
"Bintang..." Suara Evan membuatnya kembali mengangkat wajahnya, dia memaksakan senyumnya, Evan ada didalam mobil dan menurunkan separo kacanya.
"Masuklah" Evan mempersilahkan, Bintang segera berdiri dan masuk kedalam mobil, dia duduk dibangku penumpang dan segera mematikan musiknya.
"Apa aku membuatmu menunggu lama?" tanya evan khawatir karana wajah bintang yang terlihat sedih.
"Tidak" Bintang menggeleng, Evan memperhatikan Bintang dari kaca spion.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya, bintang menggeleng lalu menghela nafas panjang dan tersenyum pada Evan.
"Kak..."
"Iya"
"Aku ingin bicara tentang Tante" ucap bintang memelankan suaranya, Evan tersenyum.
"Iya, tapi kita makan dulu ya, kamu mau makan apa?"
"Tidak usah Kak, aku baru selesai makan"
__ADS_1
"Tapi aku laper, temani aku okey" bintang mengangguk. Sepuluh menit kemudian Evan memarkirkan mobilnya disebuah rumah makan.
"Yuuk" Evan keluar dan bintang segera membuntutinya dari belakang. Saat ini Evan tidak hanya memakai kemeja dan berdasi tetapi juga memakai jas hitam. Bintang sedikit menciut melihat Evan yang begitu elegan dan gagah.
"Hei sini... kenapa melamu?" Evan melambaikan tangannya melihat Bintang yang diam didepan pintu. Bintang lalu segera menyusul Evan. Mereka duduk dan segera memesan makanan.
"Makanlah... ini ku pesan untukmu"
"Aku hanya menemani kakak, aku sudah kenyang"
"Hmm baiklah, akan ku coba..." bintang mengambil sate yang diberikan Evan lalu perlahan mengigitnya.
"Hmmm enak kan..." komentar Evan setelah melihat ekspresi Bintang yang mengunyah sate, Bintang nyengir dan menghabiskan satu tusuk sate ditangannya.
"Habisin" Evan mendorong pelan piring seporsi sate kedepan bintang
"Heheee sepertinya kelezatannya mengalahkan rasa kenyangmu"
__ADS_1
"Heheee iya betul... betul, betul" mereka lalu diam dan khidmat menyantap makanan hingga semua habis tanpa sisa.
"Oke, urusan perut sekarang sudah teratasi, kamu mau bicara apa sama Kakak?" Evan memulai, Bintang sedikit ragu untuk menanyakannya. Awalnya dia sangat yakin tetapi setelah melihat Evan hari ini rasanya dia tidak punya keberanian lagi, mobil Evan bahkan berbeda dari yang dia bawa kemarin. Bintang bimbang, dia tidak tahu apa yang harus dia tanyakan sekarang.
"Hahaaaa mirip, mirip banget" Evan tiba-tiba tertawa, Bintang menatapnya tak mengerti.
"Mirip? Mirip apa? Mirip siapa?" tanya bintang bingung
"Mirip tantemu siapa lagi... dia juga sering begitu, ditanya tapi malah diam dan berbicara dalam hati dulu sebelum benar-benar berbicara langsung" jelas Evan, mendengar itu bintang langsung tersenyum, hubungan mereka sepertinya sangat baik dan mengerti satu sama lain. Bintang mengambil nafas
"Kak... apa Kakak benar-benar serius dengan Tante?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Bintang.
"Serius dong" jawab evan tanpa ragu.
"Aku sempat berfikir bahwa Tante menunda menikah karena aku, tante menunda menikah karena memikirkanku. Terkadang aku merasa... aku ini sebuah beban buat Tante. Jika... jika memang benar alasan tante menunda menikah karena aku maka aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak bisa egois menyakiti tante untuk diriku. Jika... jika memang benar karena aku, maka lebih baik aku pergi saja dan tidak menjadi beban buat tante lagi" Ucap Bintang. Evan tersenyum tipis menatap Bintang yang menunduk.
"Tantemu itu sangat menyayangimu lebih dari dirinya sendiri, bagaimana kamu bisa berfikir untuk meninggalkannya?" ucap Evan, Bintang mengangkat wajahnya dan memandang Evan.
"Alasan yang sebenarnya hanya dia yang tahu. Kalau... ini kalau, kalau memang alasannya karena kamu itu karena dia sangat menyayangimu, sayang itu tulus, sayang itu ikhlas jadi bukan beban. Jangan pernah berfikir bahwa dirimu beban untuknya, dirimu adalah kebahagiaan untuknya, kau mengerti gadis kecil?" sejuk dan hangat ucapan Evan sangat menentramkan hati bintang, membuat kegelisahan bintang memudar, bintang tersenyum haru.
__ADS_1