
***@***
Aku duduk menunggunya di Cafe20, dia bernyanyi dengan penuh senyum, tak jarang dia melambaikan tangan padaku. Aku hanya bisa menemuinya dimalam hari seperti sekarang ini, dia sibuk latihan apa lagi besok adalah final lomba band, menyisakan sekolah kita dan sekolah terfaforid di Ibu kota.
Dia pasti sangat lelah, harus latihan lalu harus bernyanyi disini. Setelah menyelesaikan lagunya kemudian dia menghampiriku dan seperti biasa kita jalan menyusuri jalanan kota dimalam hari. Kita duduk ditaman kota.
"Tunggu disini sebentar," ucapnya dan langsung berlari meninggalkanku tapi tak lama dia segera kembali dan membawa dua ice cream.
"Makasih...," ucapku setelah menerima ice cream darinya, kemudian, dia duduk di sebelahku. Beberapa menit kita hanya diam menikmati ice cream.
"Alan... Adalah anak dari perempun yang dibawa pulng oleh Papaku," ucapnya tiba-tiba diantara kebisuan kami, ucapan yang membuatku sangat kaget dan segera menghentikan suapan ice creamku. Aku segera menoleh kearahnya. Alan?? Alan adalah anak dari perempuan yang dibawa pulang oleh ayahnya. Berarti....
"Kata Papaku... Alan adalah anak kandungnya," ucapnya lagi menlanjutkan. Alan dan Aaron... Berarti meraka saudara??
"Bulsyittt... Persetan dengan pengakuannya. Karena pengakuan itu yang membuat Mamaku shock. Laki-laki yang begitu dia percaya ternyata menyembunyikan sesuatu yang membuatnya merasa teramat sakit."
Aku tidak tahu harus berkomentar apa, aku hanya diam dan mungkin itu yang terbaik. Aku takut ucapanku salah dan malah akan menyakitinya. Diam, aku memilih menghabiskan sisa ice creamku.
Aku tidak menyangka jika mereka adalah saudara dari ayah yang sama, kata-kata Alan kembali muncul difikiranku...
'Aku tahu dari awal Aaron menyukaimu makanya aku sangat tertarik untuk memilikimu. Paling tidak aku sudah berhasil menyakitinya' ahh kata-kata Alan itu... Tapi kenapa dia begitu, kenapa dia merasa bahagia menyakiti Aaron? Kenapa dia merasa bahagia menyakiti saudaranya sendiri?
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan masih berkeliaran dikepalaku ketika tiba-tiba Aaron memegang pipiku dan diarahkan untuk memandangnya.
Mata itu, pandagan matanya... indah, tak lagi hanya menyusup dihatiku tetapi sudah tertanam disana. Dari pipi, tangannya lalu perlahan berpindah dibibirku, mengusapnya lembut.... Jantungku, hatiku, fikiranku, semuanya tak bisa ku mengerti. Aku terus menatapnya.
"Cara makan ice cream mu sangat kampungan, seperti anak kecil, belepotan." ucapnya sadis, sambil menyudahi usapan jarinya dibibirku. Ahhhhh.... Aku meliriknya yang tersenyum geli.
'Aarooooonn' teriakku dalam hati.
****
Kita jalan beriringan menuju jalan pulang, dia lebih banyak diam dan sesekali menyanyi.
"Semoga besok acaranya lancar ya... dan semoga menang," ucapku dan hanya dijawab dengan anggukan olehnya.
Ahhh tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras tidak hanya sekedar gerimis, Aaron segera menarikku dan mengajakku berlari. Ku tengadahkan kepalaku, air hujan mengenai wajahku, aku suka ini... Air hujan yang terkena sinar cahaya lampu dimalam hari. Aku segera menghentikan langkah dan menarik tanganku dari genggaman Aaron, kulihat dia juga berhenti dan menoleh kearahku.
"Wawww.... Ini indah sekali..." ucapku sambil menengadahkan telapak tanganku dibawah sinar, air hujan dengan segera memenuhi telapak tanganku...lalu dangan segera pula kucipratkan air itu diwajah Aaron, dia tidak bereaksi, dia hanya diam dan memperhatikanku.
"Huuuuhhh... aku menyukai ini...," aku melompat lalu berputar-putar seperti anak kecil yang melompat dan menari bersama hujan. Aku hanya terlalu bahagia, bersamanya membuatku sangat bahagia, tidak perduli bahwa dia pacarku atau bukan, asalkan dia selalu bisa tertawa bersamaku, aku sudah cukup bahagia.
Aku segera menarik tangannya, mengajakknya berputar dibawah guyuran hujan yang disorot oleh lampu. Dia mulai mengikutiku, mengikuti gerakanku, berputar-putar.
__ADS_1
Ron... lupakanlah semua yang membuatmu terluka, saat ini atau masa lalumu. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum dan bahagia seperti sekarang ini.
Melihatnya begitu bahagia aku menghentikan langkah berputarku lalu segera memeluknya, nyaman, dia pun segera membalas pelukanku. Ini, kali kedua Aku bisa mendengar detak jantungnya yang memompa cepat.
"Waww... seru sekali," ucapnya sambil mempererat pelukannya. Lalu... Plok plok plok plok... suara tepuk tangan yang bergemuruh. Aku segera melepaskan pelukan dan berdiri dengan tegak, begitu juga dia. Haduuhh ternyata ada banyak mata yang memperhatikan kami, orang-orang yang berteduh dipinggiran. Aku segera menyembunyikan wajahku dan tersenyum malu, kemudian dengan segera aku menarik tangan Aaron untuk kembali berlari. Aaron mengikutiku... Sekarang bukan Aaron yang didepan tetapi aku. 'Aku bahagia, sangat bahagiaaa....' Teriakku dalam hati.
***
"Cepatlah masuk Cinderella, sudah larut malam. Segeralah mengganti bajumu, jangan sampai terkena flu," ucap Aaron setelah sampai di depan rumah, aku mengangguk. "Bye...," ucapnya lagi sambil mengusap rambutku yang basah lalu dia berpaling dan melangkah pergi.
"Ron...," panggilku menahannya. Ia segera menghentikan langkahnya, aku menatap punggungnya, menarik nafas panjang dan melangkah menghampirinya, berdiri tepat dibelakangnya. "Ron... aku tidak tahu harus dari mana memulainya," ucapku hati-hati. "Bersamamu membuatku sangat bahagia," lanjutku.
"Ron... aku... mencint...," belum sempurna kalimat yang ingin ku sampaikan padanya tiba-tiba dia berbalik, memeluk pinggangku dan mencium bibirku, sentuhan bibirnya sangat hangat namun selembut ice cream.
Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku sekarang, ku pejamkan mataku. Rasanya perasaanku lebih indah dari lukisan senja diatas laut, rasanya... perasaanku lebih menderu dari pada ombak di pantai dan kini perasaanku lebih sejuk dari embun pagi.
"Bintang...," Ucapnya sambil menatap mataku, dia mengenggam tanganku. Mendengar dia menyebut namaku rasanya terdengar sangat indah, ku pikir ini adalah pertama kalinya dia menyebut namaku
"Aku mencintaimu," lanjutnya, aku tersenyum dan langsung memeluknya. "Akulah yang harus mengucapkan itu untuk pertama kali," dia membalas pelukanku, aku mengangguk dalam pelukannya.
Ibu... aku jatuh cinta, rasanya teramat indah. Ayah... dia cowok yang baik dan manis, dia selalu membuatku bisa tersenyum, aku yakin Ayah pasti akan menyukainya.
__ADS_1
***@***