Menara Dimensi

Menara Dimensi
Luci


__ADS_3

Adam terlihat kelelahan setelah berlatih keras hari ini, ia mengistirahatkan dirinya sejenak. Setelah selesai ia memutuskan untuk keluar dari penginapan untuk mencari hiburan.


Adam yang kini terlihat sedang duduk sendiri di sebuah taman tak sengaja melihat Luci dengan 2 peliharaannya itu, kini penampilannya sedikit berbeda, dia lebih rapi sekarang. Adam masih mengenali Luci walaupun kini penampilannya telah berubah.


"Wanita itu kan," ucap Adam yang kini memperhatikan Luci yang sedang berjalan.


"Hei kamu," Adam melambaikan tangannya kepada mereka, jarak mereka sekitar 20 meter sekarang.


"Eh orang itu kan? Ah celaka, duh kenapa ada orang itu sih, Poro, Blast ayo kita pergi dari sini," Luci menyadari keberadaan Adam dan bermaksud untuk pergi meninggalkannya, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika merespon lambaian tangan Adam


Mereka bertiga lari meninggalkan Adam, ia tidak ingin berurusan dengan Adam.


"Hei tunggu, kok kabur sih, hei tunggu sebentar," ucap Adam dengan penuh keheranan, kini ia nampak berdiri sepertinya akan mengejar mereka yang berlari darinya.


Di sungai tempat mereka pertama kali bertemu nampaknya Luci dan kedua binatang peliharaannya itu nampak kelelahan setelah menghindari Adam, namun ketika mereka sedang mengatur nafasnya tiba-tiba Adam ada di hadapan mereka.


"Hei kenapa kalian lari? Aku kan hanya menyapa," Adam yang baru saja sampai di tempat itu nampaknya mengejutkan mereka, kini ia malah bertanya pada mereka.


"Ha! Hei kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang kamu inginkan? Aku sudah tak mencuri lagi seperti waktu itu, kenapa masih mengganggu kami?" Luci yang terkejut kini wajahnya terlihat gelisah, bukan karena takut pada Adam, namun ia takut Adam akan melukai hewan peliharaannya itu.


Kedua hewan peliharaan Luci terlihat takut melihat Adam, setelah sebelumnya mereka dengan mudah dibuat tak berdaya oleh Adam.


Luci tak ingin memiliki masalah lagi dengan adam, sehingga ia menyuruh Adam pergi dari hadapan nya. Namun Adam menolaknya, ia malah meminta maaf terhadap kejadian yang ia lakukan kemarin. Adam berjanji takkan melakukannya lagi.


Akhirnya mereka berdua kini nampak berdamai, Luci mulai menerima kehadiran Adam. Ia percaya jika Adam memang bukanlah orang yang jahat, bahkan kini Poro dan Blast mulai bisa menerima Adam dengan ramah.


"Kenapa kamu mencuri? Bukankah itu tidak baik?" Ucap Adam yang kini sedang terduduk di bawah pohon begitu juga dengan mereka semua.


"Aku tidak ada niat untuk mencuri, aku hanya mengambil sesuatu dari orang-orang kaya yang pelit dan tak memiliki rasa kepedulian itu," jawab Luci dengan wajah dan intonasi yang nampak kesal.

__ADS_1


Luci mulai menceritakan alasan mengapa dia mencuri barang mewah di ibukota, baginya orang-orang kaya yang tak memiliki rasa sosial yang tinggi itu adalah sampah yang harus dimusnahkan.


Ia berkata jika keadilan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kendali dalam hal uang, maka hal itu tidaklah bisa dikatakan sebuah keadilan.


"Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan ketika melihat orang tua kelaparan saja mereka tak mau peduli," ucap Luci sangat serius, ia nampaknya memiliki pengalaman pahit bersama dengan orang kaya itu.


Adam menanyakan tempat tinggal Luci, namun ia tak memberikan jawaban, Luci meminta Adam untuk tidak mengikutinya. Luci takut terjadi hal buruk jika Adam tetap mengikutinya. Tapi Adam seakan keras kepala, bagaimanapun Luci melarangnya, ia tetap mengikuti Luci.


Tentu saja hal itu membuat Luci tak bisa berbuat apapun, dia mengijinkan Adam untuk ikut ke rumahnya. Ternyata rumah Luci berada di tempat yang tak layak huni, tempat kumuh yang di huni gelandangan dan para pengangguran.


Di sana juga nampak ada penjaga yang menjaga tempat itu, bukan menjaga keamanan di sana, mereka malah meminta uang pada orang-orang yang ada di sana.


"Adam kau itu keras kepala ya, aku kan udah bilang jangan ikuti aku," ucap Luci masih terlihat kesal karena Adam tak bisa diberi tahu.


"Hehehe aku kan temanmu sekarang," Adam hanya membalasnya dengan senyuman.


Ketika mereka hendak memasuki wilayah itu, para penjaga itu menghentikan mereka dan meminta beberapa tip sebelum mereka memasukinya.


Di sana terlihat beberapa penjaga sedang menjaga tempat itu. Awalnya penjaga itu ditugaskan untuk mengawasi tempat itu agar tak ada orang yang memasukinya. Namun hal itu disalahgunakan oleh mereka untuk mengambil keuntungan.


Mereka mengijinkan orang lain tinggal di sana asalkan mereka membayar uang sewa, dan siapa pun yang akan masuk ke tempat itu harus membayarnya.


Sebenarnya hal ini sangat bertentangan dengan apa yang dimandatkan pada mereka, namun hal itu juga menguntungkan untuk sebagian orang yang tinggal di daerah itu.


Mereka yang tak memiliki harta secara terpaksa menempati wilayah itu, maklum lah di sana kalian tak harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar gedung untuk sekedar tidur.


Alicia memberitahu Adam jika mereka dan para penjaga telah memiliki kesepakatan yang sama-sama menguntungkan, jadi hal ini jangan sampai bocor pada pemerintah pusat.


"Ini temanku, kalian tak usah khawatir, dia akan membayar kalian lebih banyak kok, iya kan sahabatku?" Ucap Luci yang kini nampak sangat ramah pada Adam.

__ADS_1


"Eh, iya aku akan membayar tenang saja," ucap Adam yang terlihat kebingungan karena Luci tiba-tiba sangat ramah padanya.


Mereka memasuki wilayah itu, sungguh tempat yang tak layak huni. Jika kalian bisa membayangkan tempat itu seperti sebuah kota yang diserang oleh badai besar, bangun di wilayah itu hanya berdiri seadanya. Banyak sampah berserakan di sana.


Luci membawa Adam ke sebuah gubuk kecil yang tak lain adalah tempat tinggal Luci. Di sekitar gubuk itu berdiri beberapa gubuk yang lain dan terlihat beberapa orang yang sedang beraktivitas. Luci yang baru datang disambut ramah di sana, Luci nampak seperti malaikat bagi mereka.


"Wah Luci kau sudah kembali ya? Apa kau baik-baik saja?" Ucap salah seorang wanita yang ada di sana.


"Kakak permen untukku mana? Kau bilang akan memberiku permen," seorang anak mendekati Luci dan memeluk kakinya, anak kecil itu memiliki tinggi di bawah pusar Luci.


"Oh iya ini kakak bawakan untukmu," Luci membungkukkan badannya dan mengeluarkan permen dari balik bajunya.


Anak-anak yang lain pun terlihat di sana dan mereka nampak akrab dengan dua hewan peliharaan Luci, mereka ber main-main dengan nya.


"Apa kau anak baru?" Ucap salah seorang pada Adam.


"Aku,"


"Dia temanku bu, dia orang baik," Luci memotong perkataan Adam.


Ia menggenggam pergelangan tangan Adam dan membawanya masuk ke gubuk yang ia tinggali. Gubuk itu benar-benar tak layak huni, suasananya sangat tidak nyaman dan tenang.


"Apa kau tinggal di tempat seperti ini? Orang tua mu mana?" Adam yang melihat setiap sudut gubuk itu mulai menanyakan orang tua Luci.


"Orang tua ku sudah meninggal, ketika umurku masih 3 tahun," ucap Luci yang kini nampak duduk di sebuah kursi yang sudah tak terawat.


"Oh maafkan aku," Adam merasa tidak enak hati telah menanyakan hal semacam itu.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah lupa rasanya," ucap Luci sangat santai.

__ADS_1


"Jadi setelah tahu rumahku? Apa yang kamu inginkan? Sekarang sudah jelas kan? Jadi kau boleh pergi dari sini," ucap Luci dengan tatapan sinis.


Adam yang sedari tadi melihat setiap sudut ruangan itu nampaknya sedang memikirkan sesuatu.


__ADS_2