
**@***
Malam hari dikamar Bintang.
Lia mengintrogasi Bintang bagaimana dia bisa bertemu Evan dan sampai mengantarnya pulang. Bintang dengan sangat bersemangat menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Evan dan insiden tadi pagi.
"Kasihan sekali keponakan Tante... diomelin habis-habisan ama ibu-ibu"
"Untung saja Kak evan dateng Tan"
"Udah jangan ceritakan dia lagi" potong Lia yang membuat bintang malah semakin bersemangat menceritakan Evan.
"Oh iya... ada yang lupa, Tante tau nggak berapa nominal yang Kak evan berikan pada ibu-ibu itu?" Bintang melirik Tantenya yang tengah sibuk menggunakan Hpnya.
"Lima puluh juta rupiah" ucap Bintang dengan menekankan kata 'Lima puluh juta', seperti yang dia duga, Lia segera menoleh kearahnya.
"Appa??" Tanyanya tidak percaya, Bintang mengangguk meyakinkan Lia.
"Bukankah katamu motornya nggak parah dan itupun motor matic yang harganya tidak sampai segitukan?" Lia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bintang, Bintang kembali mengangguk membenarkan Lia.
"Si Evan gila..." teriaknya "Bagaimana bisa dia memberi ganti rugi sebanyak itu, dia benar-benar gila, kenapa dia membuatmu berhutang padanya sebanyak itu"
"Tapi kata Kak evan, dia nggak berniat memintaku menggantinya Tan..."
"Ya udah berarti tidak usah ganti, itu lebih baik dari pada harus berurusan dengan dia lagi" Lia kembali memperhatikan Hpnya.
__ADS_1
"Tante punya nomor telfon Kak evan nggak?" Tanya Bintang pelan yang langsung membuat Lia menatapnya tajam.
"Jangan macam-macam, aku tidak mengizinkan kamu bertemu dengan dia lagi"
"Aku akan membayar ganti rugi itu dengan mencicilnya"
"Dari mana kamu mendapatkan duit?"
"Aku akan bekerja selama liburan ini"
"Tidak, Tante tidak setuju. Liburan ya liburan.
"Tidak boleh membantah" suara Lia tinggi dan melolot kearah Bintang.
"Biaklah" jawab bintang sambil menarik selimutnya dan segera memejamkan mata.
Pagi hari bintang bangun lebih pagi, dia segera memegang gagang sapu dan segera memasang earphone ditelinganya kemudian dengan bernyanyi dia menyapu penuh semangat. Lalu matanya melihat sesuatu yang tergeletak diatas meja, dia segera mengambilnya dan segera berlari kedapur.
"Tante... kaca mata Kak evan ketinggalan" Bintang me jejeri Lia yang tengah mengoles mentega.
__ADS_1
"Biarkan saja, dia bisa beli lagi" jawab Lia acuh tak acuh tanpa menghentikan tangannya yang sekarang siap memanggang roti, Bintang melangkah lebih dekat dan berbisik.
"Bagaimana jika dia datang kesini lagi untuk mengambil ini?" Lia berhenti sebentar dari kesibukannya, menarik nafasnya panjang.
"Ok kembalikan"
"Tapi aku tidak punya nomor telfinnya Tan..."
"Nanti ku kirim keHpmu" Yess Bintang berhasil.
Jam 10 pagi Bintang menerima kontak Evan diHpnya, dia mengirim pesan pada Evan segera setelah dia menerima kontak. Tak butuh waktu lama untuk mendapat balasan dari Evan.
"Mau ku jemput?" balas Evan setelah Bintang bilang ingin bertemu.
"Tidak usah Kak, Kakak bilang saja tempatnya nanti aku kesana" balas Bintang, dan deal tempat yang diminta Evan tidak jauh dari rumahnya.
Jam dua belas kurang sepuluh menit Bintang berdiri menunggu Evan, Evan bilang jika dia akan menemuinya jam dua belas. Bintang tahu kalau itu adalah jam istirahat.
Tak lupa bintang membawa earphonenya, mendengarkan musik adalah kegemarannya, bagi dia musik sudah menjadi teman baginya. Bintang lalu duduk dan memutar lagu diHpnya. Dia mulai mengikuti dan menyahut lagu yang diputar melalui earphonenya, sesekali juga kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama lagu, Hingga lagu 'Bintang Disurga' menghampiri telinganya, Bintang langsung mematung, menghentikan suaranya, menghentikan kepalanya, menghentikan pandangannya, bahkan kini detak jantungnya terasa melambat, sesuatu yang perih kembali terasa dihatinya.
'Bagai bintang disurga dan seluruh warna dan kasih yang setia dan cahaya nyata, oh bintang disurga berikan cerita dan kasih yang setia dan cahaya nyata'
Dalam pendengaran dan fikirannya bukanlah suara sang Vocalis tetapi suara Aaron.
__ADS_1
Kebersamaan mereka teringat kembali, senyum dan pandangan mata Aaron menyapa kembali. Bintang menunduk.
"Ron... kamu baik-baik kan disana? Aku... merindukanmu"