
***@***
Fikiran ku menjadi tidak fokus, aku terus saja memikirkan keadaan Aaron, fikiranku tidak bisa lepas darinya. Aku takut dia kenapa-napa. Entah ada apa denganku, aku merasa sangat ketakutan. Aku mencoba memejamkan mata dan memeluk guling tapi yang ada malah bayangan Aaron yang pingsan kehujanan dimalam itu, aku segera kembali membuka mataku, berdiri dan membuka jendela kamar. Angin malam yang lembut dengan segera menyambutku, membelai rambutku.
Kenapa aku begini, kenapa aku teramat khawatir padanya, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Sebuah perasaan yang membuatku takut kehilangan.
Ku lirik jam yang menggantung di dinding kamarku, pukul 21.54 tanpa pikir panjang aku segera menyambar switerku, aku ingin bertemu dengannya.
"Tante... aku keluar sebentar," teriakku sambil memakai sandal.
"Hati-hati sayang," balas Tante teriak.
****
Aku telah sampai di Cafe20, duduk diantara pengunjung.
"Selamat menikmati Bintang...," ucap Erfan setelah menaruh minumanku.
"Terima kasih Erfan," jawabku.
Aaron... ku lihat dia yang tengah bernyanyi, ku lambaikan tangan memberi tahu keberadaanku, dia melempar senyum ke arahku dan membalas lambaian ku.
Aaron... rasanya aku sangat lega dan bahagia bisa melihatnya sekarang, suaranya sangat merdu bahkan kini seperti masuk kedalam hatiku, menyejukkan jiwaku, ada apa ini? Sesuatu yang indah namun tak teraba. Entah berapa kali jantung ini berdetak ketika bersama Alan tapi detakannya terasa jauh berbeda ketika aku melihat Aaron sekarang.
"Hai...," sapanya menghampiriku dan duduk didepanku setelah menyelesaikan lagunya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku langsung. Dia mengerutkan kening.
"Hhh? pertanyaan aneh. Memangnya kapan aku tidak baik-baik saja?" jawabnya. Ah sudahlah, aku sudah menduganya, dia pasti tidak akan menjawab serius, lupakan saja, aku tidak mau menanyakannya lagi.
__ADS_1
"Emm Ron...," aku mengaduk minumanku, aku menjadi sangat tidak fokus sekarang. Aaron ada di dekatku, jantungku semakin tidak karuan.
"Emm apa?" ucapnya. Mendengar suaranya kenapa sekarang begitu membuatku bergetar, hati ini... entah seperti apa saat ini.
"Ron, aku minta maaf," ucapku dengan masih terus mengaduk minumanku, aku tidak berani menatapnya. Pletak... Aaron menjitak kepalaku "Aww...," pekikku pelan sambil mengelus kepalaku.
"Apa yang membuatmu minta maaf padaku?"
"Aku...," astaga... ada apa denganku ini, kenapa bicara saja begitu grogi, kenapa bicara saja begitu deg-degan.
"Sampai kapan mau mengaduk minumanmu?" tangan Aaron memegang tanganku, menghentikan ku yang terus mengaduk minuman. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku begitu grogi, apa lagi ditambah tangan Aaron yang sekarang memegang tanganku.
"Ron... hari itu aku tidak bermaksud bicara seperti itu padamu," ucapku.
"Apa??"
"Apa?"
"Aku tidak bermaksud...,"
"Aku tidak bisa mendengar ucapanmu dengan jelas, karena kamu terus saja menyembunyikan wajahmu," potongnya, tangannya masih memegang tanganku. Aku menghela nafas panjang dan perlahan mengangkat wajahku. Senyumnya langsung menyambutku, mata kita langsung bertemu. Entah berapa kali mata ini tak berkedip ketika bersama Alan tapi pandangan ini begitu lebih indah, melihat Aaron yang berkilauan. Aku kenapa??
"Ron...," Panggilku, sekarang bahkan menyebut namanya saja begitu terasa indah dibibirku.
"Hmm," jawabnya sangat singkat.
"Hari itu... aku tidak bermaksud bicara seperti itu padamu," ucapku. Dia tersenyum.
"Aku tahu, aku juga pernah mengatakan hal yang sama padamu, aku minta maaf."
__ADS_1
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf??"
"Karena aku yang pertama bilang tidak mengenalmu."
"Berarti kita satu sama ya...,'
"Hmm kosong... kosong," ucapnya sambil menarik tangannya. "Ku harap kita tidak bicara hal-hal yang bodoh lagi," lanjutnya, aku mengangguk.
"Baiklah..." jawabku. "Oh iya... aku ada sesuatu untukmu," aku segera membuka tas dan mengeluarkan kado yang dulu ingin ku berikan padanya "Ini..."
"Waww... apa ini??" komentarnya setelah menerima kadoku "Bentar-bentar... aku nggak lagi ulang tahun lho"
"Heheee, sebenarnya kado itu ingin ku berikan padamu pas 14febuari kemarin" jelasku, dia mengangguk-angguk.
"Aku buka ya..." Ucapnya lalu dia membuka kado yang sudah ada ditangannya "Waww topi... Terima kasih Cinderella" Ucapnya
"Waktu dicafe deket sekolah itu, aku melihatmu memakai topi dan itu keren banget" kataku menjelaskan kenapa aku memberinya topi.
"Oh ya..." ucapnya dan langsung memakai topi yang ku beri.
"Sekarang bagaimana??" ucapnya, aku bertepuk tangan.
"Kereeen... aku sukaaa" ucapku, dia tersenyum.
"Suka??" tanyanya dan mendekatkan wajahnya "Kamu bikin aku salah paham lho"
"Bukan, bukan itu maksudku" aku segera menggeleng.
***@***
__ADS_1