucapannya.


Lalu next


"Aku bahagia karena akhirnya aku bisa mempertemukan mu dengan idolamu' senyumnya mengembang tapi aku merasa tidak tenang.


"Aku... aku benar-benar takut," ucapnya pilu dengan mimik muka yang begitu sedih lalu yang terlihat adalah air matanya yang perlahan menetes, dia mencoba menahannya tetapi air mata itu malah semakin membuatnya terisak dan dengan segera dia menyudahi vidionya.

__ADS_1


Hatiku semakin tidak tenang, sangat tidak karuan, cemas, bingung, sedih semua bercampur. Next, next, next... tidak ada vidio lagi, aku terus memencetnya berharap ada sebuah vidio lagi tapi ternyata itu adalah yang terakhir.


***@***


__ADS_2