Matahari Tenggelam

Matahari Tenggelam
Bab 36_Matahari Tenggelam


__ADS_3

***@***


Aku harus bagaimana sekarang?? Tanpamu... Aku melihat keatas langit, tak ada bintang, tak ada bulan hanya ada mendung lalu disusul rintik hujan yang perlahan membasahi wajahku... Sejuk...tapi tetap tidak bisa menyejukkan hatiku. Lalu hujannya semakin deras... Aku memejamkan mata dan mencoba merasakan kembali sentuhan tangannya yang menggengam jemariku, membawa ku berlari...


Aku berlari.... Seperti dulu aku bersamanya, lalu berhenti dibawah lampu, diam menyaksikan hujan.... Aku berputar merasakan hujan yang semakin deras, aku terus berputar seperti dulu aku dan dia berputar disini bersama hujan. Kemudian, aku kembali berlari... Mencoba menghilangkan rasa sedihku, aku terus berlari, tak ku hiraukan hujan yang begitu deras, aku hanya ingin berlari bersamanya... Hingga kini aku telah sampai didepan rumah. Kakiku terasa sangat lemas...


Aku merasa sangat konyol, bukankah aku harus melupakannya? Tapi kenapa aku malah begitu merindukannya. Aku benci diriku.


Tante langsung menghampiri dan merangkulku ketika aku membuka pintu, memgajakku duduk dikursi dan segera mengeringkan rambutku, Tante pasti tahu kalau hatiku sedang kacau.


"Tante... hari ini aku bersyukur karena mengetahui keadaannya membaik," ku sunggingkan ujung bibirku, Tante menatapku dan memegang tanganku.

__ADS_1


"Dini hari tadi dia ke luar negri. Kau tahu Tan... dia memberiku sepucuk surat yang konyol," aku tertawa... iya aku menertawakan kebodohannya, aku segera melihat ke atas berharap air mataku tidak jatuh.


"Dia bilang... dia tidak ingin aku menunggunya, dia bilang dia tidak ingin aku mengingatnya, sangat bodoh dan yang paling bodoh lagi adalah dia berharap aku menemukan laki-laki lain dan hidup bahagia, dia sangat bodoh kan Tan??" aku kembali menunduk, aku sudah sangat merayu mataku untuk tidak menangis tapi sungguh aku tidak bisa menahan air mataku. Tante memeluk ku.


"Bagaimana bisa dia bilang seperti itu, bagaimana bisa dia menyuruhku menyamakan kebersamaan kita seperti senja. Aaron orang terbodoh yang pernah ku temui, orang teregois yang pernah ku kenal. Tan... bagaimana aku melupakannya? Bagaimana aku bisa tidak meingingatnya? Bagaimana caranya?" aku menangis dipelukan Tante.


"Sayang... Aaron mungkin tidak bermaksud untuk memutus harapanmu, mungkin dia hanya tidak ingin mengikatmu dengan sebuah harapan yang belum pasti ujungnya. Dia hanya ingin kamu bahagia. Kamu boleh menunggunya dan kamu juga boleh tidak menunggunya, dia hanya memberimu kebebasan. Mungkin ini juga sulit untuknya" Aku menyeka air mataku, menatap Tante.


"Besok ujian bukan?? belajar yuuk" ucap Tante mengusap rambutku, aku mengangguk.


***@***

__ADS_1


Ron... saat ini aku melewati pos satpam dan aku melihat bayanganmu disitu sedang menungguku diam-diam. Aku memaksakan senyum dibibirku.


Kamu ingin aku tidak mengingatmu, bahkan sekarang di dalam bus ada bayanganmu, tertawa dan sesekali mencubit pipiku. Disekolah, dijalan, dicafe, dibawah sinar lampu, ditengah lebatnya hujan dan dipantai tempat yang paling ku sukai pun ada kamu. Bagaimana caranya aku melupakanmu? bagaimana caranya aku tidak mengingatmu.


Waktu... apa akan benar-benar membantuku melupakanmu? meskipun kamu berharap aku bisa melupakanmu dan tidak menunggumu tapi dalam hatiku aku masih terus mengingatmu dan masih terus menunggumu hingga tak ada lagi harapan untukku. Aku ke pantai setiap hari menyaksikan senja dan menunggu matahari tenggelam. Seperti itulah aku menunggumu... Matahari tidak benar-benar meninggalkanku bukan? Dia akan datang lagi esok hari.


***@***


Catatan penulis


Sampai bab ini penulis mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk semuanya yang setia bacaπŸ™πŸ™πŸ™ semoga terhibur dan

__ADS_1


Terimaksih udah kasih πŸ’nya...πŸ‘πŸ‘


KALIAN LUAR BIASA😘


__ADS_2