
Adam yang telah mendapat skill baru nampaknya semakin percaya diri. Bukan hanya bisa mendeteksi posisi Cameleon. Namun ia dapat mengetahui jumlah energi yang dikeluarkan oleh Cameleon.
"Tak ada gunanya kau terus menghilang seperti itu, aku bisa merasakan keberadaanmu," ucap Adam.
Kini ia memanfaatkan kemampuannya dan mencoba mendeteksi keadaan sekitarnya. Adam meletakkan telapak tangannya pada tanah.
"Dimension, scan," ucap Adam, urat-urat matanya nampak menonjol. Sepertinya itu adalah efek kekuatannya.
Seketika area di sana nampak memberikan informasi pada Adam melalui tanah yang ia sentu. Informasi masuk ke otak Adam secara bergantian. Ia mendapati gudang senjata yang telah kosong di dalam pikiran nya.
"Ah ternyata gudang senjata telah ditinggalkan, tapi sepertinya orang-orang di sana telah di selamatkan, itu artinya aku tak perlu khawatir lagi dengan orang-orang yang ada di sana," ucap Adam yang masih menempelkan tangannya itu.
"Kemampuan dimensi ini cukup membantu, aku tak percaya hanya menguasai kemampuan ini selama satu minggu, kitab itu benar-benar menuntunku secara tepat, itu artinya aku akan bertambah kuat dengan cepat, tapi aku malah semakin tidak ingin pergi dari dunia ini," ucap Adam yang kini melihat telapak tangan kanannya.
Tiba-tiba sebuah serangan dari Cameleon menggunakan lidah kuatnya itu menghantam mengarah pada Adam. Adam sempat melirik dan kemudian ia salto ke arah belakang untuk menghindari serangan Cameleon.
"Sedang apa kau? Masih sempat kau melamun ketika melawanku? Dasar kurang ajar kau," ucap Cameleon yang kini berjalan menuju arah Adam.
Kini Cameleon sudah tidak menggunakan kemampuan menghilangnya itu. Ia telah sadar sekarang jika Adam tak bisa dikalahkan oleh kemampuan seperti itu.
"Padahal hanya rank grandmaster, tapi kau cukup tangguh juga melawanku, aku benar-benar terkejut karena tubuhmu tak hancur ketika mendapatkan hantaman pertama kali dari lidahku," ucap Cameleon dengan sangat santai.
Adam kini berdiri dan kembali menatap Cameleon. Tatapannya tidak dipenuhi amarah, sepertinya suasana hati Adam selalu mudah berubah-ubah.
"Aku masih berada di rank pejuang, aku bahkan belum mendapatkan lencana di atas rank pejuang ini," ucap Adam yang kini nampak menunjukkan lencana pejuangnya itu.
Tentu saja Cameleon merasa terkejut dengan yang ditunjukkan oleh Adam. Ternyata Adam masihlah anak yang berada di rank pejuang.
"Apa-apaan ini, apa kau mencoba menipuku?" Tanya Cameleon yang masih berhadapan dengan Adam.
"Ya tentu saja, aku masih berada di tingkat itu," ucap Adam.
"Sebenarnya mengapa kalian menyerang kerajaan ini? Bukankah kalian terlalu meremehkan kerajaan ini? Dan yang lebih penting kalian telah banyak membunuh manusia tak berdosa," ucap Adam.
__ADS_1
"Hahaha, apa makaudmu? Tak berdosa? Manusia mana yang tidak memiliki dosa? Coba tunjukkan padaku jika kau menemukan manusia semacam itu," ucap Cameleon.
"Lagi pula manusia-manusia ini adalah sampah yang mempedulikan diri mereka sendiri, bahkan mereka tega membunuh saudaranya sendiri," ucap Cameleon.
Adam kebingungan dengan apa yang dikatakan Cameleon.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Adam serius.
Namun Cameleon tak membalasnya dengan ramah, ia nampak menyerang Adam lagi. Berharap kali ini serangannya berhasil membuat Adam terkapar.
"Lagipula baik manusia dan monster adalah sama, bahkan mereka lebih ganas dari monster itu sendiri, makhluk hidup terkuat diantara semua ras, makhluk hidup yang selalu mengeksploitasi ras lainnya," ucap Cameleon yang kini melancarkan lagi serangan menggunakan lidahnya itu.
Pertarungan antara Cameleon dengan Adam sebetulnya terlihat sengit. Namun nampaknya Cameleon seperti menahan kekuatannya. Ia seperti tertahan sesuatu.
"Aku tak merasakan aura membunuh dari makhluk ini, sepertinya dia mengurungkan niatnya, namun amarah kebenciannya masih bisa aku rasakan, apa yang membuat makhluk ini begitu marah? Apa ada hubungannya dengan penyerangan yang mereka lakukan," ucap Adam yang kini menghindari setiap serangan dari Cameleon.
"Lebih baik kau pergi dari hadapanku, tujuanku hanya orang itu, jika kau ingin selamat, kau minggir saja nak," ucap Cameleon.
"Apa? Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi dari sini, aku akan menantangmu berduel di sini, kebetulan orang-orang di sini telah di evakuasi, ini membuat kita lebih leluasa kan?" Ucap Adam.
Ia nampak memelankan suaranya dan berbicara dengan dirinya sendiri.
"Aku harus memprovokasi makhluk ini, agar ia mau melawanku sehingga aku bisa menghambatnya pergi lebih jauh, tapi di mana para penjaga itu, dan di mana para penduduk yang tinggal di sekitar sini? Bukankah ini aneh?"
"Baiklah jika itu maumu nak, jangan menyesal karena telah berbicara demikian," ucap Cameleon.
Cameleon mulai menyerang Adam kembali. Kali ini ia lebih brutal dari sebelumnya. Adam mulai serius, untuk menghadapi Cameleon ia mengubah pisaunya menjadi sebuah tombak yang cukup besar.
Kini di tempat Jack dan tim nya. Mereka harus berurusan dengan monster trenggiling yang memiliki tinggi sekitar 3 meter. Monster itu nampak sedang menggelinding tubuhnya. Ia membentuk seperti bola raksasa. Menghancurkan dan menghempaskan apapun yang ada di hadapannya.
"Monster ini cukup kuat, pertahankan diri kalian, bersiaplah menahan monster ini," ucap beberapa penjaga yang juga ada di sana.
Sebelumnya mereka telah bertarung dengan monster itu. Namun monster itu terlalu kuat karena ia sekarang menggunakan sarung tangan 4 penjuru milik kerajaan kilat utara. Yang memungkinkan dia dapat mengeluarkan 4 elemen dasar secara bersamaan.
__ADS_1
Ia nampak berpisah dengan satu temannya. Namun hal itu tak mengurangi kekuatannya.
"Apa yang para penjaga itu lakukan, lebih baik kita cepat bertindak, monster seperti itu pasti tak memiliki akal, Natan, Cecilia, siapkan kemampuan kalian, aku akan melompat ke sana," ucap Jack.
Kini Jack melompat melewati penjaga dan mendarat tepat di atas kepala monster trenggiling itu.
"Hei sedang apa pemuda itu? Bodoh sekali ia malah mendekati monster itu," ucap penjaga yang melihatnya.
"Kalian duduk manis saja biar aku yang menghadapi makhluk ini dengan temanku," ucap Jack yang kini menendang wajah monster itu.
Brak! Suara benturan cukup keras karena monster itu menabrak bangunan yang dilewatinya.
"Siapa pemuda itu? Dia menendang monster itu sangat keras, dia bukan pemuda sembarangan," ucap penjaga itu.
Dua serangan nampak datang dari arah terhempasnya monster trenggiling itu. Sebuah bola api yang cukup besar memgarah tepat ke arah Jack. Seketika ia menendang bola api itu ke udara.
Duarr! Bola api itu meledak di udara. Kekuatan kaki Jack memang tak bisa diragukan.
"Pemuda itu menendang bola api yang cukup besar, siapa dia?" Ucap salah satu penjaga.
Adua temannya datang membantu lalu melakukan serangan kombinasi. Natan mengeluarkan api dan menembakkannya ke arah monster trenggiling yang belum kelihatan muncul dari tempatnya. Cecilia menyelimuti api Natan dengan kekuatan angin yang ia miliki. Sehingga kini api itu membesar mengarah pada si monster trenggiling.
Duar! Suara ledakan dari arah si monster telah terdengar menandakan serangan kombinasi mereka berhasil mengenai sasaran.
"Apa? Tidak mungkin? Mereka memiliki kekuatan semacam itu? Bahkan kita saja dari tadi tak bisa memojokkan monster itu," ucap penjaga itu sangat terkejut.
"Tugas kita selesai, kini tinggal menunggu berita jika Kita menyelamatkan kota dan memnunuh monster itu.
"Kau memang hebat Jack," ucap Natan.
Mereka nampak tersenyum, sedangkan para penjaga terlihat gembira karena berpikir mereka telah mengalahkan monster itu dalam sekejap.
Namun tiba-tiba, dari arah monster trenggiling itu, sesuatu nampak bergerak dan terdengar suara benturan batu. Seperti sebuah batu yang jatuh ke tanah.
__ADS_1