
"Aaron telah kembali," Bintang mengulangi ucapannya. Lia menggeleng, kemudian ia duduk di sebelah Bintang. Dia memegangi kepalanya. Aaron telah kembali... tapi saat ini Bintang sudah bersama Keenan. Entahlah... ia menghela nafas panjang.
"Kita bahas nanti, kita sarapan dulu," Lia berdiri dan segera memanggil suami dan putranya.
Mendengar kabar dari Bintang, Lia menjadi tidak bernafsu untuk sarapan. Dia hanya mengunyah beberapa sendok dalam diam, begitu juga dengan Bintang.
Setelah selesai sarapan, Bintang dan Keenan keluar terlebih dulu, sementara Evan menahan Lia.
"Kau kenapa sayang?" Evan memegang pergelangan tangan Lia.
"Ish..." Lia menatapnya dengan gemas. "Kenapa kau begitu peka," Lia langsung bergelayut di lengan Evan.
"Apa ada hubungannya dengan Bintang?" tanya Evan. Lia mengangguk. "Boleh aku tahu kenapa?"
Lia menarik suaminya ke ruang keluarga, kemudian ia menceritakan tentang Aaron.
"Jadi sekarang dia kembali?" tanya Evan, dia menatap Lia dengan wajah ditekuk. "Huff, aku menjadi sangat cemburu padanya karena istri ku langsung menghilangkan senyumnya setelah dia kembali."
"Hei, kau jangan ngarang," Lia langsung menggelikitik Evan tanpa ampun, hingga Evan kewalahan memegangi tangannya. "Aku serius Pap," Lia berhenti dan menatap suaminya dengan serius. Evan menyunggingkan bibirnya dan merangkul Lia dengan perhatian.
"Sayang, apa kau ingat. Kau juga pernah meninggalkan ku dengan alasan yang menurutku egois namun akhirnya aku mengerti bahwa disitulah letak cinta mu. Kau hanya ingin aku memiliki pilihan dari pada menunggu sesuatu yang tidak tahu kapan akan kau berikan. Dan aku punya dua pilihan, mencari pengganti mu atau terus menunggu mu."
"Itu cuma dua tahun...," potong Lia. Evan segera mengecup bibir istrinya agar diam.
"Apa kau pikir aku tidak sanggup menunggu mu selama delapan tahun? Hhh?" Evan menatap Lia.
"Masalahnya tidak se-simpel itu Pap. Aaron kembali ketika Bintang telah bersama Keenan. Keenan mencintai dia dengan tulus, dia yang selama ini ada untuk Bintang."
"Bagaimana perasaan Bintang pada Aaron sekarang?" tanya Evan.
__ADS_1
Lia menggeleng, "Entahlah," jawabnya.
"Biarkan dia memilih siapa yang ada di hati terdalamnya. Keenan atau Aaron... dia sendiri yang lebih tahu."
"Bagaimana jika dia memilih Aaron?"
"Berarti putuskan Keenan."
"Tapi... bagaimana dengan keluarga Keenan?"
"Bintang harus menikah dengan orang yang dia cintai. Itu saja, selebihnya abaikan," ucap Evan. Lia tersenyum dan memeluk Evan.
"Terima kasih sayang," ucap Lia dalam pelukannya.
"Apa kau pikir ini konsultasi gratis?" Evan mencium keningnya, Lia segera melepaskan pelukannya dan menatap Evan dengan tajam. "Nanti malam... kau harus membayarnya, sayang." bisik Evan di telinga Lia.
"Dasar genit...," Lia mencubit lengannya kemudian segera berdiri dan meninggalkan Evan.
"Tante...," Bintang menatapnya, tatapannya sayu. "Aaron adalah masa laluku. Saat ini aku bersama Keenan dan aku mencintainya."
Lia menepuk punggung tangan Bintang. "Sebenarnya, itu juga yang Tante harapkan. Keenan mencintai mu dengan tulus, dia yang selama ini ada untuk mu. Tapiii... sungguh kau tidak ada perasaan lagi pada Aaron?"
"Delapan tahun bukan waktu yang singkat Tante. Aku tahu alasannya kenapa dia pergi tapi dia tetap saja egois. Selama delapan tahun aku tidak mengganti nomor ponsel ku, berharap dia akan menghubungi ku, tapi nyatanya apa? Dia tidak pernah sekalipun mencoba menghubungi ku. Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati, lalu... ketika aku melupakannya dan menjalin hubungan bersama Keenan, dia datang begitu saja kehadapan ku."
Lia mengangguk. "Tante ingin yang terbaik untuk mu sayang. Ikuti hati kecilmu. Jika memang kau mencintai Keenan maka tetaplah bersama dan jangan pernah memberi harapan pada Aaron."
Malam hari... Bintang mengetuk ruang kerja Evan dan meminta izin untuk masuk.
"Paman, Bintang bawain kopi," dia masuk dan menaruh kopi didepan Evan.
__ADS_1
"Terima kasih nak," ucap Evan dan langsung menyesap kopi yang baru saja ditaruh Bintang di mejanya.
"Paman...," panggil Bintang. Dia duduk di kursi didepan meja Evan.
"Ada apa? Apa Tante mu tidak bisa menjelaskan pada mu dengan benar?" Evan menutup bukunya dan menatap Bintang.
"Hehee... bukan itu."
"Lalu?"
"Sebenarnya... ada satu yang tidak ku ceritakan pada Tante," ucap Bintang. Evan menaikkan alisnya dan dia menunggu Bintang untuk menyelesaikan kalimatnya. "Dia... Aaron sekarang pindah rumah dan tinggal tepat di sebelah rumah ku," lanjut Bintang dengan nada pelan.
"Apa? Jadi sekarang kalian tetanggaan?" tanya Evan untuk meyakinkan dan dijawab anggukan oleh Bintang. "Waww, pemuda keren."
"Paman... aku serius," Bintang mengerucutkan bibirnya.
"Okey-okey."
"Jika Tante tahu kalau Aaron tinggal berdampingan dengan rumah ku, dia pasti akan menyeret ku untuk tinggal lagi di sini."
"Itu bagus."
Bintang langsung menatap tajam Evan. "Paman, please jangan ketularan Tante."
"Hahaa... baiklah, jadi apa yang kau mau dari Paman?"
"Tolak ajakan Tante untuk berkunjung ke rumah ku, dengan alasan apapun," ujar Bintang. Evan kembali tertawa mendengar ini, dia sedikit ragu.
"Kau tahu bagaimana Tante mu. Dia pasti akan ngomel sepanjang hari jika aku menolak mengantarnya ke rumah mu."
__ADS_1
"Aku juga tahu... bagaimana Paman sangat pandai merayunya...," Bintang mengedipkan matanya.
"Hhaaa... Tante mu kalau ngomelnya kumat cerewetnya melebihi komentator bola."